
Hari semakin malam, pesta semakin meriah dengan baluran nyanyian dan tarian tarian romantis dari setiap pasangan yang saat itu hadir di acara itu.
Ketika mereka sudah lelah menari, para tamu mulai duduk di kursi yang ada di acara itu dengan memegang segelas air di tangan mereka.
Lalu, terlihat Ayan memegangi sebuah gelas kosong dan sebuah sendok.
Ting! Ting! Ting!
Terdengar sebuah gelas di ketuk dengan sendok untuk menarik perhatian dari para tamu. Mendengar hal itu, para tamu pun langsung melihat ke arah Ayan dan memperhatikan Ayan.
"Dengar semuanya. Saya berterima kasih, karena kalian semua sudah hadir di acara kecil milik saya. Malam ini kita sudah melakukan banyak kegiatan, dari bernyanyi dan menari. Namun, kali ini kita sudah sampai di ujung acara. Dan, sebenarnya tujuan saya membuat acara ini bukan hanya untuk bersenang-senang saja. Namun ... " Ucap Ayan berhenti selama beberapa saat, lalu ia melihat ke arah Syakira.
"Namun, saya ingin memberi tahu seseorang tentang perasaan yang saya rasakan kepada dirinya selama ini."
Mendengar ucapan itu, Samira dan orang tua Ayan terlihat sengat bahagia menyadari bahwa Ayan akan melamar Syakira. Mereka tersenyum dengan melihat ke arah laki laki itu.
Berbeda dengan Samira dan keluarga yang lainnya. Syakira justru terlihat sedih, ia sedih kerana melihat kedekatan antara Firman dan Nova yang sangat erat.
Ia bahkan tidak mendengarkan apa yang di ucapkan oleh Ayan di waktu itu.
"Aku ingin melamar seseorang yang aku sangat cintai selama ini!." Ucap Ayan dengan pandangan mata yang masih melihat ke arah Syakira.
Namun, saat itu Syakira tidak menyadari kalau dirinya akan di lamar oleh Ayan.
__ADS_1
Tak menunggu lama, Ayan pun akhirnya memutuskan untuk bergegas menghampiri Syakira dan ia melamar Syakira dihadapan semua orang. Menyadari hal itu, Syakira yang saat itu sedih ia langsung terdiam dengan apa yang di lakukan oleh Ayan. Ia terlihat tercengang dengan mata yang terbuka lebar
"Syakira maukah kamu menikah dengan ku?" Tanya Ayan dengan duduk di hadapan Syakira dengan menunjukkan sebuah kotak cincin yang di pegangnya.
"Tuhan, ada apa ini? Mengapa bisa terjadi hal ini?" ucap ku, Syakira dengan raut muka terkejut.
Saat itu mata ku di penuhi oleh air mata, ada sebuah keharuan yang ku rasakan di dalam hati ku ketika melihat laki laki yang baru saja aku kenal itu melamar di ku. Namun, ada perasaan takut yang aku rasakan.
Di waktu itu, tangan ku yang di pegang oleh Ayan bergetar dengan sangat kencang. Ku lepas tangan ku dari tangan Ayan dangan perlahan. Aku mengira kalau lamar yang di lakukan oleh Ayan hanyalah sebuah lelucon yang ditujukan agar aku menjadi bahan lelucon belaka.
"Ada apa Syakira ?" Tanya Ayan .
"Mas Ayan, Syakira mohon hentikan lelucon ini. Syakira tidak mau terluka lagi karena cinta ini lagi, Syakira mohon hentikan."
Mendengar hal itu, aku menghela nafas dan ku menelan ludah ku sendiri. Air mata ku mengalir semakin deras, aku benar benar tidak bisa percaya dengan hal itu. Ku balikan tubuh ku dan ku angkat gaun ku setinggi lutut dan ku pergi dari acara itu dengan air mata yang berderai.
Melihat hal itu, semua orang terlihat terkejut. Di saat itu, Samira yang terlihat bahagia tiba tiba bersedih atas apa yang terjadi. Ia mengejar Syakira dan di susul oleh Ayan.
Saat itu, aku terus berlari menjauh dari mereka. Air mata ku terus membanjir di setiap langkah ku. Tiba tiba hujan turun, membuat kesedihan Syakira semakin terasa olehnya. Gaun yang saat itu hanya berbobot sekitar 5 kiloan saja, kini bertambah berat seolah menginginkan langkah ku untuk berhenti.
Ketika lelah sudah menguasai tubuh ku, ku terjatuh bertekuk lutut di bawah derasnya air hujan yang jatuh membasahi tubuhku. Ku lihat ke arah langit dengan bertanya di dalam hati ku kepada Tuhan tentang takdir yang di tulisannya di hidupku.
"Kenapa Tuhan? Kenapa ketika aku tidak percaya dengan cinta? Engkau memberikan orang yang benar benar tulus mencintai aku. Kenapa Tuhan? Kenapa?!!" teriakku kepada Sang Pencipta.
__ADS_1
"Tante Syakira." Panggil Samira kepada Syakira, lalu ia berlari menghampiri Syakira dan memeluk nya dari belakang.
"Tante kenapa pergi?"
"Maafkan Tante, Tante bukanlah seorang ibu yang baik dan tante juga tidak akan bisa menjadi pengganti ibu kamu." Setelah ku mengatakan hal itu, aku memberi dorongan kepada Samira hingga membuat Samira terdorong beberapa langkah dan ia tersenggol oleh sepeda motor yang saat itu lewat.
Semua orang yang melihat hal itu terlihat terkejut. Tidak terkecuali diri ku yang saat itu mendorong Samira. Melihat Samira jatuh ke tanah dan kepalanya membentur di aspal jalan, Ayan langsung bergegas berlari menolong Samira.
Di saat itu, ku berbalik melihat apa yang terjadi. Ketika ku sudah berbalik, aku melihat Ayan berusaha membangunkan Samira. Namun Samira tak kunjung bangun. Menyadari hal itu, tanpa ragu Ayan pun mengangkat tubuh Samira dan membawa Samira ke rumah sakit. Saat itu semua orang sangat khawatir atas apa yang terjadi dengan Samira.
Sesampainya di rumah sakit, dengan pakai yang basah kuyup. Ayan membawa ke rumah IGD. Melihat keadaan Samira yang kritis, Syakira terlihat sedih bercampur menyesal atas apa yang di lakukannya.
Ia berusaha meminta maaf atas apa yang sudah ia lakukan kepada Samira, namun saat itu Ayan tidak menggubris permintaan maaf dari Syakira. Begitu pula orang tua Ayan.
Melihat sikap Ayan dan orang tuanya berubah ketika Samira terluka akibat dirinya. Syakira pun tidak berdaya, ia menjauhi keluarga Ayan dengan derai air mata.
Di dalam kamar operasi, terlihat beberapa dokter tengah mengobati dan berusaha untuk menghentikan pendarahan yang terjadi di kepala Samira.
Saat itu keringat mengucur deras membasahi tubuhnya. Alat pendeteksi jantung terus berbunyi mengiringi setiap detik para dokter itu bertindak. Gelisah dan khawatir di rasakan oleh keluarga Samira, terlihat Ayan berjalan ke sana kemari dengan sesekali melihat ke arah ruang operasi.
Di sisi lain, Ibu Ayan terus menangis dengan melantunkan berdoa untuk kesembuhan Samira. Mendengar hal itu, Syakira yang merasa kalau menjadi penyebab utama Samira terluka, akhirnya ia meminta maaf kepada Ibu Ayan. Ia terlihat berharap agar Ibu Ayan memaafkan dirinya, namun hal itu sia sia, Ibu Ayan tidak mempedulikan dirinya dan bersikap tak peduli dengan Syakira yang menangis di hadapannya.
Syakira yang menyadari hal itu, hatinya seakan teriris dan terluka. Namun, apa boleh buat. Ini adalah kesalahannya yang ia perbuat, maka ia harus menanggung akibatnya.
__ADS_1