
"Mama, kenapa Mama meninggalkan Samira? Sekarang Samira dengan siapa? Samira tidak punya siapa siapa lagi," ucap Samira dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipi dengan memeluk erat batu nisan dari ibunya.
Mendengar ucapan itu, Firman yang merasa kasihan dengan Samira ia terlihat membantu Samira untuk bangun dari duduknya dan mengajak Samira untuk pergi dari pemakaman. Namun, saat itu ia menolaknya dan terus memegangi batu nisan Jasmin dengan semakin erat.
Melihat hal itu, orang tua Firman pun meminta Firman untuk membiarkan Samira meluapkan kesedihannya atas kehilangan ibunya. Ia meminta Firman untuk tidak memaksa Samira pergi dari makam ibunya. Firman yang mendengar ucapan itu akhirnya pun memutuskan untuk membiarkan Samira menangis di samping ibunya, bahkan ia meninggal Samira di pemakaman dengan berat hati.
Tak berselang lama, terlihat Samira yang sedih dengan kehilangan ibunya. Ia menidurkan kepalanya di atas makan Jasmin dengan air mata yang terus mengalir dan jatuh ke makam Jasmin.
Ketika ia tengah menidurkan tubuhnya di atas makan Jasmin, tiba tiba terlihat sebuah tangan memegangi salah satu bahu Samira. Wanita itu adalah Jasmin, ia memegangi bahu Samira dengan lembut dan penuh kasih sayang. Menyadari hal itu, Samira langsung bangun dari duduknya dan ia memeluk erat wanita yang terlihat seperti Jasmin tersebut.
Saat itu Jasmin memakai pakaian serba putih dan ia terlihat sangat cantik dengan apa yang di kenakan nya waktu itu.
"Mama, Samira mohon jangan tinggal kan Samira. Samira membutuhkan Mama," ucap Samira dengan berderai air mata yang terus membasahi pipinya.
Mendengar ucapan itu, Jasmin tersenyum dan secara tiba tiba tempat yang beberapa saat lalu sebuah makam tiba tiba berubah menjadi sebuah taman bunga dengan kabur asap dan terlihat sangat indah dengan kupu kupu yang berterbangan kesana kemari.
"Kata siapa Mama meninggalkan kamu? Mama tidak pernah meninggalkan kamu!. Mama akan selalu bersama kamu, dan Om Ayan!. Mama mohon kamu jaga Om Ayan dan sayangi Om Ayan seperti kamu menyayangi Mama, karena apa? Karena detak jantung Mama ada di dalam dirinya. Mama mohon kamu jangan marah dengan Om Ayan," ucap Jasmin dengan sesekali tersenyum dan ia melepaskan pelukannya. Lalu, Jasmin melanjutkan berkata "Mama mau, kamu sayangi dia dengan sepenuh hati kamu!."
Samira yang mendengar ucapan itu ia hanya tersenyum dan kemudian ia memeluk lagi Jasmin.
Setalah beberapa saat berpelukan, Jasmin kembali melepaskan pelukan Samira kepada dirinya dan ia meminta untuk pergi ke rumah Firman dan mendoakan Jasmin. Samira yang mendengar ucapan itu tiba tiba langsung terbangun dari tidurnya di atas makam ibunya. Saat itu ia ternyata bermimpi kalau melihat ibunya.
Setelah ia tersadar ia terlihat kebingungan, matanya melihat ke sana kemari seperti seseorang yang tengah mencari sesuatu. Ia juga sesekali memanggil manggil ibunya, namun tidak ada respon apapun, ia hanya melihat makam yang berada di sekitarnya.
Menyadari kalau apa yang di lihatnya adalah sebuah mimpi, Samira pun mendekati batu nisan ibunya. Lalu, dengan air mata yang terus menetes ia melihat ke arah makam ibunya.
"Mama, makasih ya. Mama sudah hadir di mimpi Samira, dan Samira janji anak selalu menyayangi Om Ayan seperti apa yang Mama katakan!."
Setelah mengatakan hal itu, Samira tersenyum kepada makam ibunya dan pergi dari makam itu dengan sedih. Ketika ia berada di gerbang pintu masuk makam, ia melihat Firman masih berdiri di depan pintu masuk. Menyadari hal itu, Samira pun langsung menghentikan langkahnya dan berdiri di dekat ayahnya.
"Papa belum pulang?" tanya Samira dengan nada rendah dan sedih.
"Belum, saya menunggu kamu. Kita pulang ya?" tanya Firman kepada Samira. Samira yang menyadari hal itu ia pun hanya menganggukkan kepalanya dengan sedih, tanpa mengatakan sepatah katapun.
Akhirnya, Samira dan Firman pun pulang ke rumah untuk mempersiapkan tahlilan untuk Jasmin di rumah Jasmin sendiri.
7 hari berlalu begitu cepat, terlihat Samira masih saja bersedih atas kepergian ibunya. Namun, di sisi lain ia juga bahagia, karena ia melihat Ayan sudah mulai membaik dari masa komanya.
Saat itu Samira yang masih sedih kini justru menunggu kepulihan Ayan dengan sesekali meneteskan air mata dengan pandangan mata yang terus mengarah ke arah jantung Ayan.
Melihat hal itu, Ibu Ayan terlihat sedih, ia kemudian menghampiri Samira dan memegangi salah satu bahu Samira. Samira yang menyadari hal itu ia hanya diam dengan sedih dan melihat ke arah Ibu Ayan yang dengan lembut memegangi bahunya.
__ADS_1
Menyadari kalau Ibu Ayan yang memegangi bahunya, Samira pun langsung memeluk Ibu Ayan dan ia terlihat tidak kuasa menahan air matanya yang terus mengalir membasahi pipinya.
"Ibu.... Samira sendiri Bu. Sekarang Samira tidak punya siapa siapa," ucap Samira dengan sedih dan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.
Ibu Ayan yang mendengar ucapan itu ia juga terlihat ikut bersedih, air matanya juga mengalir mambasahi pipinya. Ia berusaha untuk menenangkan Samira yang terus menangis di pelukan nya.
"Tidak Samira, kamu tidak sendiri. Ada Om Ayan, ada Papa Firman, Ada kami!. Kamu tidak sendiri," ucap Ibu Ayan untuk menenangkan Samira dengan memberi usapan lembut di bahunya.
Tak berselang lama, tangisan Samira terhenti ketika Ibu Ayan menyadari kalau salah satu jari Ayan bergerak, ia langsung menghampiri Ayan dan memeriksa keadaan Ayan.
Menyadari kalau Ayan sudah mulai sadar, raut muka Samira terlihat sangat bahagia, tidak hanya Samira ibu Ayan pun juga terlihat bahagia dengan hal itu. Ia langsung memanggil dokter yang berada di rumah sakit itu untuk memeriksa keadaan Ayan.
Setalah memeriksa Ayan, dokter pun mengatakan kalau Ayan sudah baik baik saja. Ia sudah melewati masa komanya dan kini hanya menunggu dirinya pulih dan membuka matanya.
Mendengar ucapan itu, Samira tampak sangat bahagia. Tidak hanya Samira, Ibu Ayan pun juga sangat bahagia ia terlihat langsung memeluk Samira dengan sangat erat setelah menyadari kalau Ayan sudah mulai pulih dari koma.
Melihat kebahagian terlihat di raut muka Samira, Firman masuk ke dalam kamar yang di tempati oleh Ayan, ia mengajak Samira untuk pulang ke rumah namun ia hal itu di tolak oleh Samira. Ia melakukan hal itu karena ia merasa sudah tidak ada yang bisa menjaga dirinya ketika ia bersama dengan Ayahnya.
Mendengar jawaban Samira yang menolak dirinya, Firman terlihat sedih namun apa boleh buat hal itu memang sudah menjadi kesalahan nya ia pun juga tidak memaksa Samira untuk ia ikut pulang dengan dirinya.
Akhirnya, Firman pun pulang meninggalkan Samira dan orang tua Ayan di rumah sakit. Saat itu Samira yang melihat ayahnya pergi, sesungguhnya sedih namun ia tidak sedikit pun berusaha untuk menghentikan Firman. Ia hanya memandang ke arah Firman dengan air mata yang memenuhi matanya.
****
Mendengar apa yang di inginkan oleh istrinya, ia pun akhirnya mendekati Samir. Setelah ia dekat dengan Samira, ia membangunkan Samira dengan perlahan. Saat Samira sudah terbangun, ia mengajak Samira untuk pulang namun saat itu ia menolaknya dan memilih untuk tetap menunggu sampai Ayan pulih.
Melihat Samira menolak di ajak pulang oleh Ayah Ayan, dengan perlahan Ibu Ayan pun meminta kepada Samira agar ia menuruti apa yang diinginkan oleh mereka namun saat itu Samira terus menolak dan memilih untuk tetap menunggu Ayan.
Akhirnya, orang tua Ayan pun tidak memaksa Samira untuk pulang dan membiarkan Samira berada di rumah sakit.
Waktu berlalu begitu cepat, saat semua orang terlelap dalam tidur nya. Salah satu jari Ayan bergerak, namun saat itu mereka tidak menyadari kalau Ayan sudah mulai sadar.
Tak berselang lama, Ayan membuka matanya dengan perlahan. Saat itu ia terlihat masih bingung setelah matanya terbuka, saat itu terlihat Samira tidur di samping Ayan dengan sangat lelap. Ketika ia sudah melihat ke arah Samira, dengan perlahan ia mengerakkan tangannya dan membelai halus kepalan Samira yang tengah tertidur. Menyadari kalau kepala nya di belai oleh seseorang, sontak Samira langsung terbangun dan ia terlihat sangat bahagia melihat kalau laki laki yang ia nanti untuk bangunnya ternyata sudah terbangun.
Samira yang melihat Ayan sudah bangun, ia langsung membangunkan Ibu Ayan dari tidurnya dengan memberikan goyangan goyangan kecil di tubuhnya.
Menyadari hal itu, Ibu Ayan langsung terbangun dan ia menghampiri Ayan yang memang sudah terbangun.
"Gimana keadaan kamu Ayan?" tanya Ibu Ayan kepada Ayan yang saat itu sudah melihat dirinya.
Setelah mendengar ucapan itu, secara tiba tiba ia teringat kejadian kecelakaan yang menimpa Jasmin dan dirinya.
__ADS_1
"Jasmin!" ucap Ayan dengan lirih.
Saat itu suara Ayan masih belum terdengar jelas, hal itu karena ia masih menggunakan alat bantu pernafasan. Ayan yang terluka di bagian kepalanya, dengan perlahan terus menggeliat liat seperti cacing kepanasan setalah menyebut nama Jasmin. Ia merasakan sakit yang sangat luar biasa di kepalanya.
Menyadari hal itu, suasana yang saat itu bahagia tiba tiba berubah menjadi suasana kepanikan. Ibu Ayan terlihat memanggil manggil dokter, sedangkan Samira terlihat berusaha untuk menenangkan Ayan. Saat itu Ayan yang menyadari hal itu, ia hanya memegang erat tangan Samira, Samira yang melihat hal itu seketika langsung merasakan sentuhan tangan dari ibunya. Ia merasa kalau ibunya memang tidak pernah meninggalkan dirinya.
Beberapa saat kemudian, salah satu dokter menghampiri Ibu Ayan dan ia memeriksa keadaan Ayan. Menyadari kalau Ayan sangat kesakitan dengan luka itu, akhirnya dokter itu pun memberikan suntikan bius agar Ayan pingsan dan tidak merasakan kesakitan lagi.
Setalah menerima suntikan itu, Ayan pun langsung pingsan dan tidak sadarkan diri. Melihat hal itu, Ibu Ayan terlihat lebih tenang, begitu pula Samira. Namun saat itu Samira terlihat sedih melihat keadaan Ayan yang seperti itu.
"Dokter, Ayan baik baik saja kan Dok?" tanya Ibu Ayan kepada dokter yang memeriksa Ayan.
"Ibu tenang saja, Pak Ayan sudah baik baik saja. Tapi, saya mohon.. Tolong, jangan ikatkan terlebih dahulu tentang kecelakaan yang terjadi beberapa hari lalu, jika di ingatkan. Saya takut kalau hal seperti ini akan terjadi lagi!" ucap dokter itu untuk memberi peringatan kepada Ibu Ayan dan yang lainnya.
Mendengar penjelasan dari dokter, Ibu Ayan dan Samira pun hanya mengangguk kan kepalanya dan mengiyakan apa yang di inginkan oleh dokter itu.
****
Keesokan harinya, terlihat Samira sudah mempersiapkan dirinya untuk berangkat ke sekolah. Dengan menggunakan seragam sekolah, ia berpamitan kepada Ayan yang saat itu sudah terlihat lebih segar dan tidak menggunakan alat bantu pernafasan.
Saat itu ia berdiri di samping Ayan dengan memegang salah satu tangan Ayan.
"Om Ayan, Samira pamit ya. Samira mau berangkat ke sekolah," ucap Samira setelah itu ia berpamitan kepada Ibu Ayan dan Ayah Ayan. Ia kemudian keluar dari kamar yang di tempati oleh Ayan, saat ia sudah berada di luar kamar terlihat Firman sudah menunggu Samira. Menyadari hal itu, Samira terlihat hanya menundukkan kepalanya.
Di sepanjang perjalanan, Samira hanya diam kepada Firman, ia tidak mengatakan sepatah kata pun kepada Firman. Menyadari hal itu, Firman pun berusaha untuk membuka topik perbincangan dengan Samira dengan ia meminta maaf atas apa yang di lakukan ketika ia lupa ingatan.
Mendengar permintaan maaf dari Firman, Samira hanya diam bahkan ia tidak menoleh, ia juga tidak menjawab secuil kata pun dari mulutnya.
Melihat hal itu, Firman pun langsung menghentikan mobilnya dan melihat ke arah Samira dengan tatapan mata yang tajam melihat ke arah Samira.
"Apa kamu tidak bisa memaafkan Ayah?" tanya Firman dengan nada tegas.
Samira yang saat itu diam saja, tiba tiba matanya berkaca kaca dan ia menatap Firman dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipi nya.
"Hey, maafkan Ayah. Ayah tidak bermaksud untuk membuat kamu menangis, Ayah mohon maafkan Ayan atas semua yang ayah lakukan ke kamu dan ibu kamu. Kalau kamu tidak bisa memaafkan ayah, baik. Jangan maafkan ayah, tapi Ayah mohon... Jangan menangis di hadapan Ayah," ucap Firman dengan jari telunjuk kelopak mata Samira yang di penuhi oleh air mata.
Setalah melihat sikap Firman yang sudah kembali seperti dulu, tanpa berpikir panjang Samira pun memeluk Firman dengan erat. Firman yang melihat hal itu, ia meneteskan air mata dan membalas pelukan Samira dengan membelai lembut Samira.
"Ayah adalah ayah ku, sekarang aku sudah tidak memiliki siapa pun. Aku hanya memiliki Ayah, lalu bagaimana jika aku tidak memaafkan ayah. Aku pasti akan kehilangan semuanya!."
Ucap Samira dengan air mata yang terus berderai dan terus memeluk erat Firman.
__ADS_1
Setelah beberapa saat berpelukan, Samira pun melepas pelukan nya dengan perlahan dan ia kembali menunduk kan kepalanya. Firman yang menyadari hal itu, ia hanya tersenyum dan kemudian melanjutkan perjalanan menuju ke sekolahan tempat Samira sekolah.