Sebarkas Harapan Diatas Penantian

Sebarkas Harapan Diatas Penantian
Kebenaran


__ADS_3

Waktu berlalu begitu cepat, saat itu keluarga Firman terlihat sudah kembali datang ke rumah Jasmine untuk membicarakan perjodohannya.


Saat itu sikap Jasmine terlihat sangat berbeda dia benar benar sangat sopan kepada keluarga Firman. Ia seakan menerima perjodohan yang di lakukan oleh orang tuanya.


"Tante, Om, silakan di minum tehnya!" ucap Jasmine lalu ia duduk di samping Ayahnya.


Mereka pun meminum teh yang di buat oleh Jasmine namun saat mereka sudah selesai meminum teh, tiba tiba Jasmine meminta izin orang tua Firman untuk mengajak Firman jalan jalan keluar rumah.


"Om, Tante, boleh apa tidak kalau aku ajak Firman pergi keluar beberapa saat saja? Aku mau berbicara hal penting dengan dia," ucap Jasmine dengan baik.


Mendengar hal itu orang tua Firman dan orang tuanya terlihat kebingungan dengan sikap Jasmine.


"Tentu, kenapa tidak Jasmine. Kamu boleh mengajak Firman kemana pun kamu mau!" jawab Ayah Firman lalu tak berselang lama Firman bangun dari duduknya dan menghampiri Jasmine. Beberapa saat kemudian Jasmine dan Firman terlihat sudah berada di luar rumah.


Saat itu mereka berdua tengah berjalan berdampingan, Firman terlihat malu malu berjalan bersama dengan Jasmine karena perasaan cintanya kepada Jasmine.


"Kenapa kamu seperti itu? Kenapa kamu seperti malu malu berjalan di samping ku?" tanya Jasmine kepada Firman sambil terus melangkahkan kakinya.


"Tidak, aku hanya sedikit heran dengan kamu. Hari ini kamu benar benar berbeda," jawab Firman sambil menutupi perasaannya kepada Jasmine.


"Berbeda kenapa? Aku adalah Jasmine, Jasmine yang sama, dan kamu tau apa alasan saya mengajak kamu keluar dari rumah!" ucap Jasmine dengan baik sambil sesekali melihat ke arah Firman yang terus malu malu.


"Kenapa memangnya?" jawab Firman dengan keadaan masih melangkahkan kakinya tanpa henti.


Beberapa saat kemudian Jasmine melihat sebuah kursi yang terbuat dari kayu, saat itu kursi kayu itu terlihat tengah kosong. Melihat hal itu Jasmine mengajak Firman duduk di bangku itu.


Saat mereka berdua sudah duduk di kursi itu, selama beberapa saat mereka tidak saling berbicara. Hal itu karena mereka berdua tengah menikmati udara dari taman yang mereka kunjungi.


"Oh iya, katanya kamu tadi mau ngomong hal penting, mau ngomong apa?" tanya Firman kepada Jasmine yang duduk di sampingnya dengan santai.


"Kamu ingin tau, atau kamu hanya ingin membuka topik perbincangan lagi!" jawab Jasmine dengan nada rendah dan sopan.

__ADS_1


"Em, aku pikir keduanya," jawab Firman.


Beberapa saat kemudian, Jasmine mengeluarkan buku yang ia dapatkan dari Ijaz dimasa kecilnya.


"Buku ini bagus apa tidak?" tanya Jasmine lalu ia memberikan buku yang dia dapat dari Ijaz kepada Firman.


Pada awalnya Firman terlihat ragu ragu saat ingin menerima buku itu namun ia akhirnya menerima buku itu dengan ekspresi muka bisa tanpa ada ekspresi wajah yang ragu atau pun yang lain lainnya.


"Iya, bukunya bagus!" jawab Firman setelah melihat lihat buku itu " darimana buku itu? Aku lihat buku itu sudah lama!."


"Iya buku ini sudah lama, sudah sekitar 10 tahun yang lalu dan buku ini adalah pemberian dari orang yang sepesial!" jawab Jasmine dengan melihat buku itu lalu ia mencium buku itu dan memeluk buku itu dengan erat.


"Namanya?" tanya Firman lagi dengan nada serius kepada Jasmine.


"Namanya siapa? Buku ini atau orang yang memberi buku ini?" tanya balik Jasmine kepada Firman lalu Jasmine meletakkan buku itu di antara dirinya dan Firman.


"Maksud ku, siapa orang yang memberikan buku ini kepada kamu?" ucap Firman dengan berusaha menatap mata Jasmine.


"Aku tidak bisa menjelaskan ke kamu di sini, " jawab Jasmine lalu ia bangun dari kursi itu dan mengajak Firman tanpa meninggalkan buku itu.


"Kenapa kamu hanya berdiri di situ? Ayolah kemari!" ujar Jasmine lalu Firman duduk di ayunan lain yang tidak jauh dari Jasmine.


"Lalu siapa orang yang memberikan buku itu ke kamu?" tanya Firman sambil sedikit mengerakkan kakinya agar ayunan yang di duduki sedikit mengayun.


"Dia adalah Ijaz, namanya Ijaz. Dia adalah teman sekolah ku di masa kecil, tidak hanya aku, dia juga teman Ria. Namun, kita bertiga harus terpisah," jawab Jasmine dengan melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan oleh Firman selama beberapa saat. Setelah itu ia bangun dari ayunan itu dan meletakkan buku yang ia dapatkan dari Ijaz di salah satu tempat yang tidak jauh dari dirinya.


"Lalu?" ujar Firman dengan menghentikan kakinya yang mengayun namun ia masih tetap duduk di ayunan itu.


"Lalu, dia pergi ke Pakistan. Hal itu karena kesalahan aku dan dirinya, hingga saat ini ia masih belum kembali ke Indonesia," jawab Jasmine.


"Lalu apa tujuan kamu menceritakan semua ini ke aku?" tanya Firman dengan nada mulai serius.

__ADS_1


"Tujuan aku mengatakan semua hal ini, aku ingin membatalkan perjodohan kita!. Aku masih menunggu Ijaz sampai kapan pun," jawab Jasmine lalu ia berdiri dan mengambil buku itu. Di saat bersamaan Firman menghentikan kakinya yang mengayun, ia kemudian berdiri dari duduknya. Setelah mengatakan hal itu Jasmine hanya menundukkan kepalanya di hadapan Firman.


"Apa kamu yakin dengan semua penantian ini?" tanya Firman lagi lalu ia mendekati Jasmine. Saat Firman semakin mendekat dengan Jasmine, Jasmine terlihat semakin menunduk.


"Aku yakin, karena Ijaz tidak akan mungkin menghianati aku," jawab Jasmine untuk membela Ijaz.


"Kalau memang menurut kamu, hal ini adalah keputusan yang paling benar di hidup kamu, maka aku tidak bisa memaksa kamu untuk mencintai aku. Aku hanya bisa mendoakan kamu, agar kamu bisa bahagia dengan dirinya," jawab Firman dengan sedih.


"Huh, dan kamu jangan khawatir. Jika kamu merasa penantian kamu berubah manis, maka aku akan selalu mendukung kamu!. Tapi, jika penantian ini tidak membuahkan hasil yang indah, maka aku siap untuk kembali kepada kamu karena aku selalu menanti kamu sampai kapan pun!" ucap lanjut Firman dengan baik dan terlihat menyembunyikan rasa sedihnya di hadapan Jasmine.


"Apa kamu yakin? Kamu akan menunggu aku, tapi jika aku benar benar bersama Ijaz! Bagaimana? Aku minta sama kamu, untuk mencari pendamping yang lain!" jawab Jasmine dengan baik lalu ia mengajak Firman melanjutkan perjalanan.


Mendengar ucapan itu Firman terlihat memberikan senyuman kepada Jasmine, ia kemudian melanjutkan perjalanan mereka ke rumah.


"Tentu, kenapa tidak? " jawab Firman lalu ia tersenyum lagi kepada Jasmine.


Beberapa saat kemudian, terlihat Jasmine dan Firman sampai di rumah, saat itu keluarga Firman dan Jasmine terlihat sangat bahagia, bercanda ria, dan tertawa. Namun, kebahagiaan itu tiba tiba berubah, saat sesampainya Firman di dalam rumah Firman mengatakan ingin membatalkan dan menolak perjodohan antara dirinya dan Jasmine.


"Ayah, Ibu, kita pulang sekarang. Aku tidak bisa melanjutkan perjodohan ini," ucap Firman hingga membuat keluarga Jasmine dan orang tua Firman sangat terkejut. Tidak hanya keluarga Firman dan keluarga Jasmine, Jasmine yang sudah menceritakan segalanya kepada Firman langsung terkejut dengan keputusan yang di ambil oleh Firman secara tiba tiba.


"Tapi kenapa Nak? Apa Jasmine menyakiti kamu dengan ucapannya?" tanya Ayah Jasmine dengan terkejut.


"Tidak Om, Jasmine tidak melakukan apa pun. Aku yang memang tidak menginginkan perjodohan ini di lanjutkan, aku tidak bahagia dengan semua ini!" ucap Firman dengan tegas lalu ia melihat ke arah Jasmine. Saat itu Jasmine terlihat hanya menundukkan kepalanya mendengar yang di katakan oleh Firman.


"Nak, apa kamu yakin akan membatalkan perjodohan ini?" tanya Ibu Jasmine dengan memegangi salah satu tangan Firman.


"Tante, kalau memang Jasmine adalah jodoh ku yang sudah di garis kan Tuhan di hidupku, maka percayalah. Suatu hari nanti, kita kan bersatu di dalam ikatan pernikahan!" jawab Firman lalu ia tersenyum kepada Ibu Jasmine.


Setelah itu secara perlahan ia melepas tangan Ibu Jasmine.


Setelah itu Firman pun pergi dari rumah Jasmine, saat itu orang tua Jasmine terlihat sangat sedih dengan apa yang terjadi di hidup Jasmine.

__ADS_1


Semenjak hari itu, Jasmine dan Firman tidak saling bertemu sama sekali, begitu pula dengan Ria yang sudah lama seakan menghilang setelah kejadian waktu itu. Jasmine sangat kesepian tanpa hadirnya Ria, ia mulai menyesali apa yang sudah terjadi selain itu, ia juga terlihat selalu teringat dengan keputusan Firman yang secara tiba tiba membatalkan perjodohan setelah mendengar keseluruhan cerita di hidup Jasmine.


Saat itu, Jasmine merasa hidupnya sudah mulai ada celah untuk memenuhi semua harapannya bersama Ijaz, walaupun ia sedih karena ia kini hidup tanpa seorang sahabat masa kecilnya.


__ADS_2