Sebarkas Harapan Diatas Penantian

Sebarkas Harapan Diatas Penantian
10. Jasmin dan Ayan


__ADS_3

Keesokan harinya, terlihat Ayan, Samira dan Jasmin terlihat sudah berada di sekolahan. Saat itu, Jasmin dan Samira sudah berada di depan kelas Samira. Sedangkan Ayan, ia terlihat menunggu Jasmin di gerbang sekolahan.


"Sayang, kamu sekolah yang pintar dan jangan nakal ya," ucap Jasmin kepada Samira dengan membelai halus kepala Samira.


"Iya Mama," jawab Samira lalu ia mencium tangan Jasmin dan melanjutkan masuk ke dalam kelasnya, setalah Samira masuk ke dalam kelas. Jasmin berbalik dan ingin pulang, namun saat ia sudah berbalik ia melihat Nova berdiri di hadapannya dengan tatapan mata yang terlihat redup.


Menyadari hal itu, Jasmin pun langsung terdiam dengan tatapan mata yang terlihat terus melihat ke arah Nova.


Melihat hal itu, Nova pun menghampiri Jasmin dan ketika ia sudah berada di dekat Jasmin, Nova melihat ke arah Jasmin dengan tatapan mata yang masih terlihat sedih.


"Permisi, Anda menghalangi jalan saya untuk pulang!" ucap Jasmin dengan tegas dan terlihat seperti orang yang masih kesal dengan kehadiran Nova.


"Bu Jasmin, maafkan saya. Saya minta izin dengan ibu untuk membawa Samira bermain ke taman setalah jam sekolah," jawab Nova dengan terlihat bernada rendah dan takut mengatakan hal itu.


Jasmin yang mendengar ucapan dari Nova seketika langsung, tidak percaya dan ia terlihat terkejut dengan apa yang di ucapkan oleh Nova. Saat itu Jasmin, tidak menjawab permintaan dari Nova yang ingin mengajak Samira pergi ke taman. Ia hanya diam dan kemudian ia pergi meninggalkan Nova tanpa menjawab iya atau tidak untuk Samira.


Menyadari hal itu, secara tiba tiba Nova berbalik untuk menghentikan Jasmin yang pergi melewati dirinya.


"Aku mohon..." ucap Nova setelah ia berbalik melihat Jasmin yang berdiri membelakangi dirinya.


Mendengar ucapan itu, Jasmin pun berbalik dan melihat ke arah Bu Nova. Ia kemudian mendekatkan dirinya ke arah Bu Nova dengan tatapan mata yang tajam.


"Apa yang kamu inginkan dari ku Nova? Aku sudah katakan ke kamu, jangan pernah datang ke hidup ku. Kalau pun kamu datang, jadilah orang asing!" ucap Jasmin dengan tegas kepada Nova yang berdiri di hadapan nya.


"Jangan berusaha untuk masuk atau pun berusaha untuk mendekati anak ku," lanjut Jasmin dengan mata yang berkaca kaca.


Mendengar ucapan itu keluar dari mulut Jasmin, Nova pun hanya diam saja dan tidak mengatakan sepatah katapun kepada Jasmin. Jasmin yang menyadari hal itu, ia langsung bergegas pergi dari hadapan Nova.


Beberapa saat kemudian, Jasmin sampai di dekat gerbang sekolah. Menyadari kalau Jasmin sedih setalah keluar dari sekolah, Ayan pun bergegas bertanya kepada Jasmin, tentang apa yang terjadi di dalam sekolahan. Namun, saat itu ia menutupi kesedihannya dari Ayan. Ia hanya mengajak Ayan untuk pulang dengan memberi alasan kalau temannya ada yang baru saja mengalami kecelakaan, dan hal itu lah yang membuat ia sedih bukan yang lainnya. Mendengar ucapan itu dari Jasmin, Ayan pun mengerti dan ia mengajak Jasmin pergi dari sekolahan.


Ketika di jalan, Jasmin yang saat itu di antar oleh Ayan dengan mobil di dalam mobil ia terlihat hanya melamun dan tidak berbicara sepatah katapun kepada Ayan, Ayan yang melihat hal itu ia berusaha untuk mencari topik untuk membuka pembicaraan antara dirinya dan Jasmin.


"Ada apa Jasmin? Kenapa kamu hanya diam saja?" tanya Ayan dengan nada rendah.


"Bukan apa apa Ayan," jawab Jasmin dengan nada santai namun pandangan matanya terlihat tetap melamun . Melihat hal itu, Ayan pun langsung menghentikan mobilnya. Menyadari kalau mobilnya berhenti, Jasmin pun langsung sadar dari lamunannya dan melihat ke arah Ayan yang berada di sampingnya.

__ADS_1


"Ada apa Ayan? Kenapa kamu berhenti di sini, ini kan buka rumah ku?" tanya Jasmin kepada Ayan yang saat itu membalas tatapan matanya Jasmin. Namun saat itu Ayan tidak mengatakan sepatah katapun, ia hanya turun dari mobilnya dan menghampiri pintu di sebelah Jasmin.


Saat ia sudah berada di dekat Jasmin, ia membuka pintu yang berada di dekat Jasmin, ketika Ayan berjalan menghampiri Jasmin mata Jasmin terlihat terus memandangi Ayan dengan kebingungan dengan yang di lakukan oleh Ayan.


Ketika pintu mobil sudah di buka, Ayan minta Jasmin untuk keluar dari mobil.


"Kamu keluar sekarang," pinta Ayan dengan tegas dan serius kepada Jasmin, Jasmin yang mendengar hal itu dengan terlihat seperti kebingungan ia pun turun dari mobilnya.


"Ada apa ini Ayan?" tanya Jasmin kepada Ayan ketika ia sudah berada di depan Ayan.


Melihat kalau Jasmin sudah keluar dari mobilnya, Ayan menutup pintu mobil lalu ia kembali ke dalam mobil. untuk menepikan mobilnya yang saat itu berhenti di tengah jalan. Saat mobil sudah berada di tepi jalan, Ayan kembali keluar dari mobilnya dan menghampiri Jasmin.


Saat ia sudah berada di depan Jasmin, Ayan menghampiri Jasmin dan ia tersenyum kepada Jasmin. Setalah beberapa saat tersenyum, Ayan mengulurkan tangannya ke arah tangan Jasmin, Jasmin yang melihat hal itu ia hanya tersenyum dan ia pun membalas uluran tangan Ayan dengan senyum kecil di bibirnya.


Mereka berdua pun akhirnya berjalan bersama di tepi jalan dengan terlihat berbicara dengan sangat seru dan sangat bahagia.


"Hari itu, ada perasaan aneh di dalam hati ku. Aku merasa ada cinta yang mulai tubuh untuk dirinya, senyum yang saat itu hilang kini kembali di wajah ini. Namun, masih ada ketakutan akan kembalinya luka itu lagi, maka apa yang harus aku lakukan? Harus kah aku terus meragu atau justru percaya dengan semua hal ini?" ucap Jasmin di dalam hatinya ketika ia berjalan di tegah jalan dengan Ayan.


Ketika di pertengahan jalan, tiba tiba cuaca yang cerah berubah menjadi mendung. Lalu, setetes demi setetes jatuh membasahi tubuh Ayan dan Jasmin. Pada awalanya, setalah menyadari kalau hujan turun dari langit. Jasmin mengajak Ayan untuk meneduh, namun saat itu Ayan tidak mendengar apa yang di katakan oleh Jasmin. Ia tetap bermain main seperti anak kecil di bawah derasnya air hujan yang jatuh membasahi tubuhnya.


Melihat hal itu, Jasmin yang saat itu sudah meneduh di halte bis langsung menghampiri Ayan dan menghentikan Ayan bermain main di derasnya air hujan yang membasahi tubuhnya. Ia berputar putar, menari nari dan bernyanyi dengan sangat riang.


Melihat kedatangan Jasmin yang berdiri di depan yang dan ikut hujan hujan, Ayan pun langsung mengentikan tindakan nya dan ia berdiri di hadapan Jasmin. Lalu, ia tersenyum kepada Jasmin.


"Coba deh kamu, rasakan air hujan ini dengan sepenuh hati kamu. Aku yakin pasti semua masalah kamu akan larut bersama dengan air hujan ini," jawab Ayan dengan sesekali membasuh muka nya dari air hujan.


Pada awalnya Jasmin tidak ingin menuruti apa yang di inginkan oleh Ayan, dan dengan erat ia langsung memegangi tangan Ayan untuk mengajak Ayan berteduh. Namun, lagi lagi Ayan tidak mendengar apa yang di inginkan oleh Jasmin. Ia hanya terus memaksa Jasmin untuk merasakan air hujan yang jatuh.


Akhirnya Jamin pun menuruti permintaan Ayan, saat itu Jasmin menutup matanya dan ia merentangkan salah satu tangannya dengan perlahan. Melihat kalau Jasmin menuruti apa yang di inginkan oleh Ayan. Ayan pun menghentikan tindakan nya yang seperti seorang anak anak. Ia kemudian mendekati Jasmin dan berdiri di hadapan Jasmin dengan pandangan mata yang melihat ke arah Jasmin.


Waktu itu Ayan ini membelai tubuh Jasmin, namun ia saat tangannya ingin meraih pipi Jasmin. I kembali menariknya dan melangkah mundur.


Di sisi lain, Jasmin terlihat sangat tenang, dengan merasakan air hujan yang membasahi tubuhnya. Ia merasa Memeng sangat damai merasakan air hujan itu.


Melihat hal itu Ayan terlihat sedih dan ia meneteskan air mata yang bercampur dengan air hujan. Saat itu pandangan matanya terus melihat ke arah Jasmin dengan sesekali menghapus air matanya.

__ADS_1


Tak berselang lama, Jasmin membuka matanya dan melihat Ayan yang sudah berdiri jauh dengan dirinya. Melihat hal itu, Jasmin tersenyum kepada Ayan dengan raut muka yang terlihat bahagia.


Menyadari kalau Jasmin sudah membuka matanya dan melihat dirinya, dengan bergegas Ayan langsung memeluk Jasmin dengan sangat erat. Menyadari hal itu, Jasmin pun hanya diam dengan tatapan mata yang terlihat terkejut dan tidak bisa berkata kata dengan apa yang dilihatnya.


Setelah beberapa saat memeluk Jasmin, Ayan pun melepaskan pelukannya dengan pandangan yang terlihat sedih melihat Jasmin.


"Maafkan aku memeluk kamu, aku hanya tidak bisa mengendalikan hasrat cinta ku kepada kamu. Aku benar benar cinta kamu, dan aku ingin memiliki kamu," ucap Ayan dengan memegang kedua lengan Jasmin dengan sedih.


Jasmin yang mendengar ucapan itu, ia hanya diam dengan raut muka yang terlihat ikut sedih atas apa yang di ucapan oleh Ayan.


Beberapa saat kemudian, Jasmin memegangi kedua pipi Ayan dengan penuh kasih sayang dan kelembutan dengan air mata yang juga menangis membasahi pipinya.


"Ada saatnya aku bersama kamu dan ada saatnya juga aku harus pergi dari kamu. Aku tidak bisa menentukan aku cinta dengan kamu atau tidak, karena aku merasa setiap kali aku melihat kamu... " ucap Jasmin dengan sedih dengan air matanya terus mengalir. Setelah itu ia mendekatkan wajahnya ke wajah Ayan dan ia melanjutkan "ada sebuah luka yang tidak bisa untuk di obati. Wajah ini, wajah ini lah luka itu!."


Setelah mengatakan hal itu, dengan perlahan Jasmin melepaskan tangannya yang memegangi kedua pipi Ayan di bawah derasnya air hujan. Ia kemudian berdiri di depan Ayan dengan meraih kedua tangan Ayan dengan perlahan.


"Ayan, aku bingung dengan perasaan ini. Aku merasa aku jatuh cinta dengan kamu, tapi... Kamu tahu kalau ada luka atas penantian ini, aku memang sudah menanam benih cinta untuk kamu. Tapi aku tidak bisa berjanji, berjanji atas benih ini akan tumbuh indah dan berbuah manis untuk kamu. Aku tidak bisa memberi harapan yang indah buat kamu. Aku tidak akan bisa melakukannya," ucap Jasmin dengan sedih lalu ia melepaskan tangan Ayan dan pergi meninggalkan Ayan. Ayan yang melihat hal itu, ia hanya diam dengan raut muka sedih dan pandangan matanya yang terus melihat Jasmin yang melangkah pergi meninggalkan dirinya.


Saat itu Jasmin pergi meninggalkan Ayan dengan raut muka yang sangat sedih dan derai air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.


"Maafkan aku, bukannya aku ingin menyakiti kamu. Aku hanya ingin melindungi kamu dari rasa sakit itu Ayan. Aku tidak ingin kamu merasakan apa yang pernah aku rasakan di dalam hati ku, mungkin bagi mu ini menyakiti kamu dan tidak menyakiti aku. Kamu salah, aku juga tersakiti dengan semua ini!" ucap Jasmin dengan terus melangkah pergi meninggalkan Ayan, bahkan ia tidak berbalik sedikit pun untuk melihat Ayan.


Malam hari pun tiba, terlihat Ibu Ayan sangat khawatir karena Ayan belum pulang ke rumah.


Melihat hal itu, Ibu Ayan pun berusaha untuk menghubungi Jasmin untuk bertanya kepada Jasmin jika mungkin Ayan di rumahnya, namun saat Ibu Ayan sudah menghubungi Jasmin, Jasmin mengatakan kalau Ayan seharusnya sudah pulang dari tadi. Kekhawatiran pun langsung terlihat di raut muka Jasmin ketika ia menyadari kalau Ayan belum pulang dari rumah. Saat itu ia berada di dalam kamarnya bersama dengan Samira ia menemani Samira belajar.


"Ada apa Mama?" tanya Sakura setelah melihat Jasmin terlihat sangat khawatir.


Mendengar ucapan itu, Jasmin pun mengajak Samira bergegas membereskan barang barangnya dan ia mengajak Samira untuk mencari Ayan. Namun, karena saat itu hari sudah malam akhirnya Jasmin pun memutuskan untuk menghubungi Firman untuk menjaga Samira selagi ia mencari Ayan. Mendapatkan telepon dari Jasmin untuk menjemput Samira, Firman pun tanpa berpikir panjang langsung menghampiri Samira dan Jasmin untuk menjemput Samira.


"Samira, Mama minta hari ini kamu dengan Papa dulu ya, tidak papakan?" ucap Jasmin dengan kepada Samira. Samira yang mendengar ucapan itu ia pun menganggukkan kepalanya sebagai tanda bahwa dirinya mengerti.


Tak berselang lama Firman pun datang, melihat hal itu ia langsung menghampiri Jasmin dan Samira yang saat itu sudah berada di luar rumah.


"Ada apa Jasmin?" tanya Firman dengan terlihat panik setalah mendengar Jasmin mengubungi dirinya dengan gugup.

__ADS_1


"Nanti aku jelaskan ke Mas yang terjadi, yang jelas sekarang aku ingin titip Samira ke Mas dulu," jawab Jasmin dengan baik. Mendengar ucapan itu Samira pun pergi ke dalam mobil dan di susul oleh Firman.


Beberapa detik kemudian, Firman dan Samira pun pergi dari rumah Jasmin. Melihat hal itu di susul oleh Jasmin, ia pun juga pergi namun perginya dia ingin mencari Ayan yang katanya tidak pulang dari pagi.


__ADS_2