Sebarkas Harapan Diatas Penantian

Sebarkas Harapan Diatas Penantian
Hanya Rasa Sakit


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, terlihat Jasmine berada di rumahnya. Dengan langkah yang hampa ia masuk ke dalam rumah, bahkan saat itu ia tidak mengajak Ria masuk ke dalam rumah. Ia juga tidak menjawab ucapan dari Ibunya waktu itu.


Melihat Jasmine sangat berbeda, Ibu Jasmine menghampiri Ria dan bertanya kepada Ria apa yang sebenarnya terjadi. Ria pun akhirnya menceritakan semuanya kepada Ibu Jasmine kejadian beberapa saat yang lalu.


"Astaga, bagaimana bisa Ijaz melakukan hal itu? Apalagi sampai mengusir Jasmine," ujar Ibu Jasmine dengan terkejut setelah mendengar cerita dari Ria.


"Entahlah Tante, tapi... Hal ini juga bagus buat Jasmine, karena setidaknya setelah ada kejadian ini ia akan sedikit melupakan Ijaz dan membuka hatinya untuk Firman!" jawab Ria dengan baik dan sesekali ia melihat ke arah kamar Jasmine.


Beberapa saat kemudian, terlihat Jasmine sudah berada di dalam kamarnya. Ia terlihat duduk di depan cermin dengan membuka buku yang di dapat dari Ijaz. Saat itu, air matanya terus mengalir membasahi pipinya. Dengan tangan yang gemetar Jasmine memegangi pena yang ia dapatkan dari Ijaz. Ia kemudian mulai menulis di buku itu dengan sedih.


"Ini bukanlah sebuah harapan, ini bukanlah sebuah kebahagiaan. Seberkas harapan yang selama ini aku tulis untuk penantian, ternyata hanyalah sebuah kebohongan yang sangat menyakiti. Kini aku sadar, semua penantian tidak akan membuahkan hasil yang membahagiakan!. Semua penantian hanya akan memberi kamu rasa sakit yang paling paling dalam!" tulis Jasmine, setelah itu ia melepaskan pena itu dan meletakkan kepalanya di atas meja dengan air mata yang terus berderai membasahi pipinya hingga jatuh ke atas buku yang ia dapatkan dari Ijaz.


Beberapa saat kemudian, Ibu Jasmine datang ke kamar Jasmine. Ia kemudian memegangi kedua bahu Jasmine, merasa ada yang memegangi bahunya Jasmine langsung bangun dan melihat orang itu.


"Ibu!" panggil Jasmine dengan lirih setelah melihat kalau orang yang memegangi tangannya adalah Ibunya. Ia pun langsung memeluk Ibunya dengan erat lalu air matanya pun mengalir dengan sangat deras.


"Ibu, maafkan aku!. Maafkan aku, karena aku sudah tidak percaya dengan Ibu dan Ayah. Kini aku sadar, apa yang kalian lakukan selama ini memang benar benar untuk aku, untuk kebaikan ku!" ucap Jasmine dengan menangis hingga sesegukan. Ia kemudian menghentikan ucapannya selama beberapa saat setelah itu ia melanjutkan "kini hidup ku sudah hancur Bu, hancur karena penantian ini!."


Melihat anaknya merasa hidupnya sudah hancur Ibu Jasmine juga ikut menangis, ia kemudian membalas pelukan Jasmine dengan sangat erat.


"Tidak, hidup kamu tidak akan pernah hancur dengan semua ini. Ibu yakin, suatu hari nanti, penantian yang di balas penghianat seperti ini akan membuahkan hasil yang manis. Walaupun tidak dengan orang yang kamu cintai," jawab Ibu Jasmine dengan memeluk erat Jasmine.

__ADS_1


Mendengar ucapan dari Ibunya, Jasmine tiba tiba teringat dengan Firman selama beberapa saat.


"Sekarang kamu sudah sadar, apa yang kami lakukan bukan untuk kami tapi untuk kamu. Karena kami sudah tahu, seperti apa Ijaz yang sebenarnya. Tapi, Ibu tidak bisa memberi tahu kamu, karena Ibu ingin kamu mengetahui semuanya dengan sendirinya. Dan waktunya sudah tiba, kini pilihannya hanya ada dua. Kamu... Pergi dari dua atau kamu... Selalu merasakan sakit karena dia," ujar Ibu Jasmine.


Setelah itu, Ibu Jasmine melepaskan pelukan itu dan meninggalkan Jasmine yang tengah sedih untuk memikirkan tindakan apa yang akan ia lakukan selanjutnya.


Setelah Ibunya pergi, Jasmine menghapus air matanya dengan menggunakan Jari telunjuknya. Ia kemudian melihat ke arah buku yang ada di depannya.


Keesokkan harinya, Jasmine terlihat masih berada di dalam kamarnya dengan duduk di depan cermin dan memandangi buku yang di dapat dari Ijaz. Ia kemudian menutupi buku itu dan bangun dari duduknya, beberapa saat kemudian ia keluar dari kamarnya dengan keadaan masih terlihat sedih.


"Pagi Bibi, " sapa Jasmine dengan tersenyum kepada pembantunya yang saat itu tengah bekerja di depan kamarnya.


"Saya sangat kagum sama Non Jasmine, walaupun dia menerima rasa sakit dari hasil penantiannya selama ini. Dia tetap berusaha tegar dan tersenyum walaupun dia tahu, kalau hatinya tidak akan mungkin tersenyum seperti yang terpampang di wajahnya!" ujar si pembantu itu di dalam hatinya dengan raut muka sedih.


Beberapa saat kemudian, Jasmine terlihat meninggalkan pembantu itu dan pergi ke ruang makan untuk sarapan bersama. Sesampainya di ruang makan, Ibu Jasmine terlihat hanya menendangi Jasmine. Melihat hal itu, Jasmine terlihat masih biasa saja dengan tindakan Ibunya.


"Gimana, apa kamu sudah memutuskan untuk mengambil tindakan apa setelah mengetahui semuanya?" tanya Ibu Jasmine.


"Aku tidak tahu Ma, aku bingung!" jawab Jasmine lalu ia menghentikan sarapan paginya dan terlihat tengah memikirkan sesuatu.


"Ma, sudahlah. Jangan tanya sesuatu kepada Jasmine saat ini, karena Ayah tahu hatinya sedang bingung sekarang!" sahut Ayah Jasmine.

__ADS_1


Mendengar hal itu, Jasmine terlihat langsung memandang Ayahnya dengan pandangan yang sayup dan air mata yang mulai membasahi matanya.


"Maafkan Jasmine Pa, karena Jasmine sudah tidak percaya dengan Papa," ucap Jasmine dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.


Mendengar anaknya meminta maaf kepada dirinya dengan sangat tulus Ayah Jasmine terlihat sangat terharu. Ia kemudian memegangi salah satu tangan Jasmine dengan lembut dan melihat ke arah Jasmine dengan mata yang sayup.


"Tidak papa Jasmine, tidak papa. Ayah bahagia, karena melihat kamu sudah membuka mata kamu lebar lebar kalau Ijaz bukan laki laki yang baik buat kamu. Dan kini, setelah mengetahui semuanya, Ayah tidak akan menjodohkan kamu lagi. Kamu berhak memilih untuk pendamping kamu, tapi Ayah minta jangan Ijaz!" ucap Ayah Jasmine dengan lembut dan mata yang yang melihat ke arah Jasmine dengan sayup.


"Iya Pa, aku akan berusaha untuk memilih pilihan yang tepat di dalam hidup ku. Dan... Aku juga terimakasih ke Papa, karena Papa sudah menjaga aku dari luka ini. Walaupun, aku sudah terluka atas penantian ini!" jawab Jasmine lalu dengan perlahan Jasmine melepaskan tangan Ayahnya yang memegangi tangannya.


Melihat anaknya yang seakan sangat berubah, Ayah dan Ibu Jasmine tampak sangat bahagia. Walaupun mereka tahu kalau Jasmine tidak akan mungkin bisa begitu saja di lupakan oleh Jasmine.


Beberapa saat kemudian, sarapan pagi pun sudah selesai. Setelah sarapan, Jasmine terlihat kembali ke kamarnya untuk mempersiapkan diri untuk pergi ke sekolah. Saat itu ia terlihat sangat tidak bergairah untuk kuliah, ia kemudian meminta izin untuk tidak masuk ke kuliah selama beberapa hari.


Setelah mendapat izin dari tempat kuliah untuk tidak masuk satu hari atau beberapa hari Jasmine pun kembali melihat ke arah buku yang di dapat dari Ijaz. Ia kemudian duduk di kursi depan cermin dan memegangi buku itu dengan perlahan. Tiba tiba saat ia tengah memegang buku itu, matanya kembali berkaca kaca. Ia mengingat masa lalunya saat bersamaan Ijaz dan Ria di masa kecil. Ia mengenang kembali masa masa itu.


Beberapa saat kemudian, Ibu Jasmine kembali masuk ke dalam kamar Jasmine dan melihat kalau Jasmine kembali menangis di depan cermin. Menyadari hal itu, Ibu Jasmine yang awalnya ingin masuk akhirnya memilih untuk tetap berdiri di dekat pintu, setelah itu ia melihat ke arah Jasmine selama beberapa saat. Ia kemudian kembali menutup pintu setelah menyadari Jasmine masih sedih atas penghianatan yang di lakukan oleh Ijaz kepada dirinya.


Saat Ibu Jasmine sudah berada di luar kamar Jasmine. Ia tampak juga sedih melihat anaknya yang hanya menangis di depan cermin sambil memandangi buku yang ia dapat dari Ijaz.


"Rasa cinta mu memang besar buat Ijaz Jasmine, tapi kamu juga harus sadar kalau rasa cinta mu hanya membuahkan rasa sakit yang sangat dalam," ucap Ibu Jasmine dalam hatinya dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.

__ADS_1


__ADS_2