Sebarkas Harapan Diatas Penantian

Sebarkas Harapan Diatas Penantian
37. Kebencian


__ADS_3

Setibanya aku di rumah sakit, aku merasa ada sesuatu yang aneh. Kemarahan yang saat itu membakar hati tiba tiba tergambar sebuah kesedihan yang sangat dalam.


Di saat itu, langkahkan kaki ku dengan perlahan mendekati kamar yang di tempati oleh Samira. Dengan ku lihat ke samping kiri dan kanan, melihat Ayan dan keluarganya sedih. Aku merasa heran dan bingung.


Sesaat sebelum aku pergi mencari tahu atas apa yang sebenarnya sudah terjadi. Ku coba untuk mendekati Ayan yang saat itu hanya menundukkan kepalanya.


Ku gerakkan tangan ku mendekati salah satu bahu Ayan. Aku sangat terkejut ketika aku sudah memegang bahu Ayan, ia melihat ke arah ku dengan tajam dan mata yang di penuhi oleh air mata.


Saat itu ku kira ia akan menyakiti aku, namun apa yang ku pikirkan ternyata tidak benar. Tiba tiba ia memeluk diri ku dengan erat dengan air mata yang tidak bisa di bendung lagi.


"Syakira ... Samira, meninggal!." Ucapan itu langsung membuat aku tercengang dan tidak bisa berkata kata atas apa yang terjadi. Aku benar benar tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Ayan. Ku dorong Ayan menjauhi ku, dan ku berlari menuju ke dalam kamar yang di tempati oleh Samira.


Ketika sudah berada di depan mintu dan ku melihat Samira sudah di tutup oleh kain putih.


"Samira!!! " Teriak ku dengan air mata yang sudah tidak bisa ku bendung lagi. Ku buka kain putih itu dan ku lihat wajah dari gadis cantik itu. Ku berniat untuk memastikan kebenaran tentang seseorang yang di tutup oleh kain itu. Di saat itu, aku benar benar tidak percaya bahwa gadis cantik yang selalu mengganggap nya ibu, kini sudah tidak bernafas.


Ku langkahkan kaki menjauhi anak itu. Aku tak percaya atas apa yang sudah ku lihat. Namun ku coba menegarkan diri ku, tanpa berputus harapan ku mencoba membangunkan  Samira dengan menggoyang goyangkan tubuhnya. Namun sayang, semua itu tidak ada guna. Melihat Samira tidak kunjung bangun, Syakira pun putus harapan dan ia hanya jatuh terduduk di samping tempat tidur Samira dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipiku.


"Maafkan Tante, Samira. Maafkan atas segala sesuatu yang sudah tante lakukan hingga membuat kamu menjadi seperti ini!" ucap Syakira dengan berurai air mata.

__ADS_1


Di saat itu, semua orang benar benar kehilangan harapan hidupnya. Aku merasa, aku sudah merenggut semua  harapan di dalam hidup Ayan dan keluarganya.


Tiba tiba ketika dokter dan suster tengah lengah, Samira mengerakkan jarinya. Di saat itu, tidak ada satu orang pun yang menyadari hal itu. Namun, saat Samira akan di bawa keluar dari ruang itu salah satu suster menyadari bahwa Samira bernafas.


"Tunggu Dok," ucap salah satu Suter yang mendorong Samira. Ia kemudian memeriksa keadaan Samira. Di saat itu suster itu sangat terkejut, karena ia melihat bahwa Samira kembali hidup.


Mendengar ucapan itu, semua orang sangat terkejut. Mereka langsung melihat ke arah Samira yang saat itu terbaring di rumah sakit. Di saat itu, harapan pun kembali ke keluarga Ayan dan Firman. Mereka langsung mendekat ke arah Samira.


Menyadari hal itu, dokter dan suster pun kembali memasangkan alat alat rumah sakit, agar Samira kembali hidup.


Ketika Samira sudah di tempat di awal, Syakira bangun dari duduknya dan menghentikan tangisannya. Saat itu ia melihat ke arah Samira dengan sedikit bahagia. Menyadari Samira sudah kembali hidup, ia ingin berdoa kepada Tuhan, namun saat ia ingin pergi. Samira memegangi salah satu tangan Syakira. Ia seperti tidak ingin Syakira meninggalkan dirinya lagi.


Melihat hal itu, Ayan memberi senyuman kepada Syakira sebagai tanda bahwa dirinya mengizinkan Syakira untuk menemani Samira.


Menyadari kalau Ayan mengizinkan diri ku untuk menemani Samira. Aku sangat bahagia dan sangat bersyukur karena Ayan masih memberi kesempatan dirinya untuk memperbaiki semua kesalahan yang ia perbuat.


Waktu berlalu begitu cepat, saat itu Samira sudah melewati masa komanya. Raut muka bahagia sudah mulai terpancar dari raut muka keluarga Ayan dan Firman. Namun, saat itu Firman masih saja menyalahkan Syakira yang menyebabkan Samira hampir mati. Ia yang sudah emosi dan tidak bisa mengontrol emosinya, berusaha menarik Syakira dengan sangat paksa untuk menjauhi Samira.


"Saya mohon, tolong maafkan saya Mas Firman." Ucap ku dengan berusaha melepaskan tanganku yang saat itu di pegang erat oleh Firman.

__ADS_1


Menyadari kalau Syakira yang menyelamatkan nyawa Samira, tanpa ragu Ayan pun pasang badan untuk Syakira. Ia mendorong Firman hingga ia terjatuh ke lantai. Melihat bahwa dirinya masih berada di rumah sakit, Ayan pun menarik Firman keluar dari kamar Samira dengan kasar.


"Pergi kamu!!!" perintah Ayan kepada Firman dengan penuh emosi.


"Ayan, Syakira itu adalah orang yang Ingin membunuh anak ku, kamu tahu itu. Tapi kenapa? Kenapa kamu justru membiarkan dia dekat dengan anak ku?" ucap Firman dengan penuh kemarahan dan bernada lantang.


"Sejak kapan, hah? Sejak kapan kamu menganggap dia anak kamu? Bukannya dari dulu kamu sudah membuang dia, kamu ingat itu?" Bentak Ayan kepada Firman dengan melotot dan penuh emosi.


Mendengar hal itu, Firman pun hanya diam seribu bahasa. Ia terlihat menundukkan kepalanya, seperti seseorang yang malu atas apa yang sudah di katakan oleh Ayan..


"Apa kamu ingat sekarang? Sebelum kamu mendekati Samira dan Syakira, lebih baik kamu perbaiki dulu sikap kamu. Kamu mengerti!" ucap Ayan dengan tegas, lalu ia mendorong Firman hingga membuat Firman terdorong beberapa langkah dari hadapannya.


Setelah itu Ayan pergi meninggalkan Firman, Firman yang melihat hal itu ia hanya diam dengan kepala yang terus tertunduk. Ia terlihat sangat marah atas apa yang sudah di ucapkan oleh Ayan. Ia pergi dengan raut muka yang tidak terkontrol, bahkan ia sampai meninggal Nova yang saat itu bersama dengan dirinya.


Ia pergi dengan mengendarai mobilnya yang saat itu terparkir di parkiran rumah sakit.


"Gimana sih Mas Firman? Kenapa dia bisa meninggalkan ku seperti?" Ucap Nova dengan kesal lalu ia menghubungi Firman, namun karena di waktu itu Firman sangat emosi. Ia terlihat tidak peduli dengan orang yang menghubungi dirinya.


Di saat itu, ia terlihat terus menerus menghubungi Firman namun Firman masih tidak mempedulikan panggilan Nova. Ia tetap fokus untuk mengemudi.

__ADS_1


"Kenapa sih kamu Mas? Kenapa kamu tidak mengangkat panggilan ku?" Ucap Nova dengan terlihat sangat khawatir dengan Firman. Akhirnya, ia pun memilih untuk memesan taksi online dari pada menunggu Firman di rumah sakit terus menerus.


__ADS_2