Sebarkas Harapan Diatas Penantian

Sebarkas Harapan Diatas Penantian
11. Jangan pergi!


__ADS_3

Malam itu, cuaca sangat terlihat mendung dan dingin. Berbeda dengan malam malam yang sebelumnya, malam ketika ia mencari Ayan. Suhunya memang sangat dingin. Saat itu Jasmin tengah berada di tepian jalan yang sepi untuk mencari Ayan yang tidak pulang ke rumahnya.


Ketika ia tegah berada di tengah jalan, hujan yang sangat deras turun membasahi tubuh Jasmin. Jasmin yang menyadari hujan turun, ia berusaha untuk meneduhkan tubuhnya di salah satu sebuah halte bus.


Saat itu ia menyadari kalau ada orang yang tengah tidur dengan kedinginan di kursi yang berada di halte bis itu. Ia tidak menyadari kalau orang yang kedinginan itu adalah Ayan orang yang ia cari. Saat itu hujan memang sangat deras, lalu terdengar suara rintihan kedinginan terdengar dari orang yang tidur di kursi dengan menutupi mukanya tersebut, waktu itu Jasmin ingin membantu orang itu, namun ia juga merasakan kedinginan yang sangat luar biasa. Akhirnya, Jasmin pun bersikap tidak peduli dengan orang itu.


Setalah beberapa saat menggigil kedinginan, di bawah derasnya air hujan ia bangun dari tidurnya dan tidak menyadari kalau Jasmin berdiri di dekatnya. Tanpa berkata kata, Ayan yang saat itu sedih dengan ucapan Jasmin di pagi hari benar benar tidak menyadari kehadiran Jasmin yang berada di dekatnya. Ia hanya terlihat diam dengan berjalan keluar dari halte bus itu dan berjalan dengan harapan kosong.


Ketika Ayan baru berjalan beberapa langkah dari halte tersebut. Jasmin menyadari kalau orang yang tidur di kursi itu adalah Ayan. Melihat hal itu, Jasmin pun memanggil Ayan beberapa kali yang saat itu berjalan menjauhi Jasmin. Di panggilan pertama, Ayan tidak mendengar kan panggilan Jasmin dan tetap pergi. Lalu, di panggilan ke dua Ayan mulai sadar kalau Jasmin memanggil dirinya. Menyadari kalau Jasmin memanggil dirinya dari belakang tubuhnya, Ayan langsung berbalik dan ia terlihat sangat terkejut melihat kehadiran Jasmin di tempat itu. Tidak hanya Ayan, Jasmin pun juga terlihat sangat terkejut setalah melihat Ayan.


Jasmin yang melihat hal itu, langsung bergegas berlari menghampiri Ayan dan memeluk Ayan tanpa mempedulikan dinginnya air hujan yang jatuh membasahi pipinya.


"Kamu kenapa tidak pulang ke rumah kamu? Ibu dan ayah kamu sangat khawatir dengan kamu, begitu pula aku," ucap Jasmin dengan memeluk erat Ayan. Ayan yang melihat hal itu, ia hanya terlihat sedih dan membalas pelukan Jasmin dengan sedikit ragu, ia takut jika Jasmin marah dengan dirinya jika ia membalas pelukan nya.


Mendengar ucapan dari Jasmin, Ayan hanya diam dan tidak mengatakan sepatah katapun. Beberapa saat kemudian, Jasmin memegangi tangan Ayan dan mengajak Ayan untuk pulang, namun saat itu Ayan tidak mengerakkan sedikitpun kakinya. Ia tetap berdiri di bawah derasnya air hujan yang jatuh membasahi tubuhnya.


Menyadari kalau Ayan tidak melangkah kan kakinya, Jasmin pun kembali berbalik dan kembali berdiri di depan Ayan dengan mata yang terus melihat ke arah Ayan.


"Aku tidak akan pergi bersama dengan kamu, maafkan aku!" jawab Ayan setelah ia menerima ajakan dari Jasmin yang ingin ia pulang dengan Jasmin. Jasmin yang mendengar ucapan itu keluar dari mulut Ayan, ia langsung terpaku dan mulut nya  terdiam seribu bahasa dengan mata yang sedih terlihat di raut muka Jasmin.


"Aku tidak bisa terus memaksa kamu untuk bersama ku, aku kira ini adalah waktunya kita berpisah!" lanjut Ayan dengan sedih.


Mendengar ucapan itu keluar dari mulut Ayan, dengan langkah perlahan ia mendekati Ayan dan berdiri di hadapan Ayan. Beberapa saat kemudian, Jasmin memegangi pipi Ayan dengan sedih.


"Kamu yakin melakukan ini? Perpisahan bukan lah yang membuat kamu bahagia ataupun aku bahagia. Bukan ini aku minta dari kamu, aku ingin kita selalu bersama namun tidak ada sedikit pun penantian di sini. Tapi ternyata.... Kamu menyerah ... Dan kamu.. Ingin pergi dari ku!. Aku mohon, jangan seperti hujan. Aku membutuhkan kamu untuk selamanya..."


"Tapi aku bukan orang yang bisa hadir untuk kamu selamanya. Kamu bisa merasakan cinta di atas penantian, aku pun merasakan hal yang sama. Jika kamu menanti Ijaz, aku menanti cinta kamu. Tapi, aku sadar kalau aku tidak mungkin bisa mendapatkan apa yang aku harapkan,  aku...." jawab Ayan dengan sedih di bawah deras nya hujan yang jatuh. Lalu, ia memalingkan wajahnya dari wajah Jasmin selama beberapa saat, setalah itu ia kembali melihat ke arah Jasmin.

__ADS_1


"Aku selalu mencintai kamu, aku selalu menyayangi kamu. Walaupun kamu selalu menyakiti aku, ataupun kamu lebih membela Firman dari pada aku, aku setia untuk menunggu kamu. Tapi kenapa? Kenapa kamu tidak bisa memberi sedikit cinta untuk ku?" ucap Ayan dengan sedih dan serius dengan mendekatkan tubuhnya ke tubuh Jasmin.


Setalah itu ia meraih tangan Jasmin dengan sedih, Jasmin yang melihat hal itu ia hanya diam dengan pandangan mata yang melihat ke arah tangan Ayan yang memegangi tangannya dengan lembut. Saat itu Jasmin juga terlihat sedih dengan apa yang di lihatnya.


"Aku mohon ke kamu, jika kamu tidak ingin memberi aku tempat di dalam hati kamu, tolong lepaskan aku!."


Mendengar ucapan itu Jasmin pun langsung menundukkan kepalanya dengan derai air mata yang mengalir bercampur dengan air hujan. Melihat Jasmin hanya menunduk kan kepalanya, Ayan langsung memeluk erat Jasmin. Jasmin yang menerima pelukan itu langsung membalas pelukan Ayan dengan sangat erat.


"Aku tidak ingin ada perpisahan, tapi aku juga tidak bisa bersama dengan kamu. Aku ingin memiliki kamu, tapi ada luka yang selalu ku ingat ketika melihat kamu, aku merasa kamu adalah Ijaz, orang yang dulu aku cintai!" ucap Jasmin dengan lirih di pelukan Ayan dengan sedih.


Mendengar ucapan itu, Ayan pun langsung melepaskan pelukannya dan ia pergi meninggalkan Jasmin dengan sedih. Jasmin yang melihat hal itu, ia hanya diam dengan mata yang melihat ke arah Ayan.


Beberapa saat setelah Ayan melangkah kan kakinya menjauhi Jasmin. Jasmin yang menyadari kalau ada sebuah rasa sakit ketika berpisah dengan Ayan, ia pun langsung berlari mengejar Ayan dan memeluk Ayan dari belakang. Melihat hal itu, langkah Ayan pun langsung terhenti seketika, ketika ia menyadari kalau Jasmin memeluk dirinya.


"Aku mohon, jangan pergi dari ku. Aku mohon," ucap Jasmin ketika ia sudah memeluk erat Ayan.


Ayan yang melihat hal itu dengan perlahan ia melepaskan tangan Jasmin yang memegangi tubuhnya. Setalah itu ia berbalik dan berdiri di hadapan Jasmin dengan sedih. Lalu , tanpa berkata kata, Ayan berbalik memeluk Jasmin dengan erat di bawah derasnya air  hujan yang membasahi tubuhnya. Jasmin yang menerima pelukan Ayan pun langsung membalas pelukan itu dengan sangat erat dan seakan tidak ingin melepaskan Ayan.


Keesokan harinya, Jasmin terlihat keluar dari kamarnya, sedangkan Ayan terlihat tengah tertidur di sofa yang berada di ruang tamu.


Hari itu, memang sudah terlihat pagi suara burung sudah berkicau, lalu beberapa saat kemudian terdengar suara pintu di ketuk oleh seseorang. Mendengar hal itu, Jasmin pun langsung bergegas membuka kan pintu untuk orang yang saat itu mengetuk pintu rumahnya.


Ketika pintu sudah terbuka, Jasmin melihat kalau Firman dan Samira sudah berdiri di depan pintu. Melihat hal itu, Samira langsung memeluk erat ibunya dan ia kemudian mengajak Firman masuk ke dalam rumah.


Melihat kehadiran Firman di rumah Jasmin, Ayan pun langsung bangun dari tidurnya yang berada di sofa. Ia merapikan sofa yang di jadikan tempat tidur oleh Ayan.


Pada awalnya, Firman terlihat biasa saja dan tidak emosi ketika ia membawa Samira pulang ke rumah, namun sikapnya berubah ketika ia melihat Ayan berada di dalam rumah bersama dengan Jasmin. Saat itu Firman menatap tajam wajah Ayan yang masih duduk di sofa.

__ADS_1


"Jasmin aku langsung pulang saja, terimakasih sudah mengajak aku masuk ke dalam rumah," ucap Firman dengan terlihat jutek dan kesal dengan apa yang di lihatnya. Melihat hal itu, Jasmin pun hanya diam, berpikir sejenak atas perubahan sikap Firman. Namun tiba tiba, ia menyadari kalau ada kecemburuan yang di tanamkan oleh Firman ketika Jasmin bersama dengan Ayan.


"Tapi kenapa Mas?" jawab Jasmin bersikap tidak mengetahui apa yang dirasakan oleh Firman.


"Sudah terlambat kerja!" jawab Firman langsung bergegas pergi dari hadapan Jasmin dan yang lainnya. Bahkan, ia pergi tanpa berpamitan dengan anaknya.


Melihat hal itu, Ayan terlihat tidak enak dan ia langsung bergegas bangun dari sofa yang ia duduki dengan pandangan mata yang melihat ke arah Firman. Saat itu ia bersikap ingin menghentikan Firman. Namun, ketika ia baru melangkahkan kakinya Jasmin menghentikan Ayan agar tidak mengejar Firman.


Samira yang melihat ibunya melarang Ayan untuk mengejar Firman, ia hanya melihat ke arah ibunya. Ia kemudian memeluk Jasmin dengan sangat erat selama beberapa saat. Setalah itu, ia melepaskan pelukannya dan pergi  menghampiri Ayan  yang berdiri tidak jauh dari Jasmin. Setalah ia berdiri di dekat Ayan ia meraih tangan kanan Ayan dengan tangan kiri nya dan tangan kanan Samira meraih tangan kiri ibunya.


Melihat hal itu, Ayan hanya diam dan tidak mengatakan sepatah katapun. Ia hanya melihat ke arah tangan Samira yang memegangi tangan Jasmin dan dirinya.


Beberapa saat kemudian, dengan menarik kedua orang itu Samira membawa ibu nya dan Ayan keluar dari rumah untuk melihat kepergian Firman.


Ketika Samira menarik tangan Ayan dan Jasmin, di situlah ia baru menyadari kalau Samira memegangi tangannya dengan tangan Ayan. Ia seolah sudah setuju dengan kedekatan antara Ayan dengan ibunya.


Tak berselang lama, mereka bertiga berdiri di depan pintu. Terlihat Ayan di sisi kiri, Samira di tengah dengan memegangi tangan Ayan dan ibunya dan Jasmin berdiri di paling kanan.


Saat itu, Firman masih terlibat belum pergi dari rumah Jasmin. Ia hanya sedih di dalam mobilnya. Melihat kalau Samira keluar dengan mengandeng tangan kedua orang itu. firman semakin sedih dan kesal yang bercampur menjadi satu. Namun, lagi lagi ia menyadari kalau ini adalah kesalahan nya.


Setalah beberapa saat melihat ketiga orang itu, Firman pun langsung tancap gas dan bergegas pergi dari rumah Jasmin. Ketika Firman sudah pergi, Jasmin melihat ke arah Ayan yang berdiri di samping kiri Samira selama beberapa saat. Menyadari kalau Jasmin melihat dirinya, Ayan pun membalas tatapan mata Jasmin.


Namun, tiba tiba tangan Jasmin yang di pegang oleh Samira, dengan perlahan dilepaskan oleh Jasmin. Samira yang menyadari hal itu, ia pun tidak mengatakan sepatah katapun ia hanya terlihat sedih dengan menundukkan kepalanya dengan tangan yang masih memegangi tangan Ayan dengan sangat erat.


Melihat kesedihan Samira, Ayan pun duduk bertekuk lutut di hadapan Samira dengan memegangi kedua lengan Samira.


"Ada apa? Kenapa kamu sedih?" tanya Ayan kepada Samira yang berdiri di hadapan nya dengan sedih. Saat itu Samira tidak mengatakan sepatah katapun, ia hanya diam dengan mata sesekali melihat ke arah dalam rumah. Menyadari hal itu, Ayan pun berpikir kalau Samira takut dengan ibunya jika ibunya marah dengan dirinya atas apa yang sudah ia lakukan.

__ADS_1


Senyum kecil pun terlihat di bibir Ayan, setelah ia menyadari kalau apa yang di pikiran nya benar. Lalu, ia bangun dari duduknya dan mengajak Samira untuk masuk ke dalam rumah, namun saat itu Samira terlihat takut. Melihat hal itu, Ayan pun meminta kepada Samira agar ia yakin dengan dirinya.


Akhirnya, Samira pun memberanikan diri untuk masuk ke dalam rumah dan ia berusaha untuk berbicara dengan ibunya untuk meminta maaf atas apa yang sudah ia lakukan beberapa waktu yang lalu.


__ADS_2