
Memulai ulang
10 tahun kemudian....
Masa lalu ada sebuah masa kepahitan ku, penantian ku adalah kenyataan hidup yang harus berakhir dengan sebuah kesedihan yang tidak akan terulang kembali. Kini saat nya ku hapus semua kesedihan itu, dan mencari kebahagiaan ku sendiri di dalam hati.
Tulis sebuah tangan seorang wanita di atas sebuah buku berwarna coklat muda dan pena yang sama seperti yang di miliki oleh Jasmine 10 tahun lalu. Saat itu, wanita yang menulis tersebut tengah duduk di depan meja rias yang di hadapannya terdapat sebuah cermin yang berdiri kokoh. Dia adalah Jasmine, ia terlihat lebih anggun dan lebih cantik dengan rambut hitam dan tergerai panjang, mata yang bulat dan indah dengan alis bergerigi dan kulit putih bersih berseri.
"Mama..." panggil seorang gadis kecil, kepada wanita yang saat itu tengah menulis di buku tersebut. Mendengar suara anak kecil itu, wanita yang saat itu tengah menulis di buku coklat itu langsung menutup buku nya.
Ketika anak kecil itu sudah datang ke kamar, anak kecil itu memegangi tangan si wanita itu dan menarik tangan wanita itu untuk mengajak wanita itu keluar dari kamar dan keluar dari rumah.
Saat wanita itu sudah berada di luar rumah, terlihat mobil hitam dengan seorang laki laki tampan, gagah dengan wajah yang sudah cukup dewasa berdiri di dekat pintu mobil menunggu kedatangan wanita itu. Laki laki itu adalah Firman, orang yang menikah dengan Jasmine dan wanita yang menulis di buku tersebut adalah Jasmine.
Ketika Jasmine sudah berada di luar rumah dan melihat kalau Firman ada di depan rumahnya, senyum kecil langsung terlihat di bibir Jasmine.
"Ma, aku mau ikut Papa ya, aku mau weekend di rumah Papa," ucap gadis kecil itu dengan mata berkaca kaca memohon kepada ibunya yang berdiri di sampingnya.
Mendengar ucapan itu, Jasmine sedikit menunduk kan tubuhnya dan ia kemudian memegangi pipi dari gadis kecil itu dan memberi usap halus di pipi si gadis kecil itu.
"Tidak perlu meneteskan air mata untuk hal ini, Mama akan selalu mengizinkan kamu untuk melakukan apapun yang ingin kamu lakukan!" jawab Jasmine dengan baik kepada gadis kecil itu.
"Yeee, makasih ya Ma," sorak gadis kecil itu dengan sangat bahagia dan terlihat sangat antusias dengan yang ingin ia lakukan. Ia kemudian menuju ke arah ayahnya dengan sangat bahagia, setalah itu ia masuk ke dalam mobil.
Ketika gadis kecil itu sudah berada di dalam mobil, dengan perlahan Jasmine menghampiri Firman yang berdiri di dekat pintu dengan raut muka yang terlihat sangat bahagia.
Saat ia sudah berada di dekat Firman, Jasmine tersenyum kecil di bibirnya begitupula Firman, ia membalas senyuman kecil di bibirnya.
"Makasih ya, karena kamu sudah mengizinkan aku untuk mengajak dia bersama aku," ucap Firman dengan baik.
"Untuk apa kamu berterima kasih, kamu membutuhkan dia dan aku juga membutuhkan dia. Walaupun.... Ada perpisahan antara kamu dan aku, itu tidak akan memisahkan kamu dengan dia," jawab Jasmine dengan baik lalu ia tersenyum kecil di bibirnya.
Melihat hal itu, mata Firman berkaca kaca dan sedikit mulai sedih. Saat itu ia diam selama beberapa saat, dengan melihat ke arah Jasmine.
"Makasih, " ucap Firman lalu ia tersenyum kepada Jasmine, setelah itu ia pergi menuju ke dalam mobilnya dan meninggalkan Jasmine di luar mobil.
__ADS_1
Lambaian tangan pun dilakukan oleh Jasmine ketika mobil yang di tumpangi oleh gadis kecil itu dan Firman sudah melaju, berjalan meninggalkan dirinya.
****
Di dalam rumah, terlihat sebuah foto ayah dan ibu Jasmine terpampang besar di salah satu sisi dinding rumah. Beberapa saat kemudian, Jasmine menghampiri foto itu dengan mata yang berkaca kaca.
"Lihat Ayah, anak mu ini mengalami kesedihan lagi. Ada perpisahan lagi di sini, apakah aku bisa menjalani hal ini tanpa hadirmu ayah?" ucap Jasmine dengan derai air mata terus mengalir membasahi pipinya. Saat itu, ia memandangi foto itu dengan mata di penuhi. Ia kemudian memalingkan wajahnya dari foto itu dan kemudian menghapus air mata nya dan berusaha untuk menegarkan dirinya sendiri.
"Jasmine!" panggil sebuah suara seorang laki laki dari belakang tubuhnya, Jasmine yang melihat hal itu langsung berbalik dan melihat ke arah laki laki itu dengan raut muka yang masih terlihat sedih.
Saat ia sudah berbalik dan melihat orang yang berada di belakangnya. Melihat laki laki yang berdiri di hadapannya, Jasmine terlihat sangat terkejut, ia terlihat tidak dapat berkata sepatah katapun kepada laki laki itu.
"Ayan," panggilan Jasmine kepada laki laki yang berdiri di belakang tubuhnya dengan membawa sebuket bunga di tangannya.
Ayan adalah anak dari seorang saudagar kaya, tapi, hal itu masih menjadi pro dan kontra di lingkungan tempat tinggal Ayan. Hal itu terjadi karena, banyak warga yang mengatakan kalau Ayan adalah anak angkat dari saudagar kaya itu. Banyak pula yang bersikukuh kalau Ayan adalah anak dari saudagar itu. Wajah Ayan sangat lah mirip dengan wajah Ijaz hanya saja jenggot Ayan lebih panjang sedangkan Ijaz tidak memiliki jenggot.
"Ada apa kamu kemari Ayan?" tanya Jasmine kepada Ayan, laki laki yang sangat mirip dengan Ijaz.
"Aku ingin bertemu dengan Samira, di mana dia?" jawab Ayan dengan terlihat celingukan ke sana kemari seperti tengah mencari seseorang di dalam rumah sambil memanggil manggil nama Samira, namun saat itu Samira tidak terlihat keluar dari dalam kamar.
Samira adalah gadis kecil yang pergi bersama Firman tadi, dia adalah hasil dari pernikahan ku dengan Firman, namun karena sebuah alasan yang tidak bisa di jelaskan Jasmine dan Firman harus berpisah, walaupun mereka sebenarnya masih saling jatuh cinta antara satu dengan yang lainnya.
"Kenapa aku merasa dia hadir kembali? Kenapa wajah itu ingin ku balai lagi? Kenapa dengan aku? Apa yang terjadi kepada ku?" ucap Jasmine dengan mata yang terlihat terus memandangi wajah dari Ayan, Ayan yang melihat hal itu ia hanya diam dengan membalas tatapan mata Jasmine.
"Kamu adalah orang yang sangat penting di hidup ku," ucap Ayan di dalam hatinya, ketika ia membalas tatapan mata Jasmine.
Mereka berdua pun saling bertatapan mata selama beberapa saat, namun tiba tiba wajah Jasmine terlihat marah kepada Ayan dan meminta Ayan untuk pergi dari hadapannya dengan mendorong dorong Ayan.
"Pergi!" usir Jasmine kepada Ayan, laki laki yang berdiri di hadapan nya. "Jangan ganggu aku lagi, kamu pergi!."
Jasmine pun langsung histeris dan matanya di penuhi air mata. Ayan yang menerima dorongan dari Jasmine ia pun terdorong beberapa langkah hingga membuat bunga yang di bawa oleh Ayan terjatuh ke lantai.
Saat Ayan sudah berada di luar rumah, Jasmani langsung menutup pintu rapat rapat dan dirinya menyandarkan tubuhnya di balik pintu dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.
"Tidak mungkin, ini tidak mungkin. Dia tidak mungkin kembali," ucap Jasmine dengan merasa kalau Ayan adalah Ijaz orang yang sudah pergi.
Melihat sikap Jasmine, Ayan terlihat sedih dan ia tidak percaya kalau Jasmine masih belum bisa menerima kedatangan nya dan masih membenci kehadirannya.
Saat itu ia hanya memandangi pintu yang sudah tertutup rapat rapat di hadapannya. Ia kemudian pergi dari hadapan pintu dan meninggalkan Jasmine yang masih bersedih di balik pintu.
__ADS_1
**
Di tempat lain, Ayan tengah berjalan kaki dengan mata yang terlihat sedih dengan sikap Jasmine. Tiba tiba ketika ia berjalan di jalan, hujan turun dengan sangat deras dan membasahi sekujur tubuh Ayan. Ayan yang merasakan kalau hujan turun membasahi tubuhnya, kesedihan hatinya pun langsung ia luapkan.
Tiba tiba, ketika hujan sudah turun ia menghentikan langkahnya dan dengan lemas tubuhnya terjatuh ke tanah dengan kedua kaki bertekuk lutut.
"Aaaaaa" teriak Ayan di bawah derasnya air hujan yang turun dengan pandangan mata melihat ke arah langit. Saat itu matanya terus mengalir air mata, namun karena bersamaan dengan hujan akhirnya air matanya tidak terlihat menetes.
"Aku cinta sama kamu, aku sayang sama kamu, tapi kenapa? Kenapa kamu tidak mengerti apa yang aku rasakan? Kenapa?" ucap Ayan dengan nada tinggi di bawah derasnya air hujan yang membasahi tubuhnya.
"Aku cinta sama kamu... Kenapa kamu melakukan ini?" ucap Ayan dengan berbicara sendiri di bawah air hujan. Ia kemudian menundukkan kepalnya dengan sedih.
Beberapa saat kemudian, dengan membawa payung Jasmine berdiri di jalan yang sama dengan memandang ke arah Ayan yang terduduk di jalan dengan sedih dan hujan hujan.
Melihat hal itu, mata yang saat itu tidak tampak sedih kini kembali sedih. Setelah itu, dengan langkah perlahan Jasmine menghampiri Ayan yang hujan hujan, ia kemudian menghentikan langkahnya di dekat Ayan dan Jasmine memayungi Ayan.
Menyadari hal itu, Ayan melihat ke arah Jasmine dengan mata yang terlihat sangat sedih. Ia menetap Jasmine dengan penuh perasaan. Melihat hal itu, Jasmine pun membalas tatapan itu dengan sayup. Ia kemudian mengulurkan tangannya yang untuk membantu Ayan bangun dari duduknya.
Melihat hal itu, Ayan pun hanya diam saja selama beberapa saat namun tiba tiba ia menyahut uluran tangan Jasmine dengan baik dan lembut. Dan dengan mata yang terus melihat ke arah wajah Jasmine, Ayan bangun dari duduknya hingga membuat dirinya berdiri dan saling bertatap tatapan bersama Jasmine.
Saat mereka berdua sudah saling bertatap tatapan, Jasmine melepaskan tangannya yang di pegang oleh Ayan. Ia kemudian mengerakkan tangannya ke arah pipi Ayan yang memiliki wajah yang sangat mirip dengan Ijaz.
Ayan yang melihat hal itu masih saja diam dan tidak mengatakan sepatah kata pun.
Saat itu ia masih terlihat sangat ragu untuk menyentuh pipi dari Ayan, namun, rasa ingin membelai wajah Ayan selalu ia rasakan. Ia selalu rindu dengan wajah Ayan, saat itu ia terlihat bingung. Sesungguhnya ia rindu dengan Ayan atau justru rindu dengan Ridwan
Setalah ia ragu dengan apa yang ia lakukan, Jasmine pun benar benar menyentuh pipi Ayan yang memiliki wajah yang mirip dengan wajah Ijaz.
Hujan semakin deras, setalah ia menyentuh pipi Ayan. Kedamaian di rasakan oleh dirinya, matanya tiba tiba terpejam, Ayan yang melihat hal itu ia hanya diam dan melihat apa yang di lakukan oleh Jasmine.
Tangan yang saat itu erat memegangi payung, tiba tiba lemas tak berdaya hingga membuat dirinya menjatuhkan payung itu dan membuat mereka berdua kembali kehujanan di jalan.
Menyadari kalau payung nya terlepas, Jasmine kembali membuka matanya dan ia melihat ke arah Ayan.
"Siapa kamu sebenarnya? Kenapa kamu hadir untuk yang kedua kalinya? Apa yang kamu inginkan sebenarnya?" tanya Jasmine kepada Ayan dengan sedih dan bernada rendah. Setalah itu ia melepaskan tangannya yang memegang pipi Ayan.
"Aku bukan siapa siapa, aku hanya seseorang yang berharap bisa memperbaiki semuanya. Aku tahu, aku bukan nya obat tapi aku akan berusaha memulihkan semua nya yang sudah terjadi, aku akan memperbaikinya!."
Mendengar jawaban itu dari Ayan, Jasmine hanya diam saja dan ia tidak mengatakan sepatah katapun kepada Ayan. Ia hanya menatap Ayan dengan tajam begitupun Ayan, yang membalas tatapan mata Jasmani dengan sedih.
__ADS_1