
Di rumah Ijaz, terlihat Ibunya masih sedih karena Ijaz tidak akan pulang. Ia hanya diam di dalam kamarnya untuk menunggu Ijaz pulang, bahkan ia terlihat tidak banyak makan. Ia hanya ingin makan kalau Ijaz pulang atau Ijaz video call dengan dirinya. Waktu itu, Ayah Ijaz tengah membujuk istrinya untuk makan karena saat itu Ibu Ijaz terlihat sangat pucat karena tidak makan setelah mendengar Ijaz tidak pulang ke Indonesia.
Saat ia tengah membujuk istrinya, ponselnya tiba tiba berbunyi. Ia kemudian meletakkan piringnya di sebuah meja yang tidak jauh dari dirinya dan setelah itu ia mengangkat telepon di ponselnya.
"Halo Pa, Gimana kabar Papa?" tanya Ijaz di telepon itu.
Mendengar suara Ijaz, Ibu Ijaz langsung menghampiri suaminya dan bergegas menyahut ponsel itu.
"Kamu kapan pulang ke Indonesia?" tanya Ibu Ijaz dengan sedih dan berurai air mata.
"Mama, maafkan Ijaz ya. Ijaz tidak akan pulang sepertinya, karena Ijaz lagi sibuk tugas di sini!" jawab Ijaz. Mendengar Ibunya menangis Ijaz pun membujuk Ibunya untuk makan "Jangan menangis ya Ma, Mama juga harus makan!."
"Mama, tidak akan makan kalau kamu tidak pulang!" jawab Ibu Ijaz dengan sedih.
"Mama, jangan seperti ini dong. Ya udah gini aja, gimana kalau nanti Papa yang suapi Mama, sambil video call sama Ijaz!."
" Kamu seriusan tidak bohong, teleponnya tidak matikan."
"Iya Ma," jawab Ijaz dengan baik lalu Ayahnya mulai menyuapi makanan ke Ibu Ijaz namun saat baru mendapatkan satu suap nasi tiba tiba ponsel Ijaz mati. Hal itu langsung membuat Ibu Ijaz tidak ingin makan dan menangis.
Menyadari hal itu Ijaz yang sudah berada di luar kamar Ibunya langsung bergegas masuk ke dalam kamarnya. Ia kemudian memeluk Ibunya agar Ibunya tenang.
"Tenang Ma, tenang."
Ibu Ijaz pun terlihat tenang karena ia mendapat pelukan dari Ijaz.
"Kenapa kamu berbohong dengan Ibu?" tanya Ibu Ijaz dengan air mata terus mengalir membasahi pipinya.
"Maaf Mama, aku hanya ingin memberi kejutan kepada Mama. Tapi, jika kejutan yang aku buat membuat Mama sampai seperti ini maka maafkan Ijaz!. Ijaz tidak ingin membuat Mama takut," jawab Ijaz dengan baik sambil memeluk erat Ibunya. Setelah itu Ijaz menawari makan Ibunya. Ibu Ijaz pun terlihat menurut dengan Ijaz, tanpa menolak Ijaz.
Beberapa saat kemudian, salah satu pembantu menghampiri Anjani dan meminta koper koper yang berada di dekat Anjani. Saat itu Anjani terlihat ketakutan melihat sikap Ibu Ijaz yang seperti orang gila. Ia terlihat berlari keluar dari ruangan itu tanpa di ketahui oleh Ijaz dan yang lainnya.
Hari pun sudah larut malam, saat itu terlihat Ijaz mengajak Anjani untuk makan malam. Pada awalnya ia tidak menolak saat di ajak makan malam oleh Ijaz, namun saat Ijaz mengatakan akan makan malam dengan keluarganya Anjani langsung menolak dengan memberi alasan kalau dia ingin jalan jalan.
__ADS_1
Waktu itu, Ijaz sudah menyadari kalau Anjani takut dengan Ibunya. Ijaz pun tetap tenang walaupun ia tahu kalau sang kekasih takut dengan Ibunya. Ia tidak berusaha menjelaskan apapun kepada Anjani dan mengajak Anjani jalan jalan ke tempat masa kecil Ijaz saat bersama dengan Jasmine.
Tak berselang lama Ijaz dan Anjani sampai di sebuah taman yang sering di kunjungi oleh Ijaz dan Jasmine. Saat itu, Ijaz sudah mempersiapkan sebuah kejutan spesial di taman itu tanpa sepengetahuan Anjani.
Waktu itu, tempat itu terlihat sangat gelap gulita hal itu karena Ijaz mematikan semua lampu yang ada di tempat itu agar membuat Anjani penasaran, bukannya penasaran dengan tempat itu Anjani menuduh Ijaz akan melakukan hal buruk ke hidupnya.
"Kamu kenapa ajak aku ke tempat gelap seperti ini?" tanya Anjani dengan marah. "Kalau kamu ingin macam macam ke aku, lebih baik kamu pilih orang lain aja jangan aku!."
Anjani kemudian berbalik dan akan melangkah pergi meninggalkan Ijaz, namun saat Anjani berbalik dan baru melangkah kaki satu langkah meninggalkan Ijaz, Ijaz mengehentikan langkah Anjani dengan memegangi salah satu tangan Anjani.
"Tunggu, kamu lihat dulu," ujar Ijaz lalu Anjani berbalik lagi namun secara bersamaan lampu menyala menerangi Anjani, lalu bunga mawar berguguran menjatuhi Anjani dan Ijaz, lampu di taman itu tiba tiba menyala. Terlihat sebuah meja makan yang sudah di tata dengan cantik di depan Anjani dan Ijaz. Melihat hal itu Anjani yang terlihat kesal tiba tiba berubah terharu. Suasana yang awalnya biasa saja berubah menjadi romantis dengan baluran musik musik tentang cinta. Anjani hanya tercengang melihat semua itu.
"Ini semua buat aku?" ujar Anjani dengan merasa tak percaya karena ia menerima kejutan dari sang pacar dengan sangat romantis.
"Iya buat kamu, Hanya buat kamu!" jawab Ijaz dengan tersenyum kepada Anjani lalu ia memegangi kedua tangan Anjani dengan penuh kasih sayang. Ia kemudian mencium kedua tangan Anjani dengan penuh kasih sayang. Ijaz kemudian mengajak Anjani untuk makan malam di tempat itu. Anjani yang di perlukan istimewa saat itu hanya tersenyum dengan wajah yang memerah dan malu malu kucing.
Mereka berdua terlihat sangat menikmati makan malam tersebut. Tanpa mempedulikan waktu yang sudah larut.
Di toko Jasmine, terlihatJasmine sudah akan menutup pintu toko. Tapi tiba tiba, Ibu Ijaz membeli bunga yang sama seperti yang di beli oleh Ijaz. Pada saat itu Jasmine sudah menutup pintu toko dan akan menguncinya namun saat itu Ibu Ijaz memaksa Jasmine untuk membuka pintu toko karena ia ingin membeli bunga untuk memberi kejutan kepada Ijaz. Jasmine pun membuka kembali tokonya, walaupun saat itu hari sudah sangat larut malam.
"Tante, buat apa bunga sebanyak ini? Apalagi ini kan sudah larut malam?" tanya Jasmine dengan baik sambil mengatur pembayaran dari keseluruhan bunga itu.
"Anak saya sudah kembali dari luar negeri, jadi saya ingin buat kejutan buat dia!" jawab Ibu Ijaz dengan baik. "Apalagi bunga bunga di sini bagus bagus, saya suka!."
Jasmine pun tersenyum kecil di bibirnya lalu ia memberikan sebuah kertas kecil ke Ibu Ijaz. Setelah itu, Ibu Ijaz membayar semua bunga yang di belinya. Saat itu Ibu Ijaz terlihat sangat kerepotan membawa bunga bunga itu, akhirnya Jasmine yang melihat hal itu membantu Ibu Ijaz untuk membawa bunga bunga itu keluar dari toko Jasmine. Saat sudah berada di luar toko, Jasmine meletakkan bunga itu di dalam mobil.
"Makasih ya, karena kamu sudah bantu saya membawa bunga ke dalam mobil," ujar Ibu Ijaz dengan Baim dan memberi senyuman kepada Jasmine.
"Sama sama Tante, " jawab Jasmine dengan baik dan sopan lalu ia tersenyum kepada Ibu Ijaz. Setelah itu Ibu Ijaz pergi dari toko Jasmine.
"Kenapa aku merasa, aku mengenal mereka ya? Apa aku memang mengenali mereka?" ujar Jasmine berbicara dengan dirinya sendiri. Ia kemudian tersenyum sambil melambaikan tangannya ke arah Ibu Ijaz yang berada di mobil. Melihat Jasmine tersenyum kepada dirinya Ibu Ijaz pun membalas senyuman kecil di bibirnya.
Tak berselang lama, orang tua Ijaz sampai di rumah. Sesampainya di rumah, mereka meminta semua pembantu mereka untuk mempersiapkan kejutan yang akan di berikan kepada Ijaz. Waktu berlalu begitu cepat, saat itu Ijaz menelepon Ayahnya kalau dia akan segera pulang ke rumah karena makan malam dengan Anjani sudah selesai.
__ADS_1
Saat Ayah Ijaz menerima telepon, semua orang langsung terlihat panik dan gugup. Mereka kemudian berusaha secepatnya menyelesaikan kejutan yang akan di berikan kepada Ijaz.
Beberapa menit kemudian, Ijaz terlihat sudah sampai di depan rumah dengan mobilnya ia mengajak Anjani sang kekasih untuk turun dan masuk kedalam rumah. Saat itu perasaan takut Anjani hilang, karena ia menikmati makan malam romantis yang sudah di siapkan oleh Ijaz.
Ijaz pun mengetuk pintu rumah, namun saat itu tidak ada satu orang pun yang menjawab atau pun membuka pintu. Melihat hal itu Anjani yang awalnya tidak memiliki perasaan takut kembali menumbuhkan rasa takut dengan Ibu Ijaz.
Waktu itu, keadaan rumah terlihat sangat gelap gulita dan hening. Melihat hal itu perasaan khawatir pun tubuh di dalam diri Ijaz ia tiba tiba memiliki pemikiran buruk tentang Ibunya. Ia langsung bergegas masuk kedalam rumah dan meninggalkan Anjani yang terlihat ketakutan, namun saat itu Anjani terlihat menyembunyikan ketakutannya di depan Ijaz.
Saat Ijaz masuk ke dalam rumah, ia terkejut karena terlihat sebuah lampu berukuran kecil kecil di tata hingga membentuk sebuah tulisan "Selamat Datang Ijaz!" Ijaz yang melihat hal itu hanya terdiam mematung. Ijaz kemudian bergegas lari ke kamar Ibunya, namun saat itu Ibunya tidak berada di dalam kamarnya.
Di saat Ijaz mencari Ibunya dengan memanggil beberapa kali, Anjani terlihat juga terkejut melihat tulisan itu. Ia hanya terpaku dan tidak bisa berkata kata.
Saat ia membuka pintu kamarnya, ia sangat terkejut karena semua orang berada di ruangan itu lalu semua lampu menyala. Ijaz terlihat sangat terharu menerima kejutan dari orang tuannya. Ia hanya tersenyum saat menerima semua itu.
"Selamat datang Tuan Ijaz," ujar semua pembantunya dengan kompak dan berbaris di samping pintu.
Ijaz kemudian masuk ke dalam kamarnya. Ia melihat lihat ke sekitar kamarnya. Ia hanya tersenyum dengan bahagia melihat kamarnya dihias dengan sangat csntik, tak berselang lama Anjani pergi ke kamar Ijaz. Ia juga terlihat terkejut dengan perbedaan kamar Ijaz yang dulu dan sekarang.
Beberapa saat kemudian orang tua Ijaz keluar dari balik para pembantunya.
"Selamat datang ya Nak, " ucap Ibu Ijaz dengan membawa sebuah kue yang bertuliskan "selamat datang Ijaz!."
"Selamat datang, Polisi Kecilnya Papa!" sahut Ayah Ijaz lalu ia memeluk Ijaz dengan erat.
"Makasih ya Pa, Ma. Seharusnya tidak perlu hal seperti ini!. Ijaz bahagia, berkumpul dengan kalian," ucap Ijaz dengan senyum kecil di bibirnya lalu ia memeluk Ayahnya dengan erat dan ia melanjutkan mengatakan "terimakasih ya Pa!."
Ijaz kemudian melepaskan pelukannya Ayahnya dan memindahkan kue yang dibawa Ibunya ke salah satu pembantu. Setelah itu ia memeluk Ibunya dengan sangat erat.
"Mama, Ijaz juga makasih karena sudah memberi kejutan ini buat Ijaz!. Dan... Buat kalian semua terimakasih!" ucap Ijaz lalu ia melihat ke arah para pembantunya. Ia kemudian melepaskan pelukan Ibunya.
Waktu itu, semua orang terlihat sangat bahagia. Mereka merayakan kedatangan Ijaz hingga larut malam, tanpa ada perasaan takut atau yang lainnya.
Di kamar Jasmine, terlihat Jasmine memegangi sebuah pena dengan sebuah buku di hadapannya. Ia kemudian menulis harapannya di buku itu lagi tentang Ijaz.
__ADS_1
"Harapan aku kali ini, aku ingin kamu datang kepada ku dengan setangkai bunga, lalu... Kamu memberikan bunga itu dan sebuah ikatan dimana tidak akan pernah terlepaskan walaupun maut yang memisahkan!."
Setelah menulis itu Jasmine tersenyum menghadap cermin dengan bahagia, ia kemudian menutup buku itu dan mulai tidur.