
Beberapa hari berikutnya, Firman terlihat masih sedih dengan raut muka yang tidak bergairah. Dalam kesunyiannya hatinya, ia selalu membayangkan kehadiran Jasmine dan kembalinya Jasmine kepada dirinya.
Tak berselang lama, di luar rumah Jasmine dan orang tuanya berdiri di depan rumah Firman. Mereka mengetuk pintu rumah Firman dengan perlahan. Menyadari hal itu, Ibu Firman pun langsung membuka pintu untuk mereka.
Saat pintu sudah terbuka, raut muka terkejut terlihat di wajah Ibu Firman. Lalu, matanya yang saat itu tidak mengeluarkan air mata, tiba tiba mulai berkaca kaca dan di penuhi oleh air mata. Dengan erat, Ibu Firman bergegas memeluk erat Jasmine yang saat itu berdiri di hadapannya.
"Ibu bahagia, melihat kamu ke sini Jasmine," ucap Ibu Firman dengan memeluk erat Jasmine. Menyadari pelukan itu sangat erat di tubuh Jasmine, Jasmine pun akhirnya memutuskan untuk kembali membalas pelukan Ibu Firman dengan sangat erat. Beberapa saat kemudian, ia melepaskan pelukannya dan meminta Jasmine dengan keluarganya masuk ke dalam rumah.
Ketika berada di dalam rumah, Jasmine duduk di sofa dengan wajah yang terlihat sedih dan menahan air matanya. Saat itu ia duduk di samping orang tuannya, saat itu Ibu Firman terlihat sangat bahagia dengan kehadiran Jasmine. Ia merasa kalau Jasmine datang ke rumah untuk kembali kepada Firman.
Saat itu ia langsung menghampiri Firman kalau Jasmine datang ke rumah nya. Mendengar ucapan itu, Firman yang saat itu berada di dalam kamarnya dengan sedih tiba tiba ia langsung bangun dan bergegas keluar dari kamarnya untuk menghampiri Jasmine.
Ketika ia sudah berada di luar kamar, ia terlihat hanya diam saja setelah ia melihat Jasmine memang benar berada di hadapan nya. Ia merasa masih tidak percaya kalau orang yang ia cintai sudah kembali dan ia juga berpikir kalau Jasmine kembali ke rumahnya karena ia ingin kembali bersama dengan dirinya. Ia tidak berpikiran kalau dirinya akan menerima gugatan cerai dari Jasmine.
"Jasmine, " panggil Firman dengan nada lirih kepada Jasmine yang saat itu tengah duduk di sofa. Menyadari kalau dirinya di panggil oleh Firman, dengan susah Jasmine pun berdiri, melihat Jasmine susah untuk bangun, Firman pun berusaha untuk membantu Jasmine yang waktu itu ingin berdiri dari duduknya.
Ketika Jasmine sudah bangun dan ia sudah berdiri di hadapan ibunya, tatapan mata Jasmine terlihat sedih melihat ke arah Firman, begitupula Firman. Namun, saat itu Firman juga terlihat bahagia karena Jasmine mau kembali dengan dirinya.
"Terimakasih... Terimakasih karena kamu sudah kembali dengan ku," ucap Firman dengan raut muka sedih dan dengan lembut ia memegangi kedua lengan Jasmine. Melihat hal itu, Ayah Jasmine terlihat sangat marah, namun saat itu Ibu Jasmine berusaha untuk mengendalikan emosi Ayah Jasmine. Saat itu, untuk melunturkan emosi dari Ayah Jasmin, Ibu Jasmine memegangi salah satu tangan suaminya dengan perlahan hingga membuat suaminya tenang.
Melihat hal itu, Ayah Jasmine pun seketika tenang dan tidak emosi lagi.
Beberapa saat kemudian, Ibu Firman datang ke ruang tamu dengan membawa beberapa gelas kopi dan teh yang ia suguhkan untuk keluarga Jasmine.
Setalah ia menyuguhkan kopi dan teh untuk para tamu, ibu Firman pun duduk di sofa yang sama dengan sofa yang di duduki oleh keluarga Jasmine.
"Bapak, Ibu, terimakasih atas kedatangan kalian kemari. Saya benar benar sangat bahagia melihat kedatangan kalian kemari, saya harapan dan saya minta izin kepada kalian agar Jasmine tinggal disisi selama beberapa hari," ucap Ibu Firman dengan nada baik kepada orang tua Jasmine, sambil sesekali melihat ke arah Firman dan Jasmine.
Mendengar ucapan itu, ketika Ayah Jasmine akan menyahut justru ucapan itu di sahut oleh Jasmine dengan nada bicara yang serius dan tegas.
"Saya tidak bisa!" jawab Jasmine dengan nada serius dengan pandangan mata yang melihat ke arah Ibu Firman.
Mendengar jawaban dari Jasmine, Ibu Firman tampak terlihat terkejut dan ia tidak bisa berkata kata selama beberapa saat, begitu pula Firman. Mendengar jawaban itu, Firman langsung mendekati Jasmine dan memegangi kedua lengan Jasmine dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Kenapa? Kenapa kamu mengatakan hal itu?" tanya Firman setalah dirinya mendengar jawaban dari Jasmine.
Jasmine yang melihat hal itu, dengan perlahan ia melepaskan tangan dari Firman dan ia memegangi tangan Firman dengan mesra. Lalu, dengan mata yang terus mengeluarkan air mata ia melihat ke arah Firman tanpa mengedipkan matanya yang mengeluarkan air mata.
"Kedatangan ku kemari tidak untuk kembali dengan kamu Mas, maafkan aku. Aku ingin kita berpisah, apa yang kamu lakukan kepadaku? Semua hal itu sangat sulit untuk aku maafkan," ucap Jasmine dengan air mata yang terus mengalir dari matanya membasahi pipi.
__ADS_1
Mendengar ucapan itu orang tua Firman dan Firman tampak sangat tidak percaya dan selain dari itu ia juga terlihat sangat terkejut atas apa yang ia lakukan. Firman yang saat itu tidak percaya dengan ucapan Jasmine dengan lembut ia memegangi kedua pipi Jasmine .
"Kamu bercanda kan? Apa yang kamu lakukan hanya main main saja? Dan semua ini hanya sebuah kebohongan," jawab Firman dengan derai air mata yang terus menetes membasahi pipinya. Ia merasa tidak percaya atas semua yang di katakan oleh Jasmine.
Tidak hanya Firman, orang tua Firman pun juga terlihat tidak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Jasmine. Seketika ia langsung lemas dan tidak bisa menopang tubuhnya sendiri.
"Tidak ada kebohongan untuk semua ini Mas, aku ingin perceraian kita terjadi setelah anak kita lahir. Dan..
Aku mau hak asuh jatuh ke tangan ku, tapi aku berjanji dengan kamu. Kamu bisa bertemu dengan dirinya kapan pun kamu mau," ucap Jasmine dengan air mata yang terus mengalir.
Mendengar ucapan itu, Firman benar benar hancur dan ia merasa hidup nya sudah berakhir. Saat ia benar benar tidak bisa berkata kata atas apa yang ia dengar. Mulutnya tertutup rapat dengan mata yang memerah seolah menahan kesedihannya.
Setalah itu Jasmine memberikan surat perceraiannya kepada Firman dengan raut muka sedih. Firman yang melihat hal itu ia hanya terlihat sedih dan kemudian dengan perlahan ia meraih surat perceraian itu.
"Jadi ini keputusan akhir kamu?" tanya Firman kepada Jasmine dengan nada rendah dan sedih.
Mendengar pertanyaan itu, dengan perlahan ia mengangguk kan kepalanya dengan perlahan dan ia juga terlihat sedih dengan apa yang sudah terjadi.
"Aku harap kamu menemukan orang yang lebih baik lagi dari ku," ucap Jasmine dengan baik lalu ia berbalik dan berjalan pergi meninggalkan Firman dan keluarga nya. Beberapa saat kemudian, keluarga Jasmine ikut menyusul Jasmine.
Waktu itu, Firman yang menyadari kepergian Jasmine. Ia sedikit pun tidak berusaha untuk menghentikan Jasmine. Ia hanya diam dengan mata yang terus memandangi Jasmine yang berjalan perlahan menjauhi dirinya.
Menyadari kalau bahunya di sentuh oleh seseorang, Firman pun justru langsung bergegas pergi dan meninggalkan orang tuannya ke dalam kamar.
Beberapa saat kemudian, keadaan terlihat sepeti semula. Terlihat Firman, tengah duduk di kursi kayu bersama Samira dengan menekan melamun, bahkan es krim nya meleleh pun ia tidak menyadari hal itu.
"Papa, es krimnya," ucap Samira setelah ia menyadari kalau es krim yang di bawa oleh Ayahnya sudah meleleh dan membasahi celana nya.
Menyadari hal itu, Firman pun langsung memecah lamunannya dan pergi membersihkan celana nya dengan tisu yang berada di dalam mobilnya.
Setalah merasa kalau celananya sedikit bersih dari es krim, Firman pun kembali menghampiri Samira yang saat itu masih duduk di bangku itu.
"Maafkan Papa ya, Papa meninggalkan kamu, "ucap Firman kepada Samira yang saat itu terlihat santai dengan memakan es krim yang berada di tangan nya.
"Iya Papa."
Setalah mendengar jawaban dari Samira, Firman pun kembali duduk di samping Samira. Saat itu, Firman mengira kalau Samira sudah lupa dengan pertanyaan yang di ucapkan oleh Firman, tapi ternyata apa yang menjadi perkiraan nya ternyata salah. Setalah beberapa saat duduk di samping Samira, Samira kembali melontarkan pertanyaan yang sama kepada ayahnya.
"Papa, kenapa Papa hanya diam saja setiap aku bertanya kepada Papa tentang kesalahan yang Papa lakukan? Memangnya, kesalahan apa yang Papa lakukan hingga membuat Papa dan Mama berpisah?" tanya Samira kepada Firman dengan sesekali melihat ke arah Firman. Melihat hal itu, Firman pun kembali terdiam dengan pandangan mata melamun. Setalah beberapa saat melamun, Firman memegangi kedua lengan Samira dengan penuh kasih sayang dan penuh dengan perhatian.
__ADS_1
Ia mengerahkan Samira untuk duduk menghadap dirinya.
"Dengar kan Papa, kesalahan Papa ke Mama itu sangat sangat salah. Papa, memang pantas mendapatkan semua ini, karena Papa bukan kekasih yang baik. Tapi.... Papa, akan berusaha untuk menjadi seorang ayah yang baik untuk Samira," jawab Firman dengan nada rendah memegangi kedua pipi Samira dengan penuh kasih sayang dan perhatian sebagai seorang ayah.
Mendengar ucapan itu, Samira yang saat itu tengah memakan es krim dengan bahagia tiba tiba matanya terlihat sedih. Ia menaruh es krimnya dan memeluk ayahnya dengan sangat erat.
"Makasih Papa, maafkan Samira. Samira pernah menyakiti hati Papa!" ucap Samira dengan sedih dan memeluk erat Samira.
****
Di rumah Ayan, terlihat Jasmine tengah duduk di sofa bersama dengan orang tua Ayan. Saat itu Ayan juga tengah duduk di sofa bersama dengan mereka. Namun, ia terlihat sedih karena Samira pergi bersama dengan ayahnya.
"Tante, Om. Kalian jangan khawatir, Ayan baik baik saja. Dia tidak perlu di rawat, karena sakitnya tidak terlalu parah, makanya dokter mengizinkan Ayan untuk pulang!."
"Makasih ya Jasmin, karena kamu sudah baik kepada Ayan," jawab Ibu Ayan dengan baik kepada Jasmine.
Mendengar ucapan itu, Jasmine pun hanya diam tanpa mengatakan sepatah katapun. Setalah itu, secara tiba tiba ia bangun dari duduknya hingga membuat Ayan yang saat itu bersedih langsung terkejut, begitu pula orang tua Ayan.
"Saya harus pergi," ucap Jasmine setalah secara tiba tiba ia terbangun dari duduknya.
Mendengar ucapan itu, sontak Ayan dan orang tuanya langsung bangun dari duduknya.
"Ada apa Jasmin?" tanya Ibu Ayan dengan terlihat sangat terkejut.
"Saya lupa kalau Samira dengan ayahnya mungkin sekarang ia sudah pulang," jawab Jasmine dengan nada tegas.
Mendengar jawaban dari Jasmine, orang tua Ayan pun terlihat hanya diam, lalu ia tersenyum kepada Jasmine seolah memberi izin. Melihat hal itu, Jasmin pun juga membalas senyuman seperti apa yang di lihat kan oleh Ibu Ayan.
Beberapa saat kemudian, Jasmine pun pergi keluar dari ruang tamu, namun saat sebelum ia pergi dari ruang tamu. Ayan berusaha untuk mengantar Jasmine keluar dari rumah, namun saat itu Jasmine menolaknya dan ia langsung pergi dari rumah bahkan dengan berlari. Melihat hal itu, Ayan pun terlihat hanya diam dengan pandangan mata yang terus melihat ke arah Jasmine yang melangkah menjauhi dirinya.
****
Di luar rumah, Jasmine terlihat menangis tersedu sedu dengan berjalan di tepi jalan. Ia merasa sedih karena ia harus berpura pura peduli dengan Ayan, walaupun ia sulit untuk melakukan hal itu.
Di setiap langkahnya, derai air mata terus mengalir membasahi pipinya. Tak berselang lama, setetes demi setetes air langit jatuh membasahi tubuhnya. Saat itu ia terlihat hanya bersedih.
"Kenapa aku harus seperti ini? Kenapa aku merasa Ayan adalah orang itu? Kenapa aku ragu dengan semua ini? Kenapa?" ucap Jasmine dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya. Saat itu ia menangis di bawah derasnya air hujan yang jatuh membasahi tubuhnya.
Ia terlihat bingung dengan perasaannya. Ia merasa ada sebuah sakit ketika ia harus bersama dengan Ayan, namun di sisi lain ada perasaan sedih ketika melihat Samira yang terlihat tidak peduli dengan Ayan.
__ADS_1