
Ketika Firman tengah duduk di halaman rumah Jasmine dengan sedih, secara tiba tiba hujan turun membasahi tubuh Firman. Saat itu hujan turun dengan sangat deras dan di barengi dengan petir yang menggelegar dimana mana. Mendengar petir dimana mana, Jasmine yang saat itu akan tertidur ia langsung terbangun dari tidurnya dan berjalan perlahan mendekati jendela kamarnya.
Saat ia sudah membuka gorden yang menutupi jendela kamar Jasmine, ia terlihat sangat terkejut karena ia masih melihat kalau Firman berada di halaman rumah dengan memandang ke arah kamar Jasmine dengan sedih, namun saat itu ia menyadari kalau Jasmine membuka gorden kamarnya, Firman yang saat itu duduk bertekuk lutut di halaman langsung berdiri dari duduknya dan ia kemudian terlihat memperlihatkan ekspresi muka yang terlihat sedih.
Melihat hal itu, Jasmine yang berada di dalam kamarnya pun hanya bisa menangis dengan pandangan mata yang terus melihat ke arah Firman yang berada di bawah.
Saat itu Jasmine memang benar benar sedih dan ia berurai air mata, memandang sang suami. Namun, beberapa saat kemudian ia kembali menutup gorden jendela nya. Melihat hal itu, Firman pun hanya bisa diam dengan raut muka sedih.
Ia kemudian berbalik dan pergi menuju ke dalam mobilnya, saat ia sudah berada di dekat pintu tempat duduk pengemudi, Firman kembali melihat ke arah kamar yang di tempati oleh Jasmine selama beberapa saat. Setalah itu ia masuk ke dalam mobilnya dan pergi dari rumah Jasmine. Jasmine yang melihat hal itu, ia hanya diam dengan mata yang terlihat sedih.
Di rumah Firman, dengan tatapan mata yang sedih, pakaian yang basah dan tidak bergairah. Firman masuk ke dalam rumah, melihat tampilan anaknya Ibu Firman langsung menghampiri Firman dan bertanya banyak hal kepada Firman, namun saat itu Firman tidak mengatakan sepatah katapun ia hanya diam dengan tatapan mata yang kosong.
Menyadari sikap aneh dari anaknya, Ibu Firman menghampiri Firman dan menghentikan Firman dengan memegangi salah satu bahu Firman dengan baik.
"Ada apa Firman?" tanya Ibu Firman kepada Firman. Melihat kalau tangan ibunya memegangi bahunya, Firman hanya diam dan ia meneteskan air mata dari matanya.
Namun, pada saat itu ia tidak mengatakan apapun kepada ibunya. Ia hanya diam dengan berusaha untuk menutupi kesedihannya karena membuat Jasmine terluka. Setalah beberapa saat diam dengan membelakangi ibunya, Firman pun berbalik dan melihat ke arah ibunya dengan berusaha untuk menguatkan dirinya agar tidak terlihat sedih di lihat oleh ibunya.
Ketika Firman sudah berbalik, dengan kepala yang hanya menunduk diam tanpa mengatakan sepatah kata.
"Ada apa Firman ?" tanya Ibu Firman dengan lirih kepada Firman yang terlihat lusuh dan sedih di hadapan nya.
Firman yang mendengar pertanyaan dari ibunya, ia hanya menundukkan kepalanya beberapa saat. Setelah itu, ia melihat ke arah ibunya dengan mata yang menahan kesedihan. Ia kemudian memeluk ibunya dan tangisannya pun pecah di pelukan ibunya.
"Bu, hidup ku hancur sekarang! Aku tidak akan bisa apa apa tanpa dia," ucap Firman kepada ibunya di saat di peluk oleh ibunya.
"Apa yang kamu bicarakan? Kenapa kamu mengatakan hal ini?" jawab Ibu Firman di saat ia di pelukan Firman. Namun, saat itu Firman hanya diam dan hanya menangis di pelukan ibunya.
Menyadari hal itu, Ibu Firman pun melepaskan pelukannya dan ia memegangi kedua lengan Firman.
"Jelas kan ke Ibu, apa yang terjadi? Dan di mana Jasmine?" ucap Ibu Firman dengan dengan masih memegangi kedua lengannya.
Mendengar ucapan itu, dengan berat hati dan terlihat malu, Firman mengatakan kepada ibunya tentang apa yang terjadi di kantor dan di rumah Jasmine. Ketika Firman bercerita tentang kejadian di kantor, ekspresi muka dari Ibu Firman terlihat berubah dari tenang menjadi sangat terkejut dan ia tidak bisa berkata kata.
Saat Firman selesai bercerita tentang kejadian di kantor dan di rumah, tubuh Ibu Firman bergetar, darahnya mendidih setelah mendengar ucapan dari Firman. Dalam jeda hanya beberapa detik, Ibu Firman langsung menampar pipi Firman dengan emosi dan penuh dengan kemarahan.
Firman yang menerima tamparan itu, ia hanya diam dengan memalingkan wajahnya dan memegangi pipinya yang di tampar oleh ibunya.
"Kamu pantas mendapatkan hal itu Firman. Kenapa? Kenapa kamu melakukan itu? Jasmine itu adalah orang yang baik, tapi kamu justru mengkhianati Jasmine. Apa kamu kurang puas dengan Jasmine hingga Jasmine kamu selingkuhi seperti itu?" ucap Ibu Firman dengan nada tinggi dan terlihat sangat marah.
Selain ia marah dengan Firman, ia juga terlihat sedih mendengar cerita dari Firman dan ia terlihat kecewa. Melihat kemarahan ibunya, Firman terlihat semakin sedih. Ia pun melepaskan tangannya yang memegang pipinya lalu ia melihat ke arah ibunya dengan matanya yang di penuhi oleh air mata.
Ia kemudian duduk di hadapan ibunya dengan bertekuk lutut di hadapan ibunya dan kedua tangannya yang terlipat di depan dada. Ia memohon kepada ibunya untuk membantu dirinya berbicara dengan Jasmine.
"Ibu, maafkan Firman. Firman tahu Firman membuat kesalahan besar, tapi tolong bantu Firman untuk berbicara dengan Jasmine!."
"Tidak!" ucap Ibu Firman dengan tegas dan lantang. "Ibu tidak akan membantu kamu, ini masalah kamu maka kamu harus menyelesaikannya sendiri!."
__ADS_1
Setalah mengatakan hal itu, Ibu Firman pun pergi dari hadapan Firman. Melihat hal itu, Firman pun hanya diam saja dan ia tidak mengatakan apapun. Ia kemudian bangun dari duduknya dengan lemas dan sedih. Ketika ia sudah berdiri dari duduknya, dengan langkah yang hampa dan kesedihan yang terus menerpa Firman. Ia pergi ke kamarnya, dengan tidak mengatakan sepatah kata pun.
****
Di rumah Jasmine, terlihat Jasmine sudah duduk di kursi yang berada di depan cermin.
Saat itu ia duduk dengan derai air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.
Beberapa saat kemudian, terlihat Ibu Jasmine datang menghampiri dirinya. Ia kemudian memegangi salah satu bahu Jasmine setelah ia menyadari kalau Jasmine tengah bersedih.
"Semuanya akan baik-baik saja Nak, semuanya akan berakhir dengan baik baik saja!" ucap Ibu Jasmine setalah ia memegangi kedua lengannya dengan penuh kasih.
Menyadari hal itu, Jasmine pun melihat ke arah ibunya dengan tatapan mata yang penuh kesedihan dan derai air mata.
"Iya Ibu, apa yang ibu katakan itu benar? Semua yang terjadi akan baik baik saja, aku tahu itu!" jawab Jasmine dengan baik dan masih terlihat sedih tergambar jelas di wajahnya.
Mendengar ucapan dari Jasmine, Ibu Jasmine pun memeluk erat Jasmine dengan raut muka yang terlihat sedih. Ia kemudian mengajak Jasmine untuk turun dan makan siang.
Jasmine yang mendengar perkataan itu ia hanya diam, dengan berjalan perlahan karena ia tengah mengandung besar.
****
Di dalam kamar Firman, Firman terlihat terus melamun dengan tatapan mata yang kosong dan duduk di sudut ruangan.
Matanya terlihat memerah, pakaian basah akibat hujan deras yang menjatuhi tubuhnya tidak ia ganti, ia hanya diam dengan duduk di lantai seakan menyesali atas semua yang terjadi karena kesalahannya.
Waktu berganti waktu, hari berganti hari, namun tidak ada sedikit pun kabar tentang Jasmine. Perasaan khawatir dan gelisah terus menyelimuti hati Firman, ia selalu merasa bayangan Jasmine selalu berada di sekitarnya. Ia selalu melihat bayangan ketika Jasmine tersenyum, ketika memanggil nama Firman dan membelai dirinya.
Merasa bayangan itu selalu ada di dalam hatinya, air mata demi air mata terus menetes. Kehancuran dalam hati yang ia rasakan sangat memutari otaknya hingga ia tak tahu perbedaan antara baik dan benar dan bahagia atau pun kesedihan. Hanya, derai air mata yang ia resapi di dalam hati Firman.
"Aaaaaa" teriak Firman di dalam kamar dengan memukul mukul lantai keramik berwarna putih tersebut.
Mendengar teriakan Firman dari dalam kamarnya, orang tua Firman bergegas menghampiri kamar Firman dan ia berusaha untuk membuka pintu kamarnya, namun saat itu pintu kamarnya terkunci dari dalam.
"Firman, Ibu mohon... Tolong, tolong buka pintunya. Ibu mohon," ucap Ibu Jasmine dengan derai air mata yang terus mengalir membasahi pipinya. Ia juga terus berusaha untuk menggedor-gedor pintu.
Melihat Firman tidak membuka pintu, ia hanya menangis di depan pintu dengan tersedu sedu.
Beberapa saat kemudian, Firman yang saat itu sedih berusaha untuk menutupi kesedihannya dengan ekspresi muka datar tanpa menunjukkan ekspresi apapun.
Ketika Firman sudah membuka pintu, ibunya yang saat itu sedih ia bangun dari duduknya dan menghentikan tangisnya. Ia kemudian berdiri di hadapan Firman, dengan memegangi kedua pipi Firman dengan penuh kasih sayang seorang ibu.
"Ada apa Firman? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Ibu Firman kepada Firman dengan raut muka sedih.
"Bisakah dia memaafkan aku ibu? Aku ingin meminta maaf kepadanya," jawab Firman dengan masih sedih dan mata yang memerah dengan air mata.
"Beri dia waktu, Jasmine perlu waktu untuk memaafkan kamu," jawab Ibu Firman dengan ikut sedih dengan Firman yang hanya menunduk kepalanya di hadapan nya.
__ADS_1
Mendengarkan ucapan itu Firman pun hanya diam, ia kemudian pergi dari hadapan ibunya dengan raut muka sedih. Melihat hal itu ia hanya diam dengan tatapan mata yang sedih.
"Firman... Beri dia waktu, jangan paksa dia!" ucap Ibu Firman dengan sedih dan berurai air nata melihat anaknya pergi tanpa mengatakan sepatah katapun dari hadapan nya.
****
Beberapa saat kemudian, Firman yang berada di dalam mobil menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah yang tak lain adalah rumah Jasmine. Saat itu ia hanya memandangi rumah itu dengan berharap ia bisa bertemu dengan Jasmine, namun harapan yang ia inginkan tidak terjadi ia hanya melihat kalau rumah itu tampak kosong.
Menyadari hal itu, Firman pun turun dari mobilnya dan berjalan menghampiri rumah itu dengan sesekali melihat lihat ke jendela yang tertutup oleh gorden berwarna putih. Melihat hal itu, ia hanya diam dengan tatapan mata yang terlihat sedih.
Saat itu, Jasmine yang berada di dalam kamarnya terlihat dengan perlahan membuka gorden yang berada di jendela kamarnya. Saat ia menyadari kalau ada mobil Firman di depan rumah nya, ia tampak sedih dengan raut muka yang kebingungan, seperti mencari seseorang, dan orang yang ia cari adalah Firman.
Menyadari kalau Firman tidak ada, ia pun menutup gordennya lagi. Tak berselang lama, ketika ia sudah menutup gorden. Firman yang saat itu memeriksa Jasmine di pintu depan keluar dan berganti memeriksa Jasmine di halaman dengan melihat ke arah kamar.
Melihat kalau Jasmine tidak ada, ia hanya menghela nafas panjang dan ia kembali menuju ke mobilnya tanpa berbalik dan mengatakan sepatah kata. Ia hanya menundukkan kepalanya dengan raut muka yang terlihat sedih.
Saat ia sudah berada di dalam mobil, raut muka sedih tergambar jelas di wajah.
"Aaaaa" teriak Firman dengan sesekali memukul alat kemudi yang berada di hadapannya.
Saat itu ia terlihat sangat sedih, setelah menyadari kalau Jasmine masih tidak ingin berbicara dengan dirinya. Ia hanya menangis dengan menundukkan kepalanya, ia terlihat menyesal atas apa yang sudah ia lakukan dengan Nova.
Tak berselang lama, Jasmine keluar dari rumahnya dengan di bantu oleh Ibu Jasmine, menyadari kalau Jasmine keluar Firman langsung turun dari mobilnya dan menghampiri Jasmine dengan raut muka sedih.
Saat ia sudah berada di hadapan Jasmine, saat itu semua orang terdiam tak terkecuali ibunya, menyadari kedatangan Firman ingin berbicara sesuatu kepada Jasmine, Ibu Firman pun meninggalkan mereka berdua.
Saat ibu Jasmine sudah pergi, Firman memberanikan diri untuk mendekati Jasmine, Jasmine yang menyadari hal itu ia tidak bergerak sedikitpun ia hanya diam dengan pandangan mata yang terlihat juga bersedih.
Tak berselang lama, ia mengajak Firman untuk duduk di kursi yang berada di luar rumah, saat itu Firman ingin membantu Jasmine, namun Jasmine menolaknya dan lebih memilih untuk berjalan sendiri menuju ke kursi itu.
"Ada apa Mas kemari?" tanya Jasmine dengan nada tegas dan bernada rendah setalah ia duduk di kursi itu
"Aku ingin meminta maaf kepada kamu Jasmine, tolong kamu maafkan aku!."
Mendengar ucapan itu dengan raut muka sedih dan penuh dengan air mata, ia melihat ke arah Firman. Ia memandangi Firman selama beberapa saat tanpa mengatakan sepatah katapun.
Tiba tiba air mata Jasmine menetes dan mengalir membasahi pipinya.
"Apa Mas pikir, dengan meminta maaf kepada ku, semua masalah akan berakhir? Kalau memang hal itu benar, aku memaafkan Mas. Tapi... Apakah luka yang Mas berikan kepada ku akan sembuh?" ucap Jasmine dengan nada serius dan tatapan mata yang terlihat sangat kecewa.
Mendengar ucapan itu, Jasmine hanya diam dan dia hanya diam tanpa mengatakan sepatah kata pun di hadapan Jasmine. Menyadari hal itu, Jasmine pun bangun dari duduknya dan ia meminta Firman untuk pergi dari rumah nya.
Menyadari kalau Firman mengusir dirinya, tanpa perlawanan ia pun menuruti apa yang di inginkan oleh Jasmine. Namun, saat ia berdiri di hadapan Jasmine dengan mata yang sedih dan terus melihat ke arah Jasmine. Ia berkata dengan nada lirih dan seolah memohon kepada Jasmine.
"Apakah kamu tidak bisa memaafkan aku? Apa kamu tidak memberi aku kesempatan kedua?" tanya Firman.
Mendengar pertanyaan itu, tanpa mengatakan sepatah katapun Jasmine langsung masuk ke dalam rumahnya dan meninggalkan Firman. Firman yang menyadari hal itu, ia hanya diam, ia menyadari kalau apa yang dia lakukan tidak akan mungkin bisa di maafkan oleh Jasmine.
__ADS_1