
Waktu berlalu begitu cepat, ketika Jasmin sudah terlalu lelah untuk berjalan ke sana kemari dengan khawatir akhirnya ia menghampiri Samira yang saat itu tengah tertidur di kursi rumah sakit dengan kedinginan. Melihat hal itu, Jasmin pun menghampiri Samira dan ia duduk di dekat Samira dengan membelai lembut kepala Samira. Samira yang menyadari hal itu ia melihat ke arah ibunya dan ia bangun setalah menerima sentuhan tangan dari ibunya.
"Mama, apa Papa sudah selesai di operasi?" tanya Samira dengan duduk di hadapan Jasmin. Jasmin yang melihat hal itu, ia memegangi tangan Samira yang ia taruh di pahanya, ia kemudian mencium tangan Samira dengan penuh kasih sayang dan mata yang terlihat sedih.
"Papa masih belum selesai di operasi, kamu doakan Papa ya, semoga Papa baik baik saja!" jawab Jasmin dengan air mata terus mengalir membasahi pipinya. Melihat Jasmin menangis, Samira juga ikut menangis. Air matanya juga berderai lalu dengan menadahkan tangannya, Samira berdoa kepada Tuhan.
"Ya Tuhan, Samira mohon kepada Engkau. Tolong, sembuh kan ayah dan segara sadarkan lah Papa, maafkan Samira jika Samira pernah melakukan kesalahan dengan ayah. Dan Samira juga mohon, maafkan Ayah jika ayah punya salah dengan Samira!."
Saat itu Samira berbicara dengan sangat tulus dan sangat menyedihkan, saat itu air mata nya terus mengalir membasahi pipinya. Mendengar doa dari Samira, Jasmin pun juga ikut sedih dan ia tidak bisa berkata kata dengan apa yang di dengarnya.
Beberapa saat kemudian, salah satu dokter keluar dengan raut muka yang terlihat menundukkan. Melihat hal itu, Jasmin pun langsung bergegas menghampiri dokter itu begitu pula Samira.
"Gimana kabar Mas Firman Dok?" tanya Jasmin dengan raut muka khawatir dan terlihat gelisah berada di dekat Dokter yang saat itu mengoperasi Firman.
Mendengar pertanyaan itu, dokter itu terlihat diam selama beberapa dengan menundukkan kepalanya seperti terlihat sedih.
"Maafkan saya..." ucap Dokter dengan nada rendah. Mendengar ucapan itu, Jasmin pun langsung terpaku dan ia tidak bisa berkata kata. Saat itu ia berpikir kalau sesuatu yang tidak di inginkan terjadi kepada Firman. Namun, ia berusaha untuk tidak meyakini hal itu dan terus menekan dokter itu agar mengatakan kejujuran nya dan tidak menambah kesedihan yang di rasakan oleh Jasmin dan Samira. Namun, tiba tiba dokter itu memeluk Jasmin, hal itu terjadi karena ia merasa tidak enak karena sudah menipu Jasmin dengan mengatakan hal yang membuat Jasmin dan anaknya semakin sedih.
"Maafkan saya, Pak Firman baik baik saja dan dia sudah selamat dari masa kritis nya!."
Mendengar ucapan itu, Jasmin pun menghentikan tangisannya dan ia terlihat bahagia. Ia tidak percaya kalau Jasmin di bohongi oleh dokter. Setalah itu, dokter itu kembali minta maaf kepada Jasmin dan Samira. Setalah itu ia pergi meninggalkan Samira dan Jasmin.
Tak berselang lama, dengan perban yang terbungkus di kepalanya dan terbaring lemah tak berdaya, Firman keluar dari ruang operasi dengan di bantu oleh beberapa suster.
Melihat hal itu, Samira dan Jasmin terlihat bahagia dan kemudian ia pergi ke ruangan yang akan di tempati oleh Firman.
***
Di rumah Jasmin, terlihat Ayan baru saja sampai di rumah. Saat itu ia mengetuk pintu rumah Jasmin, namun tidak ada satu pun orang yang menyahut panggilannya. Beberapa saat kemudian, salah satu warga yang berada di dekat rumah Jasmin memberi tahu Ayan kalau Jasmin dan Samira pergi dengan tergesa gesa.
Setalah mengetahui hal itu, Ayan pun berusaha untuk menghubungi Jasmin dan bertanya kepada Jasmin keberadaan nya.
Di rumah sakit terlihat Jasmin tengah duduk di kamar yang di tempati oleh Firman, beberapa saat kemudian ponselnya berbunyi dan terlihat nama Ayan terpampang jelas di ponselnya yang berada di atas meja.
Melihat hal itu, Jasmin pun mengangkat panggilan itu dengan baik.
"Halo Ayan!" sapa Jasmin kepada Ayan yang menghubungi dirinya.
"Jasmin, kamu ada di mana?" tanya Ayan kepada Jasmin dengan raut muka terlihat sangat khawatir.
"Mas, aku ada di rumah sakit!. Mas Firman mengalami kecelakaan sepulang nya dari rumah ku, makanya aku langsung bergegas kemari!" jawab Jasmin dengan baik.
__ADS_1
Mendengar kalau Firman mengalami kecelakaan, ia terlihat sangat terkejut dan ia tidak bisa berkata kata.
"Di rumah sakit mana kamu sekarang?" tanya Ayan kepada Jasmin, Jasmin yang mendengar hal itu langsung memberi tahu Ayan keberadaan nya. Setelah mendengar ucapan itu Ayan pun menutup panggilan nya dan ia bergegas pergi ke rumah sakit.
***
Tak berselang lama, Ayan sampai di rumah sakit dan ia terlihat membawa selimut dan kantung plastik yang berusia makanan untuk Samira dan Jasmin.
"Suster, di mana kamar yang di tempati oleh Firman?" tanya Ayan kepada suster yang berada di tempat resepsionis.
"Di kamar Flamboyan nomor 1 Pak, di sebelah sana!" jawab Suster itu dengan menunjukkan salah satu ruangan yang ada di rumah sakit
Melihat hal itu Ayan pun langsung bergegas pergi ke kamar itu. Sesampainya di depan pintu kamar yang di tempati oleh Firman, dengan perlahan ia mengetuk pintu kamar itu. Mendengar ada yang mengetuk pintu kamar nya, Jasmin yang berada di dalam kamar langsung bangun dari duduknya dan menghampiri pintu.
Saat ia sudah berada di dekat pintu, ia membuka pintu nya dan ia melihat kalau orang yang mengetuk pintu adalah Ayan.
"Mas Ayan!" panggil Jasmin dengan lirih dan setalah itu ia mengajak Ayan masuk ke dalam kamar yang di tempati oleh Firman.
Ketika ia masuk ke dalam kamar yang di tempat oleh Firman, ia terlihat hanya diam melihat kalau Samira tidur di samping ayahnya. Ia juga terlihat sedih melihat Firman yang hanya terbaring di atas tempat tidur dengan lemah tak berdaya.
Melihat kondisi Firman, Ayan juga terlihat sedih. Ia terlihat menaruh makanan yang dia bawa di atas meja yang berada di ruangan itu. Setalah itu ia duduk di sofa yang berada di dalam ruangan itu.
Ketika melihat Ayan duduk di sofa Jasmin pun mengikuti Ayan dan ia duduk di samping Ayan. Menyadari hal itu, Ayan pun berusaha untuk membuka topik pembicaraan dengan Jasmin.
"Makasih Mas, sudah sangat baik kepada aku dan Jasmin Mas," jawab Jasmin dengan baik dan ia juga memberikan senyum kecil di bibirnya.
Ayan yang melihat hal itu, ia pun tersenyum kecil di bibirnya.
Waktu berlalu begitu cepat, terlihat malam sudah tiba saat itu Samira terlihat tengah makan makanan yang di bawah oleh Ayan dengan di temani oleh Ayan.
Saat itu terlihat Samira sangat lahap memakan makanan yang di bawa oleh Ayan.
"Makasih ya Om, sudah membawa makanan untuk aku dan ibu!" ucap Samira dengan nada baik dan ia terlihat sangat bahagia dengan sikap Ayan yang baik kepada dirinya.
Ketika Samira tengah berbincang bincang dengan Ayan dan ibunya, dokter yang mengoperasi Firman datang ke kamar yang di tempati oleh Firman. Ia ingin memberi tahu sesuatu kepada Jasmin apa yang terjadi dengan Firman, melihat hal itu Jasmin pun menuruti si dokter dan mengikuti dokter pergi ke ruangan yang di tempati oleh dokter yang mengoperasi Firman.
Ketika berada di dalam ruangan dokter, terlihat Jasmin duduk di bangku yang ada di ruangan itu dan si dokter duduk di hadapan Jasmin.
"Dokter ada apa ini?" tanya Jasmin dengan nada terlihat bingung dan panik.
"Bu Jasmin, saya ingin memberi tahu kepada ibu tentang keadaan Pak Firman yang sebenarnya. Ini sangat mengkhawatirkan," jawab dokter itu.
__ADS_1
"Apa yang terjadi dengan Mas Firman Dok?" tanya Jasmin lagi dengan raut muka yang terlihat semakin penasaran.
Setelah melihat hal itu, dokter itu pun menjelaskan kepada Jasmin tentang keadaan Firman yang sebenarnya. Dimana dokter itu menjelaskan kalau Firman mengalami amnesia sementara, mendengar hal itu Jasmin terlihat sangat terkejut. Ia berpikir kalau dia akan lupa dengan dirinya dan anaknya namun dokter menjelaskan kalau penyakit amnesia yang di derita oleh Firman hanya menghilang kan masa masa 10 tahun lalu sebelum dia bercerai dengan Jasmin dan Samira masih di belum terlahir ke dunia.
Mendengar penjelasan itu, Jasmin bener benar tidak bisa berkata kata, ia hanya diam membisu seribu bahasa.
"Dokter, apa amnesia yang di derita oleh Firman tidak bisa pulih?" tanya Jasmin dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipi nya.
Mendengar pertanyaan itu keluar dari mulut Jasmin, dokter itu pun menjawab kalau amnesia ini hanya bersifat sementara, namun waktu kembalinya ingatan Firman tidak bisa di jelaskan oleh fisika. Mendengar jawaban dari si dokter, Jasmin semakin sedih namun di saat itu ternyata Samira juga ada di ruangan yang sama dengan Jasmin.
"Ma... Apa Papa lupa dengan aku?" tanya Samira dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipi nya.
Mendengar suara Samira berada di satu ruangan dengan dirinya, Jasmin semakin sedih dan ia berbalik melihat ke arah Samira dengan air mata yang terus berderai.
Saat itu, Jasmin tidak mengatakan sepatah kata pun. Ia hanya diam dengan air mata yang terus berderai membasahi pipinya.
Samira yang menyadari kalau apa yang di katanya benar kalau ayahnya akan lupa dengan dirinya, Samira pun langsung menghampiri ibunya dan memeluk erat ibunya. Jasmin yang merasakan pelukan erat dari Samira, Jasmin pun membalas pelukan itu dengan semakin erat juga.
"Tidak Nak, Papa Firman tidak akan mungkin melupakan kamu. Dia...." ucap Jasmin lalu ia berganti beberapa saat dan ia terlihat tidak kuasa untuk melanjutkan apa yang ingin di katakan nya.
Setelah drama kesedihan antara Samira dan Jasmin terjadi, Samira dan Jasmani pun keluar dari kamar itu. Walaupun Samira terlihat sedih ia terlihat lebih tenang, ia berusaha untuk menerima kalau ayahnya akan melupakan dirinya.
"Samira, kamu jangan pernah berpikir kalau Papa Firman lupa dengan kamu. Ibu mohon, jangan berpikir seperti itu!."
"Mama, jangan khawatir. Kalau pun itu memang terjadi, Samira tidak papa, Samira akan menerimanya dengan lapang dada. Dan, Samira yakin, kalau Papa akan sembuh dan kembali mengingat Samira!" jawab Samira dengan nada baik.
Mendengar ucapan itu, Jasmin pun tersenyum dengan raut muka yang masih terlihat sedih. Lalu, dalam ia menunduk kan tubuhnya dan duduk sejajar dengan Samira. Ketika ia sudah duduk bertekuk lutut di hadapan Samira, ia memegangi kedua lengan Samira dengan penuh kasih sayang.
"Mama, benar benar bangga dengan kamu. Mama, sangat amat bersyukur punya anak seperti kamu, Mama sangat bersyukur!."
Setalah mengatakan hal itu, Jasmin langsung memberikan pelukan erat kepada Samira, Samira yang menerima pelukan itu ia tidak bisa berkata kata. Ia hanya bisa menangis dengan air mata yang terlihat tertahan di dalam matanya. Saat itu ia memang menahan setiap kesedihannya di dalam hatinya.
Melihat hal itu, Ayan yang baru keluar dari kamar yang di tempati oleh Firman. Ia sadar kalau sesungguhnya Samira menahan kesedihan di dalam hatinya, tidak hanya Ayan yang sadar dengan kesedihan itu. Sebenarnya, Jasmin pun sadar kalau Samira menahan kesedihannya di dalam hatinya. Namun, ia juga menutupi hal itu agar ia tidak membuat Samira semakin sedih dan semakin terpuruk.
Setalah beberapa saat berpelukan, akhirnya Samira pun melepaskan pelukannya dan ia bergegas pergi ke kamar yang di tempati oleh Firman. Melihat hal itu, Jasmin hanya duduk bertekuk lutut dengan sedih.
Melihat hal itu, Ayan pun menghampiri Jasmin dan membantu Jasmani untuk bangun dari duduknya. Dengan mengulurkan tangan nya ke arah Jasmin, Ayam pun terlihat prihatin dengan apa yang di rasakan oleh Jasmin dan Samira.
Menyadari kalau Ayan mengulurkan tangannya ke Jasmin, Jasmin pun melihat ke arah tangan Ayan selama beberapa saat sebelum ia meraih tangan Ayan.
Ketika ia sudah meraih dan berdiri di hadapan Ayan, dengan tatapan mata yang sedih ia melihat ke arah Ayan.
__ADS_1
"Jasmin, kamu jangan khawatir. Semuanya akan baik baik saja, kamu harus percaya itu. Tidak akan ada sesuatu yang terjadi antara kamu, Firman dan Samira!" ucap Ayan untuk menenangkan Jasmin yang saat itu masih sedih.
Mendengar ucapan itu, Jasmin pun mengangguk kan kepalanya sebagai tanda bahwa dia mengerti apa yang di ucapkan oleh Ayan di waktu itu. Setalah itu, ia mengajak Ayan untuk pergi ke dalam kamar yang di tempati oleh Firman.