Sebarkas Harapan Diatas Penantian

Sebarkas Harapan Diatas Penantian
23. Terungkap


__ADS_3

Di rumah sakit terlihat Ayan sudah duduk di atas tempat tidur. Saat itu, ia baru saja di periksa oleh dokter mengenai keadaannya, namun keadaan Ayan saat itu sudah baik baik saja, namun ia masih perlu beristirahat.


"Bu, keadaan Pak Ayan sudah baik baik saja, hanya... Saya mohon tolong beri waktu beliau untuk berisitirahat lebih. Ini demi kebaikan nya," ucap dokter yang baru saja memeriksa keadaan Ayan di atas tempat tidur.


Mendengar ucapan itu, Ibu Ayan pun hanya menganggukkan kepalanya dengan memberikan senyuman kecil di bibirnya. Ketika dokter yang memeriksa dirinya sudah pergi, Ayan terlihat seperti orang yang mencari seseorang. Menyadari hal itu, Ibu Ayan pun menghampiri Ayan dsn bertanya kepada Ayan tentang tindakan nya yang seperti seorang yang kebingungan.


"Ada apa Ayan?" tanya Ibu Ayan dengan baik kepada Ayan setelah ia berada di dekat Ayan.


"Mama, dimana Jasmin?" jawab Ayan untuk bertanya balik kepada ibunya tentang Jasmin yang tidak ia lihat. "Dia baik baik saja kan Ma!."


Mendengar hal itu, dengan perlahan ia memegangi tangan Ayan dan dengan senyum sedih di bibirnya, Ibu Ayan menjawab dengan terlihat di penuhi oleh air mata.


Saat itu ia tidak mengatakan sepatah kata pun, ia hanya diam seribu bahasa, dengan menatap ke arah Ayan.


Ayan yang menyadari hal itu ia kembali bertanya kepada ibunya tentang Jasmin. Namun, karena ia tidak ingin membuat Ayan semakin terkoyak dengan berita kematian Jasmin. Akhirnya, Ibu Ayan pun memutuskan untuk menutupi kematian itu dan akan memberi tahu Ayan jika Ayan benar benar sudah pulih.


"Ayan, Jasmin baik baik saja dan dia sedang berada di tempat lain!."


Mendengar jawaban dari ibunya, Ayan terlihat lebih tenang dan ia bisa mengontrol emosi nya.


Hari semakin siang, terlihat Samira pulang dari sekolahan dan menuju ke rumah sakit dengan Firman. Melihat hal itu, Ayan terlihat seperti tidak suka. Entah, hal ini karena ada perasaan Jasmin yang bersatu dengan Ayan, atau ini benar benar perasaan dari Ayan.


Melihat Ayan sudah bangun dari duduknya. Samira yang melihat hal itu ia langsung bergegas menghampiri Ayan dan memeluk ayan dengan sangat erat, dengan sesekali mendengar kan detak jantung ibunya yang bersatu dengan Ayan.


Mendengar detak itu, Samira terlihat bersedih. Matanya di penuhi oleh air mata, setelah beberapa saat memeluk. Setetes air mata mengalir membasahi pipinya. Tak berselang lama, Ayan melepaskan pelukannya. Menyadari kalau Samira meneteskan air mata, Ayan duduk bertekuk lutut di hadapan Samira seperti yang di lakukan oleh Jasmin dulu. Ia kemudian memegangi kedua lengan Samira dengan penuh kasih sayang dan lembut seperti yang di lakukan eh Jasmin.


Menyadari hal itu, Samira pun terus menerus mengingat tentang ibunya di setiap tindakan yang di lakukan oleh Ayan.


"Ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Ayan dengan baik kepada Samira.


Samira yang mendengar pertanyaan dari Ayan, ia hanya diam saja dan hanya terlihat sedih. Menyadari hal itu, Ayan pun menghapuskan air matanya dengan perlahan.


"Samira yang Om kenal itu kuat, dia tidak lemah dan tidak mudah menangis. Lalu kenapa sekarang Samira menangis, Om janji, Mama Jasmin akan kembali!" ucap Ayan dengan baik untuk menenangkan Samira yang terus bersedih. Perasaan  nya semakin sedih ketika Ayah mengatakan janji kalau ibunya akan kembali, walaupun ia merasa apa yang di ucapkan oleh Ayan tidak kah mungkin benar. Karena, Samira menyadari kalau Jasmin sudah pergi meninggalkan dirinya.


Tidak hanya Samira, Firman yang mendengar hal itu pun ia juga bersedih karena ia merasa apa yang di ucapkan oleh Ayan tidak akan mungkin bisa terjadi di dunia ini.

__ADS_1


Saat itu hari sudah cukup malam, waktu menunjukkan pukul 9 malam waktu setempat. Terlihat, Ayan yang sudah sadar dan dapat berjalan sendiri. Ia berusaha untuk bangun dari tempat tidurnya. Saat itu, terlihat  Samira tidur di samping nya dengan menyenderkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Dengan bergerak secara perlahan, Ayan turun dari tempat tidur nya. Saat itu semua orang terlihat tidak sadar dengan apa yang di lakukan oleh Ayan.


Ketika ia sudah berada di luar kamar yang di tempati nya, dengan langkah tertatih ia berjalan menuju ke lorong lorong rumah sakit untuk mencari pasien yang bernama Jasmin.


Saat ia sudah berada di ruang resepsionis, ia bertemu dengan salah satu suster yang saat itu tengah bertugas. Melihat hal itu Ayan pun langsung bertanya kepada suster itu tentang Jasmin, namun suster itu terus mengatakan tidak mengetahui pasien yang bernama itu di rumah sakit.


Di waktu itu, Ayan terus menerus memaksa suster itu untuk memeriksa daftar pasien yang berada di rumah sakit, namun saat itu si suster tetap mengatakan kalau dirinya tidak ingin mengetahui atau melihat pasien yang bernama Jasmin.


Melihat hal itu, suster lain yang membantu operasi Ayan dan Jasmin datang. Ia terlihat bertanya kepada suster yang berada di ruang resepsionis dan Ayan.


"Ada apa ini suster? Ada keributan apa ini?" tanya Suster itu dengan baik dan terlihat kebingungan melihat ke suster yang bertugas di tempat resepsionis.


Akhirnya, suster yang berada di resepsionis pun menjelaskan apa masalahnya dengan Ayan, salah satu pasien di rumah sakit. Setalah menjelaskan kepada suster yang baru datang, suster yang baru datang ingat kalau Ayan adalah pasien yang mengalami kecelakaan bersama dengan seorang wanita. Mendengar ucapan itu, Ayan pun mengangguk kan kepalanya sebagai tanda bahwa apa yang di ucapkan oleh suster yang baru datang benar.


Suster yang baru datang pun akhirnya memberi tahu Ayan kalau Jasmin sudah meninggal ketika melakukan operasi, saat itu Ayan sempat tidak percaya dan lebih memilih untuk percaya dengan ibunya yang mengatakan Jasmin baik baik saja. Di saat bersamaan, Samira menyadari kalau Ayan tidak berada di dalam kamar. Menyadari hal itu, Samira yang saat itu tertidur lelap langsung terbangun dari tidurnya dan ia terlihat terkejut karena apa yang di rasakan nya benar, Ayan benar benar tidak ada di kamar.


Kegelisahan pun di rasakan oleh Samira dan keluarga nya, setalah ia mengetahui kalau Ayan tidak berada di dalam kamar. Mereka bergegas ke sana kemari untuk mencari tahu keberadaan Ayan.


Beberapa saat kemudian, keluarga Ayan keluar dari kamarnya untuk mencari keberadaan Ayan. Saat itu kepanikan di rasakan oleh Samira dan yang lain lainnya. Mereka memanggil manggil nama Ayan dengan melihat ke sana kemari. Namun, tiba tiba langkah mereka terhenti. Hal itu karena ia melihat Ayan berdiri di dekat seorang suster dengan derai air mata yang mengalir membasahi pipi nya.


Menyadari kalau keluarganya sudah menemukan dirinya, Ayan yang saat itu berdiri membelakangi keluarga pun langsung berbalik dan melihat ke arah keluarga nya.


"Ayan syukurlah kamu ada di sini, Ibu kira kamu ada di mana. Ibu sangat khawatir," ucap Ibu Ayan dengan mendekati Ayan, namun saat ibunya mendekati dirinya ia justru menjauh dari ibunya dengan raut muka yang terlihat sedih dan mata yang berderai air mata.


"Kenapa Ibu bohong dengan aku?" jawab Ayan dengan nada masih rendah.


"KENAPA?!!" bentak Ayan dengan nada tinggi hingga membuat semua orang yang saat itu berada di ruang itu terkejut.


"Kenapa ibu mengatakan kalau Jasmin baik baik saja? Kenapa Ibu berbohong dengan aku Bu?" lanjut Ayan dengan nada semakin tinggi.


Melihat kemarahan besar dari Ayan, Ibu Ayan berusaha untuk menenangkan Ayan, tidak hanya Ibu Ayan salah satu yang suster yang mendengar pertengkaran itu pun dengan perlahan ia membantu Ibu Ayan untuk tenang. Namun, karena Ayan sudah tidak bisa mengontrol emosinya akhirnya, Ayan pun memilih untuk pergi dengan air mata dan langkah yang tertatih.


Menyadari hal itu, Ibu Ayan pun mengejar Ayan dan mencoba menghentikan Ayan. Begitu pula Samira dan Ayah Ayan. Namun, apa boleh buat hati Ayan sudah hancur dengan kebohongan keluarganya.

__ADS_1


Saat itu dengan langkah yang tertatih ia berjalan menuju ke tempat pemakaman yang di tempati oleh Ayan, dengan sedih ia berjalan kaki dengan air mata yang terus berderai membasahi pipinya dan ia juga terlihat tidak percaya dengan apa yang di dengar nya.


Tak berselang lama, Ayan berada di tempat pemakaman. Dengan langkah tertatih dan mata yang di penuhi oleh air mata ia mencari keberadaan makam Jasmin, setelah beberapa saat mencari makan Jasmin. Tak berselang lama ia pun bertemu dengan makam baru yang bernama Jasmin, melihat hal itu langkah Ayan langsung terhenti di dekat makam itu.


Dengan mata yang di penuhi oleh air mata, Ayan langsung menghampiri makan baru itu dan ia memastikan tentang makam itu bukan lah makam dari Jasmin.


Saat ia sudah berada di dekat makam, matanya benar benar tidak bisa menahan tangis. Ia langsung tertunduk lemas tidak berdaya di samping makam itu. Ia tidak bisa berkata sepatah katapun melihat makan itu benar benar makam Jasmin.


"Enggak, ini tidak mungkin benar Jasmin tidak mungkin meninggalkan aku. Dia tidak mungkin melakukannya," ucap Ayan dengan airnya yang terus mengalir membasahi pipinya.


Saat itu ia masih tenang dengan apa yang di lihatnya, namun keadaan berubah ketik ia sadar betul kalau apa yang di lihatnya benar benar Jasmin. Ia menangis histeris, tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Ia berusaha untuk menggali makam itu, dengan sesekali memukul mukul makam Jasmin dengan sedih.


"Kenapa kamu tinggal kan aku Jasmin? Kenapa kamu pergi meninggalkan aku sendiri?" ucap Ayan dengan menundukkan dan terlihat sangat sedih.


Ketika Ayan tengah bersedih, tiba tiba Jasmin dengan pakaian berwarna putih berjalan menghampiri Ayan yang duduk di samping makamnya. Ia kemudian berdiri di belakang Ayan dengan cahaya yang sangat terang menyelimuti tubuhnya.


Setalah itu ia menghampiri Ayan dan memegangi salah satu bahu Ayan, menyadari kalau ada seseorang yang memegangi bahu nya, Ayan pun melihat ke arah orang itu. Saat Ayan sudah melihat orang itu. Kesedihan nya seketika hilang setelah melihat wanita yang berdiri di hadapannya adalah Jasmin.


Melihat hal itu Jasmin tersenyum kecil di bibirnya, Ayan yang menyadari senyuman itu langsung terdiam dari tangisnya dan dengan mata yang terus melihat ke arah Jasmin. Ia kemudian bangun dari duduknya dan berdiri di hadapan Jasmin.


"Aku tidak meninggal kamu Mas, memang tubuh ku terkubur dalam tanah. Tapi... Detak ku, ada di dalam diri kamu, aku tidak pernah meninggalkan kamu!" ucap Jasmin dengan lembut dan tangan kanannya yang ia gerakkan ke arah dada Ayan yang terus berdetak dengan jantungnya.


Mendengar ucapan itu, Ayan tersenyum dengan sedih lalu ia berusaha untuk membalas sentuhan tangan Jasmin yang ada di dada nya, namun tiba tiba dengan perlahan tangan itu menghilang dari hadapan Ayan. Ayan yang menyadari hal itu, berusaha untuk memegangi Jasmin, namum sia sia Jasmin pun menghilang dari hadapan nya dengan senyum kecil di bibirnya.


Melihat Jasmin hilang, Ayan terlihat kebingungan ia melihat ke sana kemari dengan memanggil manggil nama Jasmin, namun hal itu sia sia karena Jasmin sudah pergi untuk selamanya.


Menyadari hal itu, Ayan pun langsung jatuh tertunduk dengan air mata yang terus mengalir dengan mengatakan harapan dan doa agar Jasmin kembali.


"Jasmin, aku mohon... Aku mohon kamu jangan pergi. Aku mohon kamu kembali, Jangan tinggal kan aku!" ucap Ayan dengan duduk bertekuk lutut dengan kepala menunduk.


Ketika Ayan tengah sedih, beberapa orang yang tak lain adalah penjaga tempat pemakaman tengah melakukan patroli, namun tiba tiba fokus mereka berubah ketika melihat Ayan berada di tempat itu.


Saat itu hari yang sudah malam, membuat mereka berpikir kalau Ayan adalah setan. Akhirnya para penjaga itu pun pergi dan lebih memilih untuk meninggalkan Ayan tanpa membantu dirinya.


Beberapa saat kemudian, Ayan terlihat berbaring di samping makam Jasmin, ia ingin menemani Jasmin di pemakaman itu. Saat itu tidak terlihat wajah sedih ataupun takut dari wajah Ayan ketika ia berada di pemakaman. Ia bahkan tidak peduli tempat yang ia tiduri kotor atau tidak yang terpenting ia bisa menemani Jasmin di pemakaman.

__ADS_1


__ADS_2