
Di sekolah terlihat Samira keluar dari kelas nya dengan di dampingi oleh Nova yang saat itu terlihat mengajak Samira mengobrol tentang keadaan Firman dan dirinya. Namun, saat itu Samira terlihat tidak suka jika dirinya menerima pertanyaaan tentang ayahnya. Ia terlihat hanya diam, namun karena ia tidak ingin di anggap tidak sopan, akhirnya ia pun mengatakan hal yang membuat Nova sedikit pun tidak berkutik.
"Maafkan saya Bu, saya mohon ibu jangan berbicara tentang ayah saya. Saya tidak suka jika ibu berbicara tentang ayah saya," ucap Samira dengan tegas kepada Nova. Setalah mengatakan hal itu, Samira meninggalkan Nova karena di waktu itu ia melihat Ayan sudah berada di hadapannya.
Dengan raut muka yang terlihat kesal, Samira masuk ke dalam mobil. Menyadari kalau Samira marah, Ayan pun langsung masuk ke dalam mobilnya dan terlihat ia duduk dan kursi pengemudi dengan raut muka yang heran.
"Ada apa Samira? Kenapa Om lihat kamu terlihat marah dan kesal?" tanya Ayan kepada Samira dengan baik sambil sesekali melihat kearah Samira. Samira yang menyadari hal itu, ia hanya tersenyum kepada Ayan.
"Bukan apa apa, " jawab Samira dengan ekspresi masih terlihat menyimpan kemarahan.
Menyadari hal itu, Ayan pun akhirnya memalingkan wajahnya dan ia memilih untuk pergi fokus mengemudikan mobilnya.
Di tempat Syakira berada, Firman terlihat kembali melewati taman itu. Saat itu ia melihat Syakira tengah mengajar anak jalanan itu, menyadari hal itu ia terlihat tidak percaya karena wanita yang mirip dengan Jasmin itu tinggal di jalanan bersama dengan anak anak itu.
Demi memastikan apa yang dipikirkannya tidak lah benar Firman pun turun dari mobil nya dengan membawa satu kantung plastik makanan untuk anak anak itu. Melihat kedatangan Firman, anak anak itu terlihat berbeda sikap. Mereka terlihat lebih cuek dan tidak peduli dengan kedatangan Firman.
Melihat kedatangan Firman, Syakira terlihat sangat bahagia. Hal itu terjadi karena sejak pertemuan kedua antara dirinya dan Syakira di restoran waktu itu, Syakira sudah menaruh hati dengan Firman.
"Mas Firman, ada apa Mas kemari?" tanya wanita cantik itu kepada laki laki yang sudah ia taksir.
"Bukan apa apa, aku hanya ingin mampir sebentar. Oh iya, aku ada makanan ini untuk anak anak itu," ucap Firman dengan baik lalu ia memberikan sekantung plastik makanan itu kepada Syakira, setelah Syakira menerima nya Syakira pun membagikan makanan itu kepada anak anak itu. Setalah semua mendapatkan bagiannya masing masing, Syakira mengajak Firman pergi jalan jalan selagi menunggu anak anak itu makan.
"Makasih ya Mas, karena Mas sudah membantu saya dan anak anak dengan membawakan makanan untuk anak anak itu!" ucap Syakira dengan sesekali menundukkan kepalanya karena ia malu berbicara dengan Firman. Terutama, ketika mereka berjalan berdua seperti saat ini.
"Sama sama. Ngomong ngomong, kamu tinggal di mana?" tanya Firman dengan baik kepada Syakira. Syakira yang mendengar ucapan itu pun langsung menjelaskan kepada Firman kalau dirinya tinggal dengan anak jalan itu.
Mendengar kalau Syakira tinggal di jalan bersama dengan anak anak itu, Firman terlihat terkejut dan ia tidak percaya kalau apa yang di pikirkan nya selama ini benar, ia tidak percaya kalau Syakira benar benar tinggal di jalan bersama dengan anak anak itu.
Saat itu ia hanya diam dengan mendengarkan cerita dari Syakira, namun lama kelamaan ia terlihat tidak suka dengan Syakira, hal itu terjadi karena menurut dia Syakira bukanlah level dia.
Setalah beberapa saat diam seribu bahasa dengan mendengarkan cerita dari Syakira, tiba tiba Firman terlihat bangun dari duduknya di samping Syakira. Syakira yang menyadari hal itu, ia terlihat sangat terkejut dan ia pun ikut bangun dari duduk nya.
"Ada apa Mas?" tanya Syakira kepada Firman.
"Bukan apa apa, aku hanya ingin mengangkat panggilan saja," jawab Firman untuk menghindari Syakira.
__ADS_1
Syakira yang mengetahui kalau Firman menerima panggilan di ponselnya, ia pun hanya tersenyum tanpa menaruh perasaan curiga sedikitpun kepada Firman, hal itu karena cinta nya kepada Firman.
Setalah berpura pura menerima panggilan dari seseorang, Firman pun kembali ia menghampiri Syakira kalau dirinya menerima telepon dari kantornya karena ada tamu yang harus ia temui, Syakira yang merasa masih bukan siapa siapa, ia pun menganggukkan kepalanya sebagai tanda ia mengizinkan Firman pergi dari taman.
Ketika itu Firman tidak langsung pergi dari taman itu, ia masuk ke dalam mobil dan terlihat duduk di dalam mobil selama beberapa saat dengan raut muka yang terlihat tidak percaya atas apa yang sudah di dengarnya dari mulut Syakira.
Waktu itu Syakira yang melihat Firman pergi ia terlihat sedih, namun apa boleh buat dia buka lah siapa siapa di hidup laki laki itu. Dia hanya lah sebatas wanita yang mirip dengan manatan istrinya.
Saat itu, Firman terlihat tidak percaya kalau wanita yang ia incar untuk menjadi pengantin Jasmin adalah seorang wanita jalanan. Saat itu pula ia merasa sangat tidak suka dan ilfil dekat dengan Syakira.
****
Di pemakaman terlihat Samira duduk di samping makam ibunya begitu pula Ayan, ia juga duduk di samping makam Jasmin. Saat itu air matanya terus mengalir membasahi pipi Samira.
"Mama, Samira rindu dengan Mama. Samira tidak bisa hidup tanpa Mama, kenapa Mama sangat cepat meninggalkan Samira?" ucap Samira dengan sedih dan berurai air mata.
Mendengar ucapan itu Ayan yang saat itu juga sedih, ia memegangi kedua lengan Samira dengan perlahan untuk menenangkan Samira.
"Iya Jasmin, kami rindu dengan kamu. Kenapa kamu meninggalkan kami?" sahut Ayan dengan air mata yang juga mengalir membasahi pipinya.
Di saat kedua orang itu tengah menangis sesenggukan, awan tiba tiba berubah menjadi gelap gulita. Hujan turun dengan sangat deras membasahi tubuh kedua orang itu.
Melihat hal itu, Ayan pun akhirnya memilih untuk tetap menemani Samira yang menangis di bawah deras nya air hujan. Ketika Ayan dan Samira tengah duduk di samping makam Jasmin, terlihat mobil hitam yang di kendarai oleh Firman terlihat baru sampai di pemakaman. Melihat kalau Samira duduk di makam Jasmin dengan kehujanan. Firman pun menganggap kalau Ayan tidak bisa merawat Samira karena ia membiarkan Samira kehujanan. Saat itu Firman menghampiri Ayan dan Samira dengan penuh emosi tanpa mempedulikan hujan yang turun membasahi tubuhnya sangat deras.
Ketika ia sudah berada di dekat Ayan, Firman langsung menarik kerah pakaian Ayan dan dengan sekuat tenaga ia memukul Ayan hingga Ayan jatuh tersungkur dan kepalanya hampir membentur batu nisan.
"Kamu itu gimana sih, sekarang itu hujan. Kenapa kamu tidak mengajak Samira berteduh? Apa kamu ingin anak ku sakit, hah?" ucap Firman dengan nada bicara tinggi dan saat itu ia terlihat marah. Ia hanya berdiri di hadapan Ayan dengan memakai maki Ayan.
Melihat kedatangan ayahnya yang tiba tiba marah dan memukul Ayan, Samira yang saat itu sedih langsung bangun dari duduknya dan ia menghampiri ayahnya yang ingin memeluk Ayan.
"Pah, stop!" panggil Samira kepada Firman dengan terlihat marah. Mendengar ucapan itu, seketika Firman pun menghentikan tindakan nya yang saat itu ingin memukul Ayan lagi. Setalah Firman berhenti dan menurunkan tangannya dari ancang ancang ingin memukul Ayan, Samira pun berdiri di hadapan Firman dengan sedih.
Saat Samira sudah berdiri di antara Ayan dan Firman. Ayan terlihat dengan tertatih ia terbangun dari jatuhnya akibat pukulan itu.
"Papa, udah cukup. Ini bukan salahnya Om Ayan, ini bukan kesalahan siapapun. Menang Samira lah yang ingin untuk bermain hujan hujanan, tadi Om Ayan sudah mengajak aku berteduh tapi aku tidak mau hal itu. Aku masih merindukan ibu, makanya aku tidak ingin berteduh!" ucap Samira dengan tegas dan lantang di hadapan ayahnya. Firman yang menyadari hal itu, ia terlihat menyesal dan ia terlihat berusaha untuk meminta maaf kepada Samira, namun saat itu Samira tidak ingin mendengar permintaan maaf dari ayah nya.
__ADS_1
"Maafkan Ayah, Samira. Maafkan Ayah atas kesalahan yang Ayah lakukan, " ucap Firman dengan sedih dan terlihat ia duduk bertekuk lutut di hadapan Samira. Samira yang menyadari hal itu, ia semakin mendekati ayahnya. Ketika ia sudah berada di dekat ayah nya, Samira memegangi kedua pipinya dengan perlahan dan penuh kelembutan.
Menyadari pipinya di pegangin oleh Samira, Firman pun membalas pegangan itu dengan lembut dan dengan mata sedih yang terus melihat ke arah gadis itu.
"Samira selalu memaafkan Ayah, hal itu Samira lakukan karena Ayah Firman adalah ayah dari Samira. Kalau seandainya Ayah Firman bukan lah ayah dari Samira. Mungkin, Samira tidak akan menemui Ayah lagi!" jawab Samira lalu dengan perlahan ia melepaskan tangannya yang di pegangin oleh tangan Firman. Mendengar ucapan itu, Firman terlihat sangat terkejut. Matanya terbuka lebar dan ia tidak bisa berkata kata atas apa yang sudah dia dengar dari mulut anak nya.
Setelah tangan Samira terlepas dari tangan Firman, tubuh Firman seakan lemas dan ia terlihat seperti tidak berdaya atas apa yang sudah terjadi. Ia terlihat sedih dengan hal itu, kesedihan nya semakin menjadi ketika Samira berbalik dan membelakangi diri nya lalu tanpa mempedulikan Firman ia mengajak Ayan pergi. Saat itu Ayan hanya diam melihat Samira mengajak dirinya pergi dari makam.
"Aaaaaaaa" terik Firman ketika ia sudah melihat Samira pergi dari hadapannya dengan laki laki yang bukan ayahnya. Saat itu Firman terlihat berurai air mata di bawah derasnya hujan yang membasahi tubuhnya. Di waktu itu ia hanya menunduk kan kepalanya dengan sedih selama beberapa saat. Hal itu terjadi karena Firman menyesali atas apa yang sudah dia lakukan dengan Samira hingga membuat anak nya sendiri pun pergi meninggalkan dirinya.
Setalah beberapa saat menundukkan kepala dengan menyesal, ia bangun dari duduk bertekuk lutut nya dan ia menghampiri makam Jasmin dengan langkah yang sudah tidak punya gairah untuk hidup.
Ketika ia sudah berada di dekat makam Jasmin, ia langsung duduk bertekuk lutut dengan berderai air mata.
"Maafkan aku Jasmin, aku sudah jahat dengan kamu dan anak kita. Sekarang aku sadar, Samira memang sangat penting di hidup ku. Aku mohon dengan kamu tolong.. Tolong buat Samira kembali kepada ku, aku tidak akan bisa apa apa jika tanpa Samira Jasmin. Aku mohon sama kamu, tolong kamu maafkan aku!" ucap Firman dengan sedih dan terlihat sangat menyesal, namun semua sudah terlambat. Di mana apa yang di tulis Jasmin sebelum kepergian nya, semua terbukti benar di mana ketika Firman sadar makan Firman akan kehilangan semuanya yang sudah di miliki.
Di dalam mobil, terlihat Samira hanya melamun dengan pandangan mata yang kosong. Ia sebenarnya sedih meninggalkan ayah nya sendiri, namun ia merasa ayah nya tidak akan pernah berubah jika ia tidak melakukan ini.
Menyadari kalau pandangan mata Samira kosong, Ayan yang mengemudikan mobil dengan perlahan memegangi bahu Samira hingga membuat Samira yang saat itu melamun ia terlihat terkejut.
"Ada apa? Kenapa kamu hanya diam dan melamun?" tanya kepada Samira yang saat itu pandangan mata nya sudah kembali dan tidak kosong lagi. Saat itu ia melihat ke arah Om Ayan nya dengan sedih.
"Bukan apa apa Om," jawab Samira lalu ia tersenyum kepada Ayan selama beberapa saat. Setalah itu ia memalingkan wajahnya dan ia menundukkan kepalanya. Melihat hal itu, dengan perlahan ia pun melepaskan tangannya yang memegangi bahu Samira. Ia kemudian kembali fokus melihat ke arah jalan untuk mengemudi.
Beberapa saat kemudian, Samira dan Ayan sampai di rumah Ayan. Saat itu Ibu Ayan menyambut Samira dengan baik seperti cucunya sendiri, ia mengambil kan handuk untuk Samira dan Ayan. Setelah itu ia membuatkan teh untuk mereka berdua, saat itu Ibu Ayan yang melihat kedua orang yang di sayangnya tersebut pulang dalam keadaan basah kuyup. Ia terlihat sangat khawatir dan memberi omelan kepada Ayan karena ia berpikir kalau Ayan lah yang mengajak Samira bermain hujan.
Samira yang mendengar kalau Ibu Ayan mengomel karena melihat kedua orang itu pulang. Ia terlihat berusaha untuk menjelaskan kepada Ibu Ayan, namun saat itu Samira tidak memiliki ruang sedikit pun. Saat itu setiap kalau Samira ingin mengatakan sepatah kata Ibu Ayan selalu memotong ucapan Samira.
Ayan yang saat itu melihat kejadian itu ia hanya tersenyum kecil di bibirnya, bagi Ayan kejadian itu lucu namun saat itu ia masih bisa menahan tawanya. Menyadari hal itu, lama kelamaan Ayan pun terlihat kasih dengan hal itu lalu dengan keadaan dia yang masih memakai handuk ia menghampiri ibunya dan memegangi kedua lengan ibunya dari belakang.
"Mama, bisa kah Mama diam sebentar? Kasihan, cucu Mama. Mau bicara tapi tidak ada ruang tersisa untuk dia berbicara," ucap Ayan dengan senyum kecil di bibirnya. Ibu Ayan yang mendengar ucapan itu pun terlihat tertawa geli atas apa yang di lakukannya ia terlihat hanya tertawa terbahak bahak karena ia terus mengomel dan tanpa mempedulikan penjelasan yang akan di katakan oleh Samira.
"Maaf kan Oma ya Samira," ucap Ibu Ayan lalu ia memberikan pelukan hangat kepada Samira.
Samira yang menyadari hal itu ia membalas pelukan itu dengan erat dan ia terlihat sangat bahagia, walaupun Ayan bukan lah suami dari ibunya ia tetap menerima Samira dan menganggap Samira sebagai anaknya sendiri.
__ADS_1
Melihat hal itu Ayan terlihat sangat terharu dan matanya tiba tiba berkaca kaca. Ia terlihat tidak percaya walaupun tidak ada hubungan erat antara keluarganya dengan keluarga Jasmin, namun keluarga Ayan sangat menyayangi Samira.
"Lihatlah Jasmin, anak kamu terlihat sangat bahagia. Aku yakin, dengan semua ini pasti dia akan merasakan keluarga lagi!" ucap Ayan dalam hatinya dengan pandangan mata yang melihat ke arah kedua wanita itu dan dengan tangan kanan yang ia letakkan di jantungnya yang tak lain adalah jantung milik Jasmin.