
Di tempat lain, terlihat Ijaz tengah duduk sambil terlihat memikirkan sesuatu. Beberapa saat kemudian Anjani datang menghampiri Ijaz yang tengah duduk di halaman rumah. Ia langsung memeluk Ijaz hingga membuat Ijaz terkejut dan tanpa sengaja terucap kata Jasmine dari mulut Ijaz. Mendengar hal itu Anjani terlihat sangat kesal dengan Ijaz, namun ia juga terlihat penasaran dengan seseorang yang bernama Jasmine. Saat itu ia masih menutupi perasaan penasarannya di hadapan Ijaz dan ingin mencari tau lebih dalam tentang Jasmine.
"Siapa orang yang bernama Jasmine?" tanya Anjani lalu ia melepaskan pelukannya.
"Maaf Sayang, aku tadi tidak sengaja menyebut nama itu!" jawab Ijaz dengan baik lalu ia berdirinya dan menghadap ke arah Anjani lalu ia memegangi kedua tangan Anjani untuk membujuk Anjani agar tidak marah.
"Ini bukan jawaban dari pertanyaan ku, aku tanya ke kamu siapa wanita yang bernama Jasmine?" jawab Anjani dengan nada serius dan menatap mata Ijaz dengan sangat tajam.
Saat itu Ijaz terlihat kebingungan ingin menjelaskan apa ke Anjani namun keadaan berubah saat tiba tiba orang tua Ijaz menghampiri mereka berdua.
"Ijaz, Anjani, kalian itu jangan sering bersama. Saya takut kalau ada hal yang tidak saya inginkan terjadi apalagi kalian belum resmi secara agama dan hukum!. Jadi saya sama kalian berdua, jangan sering bersama!" ucap Ibu Ijaz dengan Anjani dan Ijaz saat melihat mereka berdua akan bertengkar.
Mendengar hal itu Ijaz dan Anjani terlihat terdiam beberapa saat.
"Iya Tante," jawab Anjani lalu ia melihat ke arah Ijaz dengan kesal dan marah selama beberapa detik. Beberapa saat kemudian ia pergi dari tempat itu dan meninggalkan Ijaz dengan Ibunya.
"Kenapa dengan teman mu Anjani?" tanya Ibu Ijaz kepada Ijaz yang berdiri di depannya.
"Dia marah Ma, karena aku salah panggil nama!" jawab Ijaz dengan nada rendah.
Mendengar hal itu Ibu Ijaz terlihat perlahan mendekati Ijaz, saat ia sudah dekat dengan Ijaz Ibunya berkata dengan berbisik kepada Ijaz.
"Memangnya nama siapa yang kamu sebut di depan Anjani? Mama ingin tahu," ujar Ibu Ijaz.
"Apa sih Ma, bukan siapa siapa kok!" jawab Ijaz lalu ia terlihat malu malu kucing.
__ADS_1
"Ayo, kasih tahu Mama, siapa sih orang itu sebenarnya?" ucap Ibu Ijaz untuk menggoda Ijaz. Di saat itu Ijaz terlihat sangat malu menerima godaan dari Ibunya. Ia kemudian meninggalkan Ibunya di halaman. Saat ia baru melangkah kaki beberapa langkah, Ibu Ijaz menghentikan Ijaz dan mengatakan sesuatu yang membuat Ijaz selalu mengingatnya.
"Ijaz, kamu dengarkan ucapan Mama, ketika kamu tiba tiba mengatakan atau memanggil nama orang yang sudah lama kamu tinggalkan. Itu tandanya, kamu sedang merindukan orang itu, dan Ibu minta sama kamu, siapapun orang yang kamu sebutkan namanya di depan Anjani. Kamu segara cari keberadaannya, karena hati kamu sedang rindu dengan orang itu!" ujar Ibu Ijaz dengan sedikit memberi senyuman manis kepada Ijaz.
Mendengar ucapan itu Ijaz pun melihat ke arah Ibunya dengan senyuman kecil di bibir Ijaz.
"Aku memang merindukan dia Ma, aku merindukan Jasmine!" jawab Ijaz lalu ia berpaling dan pergi meninggalkan Ibunya dengan tersenyum di sepanjang langkah.
Mendengar hal itu Ibu Ijaz terlihat hanya tersenyum, sambil melihat anaknya yang terus melangkah jauh meninggalkan dirinya.
"Ibu selalu mendukung kamu Ijaz, mungkin hari ini kamu rindu, besoknya kamu jatuh cinta, dan akhirnya semua akan berakhir bahagia!" ucap Ibu Ijaz dengan dirinya sendiri. Setelah itu ia pergi menyusul Ijaz ke dalam rumah.
Di dalam rumah terlihat Anjani sudah merapikan barang barangnya dan memasukkan ke dalam koper. Saat itu ia terlihat sangat emosi dan kesal namun ia juga penasaran dengan seseorang yang bernama Jasmine. Ia mengira Jasmine adalah wanita yang sering menghampiri Ijaz.
"Kamu mau kemana?" tanya Ijaz saat ia mengetahui kalau Anjani sedang merapikan barang barangnya dan memasukkan kedalam koper.
Saat itu Ijaz terlihat berusaha menghentikan langkah Anjani dengan memegangi salah satu tangan Anjani, namun karena Anjani sudah tersulut emosi akhirnya ia memutuskan untuk memilih pergi dan tidak mendengar ucapan dari Ijaz. Saat itu Anjani berpikir kalau Ijaz akan mengejarnya dan mengantarkannya mencari hotel, namun hal itu tidak terjadi. Kepergian Anjani dari rumah membuat Ijaz semakin terasa bebas.
Beberapa saat kemudian Ijaz menghampiri salah satu pembantu yang dulu di bantu oleh Jasmine bersih bersih kamar Ijaz.
"Bibi, apa Bibi lihat kotak kecil yang isinya foto foto di masa kecil aku yang dulu aku tinggal di sini?" tanya kepada pembantunya yang saat itu tengah sibuk memasak.
"Yang mana ya Den, Bibi lupa!. Lagian kotak pasti juga sudah rusak, karena sudah lama atau mungkin Aden bisa cari di lemari di kamar Aden!" jawab pembantunya dengan sopan kepada Ijaz.
Mendengar hal itu Ijaz pun langsung bergegas pergi dari dapur dan menuju ke kamarnya. Sesampainya di dalam kamar, ia terlihat membuka semua lemari yang ada di kamarnya untuk mencari kotak itu. Saat ia sudah membuka semua lemari ia tidak menemukan kotak yang ia inginkan. Beberapa saat kemudian ia terlihat berhenti mencari kotak itu dan memikirkan tempat terakhir Ijaz menaruh kotak itu.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, ia melihat sebuah tas besar berwarna hitam yang terlihat sudah lama berada di atas salah satu lemari. Melihat hal itu, Ijaz pun berpikir bahwa barang yang ia cari ada di dalam tas itu.
Tak berselang lama, Ijaz menghampiri tas itu lalu ia mengambil tas itu dan memeriksa isi tas itu.
Saat ia sudah membuka tas itu, Ijaz terlihat terdiam selama beberapa saat, hal itu karena Ijaz melihat kotak yang ia inginkan ada di dalam tas itu.
"Akhirnya aku menemukan kamu," ucap Ijaz lalu ia tersenyum dan memeluk tas tersebut dengan sangat erat. Setelah itu, ia melepaskan pelukannya dan mengeluarkan seluruh barang yang ada di tas itu. Ia terlihat mengenang barang barang itu dan saat ia mengenang barang barang itu sesekali ia tersenyum kepada beberapa barang yang ia temukan di dalam tas itu.
"Aku rindu dengan kenangan dulu, gimana ya kabar Jasmine dan yang lainnya?" ucap Ijaz berbicara kepada dirinya sendiri. Saat itu ia terlihat sedang memegangi sebuah foto yang sudah lama dan sudah sedikit rusak.
Setelah itu Ijaz terlihat kembali melanjutkan mengeluarkan semua barang barang yang ada di tas itu dengan senyum senyum sendiri mengingat masa kecilnya dengan Jasmine dan Ria.
Beberapa saat kemudian, terlihat Ibu Ijaz masuk ke dalam kamar Ijaz, ia kemudian mendekati Ijaz dan memegangi salah satu bahu Ijaz.
"Apa yang kamu lakukan Ijaz? Kenapa kamu mengeluarkan semua barang lama ini?" tanya Ibu Ijaz lalu ia mengerakkan tangannya menuju ke salah satu barang yang sudah di luar tas.
"Aku tidak lagi apa apa Ma, aku hanya rindu dengan masa kecil ku. Aku rindu dengan kebersamaan antara aku dan teman teman!" jawab Ijaz sambil memegangi salah satu barang yang baru ia keluarkan dari dalam tas itu. Ia kemudian menaruh barang itu di lantai.
Tiba tiba saat Ijaz tengah sibuk mengeluarkan barang barang di dalam tas itu, mata Ibu Ijaz tertuju ke sebuah foto masa kecil antara Ijaz, Ria dan Jasmine. Ia kemudian mengambil foto itu.
"Dan, dari foto ini apa yang kamu rindukan?" tanya Ibu Ijaz dengan melihat ke arah foto.
Mendengar ucapan Ibunya, Ijaz berhenti melakukan tindakannya dan melihat ke arah foto yang dipegang oleh Ibunya. Ia kemudian mengambil foto itu dengan perlahan.
"Aku merindukan segalanya Ma!" jawab Ijaz dengan singkat. Ia kemudian tersenyum melihat foto itu dan beberapa saat kemudian ia menaruh foto itu kembali ke tempat asalnya.
__ADS_1
Melihat hal itu Ibu Ijaz terlihat hanya tersenyum kepada Ijaz tanpa berkata sepatah kata pun. Setelah itu Ijaz melanjutkan mengeluarkan barang barang dari tas itu.