Sebarkas Harapan Diatas Penantian

Sebarkas Harapan Diatas Penantian
16. Lupa dan Berpisah


__ADS_3

Waktu berlalu begitu cepat, beberapa saat kemudian terlihat Jasmin datang ke kamar yang di tempati oleh Firman dengan keadaan tubuh yang terlihat lebih segar. Ketika ia berada di dalam kamar, ia melihat Ayan masih sedih dengan mata yang terus mengalir kan air mata dan ia hanya menundukkan kepalanya.


Melihat hal itu, dengan perlahan Jasmin menghampiri Ayan dan ia berdiri di dekat Ayan. Menyadari hal itu Ayan pun melihat ke arah Jasmin dengan raut muka yang memang terlihat sedih.


"Ada apa?" tanya Jasmin kepada Ayan yang saat itu tengah sedih. Mendengar pertanyaan dari Jasmin, Ayan pun bangun dari duduk nya dan berdiri di depan Jasmin dengan raut muka yang masih sedih.


Setalah itu ia mendekatkan tubuhnya ke tubuh Jasmin, Jasmin yang melihat hal itu ia hanya diam dengan mata yang seperti menahan air mata, lalu dengan perlahan ia memegangi kedua bahu Jasmin dengan penuh kasih sayang.


"Aku sayang sama kamu, aku cinta dengan kamu. Apakah aku tak dak bisa menggantikan posisi Firman di hati kamu?" tanya Ayan dengan air mata yang terus menetes membasahi pipinya. Jasmin yang melihat hal itu, ia hanya diam dengan air mata yang saat itu mengalir membasahi pipinya.


Saat itu Jasmin menatap mata Ayan dengan penuh kesedihan, lalu ia mengerakkan kedua tangannya mendekati pipi Ayan dan ia memegangi pipi Ayan. Ayan yang merasakan hal itu ia hanya menundukkan kepalanya dengan sedih, Jasmin yang melihat hal itu ia pun mendekatkan dahinya ke dahi Firman dan ia memegangi pipi Ayan dengan kedua tangan dan penuh kelembutan.


"Aku tahu lah itu, bahkan tanpa kamu memberi tahu aku. Maafkan aku, aku selalu menyakiti kamu, tapi ini adalah takdir dari Tuhan. Dan... Kamu harus tahu, aku juga cinta dengan kamu," ucap Jasmin dengan air mata yang juga terus berderai membasahi pipi nya.


Mendengar ucapan itu, Ayan pun langsung memegangi kedua tangan Jasmin yang memegangi pipinya, lalu ia menjauhkan kepalanya dengan melempar kan senyum sedih kepada Jasmin.


Melihat hal itu, Jasmin seketika langsung memeluk erat Ayan. Ia seakan sudah membuka hatinya untuk dirinya. Ketika hubungan Ayan semakin dekat, kesadaran mulai di rasakan oleh Firman. Ia seakan menjadi pemisah antara Jasmin dan Ayan.


Waktu berlalu begitu cepat, hari demi hari sudah di lalui Jasmin, Samira dan Ayan secara bersamaan. Kebahagiaan Samira bersama Ayan benar benar berbeda dengan ketika ia bersama dengan ayahnya. Ia seakan bersama dengan ayah kandung nya ketika dengan Ayan, namun hal itu berbanding terbalik dengan ketika ia bersama dengan Firman ayah kandungnya.


Hari itu, kebahagiaan sudah terpancar dari raut muka Samira. Selain itu, keadaan Firman pun juga sudah membaik.


Ketika Samira dan Ayan tengah berada di dalam kamar yang di tempati oleh Firman, dengan bercanda ria. Tanpa di sadari oleh Samira dan Ayan, Firman mengerakkan salah satu jarinya. Saat itu Jasmin tidak berada di rumah ia tengah membeli makan untuk dirinya Samira dan Ayan.


"Jasmin!" panggil Firman dengan lirih.


Mendengar panggilan itu, seketika candaan mereka terhenti dan mereka langsung menghampiri Firman untuk memeriksa keadaan Firman. Menyadari kalau Firman sudah pulih, Ayan pun memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Firman.


Tak berselang lama, dokter pun datang dan ia memeriksa keadaan Firman. Setelah memeriksa keadaan Firman, dokter menyatakan kalau Firman sudah melewati masa komanya dan ia hanya menunggu kesadaran Firman.


Mendengar ucapan itu, Ayan dan Samira tampak bahagia, walaupun ia tahu kalau Ayahnya akan melupakan dirinya. Menyadari kalau Samira sedih setelah mengingat tentang penyakit yang di derita ayahnya, Ayan berusaha untuk menenangkan Samira dan ia berusaha untuk menguatkan Samira agar tidak terus terusan bersedih jika benar kalau papanya akan melupakan dirinya.


Beberapa saat kemudian, Jasmin datang ke kamar yang di tempati oleh Firman. Pada awalnya ia tampak biasa saja, masuk ke dalam kamar namun setelah mendengar kalau Firman sudah pulih dan baik baik saja. Ia terlihat bahagia dan sangat bersyukur atas pulihnya Firman dengan setetes demi setetes air mata yang jatuh, ia sangat bersyukur atas pulihnya Firman.

__ADS_1


****


Waktu pun menunjukan pukul 12.16 siang. Saat itu Ayan tengah bermain dengan Samira seperti seorang ayah dan anak, sedangkan Jasmin berdiri di dekat Firman dengan membelakangi Firman dan di waktu itu juga Firman mulai membuka matanya, namun saat itu Jasmin tidak sadar. Hal itu terjadi kerana Jasmin berfokus kepada Ayan dan Samira yang bermain bersama.


Melihat hal itu, tanpa berkata kata Firman melihat ke arah pandangan mata Jasmin dan melihat siapa orang yang di pandangan nya. Menyadari kalau Jasmin memandang laki laki lain, Firman tampak marah dan kesal. Ia langsung memegangi salah satu tangan Jasmin dengan erat, Jasmin yang menyadari hal itu langsung terkejut dan langsung berbalik melihat ke arah orang yang memegangi tangannya.


Menyadari kalau orang yang memegangi tangannya adalah Firman, ia tampak terkejut dan tidak bisa berkata kata.  Di saat bersamaan dengan hal itu, Ayan dan Samira pun juga terkejut dan mereka langsung terbangun dari duduknya dan menghampiri Firman yang sudah sadar.


"Kenapa kamu memandang mereka Jasmin? Aku itu suami kamu, tapi kamu justru berfokus kepada kedua orang asing itu!" ucap Firman dengan lirih namun sudah tegas. Mendengar hal itu, Jasmin benar benar tidak bisa berkata kata. Matanya hanya terbelalak mendengar Firman menyebut  kalau Samira adalah orang asing. Samira yang mendengar hal itu ia sangat terluka, dan dengan air mata yang terus menetes membasahi pipinya Samira pergi dari ruangan itu.


Jasmin yang melihat hal itu, langsung berlari mengejar Samira, beberapa saat kemudian Ayan pun ikut mengejar Jasmin dan Samira. Di atas tempat tidur Firman yang melihat hal itu berusaha untuk mengejar Jasmin, namun saat itu ia terjatuh ke lantai.


Di luar rumah sakit, keadaan saat itu tengah hujan lebat. Dengan air mata yang terus mengalir, Samira menerjang hujan yang turun dengan lebat hingga membuat dirinya terjatuh.


"Papa benar benar lupa dengan aku, Papa lupa dengan aku !" ucap Samira dengan sedih setalah ia jatuh tersungkur di bawah derasnya air hujan yang jatuh di tubuhnya.


Melihat hal itu, Jasmin langsung memeluk erat Samira di bawah derasnya air hujan, saat itu mata  semua orang langsung tertuju ke arah dua orang yang menangis di bawah derasnya air hujan.


"Tidak Samira, Papa tidak lupa dengan kamu. Papa hanya lupa dengan masa depan dia hanya ingat kejadian di masalalu!" jawab Jasmin dengan menenangkan Samira yang terus menangis.


Menyadari kalau tubuhnya di payungi oleh Ayan, Samira melihat ke arah Ayan dengan mata yang terlihat di penuhi oleh air mata. Setelah selama beberapa saat melihat Ayan, Samira dan Jasmin pun akhirnya bangun dari duduknya dan pergi ke rumah sakit dengan menggunakan payung itu. Saat itu Samira masih terlihat sangat sedih dan terlihat ia tidak bisa berkata kata dengan apa yang sudah terjadi.


***


Di dalam kamar, terlihat dengan di bantu oleh seorang suster, Firman bangun dari jatuhnya dan kembali ke atas tempat tidur.


Beberapa saat kemudian, Jasmin, Samira dan Ayan sampai di dalam kamar yang di tempati oleh Firman. Melihat ada seorang suster di dalam kamar Firman, Jasmin pun bertanya kepada suster itu tentang apa yang terjadi dengan Firman dan suster itu menjelaskan kalau Firman baru saja terjatuh.


Saat itu Firman terlihat kesal dan marah dengan Jasmin, karena ia lebih mementingkan gadis kecil itu dari pada dirinya.


Ketika Samira berada di kamar Firman, ia tampak sedih melihat ayahnya terlihat marah dengan dirinya. Menyadari hal itu, Ayan yang saat itu berdiri di sampingnya langsung memegangi kedua lengan Samira dengan sangat erat dan penuh kasih sayang.


"Kamu baik baik saja kan Mas?" tanya Jasmin kepada Firman yang terlihat marah di atas tempat tidur.

__ADS_1


"Apa peduli kamu, bukannya kamu lebih peduli dengan anak haram itu dan selingkuhan kamu itu dari pada aku?" jawab Firman dengan lantang hingga membuat Ayan dan Jasmin sangat terkejut dan sangat marah. Ayan yang mendengar kalau Firman menyebut Samira adalah anak haram antara Jasmin dengan Ayan, tanpa berpikir panjang dan tanpa berpikir keadaan Firman yang masih belum baik. Ia langsung menghampiri Firman dan menarik kerah Firman.


"Apa kamu bilang? Kamu bilang dia anak haram, gila kamu!."


Melihat hal itu, suasana berubah kepanikan Samira terlihat menarik Ayan agar menjauh dari ayahnya, dan Jasmin terlihat berusaha untuk menenangkan Ayan. Ketika Ayan sudah terpisah dari Firman, Jasmin menampar Firman yang saat itu masih terlihat menantang Ayan dengan raut muka yang terlihat sedih bercampur dengan marah.


Firman yang menerima tamparan dari Jasmin ia langsung diam dan ia hanya memegangi pipi yang di tampar oleh Jasmin.


Saat itu Ayan dan Samira terlihat sangat terkejut dengan apa yang di lakukan oleh Jasmin di hadapan mereka berdua. Tidak hanya Samira dan Ayan, Firman yang menerima tamparan itu pun langsung terlihat sangat terkejut dan ia tidak bisa berkata kata.


"Mas Firman, jangan pernah kamu mengatakan kalau anak ini adalah anak haram, kalau sampai kamu mengatakan hal ini lagi, aku tidak akan segan segan meninggalkan Mas demi anak ini, ingat itu!" ucap Jasmin dengan tegas dan serius dengan tatapan mata yang tajam dan sesekali ia menunjukkan nunjuk Samira.


"Kenapa kamu bisa mengatakan hal ini kepada aku? Apa dia lebih penting dari aku? Apa dia lebih penting dari hubungan kita?" jawab Firman dengan nada tinggi lalu tiba tiba ia menggeliat liat kesakitan sambil memegang kepalanya yang masih di perban. Ia berteriak teriak kesakitan, melihat hal itu Jasmin yang saat itu marah langsung luluh dan ia terlihat sangat khawatir. Ia terlihat teriak memanggil suster dan dokter untuk memeriksa keadaan Firman. Tidak hanya Jasmin yang terlihat khawatir, Samira dan Ayan pun juga terlihat khawatir, namun saat itu Samira tidak berani mendekati ayahnya.


Beberapa saat kemudian dokter datang dan ia memeriksa Firman, melihat Firman masih menggeliat liat kesakitan, akhirnya dokter pun memberikan suntikan penenang kepada Firman agar Firman lebih tenang.


Setalah mendapatkan suntikan penenang, Firman pun akhirnya benar benar pingsan dan tidak sadarkan diri. Melihat hal itu, Jasmin dan yang lain lainnya tampak lebih tenang dan tidak panik lagi.


"Bu Jasmin, saya mohon tolong jangan buat Pak Firman terlalu banyak pikiran terlebih dahulu, saya takut jika anda melakukan hal ini, nanti akan membahayakan kesehatan Pak Firman!" ucap dokter yang memeriksa Firman kepada Jasmin dan orang orang yang berada di dalam ruangan itu.


Setalah mengatakan hal itu, dokter itu pun pergi dari kamar yang di tempati oleh Firman.


Menyadari hal itu, dengan pandangan mata yang melihat ke arah Firman, Samira mendekati ibunya dan ia memegangi salah satu tangan Jasmin. Menyadari hal itu, Jasmin pun melihat ke arah Samira dengan raut muka yang terlihat sangat sedih.


"Mama, Papa akan baik baik saja kan?" tanya Samira setelah ibunya melihat Samira. Mendengar pertanyaan itu, Jasmin pun menunduk kan tubuhnya dan kemudian ia duduk bertekuk lutut dengan tubuh yang sejajar dengan Samira.


"Papa, pasti akan baik baik saja. Kamu jangan khawatir ya, tidak akan ada yang terjadi, semuanya akan baik baik saja!" jawab Jasmin untuk menenangkan Samira. Ia kemudian berhenti beberapa saat, sebelum ia bangun dan menjauhi tubuh Samira. Ketika ia sudah bangun dia menghampiri Ayan, dan berdiri di depan Ayan dengan raut muka masih terlihat sedih.


"Mas, aku minta tolong sama kamu, tolong jaga Samira selagi Mas Firman ada di sini. Jika, seandainya Mas Firman sudah di izinkan untuk pulang aku pasti akan menjemput Samira," ucap Jasmin dengan raut muka yang terlihat tidak tega dengan apa yang di ucapkan nya. Mendengar ucapan itu, Samira terlihat terkejut, namun ia sadar kalau apa yang di lakukan oleh ibunya untuk kesembuhan ayahnya.


"Iya Jasmin, aku mau. Lagian, dari dulu sebelum Firman dekat dengan Samira, Samira sudah dekat dengan aku. Tapi.... Apa kah Samira mau tinggal dengan aku selagi kamu merawat Firman?" jawab Ayan dengan melihat ke arah Samira yang saat itu tengah membelakangi dirinya dan ibunya. Saat itu Samira terlihat tengah berpikir sesuatu setalah mendengar apa yang di ucapkan oleh Firman.


Tak berselang lama Samira pun berbalik dan melihat ke arah ibunya dan Ayan. Setalah ia berbalik, selama beberapa saat ia terdiam sebelum ia mengatakan kalau dirinya setuju untuk tinggal dengan Ayan. Mendengar kalau Samira setuju untuk tinggal bersama dengan Ayan, Jasmin menghampiri Samira dan memeluk erat Samira dengan raut muka yang tidak tega. Lalu, dengan lirih ia mengatakan maaf kepada Samira karena ia melakukan hal ini.

__ADS_1


Saat itu Samira hanya terlihat sedih dan sedih, tanpa mengatakan sepatah katapun di pelukan ibunya. 


__ADS_2