Sebarkas Harapan Diatas Penantian

Sebarkas Harapan Diatas Penantian
4. Ayan Sakit


__ADS_3

Kriiiingg....


Terdengar suara panggilan dari sebuah ponsel yang berada di atas meja. Ponsel itu adalah ponsel milik Jasmine, melihat ponselnya berbunyi Jasmine pun mengambil ponselnya yang berada di atas meja. Ia mengambil ponselnya setalah ia melihat nama orang yang menghubungi dirinya. Saat itu orang yang menghubungi dirinya adalah Ayan, melihat hal itu selama beberapa saat ia diam dengan pandangan mata seakan berat hati untuk menjawab laki laki yang tidak ia cintai itu.


"Halo Ayan," sapa Jasmine kepada orang yang menghubungi dia. Saat itu ia mengira kalau orang yang menghubungi dirinya adalah Ayan, namun ternyata....


"Saya bukan Ayan, Jasmine. Saya Ibu Ayan, " jawab Ibu Ayan di telepon dengan nada lirih.


Mendengar jawaban itu, Jasmine pun  diam sejenak dengan tatapan mata seperti orang yang merasa tidak enak setalah dirinya mengetahui kalau orang yang menghubungi dirinya adalah Ibu Ayan.


"Maaf Tante, saya kira Tante adalah Ayan. Ada apa Tante menghubungi saya?" tanya Jasmine di telepon dengan nada yang masih baik.


Mendengar ucapan dari Jasmine, entah apa yang membuat Ibu Ayan sedih. Tiba tiba, derai air mata membasahi pipi Ibu Ayan ketika ia menerima telepon dari Jasmine.


"Saya benar benar minta maaf dengan kamu, saya tahu kamu tidak suka dengan saya yang menghubungi kamu tiba tiba. Tapi.... Tapi saya mohon, saya sangat amat memohon dengan kamu Jasmine, tolong kamu datang kemari. Saya melakukan ini karena saya, saya dan Ayan sangat membutuhkan kamu!."


Derai air mata terus mengalir membasahi pipi Ibu Ayan, ia sangat sedih atas apa yang sudah terjadi dengan Ayan. Mendengar ucapan itu, dengan perasaan berat Jasmine mengiyakan apa yang di inginkan oleh Ibu Ayan dan ia pun memutuskan untuk pergi ke rumah Ayan.


Sesampainya di rumah Ayan, Jasmine terlihat mengetuk pintu dengan salah satu tangan yang memegangi tangan Samira. Namun, saat itu sikap aneh di tunjukkan oleh Samira, melihat kalau ia berada di rumah Ayan biasanya ia tampak sangat bahagia namun hari itu ia tampak sedih dan hanya diam saja.


Tok tok tok...


Suara pintu di ketuk terdengar dari luar rumah, lalu terlihat Ibu Ayan keluar dari kamar dan membuka pintu rumah.


Saat pintu sudah terbuka, Ibu Ayan terlihat terkejut sekaligus bahagia melihat kedatangan Samira dan Jasmine. Ia langsung memberi senyuman kecil di bibirnya dengan lembut.


"Makasih Nak Jasmine, karena kamu sudah mau datang ke rumah Tante!."


Mendengar ucapan itu, Jasmine kembali tersenyum di bibirnya. Ia kemudian membalas anggukan kepala di hadapan Ibu Ayan, beberapa saat kemudian Ibu Ayan mengajak Jasmine dan Samira ke dalam rumah dan setelah itu ia menuju ke dalam kamar yang di tempati oleh Ayan.


Ketika berada di dalam kamar yang di tempati oleh Ayan, secara tiba tiba Jasmine menghentikan langkahnya dengan raut muka yang terlihat terkejut dan tidak bisa berkata kata. Tidak hanya Jasmine, Samira pun terlihat hanya diam dengan mata terbuka lebar dan ia bahkan menjatuhkan boneka yang saat itu ia pegang setalah melihat ke dalam kamar yang di tempati oleh Ayan.


Entah, apa yang membuat Samira dan Jasmine terkejut, yang jelas ada pemandangan yang sangat mereka tidak percaya.


Beberapa saat terkejut, secara tiba tiba mata Jasmine di penuhi oleh air mata. Di saat bersamaan, Samira yang saat itu terkejut melepaskan tangan Jasmine dan berjalan perlahan mendekati apa yang di lihatnya.


"Om Ayan!" panggil Samira dengan nada lirih setalah ia berada di dekat tempat tidur.


Saat itu terlihat keadaan Ayan tengah sakit, tubuhnya menggigil kedinginan, wajahnya terlihat pucat dengan bibir yang berwarna merah pucat. Ia terlihat tidak bisa melakukan apapun di saat sebelum Jasmine dan Samira datang ia hanya bisa terbaring di atas tempat tidur. Namun, saat ia mendengar suara Samira tiba tiba ia bisa bangun dan langsung memeluk erat Samira dengan sesekali mencium kening, pipi dan tangan Samira dengan bahagia.


Melihat hal itu, Ibu Ayan dan Jasmine terlihat terharu.


"Aku memanggil kamu tidak ingin meminta apapun  Jasmine," ucap Ibu Ayan berhenti beberapa saat dengan melihat ke arah Jasmine dan dengan mata yang berkaca kaca. Mendengar ucapan dari Ibu Ayan, dengan mata yang berkaca kaca Jasmine melihat ke arah Ibu Ayan. "Saya hanya ingin mempertemukan kekuatan anak saya dengan dirinya, dan sekarang kamu lihat. Dia terlihat sangat bahagia, Ayan bahagia bisa bertemu dengan Samira!."


Setalah mendengar apa yang di katakan oleh Ibu Ayan, Jasmine pun tidak menjawab sepatah katapun. Ia hanya terlihat semakin sedih bahkan untuk menyembunyikan kesedihannya, Jasmine sampai memalingkan wajahnya dari wajah Ibu Ayan. Lalu, dengan berjalan perlahan ia menghampiri Ayan dan Samira. Saat Jasmine sudah berada di dekat Ayan, Ayan menatap Jasmine selama beberapa detik setelah itu ia menundukkan kepalanya dengan tatapan mata yang redup.

__ADS_1


Melihat hal itu, Jasmine melihat ke arah Ayan dan dengan perlahan menarik Samira yang saat itu terlihat sedih dengan berurai air mata setalah melihat keadaan Ayan yang tidak baik baik saja.


"Apa yang terjadi? Kenapa bisa seperti ini keadaan kamu?" tanya Jasmine kepada Ayan yang saat itu duduk di atas tempat tidur dengan wajah yang masih pucat.


"Bukan apa apa, aku hanya demam biasa saja!" Jawab Ayan dengan baik.


Melihat hal itu, Jasmine pun berusaha untuk memeriksa keadaan Ayan. Namun, saat itu Ayan menolaknya dengan cara menjauhkan kepalanya dari tangan Jasmine. Menyadari hal itu, Jasmine masih diam tanpa mengatakan apapun. Namun, ia semakin bersikukuh untuk memeriksa Ayan. Ayan yang melihat hal itu ia pun akhirnya mau di periksa oleh Jasmine.


"Kita ke rumah sakit ya?" tanya Jasmine kepada Ayan setalah memeriksa keadaan Ayan.


"Tidak. Itu tidak perlu, aku baik baik saja," jawab laki laki yang berwajah pucat itu.


"Om.... " ucap Samira dengan lirih dan melihat ke arah Ayan dengan tatapan mata yang berkaca kaca. "Demi Samira, tolong ikuti perintah Mama untuk pergi ke rumah sakit."


Ayan yang tidak pernah bisa menolak Samira akhirnya ia pun menurut dan ia mau di ajak ke rumah sakit oleh Jasmine dan Samira.


****


Di rumah sakit, Ayan terlihat berbaring di atas tempat tidur di rumah sakit. Saat itu terlihat seorang dokter tengah memeriksa keadaan Ayan yang sudah berbaring di tempat tidur.


"Tidak papa, Tuan Ayan hanya demam bisa Bu Jasmine, tidak ada sakit yang serius. Jadi, Bu Jasmine jangan khawatir," ucap dokter yang saat itu baru saja memeriksa keadaan Ayan, saat itu ia mengatakan hal itu dengan nada santai agar Jasmine atau Samira tidak semakin khawatir.


Mendengar ucapan itu, Ayan pun bangun dari tempat tidur nya dan ia duduk di atas tempat tidurnya.


"Saya tidak perlu di rawat kan Dokter?" tanya Ayan kepada dokter yang saat itu sudah duduk di kursi kerjanya.


****


Akhirnya mereka bertiga pun pulang ke rumah, sesampainya di rumah. Jasmine mengajak Ayan mampir ke rumahnya terlebih dahulu.


Beberapa saat kemudian, mereka pun berada di dalam rumah, duduk di sofa yang berada di ruang tamu dengan dua cangkir teh yang berada di atas meja.


"Bagaimana keadaan kamu?" tanya Jasmine kepada Ayan yang duduk di hadapan nya dengan wajah yang sudah mulai pulih dan terlihat lebih segar.


"Aku baik baik saja, " jawab Ayan dengan baik.


Tak berselang lama, Samira datang dengan membawa boneka lain yang berbeda dari boneka yang sering ia bawa. Melihat kalau boneka yang dia bawa adalah boneka dari Firman, Jasmine terlihat heran dan bingung. Ia juga terlihat terkejut dengan yang di lihatnya.


"Mama," panggil Samira kepada Jasmine dengan menunjukkan boneka yang di bawanya. Jasmine yang melihat hal itu hanya tersenyum, berbeda dengan Jasmine yang terlihat bahagia, Ayan justru terlihat sedih melihat Samira tidak membawa boneka yang dia belikan.


"Om Ayan, maafkan Samira. Samira lebih sayang dengan boneka yang di belikan oleh Ayah!" ucap Samira dengan terlihat sedih dan kemudian ia memeluk erat boneka itu.


Ayan yang mendengar ucapan itu hanya diam dan ia tidak mengatakan sepatah katapun, ia hanya menjawab senyuman kepada Samira. Jasmine yang menyadari hal itu dengan raut muka bahagia, ia memeluk erat Samira. Ketika Samira menerima pelukan dari ibunya, Samira pun meneteskan air matanya.


Melihat kejadian itu, Ayan terlihat terharu dan ia tidak mengatakan apapun, ia hanya sedih dengan mata yang berkaca kaca. Lalu, air matanya mengalir dan berjalan dari matanya ke pipi. Menyadari kalau air matanya menetes, Ayan pun menghapus air mata nya dan bersikap tetap cool.

__ADS_1


****


Ketika Jasmine dan Samira keluar dari rumah, Firman yang ingin mengajak  Samira jalan jalan di hari Minggu langsung terdiam dan menghentikan mobilnya di tengah jalan karena ia melihat Ayan dan Jasmine.


Saat itu, Firman hanya memandangi kedua orang itu dengan mata yang berkaca kaca dan bersedih.


Saat itu, Jasmine dan Ayan tidak menyadari kalau Firman sedang melihat mereka bertiga. Beberapa saat kemudian, Samira keluar dengan membawa boneka yang di belikan oleh Firman. Melihat hal itu, kesedihan Firman sedikit menghilang dan ia berusaha untuk tidak memperlihatkan kesedihannya.


"Mama, itu bukannya mobil Papa," ucap Samira sambil menunjukkan ke arah mobil Firman yang berhenti di tengah jalan. Melihat hal itu, Jasmine pun melihat ke arah tangan telunjuk Samira, saat itu ia masih ragu tentang mobil itu benar benar milik Firman atau orang lain. Untuk memastikan kalau mobil itu milik Firman atau bukan, Jasmine pun mengambil ponselnya dan mengetik sebuah nama  di kontak ponselnya. Ketika nama yang di ketika sudah keluar, ia menghubungi nomor itu.


Beberapa saat kemudian, ponsel Firman berbunyi dan yang menghubungi dirinya adalah Jasmine.  Melihat hal itu, Firman pun mengangkat panggilan itu dengan mengusahakan untuk tetap tenang.


"Iya Jasmine, ada apa?" tanya Firman kepada Jasmine dengan mengawasi Ayan dan Jasmine.


"Mobil hitam di depan itu milik Mas Firman atau bukan?" jawab Jasmine.


"Iya ini mobil ku."


Mendengar ucapan itu, Jasmine pun diam selama beberapa saat kemudian, ia melihat ke arah mobil itu dengan masih diam.


"Datang ke sini ya Mas," ucap Jasmine setalah ia mendengar jawaban dari Firman kalau memang benar mobil itu adalah mobil Firman.


"Mama, benarkan kalau mobil itu adalah mobil Ayah?" sahut Samira dengan terlihat sangat bahagia. Melihat hal itu, Jasmine pun menganggukkan kepalanya dan memberi senyuman kecil di bibir nya.


Melihat kebahagiaan Samira atas datangnya Firman, Ayan justru terlihat sedih. Ia seakan di lupakan oleh Samira, namun saat itu ia menyadari kalau baginya ayah adalah seorang yang penting di dalam hidupnya.


Beberapa saat kemudian, Firman pun benar benar sampai di depan rumah. Ia kemudian turun dari mobilnya, saat berada di luar rumah ia melihat Ayan selama beberapa saat, Ayan yang melihat hal itu ia juga membalas pandangan nya, namun ia tidak mengatakan sepatah katapun kepada Firman.


"Maafkan aku, karena aku menganggu hari hari kalian berdua," ucap Firman dengan santai dan bernada rendah.


"Kenapa Mas Firman bicara seperti itu? Aku tidak terganggu dengan kehadiran kamu Mas, begitu pula Mas Ayan, dia pasti juga tidak terganggu. Iya kan Mas?" jawab Jasmine dengan nada baik. Pada saat itu, tatapan mata Ayan terlihat kosong. Ia terlihat melamun dan tidak menjawab Jasmine. Melihat hal itu, Firman dan Jasmine langsung melihat ke arah Ayan.


"Iya kan Mas?" tanya Jasmine lagi dengan nada bicara semakin tegas kepada Ayan.


Mendengar ucapan itu, Ayan pun memecah lamunannya dan mengiyakan apa yang di ucapkan oleh Jasmine.


Jasmine yang melihat hal itu pun langsung kembali melihat ke arah Firman yang berdiri di hadapannya.


"Jasmine, aku minta izin. Aku ingin mengajak Samira jalan jalan, " pinta Firman kepada Jasmine. Mendengar ucapan itu, Samira yang saat itu bersikap aneh langsung memegang erat tangan ibunya, seakan ia ingin mengatakan agar ia mengizinkan Samira pergi lagi dengan ayahnya.


Menyadari hal itu, akhirnya Jasmine pun mengizinkan Samira pergi dengan ayahnya. Mendengar jawaban dari ibunya, Samira terlihat sangat bahagia dan ia pun langsung bergegas melepaskan tangan ibunya dan menuju ke dalam mobil.


Melihat hal itu, Jasmine hanya diam saja dan tidak mengatakan sepatah katapun. Ia hanya terus memandangi Samira yang saat itu sudah berada di dalam mobil.


"Makasih, kamu sudah mengizinkan aku mengajak Samira jalan jalan," ucap Firman kepada Jasmine dengan senyum di bibirnya.

__ADS_1


Mendengar ucapan itu, Jasmine pun membalas senyuman kecil di bibirnya dan ia menganggukkan kepalanya. Melihat hal itu, Firman pun pergi namun saat ia akan akan meninggalkan Jasmine, ia melihat ke arah Ayan selama beberapa saat sebelum ia berbalik dan menuju ke dalam mobil.


Menyadari hal itu, Ayan hanya diam begitu pula Jasmine. Ia hanya diam dengan tatapan mata yang terus melihat ke arah Firman.


__ADS_2