Sebarkas Harapan Diatas Penantian

Sebarkas Harapan Diatas Penantian
36. Samira koma


__ADS_3

Waktu terus berjalan, detik terus berganti detik. Namun, tidak ada tanda tanda kesembuhan yang terlihat di lakukan oleh Samira.


Saat itu kutadahkan tangan ku dengan air mata yang mengalir membasahi pipi. Ku meminta kepada Tuhan dengan berjuta doa tulus yang ku ucap dari mulut ku.


Air mata ku saat itu mengalir deras, seperti Sungai Amazon yang terus mengalir tanpa henti.


"Ya Tuhan ku, hamba meminta kepada Engkau. Maafkan atas segala dosa yang pernah saya perbuat. Saya mohon jika Engkau ingin menghukum seseorang lebih baik hukumlah saya. Jangan menghukum orang lain atas kesalahan yang saya perbuat. Angkat penyakit yang di dera olah Samira. Buang jauh apa yang Samira lalui saat ini." Ucap ku dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipi.


Beberapa saat kemudian, ku merapikan diri setelah melakukan doa.


Ketika aku berada di depan kamar yang di tempati oleh Samira, aku melihat wajah cemas dan gelisah masih tergambar di wajah Ayan dan orang tuannya.


Melihat hal itu, aku mencoba untuk mendekat. Walau berat aku rasakan, ku coba menanam keberanian untuk menghampiri keluarga Ayan di depan kamar yang di tempati oleh Samira.


Saat diri ku dekat dengan keluarga Ayan, ku hela nafas perlahan. Ku tundukkan wajah ku dengan sedih.


"Mas ... " Panggil ku dengan lirih kepada Ayan. Namun, tatapan mata tajam menatap ke arah nya. Ia seperti ingin menerkam Syakira.


Menyadari hal itu, kembali ku tundukkan wajah ku. Ucapan yang saat itu ingin ku lupakan, terasa kembali tertelan di kerongkongan ku.


Menyadari hal itu, Firman yang saat itu sudah tidak suka dengan hadirnya Syakira di hidupnya. Dengan kemarahan yang sangat luar biasa, ia menghampiri Syakira dan menarik tangan Syakira dengan kasar.


"Saya mohon Mas Firman, saya mohon izinkan saya untuk tetap di sini saya mohon." Pinta ku kepada laki laki yang aku cintai itu, namun apalah daya nasi sudah menjadi bubur. Kecelakaan yang seharusnya tidak terjadi justru terjadi.


"Tidak ada maaf untuk kamu, gara gara kamu. Samira harus di operasi dan sekarang aku tidak tahu keadaannya!" Ucap Firman dengan tegas kepada Syakira. Ia kemudian kembali menarik tangan Syakira agar ia menjauhi Samira.

__ADS_1


Saat itu di luar rumah, hujan turun dengan deras. Menyadari hal itu, Syakira terus meminta kepada Firman agar ia mengizinkan dirinya untuk ikut menunggu kepulihan Samira. Namun, hal itu tidak di dengar oleh Firman. Ia tetap meminta Syakira pergi, bahkan ia sampai mendorong Syakira hingga ia terdorong ke halaman rumah sakit dan kembali basah kuyup karena hujan yang jatuh.


"Mas Firman saya mohon sama mas, tolong izinkan saya untuk menemani dan menunggu kepulihan Samira," pinta ku.


"Lalu apa ? Apa ketika Samira sudah sadar kamu akan menghabisi dia, iya? " Jawab Firman dengan sangat marah.


"Tidak, Mas Firman. Saya tidak akan melakukan hal itu. Saya mohon sama mas."


Mendengar permintaan Syakira lagi, Firman justru semakin tidak mempedulikan apakah yang di inginkan bahkan Firman sampai memberi ancaman kepada Syakira agar ia tidak datang ke rumah sakit lagi.


Setalah memperingati Syakira agar tidak datang ke kamar Samira, Firman pun pergi meninggalkan Syakira di bawah derasnya air hujan yang membasahi sekujur tubuhnya.


"Aku mohon," pinta Syakira.


Di kala itu, Firman tampak sangat tidak peduli dengan Syakira.


Setelah beberapa saat menangis. Aku mencoba berdiri, lalu dengan langkah berat ku langkahkan kaki menjauhi rumah sakit. Air mata ku terus mengalir, kesedihan sangat aku rasakan. Aku merasa sebuah kehampaan menerpa di hidup ku.


Di dalam rumah sakit, Samira masih dalam keadaan koma. Alat alat rumah sakit sudah di pasang di tubuh Samira. Ketika kepergian Syakira dari rumah sakit, keadaan Samira semakin kritis.


Kepanikan pun langsung terjadi, setalah salah satu suster menyadari kalau detak jantung Samira berdetak dengan lemah. Para suster pun langsung memeriksa keadaan Samira yang sebenarnya, menyadari detak jantung Samira semakin lemah salah satu dokter meminta untuk suster yang ada di dekatnya agar memasang alat kejut jantung untuk menyelamatkan Samira.


Ketika alat pendeteksi detak jantung sudah benar benar memperlihatkan penurunan yang sangat drastis. Alat kejut jantung pun di pasang di dada Samira agar memberi kejutan dan mengembalikan detak jantung Samira.


Percobaan pertama yang di lakukan oleh dokter di waktu itu, tidak membuahkan hasil. Setalah itu ia kembali mencoba lagi untuk yang kedua kalinya. Nihil, apa yang terjadi kepada Samira sepertinya tidak akan bisa di kembalikan oleh para dokter itu.

__ADS_1


Di saat langkah Syakira yang sudah jauh dari rumah sakit. Tiba tiba, ia teringat dengan Samira. Menyadari hal itu, ia langsung berlari dan kembali ke rumah sakit tanpa mempedulikan peringatan yang di lakukan oleh Firman kepada dirinya.


Ia berlari dengan sangat cepat, bak kuda hitam. Ia melewati derasnya air hujan yang turun membasahi tubuhnya.


Di dalam rumah sakit, para dokter kembali mencoba untuk yang ketiga kalinya. Namun, hasilnya sama. Dimana saat itu, Samira tidak memberi respon apa setelah menerima kejutan jantung ke tiga kalinya.


Alat pendeteksi jantung pun memperlihatkan, sudah tidak ada lagi harapan untuk Samira kembali hidup. Salah satu dokter pun keluar untuk memberi tahu keluarga Samira jika Samira sudah meninggal.


"Keluarga Non Samira" panggil salah satu dokter yang keluar dari kamar yang di tempati oleh Samira.


Mendengar panggilan itu, secara bersamaan mereka mendekati dokter itu dan bertanya kepada dokter itu tentang keadaan Samira yang sebenarnya.


"Maafkan kami Pak Firman, kamu sudah berusaha dengan sekuat tenaga. Tapi .... Maafkan kami, kami tidak bisa menyelamatkan nyawa Non Samira." Mendengar ucapan itu semua orang terkejut, mereka terlihat tidak percaya atas apa yang di katakan oleh dokter itu tentang Samira. Ayan terlihat tidak bisa berkata kata mendengar hal itu, ia terlihat hanya lemas dan dengan perlahan ia berjalan mundur untuk duduk di kursi.


Ia tidak percaya atas apa yang di katakan oleh dokter itu. Sejenak Ayan duduk di kursi dengar raut muka yang masih terlihat terkejut.


Beberapa saat kemudian, Aya. Bangun dari duduknya dengan sangat marah dan kesal. Ia menghampiri dokter itu dan menarik kerah dokter itu agar dokter itu tidak main main dengan dirinya. Namun, saat itu dokter menegaskan kepada Ayan dan keluarga Samira yang lain bahwa apa yang di ucapkan oleh dirinya adalah sebuah kebenaran dan tidak ada kebohongan yang di tutup tutupi.


"Dokter jangan bercanda, kalau sampai Dokter bercanda. Aku tidak aka segan segan menuntut rumah sakit ini!."


"Maafkan kami Pak Ayan, apa yang kami ucapkan adalah kebenaran. Tidak ada kebohongan apapun tentang hal ini," ucap dokter yang mengoperasi Samira.


Seketika Ayan pun terdiam, dengan perlahan ia melepaskan tangannya dari kerah pakaian yang di pakai oleh dokter itu. Ia kembali lemas dan duduk di kursi dengan tidak percaya jika anaknya juga meninggal dirinya.


Saat itu suasana duka menyelimuti kehidupan Ayan dan yang lain lainnya. Terlihat, Syakira baru saja sampai di rumah sakit dengan keadaan tubuh yang basah kuyup karena hujan yang sangat deras.

__ADS_1


__ADS_2