
Di dalam kamar yang di tempati oleh Firman terlihat Samira duduk di kursi yang berada di dekat Firman dengan dengan raut muka sedih dan air mata yang terus berderai membasahi pipinya.
Saat itu Samira memegangi salah satu tangan ayahnya yang tengah berbaring tidak sadarkan diri di atas tempat tidurnya.
"Papa, kapan Papa pulih? Maafkan Samira sudah membuat papa seperti ini!" ucap Samira dengan sedih dan berurai air mata.
Mendengar ucapan itu, Jasmin dan Ayan yang saat itu berdiri di dekat pintu dengan perlahan menghampiri Samira yang sedih melihat keadaan nya. Saat itu Jasmin memegangi kedua bahu Samira untuk menenangkan Samira yang sedih dengan yang terlah terjadi.
Ketika Jasmin memegangi bahu Samira derai air mata terus mengalir membasahi pipinya, ia benar benar ikut sedih dengan yang di lihat. Matanya tidak berhenti meneteskan air mata.
"Samira, kamu harus menguatkan diri kamu. Mama, yakin Papa Firman akan baik baik saja dan ia akan segera sembuh," ucap Jasmin dengan membelai secara perlahan bahu Samira untuk menenangkan Samira yang sangat sedih. Samira yang mendengar ucapan itu, ia hanya diam dengan mata yang di penuhi oleh air mata, lalu dengan perlahan ia menyandarkan kepalanya ke tubuh ibunya yang berdiri di samping nya.
"Mama, aku takut. Aku takut kalau Papa melupakan Samira selamanya," ucap Samira dengan air mata yang terus mengalir membasahi matanya. Melihat dan mendengar hal itu, Jasmin pun langsung membantah apa yang di ucapakan oleh Samira, lalu dengan tegas Jasmin berkata kepada Samira kalau ayahnya tidak akan pernah melupakan dirinya sampai kapan pun.
Samira yang mendengar ucapan itu, hanya dapat menangis dan menangis tanpa mengatakan sepatah katapun kepada ibunya. Matanya hanya melihat ke arah ayahnya dengan terlihat seperti menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi dengan ayahnya. Ia merasa kalau ayahnya mengalami kecelakaan karena dirinya, Jasmin yang mendengar hal itu benar benar tidak menerima apa yang di ucapakan eh Samira. Dengan nada yang benar benar tegas, ia memberi tahu Samira kalau semua yang terjadi bukan kesalahannya namun ini adalah takdir yang sudah digariskan oleh Tuhan kepada diri ya dan Firman.
Samira yang mendengar penjelasan dari ibunya, ia masih saja tidak berkata sepatah katapun. Ia hanya menangis, menangis, dan menangis hingga tersedu sedu. Melihat hal itu pelukan hangat dari seorang ibu pun di luncurkan oleh Jasmin untuk Samira.
****
Waktu berlalu begitu cepat, malam hari pun tiba. Saat itu jam dinding yang berada di ruangan Firman menunjukkan pukul 21. 50 waktu setempat. Terlihat Samira tengah tertidur di sofa dengan selimut yang di bawa kan oleh Ayan. Ia terlihat sangat kelelahan dan sangat beristirahat dengan tenang.
Menyadari hal itu, Ayan pun mengajak Jasmin keluar dari kamar itu untuk sedikit berbincang bincang setelah itu ia akan berpamitan kepada dirinya.
Ketika ia dan Jasmin berada di luar kamar yang di tempati oleh Firman. Ayan mengajak Jasmin untuk duduk di kursi tunggu yang berada di luar kamar, saat itu Ayan dan Jasmin duduk saling berdampingan.
"Makasih ya Mas, karena Mas sudah baik dengan saya dan Samira!" ucap Jasmin dengan baik setelah ia duduk di samping Ayan.
"Iya sama sama, dan untuk besok aku bawakan makanan lagi ya kasihan Samira kalau dia tidak makan, dan besok biar aku saja yang mengantar Samira ke sekolah seperti biasa."
Mendengar ucapan itu, Jasmin pun hanya menganggukkan kepalanya dengan perlahan dan memberikan senyuman kecil di bibirnya kepada Ayan.
"Jasmin, kalau aku boleh tahu, dimana keluarga Firman? Kenapa hanya kamu yang menunggu dirinya?" tanya Ayan dengan baik, namun ia terlihat tidak nyaman dengan pertanyaan sendiri. Mendengar pertanyaan itu dari Ayan, Jasmin pun terlihat hanya diam selama beberapa saat dengan pandangan mata yang melihat ke arah Ayan. Ayan yang menyadari hal itu, pada awalnya ia tampak biasa saja, namun lama kelamaan ia pun membalas tatapan mata Jasmin.
Setelah selama beberapa saat saling menatap, Jasmin mengalihkan pandangannya dan kemudian ia menundukkan kepalanya dengan terlihat sedih.
Menyadari hal itu, Ayan terlihat menyesal karena ia sudah membuat Jasmin bersedih dengan pertanyaan nya dan ia meminta kalau Jasmin untuk tidak bercerita jika ia tidak bisa menjelaskan kepada Ayan.
Jasmin yang mendengar hal itu, seketika langsung tidak enak dan ia menceritakan kepada Ayan tentang apa yang sebenarnya terjadi dengan orang tua Firman, dan mengapa mereka tidak datang ke rumah sakit.
"Orang tua Firman.... " ucap Jasmin, lalu ia terlihat berpikir dengan raut muka yang terlihat sedih.
__ADS_1
Keadaan tiba tiba berubah kembali ke 10 tahun yang lalu ketika Jasmin tengah mengandung Samira. Saat itu, Jasmin yang baru saja memberi surat cerai untuk Firman pergi, melihat hal itu Ibu Firman terjatuh dan pingsan dan tidak sadarkan diri.
Waktu itu Jasmin sudah benar benar pergi dari rumah Firman, maka dari itu ia tidak mengetahui keadaan Ibu Firman setelah mendapatkan kabar kalau Jasmin menceraikan Firman.
Jasmin baru mendapatkan kabar ketika Ibu Firman sudah berada di rumah sakit dan dinyatakan meninggal oleh dokter yang merawat Ibu Firman. Saat itu dokter mengatakan kalau Ibu Firman meninggal karena penyakit jantung yang secara tiba tiba menyerang Ibu Firman.
Derai air mata terus mengiringi kepergian Ibu Firman dari rumah sakit sampai ke tempat terakhir. Bahkan, Jasmin pun juga sampai pingsan karena ia tidak bisa mengontrol emosinya.
Waktu berlalu begitu cepat, pemakaman pun sudah selesai. Kesedihan masih menyelimuti rumah Firman dan ayah nya.
Saat itu, Firman tengah duduk di sofa dengan terlihat lelah dan lusuh menjadi satu. Beberapa saat kemudian, Jasmin pun menghampiri Firman yang duduk di sofa.
Melihat hal itu pandangan mata Firman pun langsung tertuju kepada Jasmin, dan ia pun membetulkan duduk nya.
"Boleh aku duduk di sini?" tanya Jasmin kepada Firman yang saat itu tengah membetulkan posisi nya.
"Iya silakan, tapi hati hati," jawab Firman dengan baik dan perhatian kepada Jasmin yang saat itu tengah mengandung Samira.
"Maafkan aku, karena aku Ibu meninggal kan kita semua," ucap Jasmin dengan baik dan ia terlihat sedih dengan apa yang menimpa Firman. Firman yang mendengar ucapan itu, langsung melihat ke arah Jasmin dan dirinya menatap Jasmin dengan seperti menahan kesedihan.
Setelah beberapa saat tidak berbicara, dan hanya melihat ke arah Jasmin, akhirnya Firman pun mengerakkan tangannya dan meraih salah satu tangan Jasmin dengan senyum kecil di pipinya.
"Kamu jangan menyalahkan diri kamu sendiri, ini adalah kesalahan ku. Kalau, seandainya aku tidak mengkhianati kamu, mungkin hal ini tidak akan terjadi !" jawab Firman dengan nada baik dan ia terlihat sedih. Setalah mengatakan hal itu, dengan perlahan ia melepaskan tangan Jasmin dan ia kemudian pergi dari sofa yang ia duduk menuju ke kamarnya. Jasmin yang melihat hal itu ia juga terlihat sedih. Matanya di penuhi oleh air mata dan ia tidak bisa berkata kata atas apa yang sudah terjadi dengan Firman.
"Setalah kejadian itu, belum tepat 7 hari meninggalnya Ibu Firman, Ayahnya juga ikut meninggal!."
Setelah Jasmin berhenti bercerita, air mata Jasmin semakin tidak terbendung dan ia benar benar tidak bisa berkata kata. Ia hanya menangis dengan tersedu sedu hingga sesenggukan.
Melihat hal itu, Ayan yang ikut sedih, ia pun langsung memegangi kedua bahu Jasmin dengan perlahan agar membuat Jasmin lebih tenang dan tidak terus bersedih.
Jasmin yang menerima hal itu ia benar benar tidak mengatakan sepatah kata pun, ia hanya menangis menangis dan menangis.
"Sudah jangan menangis, apa yang terjadi dengan orang tua Firman bukan lah salah kamu, yang terpenting sekarang. Lebih baik, kamu fokus merawat Firman, untuk Samira tenang saja aku akan membantu kamu menjaga dirinya!."
Mendengar ucapan itu, Jasmine pun hanya tersenyum kepada Ayan dan ia tidak mengatakan sepatah katapun kepada Ayan.
Beberapa saat kemudian, Ayan terlihat berpamitan dengan Jasmin untuk pulang ke rumahnya. Jasmin yang mendengar kalau Ayan berpamitan ia pun mengiyakan apa yang diinginkan oleh Ayan. Ayan pun akhirnya pulang ke rumah nya dan meninggalkan Jasmin dan Samira di rumah sakit.
****
Keesokan harinya, Jasmin terlihat membangunkan Samira karena ia harus sekolah. Ketika Samira sudah terbangun, Samira berdiri di dekat ibunya yang saat itu tangah merapikan selimut yang di pakai oleh Firman.
__ADS_1
"Mama, kapan Papa akan pulih?" tanya Samira dengan masih terlihat sedih di raut mukanya.
Mendengar ucapan itu, Jasmin pun mendekati Samira dan duduk dengan bertekuk lutut di hadapan Samira. Saat itu ia memegangi salah satu bahu Samira dengan penuh kasih sayang dan kelembutan.
"Papa pasti akan segera sembuh, kamu harus sering sering berdoa untuk Papa, agar Papa bisa segera mengajak kamu ke taman lagi!"jawab Jasmin kepada Samira dengan baik dan lalu ia tersenyum kepada Samira.
Tak berselang lama, Ayan datang dengan membawa pakaian untuk Jasmin dan Samira. Melihat kedatangan Ayan, Samira terlihat bahagia dan ia langsung memeluk erat Ayam setalah melihat kedatangan nya.
"Om Ayan, mau mengantar aku ke sekolah?" tanya Samira dengan terlihat sangat bahagia.
Ayan yang mendengar ucapan itu langsung tersenyum dengan Samira dan ia menganggukkan kepalanya. Melihat kebahagiaan Samira bersama dengan Ayan, Jasmin terlihat percaya dengan Ayan dan menitip kan Samira dengan Ayan.
Beberapa saat kemudian terlihat Samira berpamitan kepada ibu dan ayahnya yang masih terbaring di atas tempat tidur.
Setelah berpamitan dengan Ibunya, Samira pun mengajak Ayan bergegas pergi dari rumah sakit dengan terlihat sangat bahagia. Melihat hal itu Jasmin terlihat sangat bahagia walaupun ia masih sedih.
Waktu berlalu begitu cepat, di ruang kelas. Terlihat Samira duduk di kursinya dengan keadaan melamun. Ia bahkan tidak mendengar kalau bel masuk sekolah sudah berbunyi.
Ketika semua siswa dan siswi sudah masuk, tak berselang lama Nova masuk ke dalam kelas yang di tempati oleh Samira. Melihat Samira melamun di saat bel sudah masuk dengan perlahan ia memegangi salah satu bahu Samira untuk memecah lamunannya.
"Ada apa Samira?" tanya Nova yang saat itu memegangi salah satu bahu Samira.
Samira yang menyadari hal itu, ia langsung memecah lamunan nya, dan ia memanggil Nova dengan sangat lirih.
"Bukan apa apa Bu, maafkan saya!" jawab Samia, lalu ia mengeluarkan buku yang berada di dalam tasnya. Menyadari hal itu ia merasa kalau ada sesuatu yang tengah mengganggu pikiran Samira, namun ia tidak tahu apa yang mengganggu pikiran Samira. Setalah beberapa saat memandang Samira, akhirnya Nova pun melanjutkan mengajar di kelas Nova.
***
Di rumah sakit, Ayan terlihat baru sampai dengan membawa sebuah kantung plastik yang berisi makanan untuk Jasmin. Saat itu ia melihat kalau Jasmin duduk di samping Firman dengan sedih dan terus memohon untuk dirinya tidak lupa dengan Samira. Saat itu derai air mata memang terus mengalir membasahi pipi Jasmin. Ayan yang melihat hal itu, ia terlihat hanya diam dengan pandangan mata melihat ke arah Jasmin. Ia berdiri di tengah pintu, tanpa mengatakan sepatah katapun, ia hanya terlihat sedih dengan apa yang di lihatnya.
Ketika menyadari kalau Ayan, berada di rumah sakit, Jasmin pun mempersiapkan masuk Ayan. Ketika Ayan sudah berada di dalam kamar Jasmin, ia memberikan makanan yang ia bawa untuk Jasmin. Jasmin yang mendapatkan hal itu, ia terlihat bahagia dan berterimakasih kepada Ayan karena sikap baik dari Ayan kepada dirinya dan Samira.
Merasa kalau Ayan sudah berada di rumah sakit, Jasmin meminta Ayan untuk menjaga Firman selagi ia ingin mandi. Ayan mendengar permintaan itu Ayan pun mengangguk kan kepala dan Jasmin pun pergi meninggalkan mereka berdua di dalam kamar.
Melihat Jasmin sudah pergi Ayan menghampiri Firman dengan sedih dan berurai air mata. Ketika ia sudah berada di dekat Firman yang terbaring lemah, setetes demi setetes air mata jatuh membasahi pipi Ayan.
Entah apa yang membuat ia sedih setalah membuat Firman terbaring di atas tempat tidur.
Setalah selama beberapa saat menatap Firman dengan air mata, Ayan pun menghapus air matanya dengan perlahan dan ia berbisik kepada Firman di dekat telinganya.
"Kenapa Firman? Kenapa kamu tidak ingin melepaskan Jasmin? Aku cinta dengan dia, tapi aku selalu mengalah untuk kamu. Kenapa kamu tidak pergi dari hidup kamu? Aku tidak ingin kalau kamu meninggal, aku hanya ingin kamu pergi jauh dari hidup kami. Aku hanya ingin kamu jangan menjadi penghalang cinta ku ke Jasmin, aku mohon!" ucap Ayan dengan sedih lalu ia menjauhkan tubuhnya dari tubuh Firman dan ia pun berbalik setelah berbicara seperti itu di dekat Firman. Ia menjauhi Firman dengan duduk di sofa yang berada di dalam ruangan itu.
__ADS_1
Ketika Ayan sudah tidak sadar dan duduk di sofa, tiba tiba salah satu mata Firman mengalirkan setetes air mata. Ia seakan mendengar kan kesedihan Ayan yang di rasakan oleh Ayan dalam hatinya.