Sebarkas Harapan Diatas Penantian

Sebarkas Harapan Diatas Penantian
13. Akibat tidak ingin bertemu


__ADS_3

Ketika Ayan sudah keluar dari rumah Jasmin, Jasmin masuk ke dalam rumah dan ia menghampiri Samira yang saat itu menangis setelah di tinggal lelah Ayan. Melihat hal itu, Jasmin benar benar bingung dengan apa yang terjadi, karena tiba tiba Samira menangis tersedu sedu.


Menyadari hal itu, Jasmin pun memeluk Samira dengan sangat erat, sambil menenangkan Samira yang terus menangis.


"Ada apa? Kenapa kamu menangis?" tanya Jasmin kepada Samira dengan memeluk Samira dan ia terlihat berderai air mata ketika bertanya kepada Samira.


"Ibu... " jawab Samira dengan air mata yang mengalir deras membasahi pipi nya. Melihat hal itu Jasmin pun berusaha untuk menenangkan Samira dengan memeluk dirinya dan sesekali ia mencium kening Samira.


"Tidak papa, mungkin Ayah Firman hanya ada masalah di kantornya, makanya ia bertindak seperti itu!" ucap Jasmin untuk menangkan Samira yang saat itu terus menangis.


***


Bukan sebuah cermin jika jatuh akan hancur berkeping keping, bukan sebuah debu yang terhembus angin dan tidak kan kembali ke tempat awal, namun ini adalah sebuah duri dalam hati yang tidak akan mungkin bisa di obati, walaupun duri itu sudah tercabut.


Di sini ada sebuah goresan luka yang tidak akan bisa di obati dengan mudah. Ada secercah noda hitam di hatinya yang tidak akan mungkin ia lupakan. Ada air mata untuk Firman dari Samira.


Tulisan Jasmin di atas selembar halaman  di dalam sebuah buku yang saat itu berada di atas meja riasnya.


****


Hari pun sudah pagi, cahaya matahari menyinari kamar Samira melalui gorden putih yang samar samar di masuki oleh cahaya itu. Menyadari hal itu, Samira pun bangun dari tidurnya dan melihat ke arah jendela yang saat itu masih tertutup oleh gorden putih itu.


Beberapa saat kemudian, terlihat dengan perlahan Samira membuka gorden putih itu untuk merasakan hangatnya cahaya matahari yang menyinari tubuhnya. Namun, apa yang ia inginkan tidak sesuai dengan apa yang sebenernya terjadi. Ia melihat laki laki kasar yang kemari menyakiti dirinya berdiri di depan rumah dengan mata yang melihat ke arah kamarnya. Melihat hal itu, sontak Samira berteriak dan langsung menutup gorden rumah itu dengan ketakutan.


Mendengar teriakan dari Samira, Jasmin yang saat itu tengah berada di dapur langsung menghampiri dirinya dan bertanya kepada Samira apa yang sebenarnya terjadi dengan dirinya. Mengapa ia teriak teriak di dalam kamarnya, namun saat itu Samira tidak mengatakan sepatah kata pun. Ia hanya diam dengan menunjukkan ke arah luar jendela.


Melihat hal itu, tanpa banyak berbicara, Jasmin pun melihat ke arah jendela. Ketika gorden sudah terbuka betapa terkejutnya ia kerena ia melihat Firman berada di luar rumah dengan melihat ke arah kamar Samira.


Menyadari hal itu, Jasmin pun kembali menghampiri Samira dan ia meminta kepada Samira untuk menutup pintu dan tidak membuka nya.


Setalah memberi tahu Samira hal itu, Jasmin pun keluar dari kamar Samira dan menghampiri Firman yang berada di luar rumah. Di saat bersamaan dengan Jasmin yang keluar dari rumah, Samira bangun dari duduk takut nya. Ia menghampiri jendela kamarnya dan melihat Firman dengan ibunya.


Di luar rumah, terlihat Firman berdiri di halaman rumah dengan raut muka sedih dan menyesal atas apa yang sudah ia lakukan dengan Samira.


Beberapa saat kemudian, terlihat Jasmin keluar dari rumah dan menghampiri Firman yang berdiri di luar rumah.

__ADS_1


"Ada apa Mas kemari? Bukannya kemari aku sudah melarang Mas untuk tidak datang kemari lagi," ucap Jasmin dengan nada tegas dan emosi, setalah ia berdiri di hadapan Firman.


Firman yang melihat kedatangan Jasmin keluar dari rumah, ia benar benar tidak bisa berkata kata. Ia hanya sedih, lalu dengan perlahan ia bertekuk lutut di hadapan Jasmin dengan kedua tangan nya berada di depan dada Firman. Samira yang melihat hal itu, ia terlihat sedih dengan apa yang di lakukan oleh Ayahnya. Tidak hanya Samira, Jasmin yang melihat hal itu pun juga terlihat ikut bersedih dengan apa yang di lihat nya.


"Aku mohon, tolong. Tolong izinkan aku untuk bertemu dengan Samira, aku ingin meminta maaf kepada dirinya!" pinta Firman kepada Jasmin yang berdiri di hadapan nya dengan raut muka sedih. Melihat hal itu, Jasmin terlihat tidak bisa berkata kata ia hanya diam membisu dengan pandangan mata yang terlihat sedih.


Tak berselang lama, Jasmin membantu Firman bangun dari duduknya dan ia memegangi kedua lengan Firman dengan lembut.


"Dengarkan pertanyaan ku kali ini! Jawab aku yang sejujurnya, apa yang harus aku lakukan?" ucap Jasmin lalu ia menghapus air matanya yang membasahi pipinya, setelah itu ia melanjutkan berkata "anggap saja kalau aku adalah Samira, apa yang harus aku lakukan ketika orang yang aku anggap menyayangi aku tulus sepenuh hati, ternyata kenyataan dia bersikap kasar? Jawab aku. Apa yang harus Samira lakukan? Memaafkan? Itu pasti!. Tapi kamu harus tahu, kalau pun dia memaafkan kamu, dia tidak akan mudah melupakan noda yang sudah kamu buat. Dia menyayangi kamu, karena kamu adalah Ayah nya yang ia anggap baik oleh dirinya. Tapi kini... Maafkan aku, aku tidak bisa membantu kamu untuk bertemu dengan Samira!."


Mendengar ucapan itu, Firman hanya terlihat sedih dengan derai air mata yang terus mengalir membasahi pipi nya. Lalu, dengan air mata yang juga mengalir, Jasmin meminta Firman untuk pergi dari rumahnya. Menyadari kalau dirinya salah, akhirnya Firman pun pergi dari rumah Jasmin dengan sedih. Namun, saat sebelum ia pergi dari rumah Jasmin. Ia melihat ke arah Samira dengan mata yang di penuhi oleh air mata, ia melihat Samira seperti memohon kepada Samira untuk memaafkan dirinya, namun saat itu Samira terlihat hanya diam dan bersikap tidak peduli dengan apa yang lakukan oleh ayahnya.


Menyadari hal itu, Firman pun akhirnya pergi dari rumah Jasmin dengan sedih dan pikiran yang campur aduk. Ia tidak fokus untuk mengemudi di jalan.


Di sisi lain, melihat ada jarak di antara Samira dengan Firman. Jasmin terlihat sangat sedih, namun ia merasa apa yang di lakukan oleh Samira salah, tapi di sisi lain ia berpikir sikap kasar yang di lakukan oleh Firman kepada Samira sangat salah.


****


Di jalan menuju ke rumahnya, terlihat Firman mengemudi dengan sedih, kecewa dan menyesal menjadi satu. Ia terlihat tidak fokus mengemudikan mobilnya hingga ia tidak menyadari kalau di seberang jalan terdapat sebuah truk yang melaju dengan perlahan.


Bruaaaggkk...


Suara tabrakan pun terdengar, terlihat saat itu mobil Firman menabrak truk yang berada di hadapan nya, hingga membuat kepala Firman membentur alat kemudi dan langsung tidak sadarkan diri. Melihat hal itu, supir truk itu pun turun dan membantu Firman untuk keluar dari mobilnya. Setelah itu ia mencoba meminta bantuan kepada orang yang berada di dekat tempat itu.


Beberapa saat kemudian, Firman pun di bawa oleh si supir truk itu ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Firman terlihat berbaring di ruang operasi karena kecelakaan itu membuat kepala nya pendarahan hebat.


Di tempat resepsionis, salah satu suster yang berada di rumah sakit itu mencoba mencari data diri dari Firman, saat itu ia hanya menemuka ponsel milik Firman yang di dapat dari suster lain setelah mengganti pakaian dari Firman.


Setalah mencari informasi tentang pasien yang mengalami kecelakaan itu, akhirnya suster itu menghubungi Jasmin karena panggilan terakhir  yang di lakukan oleh Firman hanya kepada Jasmin.


Di rumah Jasmin, Jasmin dan Samira tengah melakukan sarapan pagi. Saat itu Samira terlihat sedih dan hanya melamun, melihat hal itu ia pun mengambilkan makanan untuk Samira beberapa saat kemudian ponsel Jasmin yang berada di atas meja berbunyi. Mendengar hal itu, Jasmin pun tanpa bertele-tele  langsung mengangkat panggilan itu. Ketika ia sudah menerima panggilan itu, ia terlihat langsung mematung dan tidak bisa berkata kata, ia hanya diam seribu bahasa dengan mata yang tiba tiba berkaca kaca.


"Mama, ada apa?" tanya Samira setalah melihat sikap Jasmin yang terlihat aneh setelah menerima telepon dari seseorang.


Saat itu Jasmin terlihat tidak percaya dengan apa yang terjadi, air matanya terus mengalir membasahi pipinya setelah mendapat kan kabar dari rumah sakit mengenai kecelakaan yang di alami oleh Firman.

__ADS_1


Menyadari sikap ibunya semakin aneh, Samira menghentikan makannya dan ia mendekati ibunya yang berdiri dalam keadaan masih mematung.


Setalah Samira berada di dekat Jasmin, Jasmin langsung memeluk erat Samira dan ia pun akhirnya tidak bisa membendung air mata nya. Melihat ibunya tiba tiba menangis, Samira pun juga ikut menangis.


"Kita harus pergi ke rumah sakit!" ucap Jasmin dengan sedih. Mendengar ucapan Jasmin yang menyebut rumah sakit, Samira terlihat kebingungan, namun ia tidak terlihat tidak banyak tanya dan ia menuruti apa yang di maksud oleh Jasmin.


Tak berselang lama, Samira dan Jasmin berada di rumah sakit yang jadi tempat rawat Firman. Saat itu, Jasmin mengajak Samira menuju ke tempat resepsionis yang tidak jauh dari dirinya untuk bertanya tentang kamar Firman.


"Suster di mana kamar Mas Firman?" tanya Jasmin kepada suster yang berada di tempat resepsionis.


Mendengar ucapan ibunya yang menyebutkan tangan nama Firman, Samira pun langsung terdiam dan ia hanya bisa menangis. Tangisannya semakin pecah ketika suster itu mengatakan kalau Firman berada di ruang operasi.


Ketika Jasmin tengah sibuk mencari informasi tentang Firman kepada resepsionis itu. .


Penyesalan pun di rasakan oleh Samira, gadis cantik itu seperti tidak bisa berkata kata dengan apa yang ia dengar dan di lihatnya. Tubuhnya seolah mati rasa mendengar kabar kalau ayahnya mengalami kecelakaan. Samira justru pergi ke rumah operasi untuk memastikan kalau orang yang di maksud oleh suster itu bukan lah ayahnya. Dengan langkah, yang tidak percaya dan menyesal. Samira pergi ke ruang operasi untuk melihat ayahnya


Ketika berada di depan pintu ruang operasi, melalui kaca yang ada di pintu, Samira melihat laki laki yang ia sayangi terbaring di dalam kamar itu dengan alat bantu pernafasan dan yang lain lainnya. Melihat hal itu, Samira benar benar tidak bisa berkata kata ia hanya diam dengan air mata yang terus berderai.


Dengan tidak percaya ia berjalan mundur menjauhi pintu dan air mata yang terus mengalir membasahi pipi.


"Maaf kan Samira Ayah, maafkan Samira melakukan ini. Seharunya Samira tidak melakukan ini," ucap Samira di dalam hatinya derai air mata terus mengalir.


Beberapa saat kemudian, Jasmin yang saat itu baru datang ia duduk di depan Samira dengan air mata yang terus berderai ia memegangi tangan Samira yang saat itu lemas setelah melihat keadaan ayahnya.


"Papa Firman akan baik baik saja, kamu jangan sedih. Dia pasti baik baik saja, karena kamu ingin bertemu dengan dirinya," ucap Jasmin dengan sedih dan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.


"Ini salah ku ibu, ini salah ku," jawab Samira dengan air mata yang sudah tidak bisa di bendung lagi oleh Samira. Saat itu Samira menangis di pelukan ibunya, Jasmin yang melihat hal itu ia hanya berusaha menangkan Samira, walaupun ia tidak bisa mengendalikan air matanya.


"Mas, kamu harus sembuh. Kasihan Samira," ucap Jasmin dalam hatinya dengan memeluk erat Samira.


Di dalam ruangan operasi terlihat, Firman terbaring di atas tempat tidur dengan menggunakan pakaian operasi berwarna hijau tua. Saat itu darah terlihat dimana mana, keringat bercucuran dari tubuh para dokter yang mengoperasi Firman. Selain itu, Firman terlihat menggunakan alat bantu pernafasan dan yang lain lainnya.


Di luar kamar, terlihat Samira masih sedih dengan tidur di kursi tunggu yang berad di luar kamar ruang operasi. Berbeda dengan Samira, Jasmin terlihat khawatir, ia berjalan ke sana kemari dengan raut muka khawatir dan gelisah. Karena operasi yang di lakukan untuk Firman masih saja belum selesai juga, walau pun sudah berjam jam.


Hari itu, tidak ada satu keluarga Firman yang datang, bukannya mereka tidak datang tapi keluarga Firman tidak ada. Ibunya meninggal ketika terjadi perceraian antara Jasmin dan Firman sedangkan Ayah Firman meninggal setalah 3 hari kematian istrinya karena ia tidak ingin makan dan terus mengurung diri di kamar nya. Keluarga Firman hanya lah Jasmin dan Samira seorang.

__ADS_1


 


__ADS_2