Sebarkas Harapan Diatas Penantian

Sebarkas Harapan Diatas Penantian
Pertemuan pertama Jasmine dan Ijaz


__ADS_3

Di tempat lain, terlihat Ijaz tengah mempersiapkan sebuah koper yang berisi pakaian yang akan ia gunakan. Saat itu ia juga tengah menelepon seseorang.


"Ma, sepertinya aku tidak bisa pulang Ma!" ucap Ijaz dengan sedih sambil memegangi telepon genggam di tangannya yang di tempelkan ke telinganya.


"Kenapa tidak bisa pulang? Padahal Mama dan Papa udah siapkan hadiah buat kamu!" jawab Ibu Ijaz dengan sedih.


"Maaf ya Ma, aku harus pergi. Aku dapat tugas keluar kota lagi, aku harus kembali bekerja!" jawab Ijaz dengan terdengar terburu buru.


"Jadi kamu benar benar tidak bisa pulang?" tanya Ibu Ijaz dengan sedih.


"Maaf ya Ma, ini kan juga demi Mama!. Maafkan Ijaz ya Ma," ujar Ijaz lalu ia memberikan salam kepada Ibunya dan mematikan ponselnya.


Di tempat Ibu Ijaz, terlihat ia tengah duduk di kursi dengan raut muka yang sedih, ia sedih setelah mendengar anaknya tidak kembali ke Indonesia.


"Ada apa Ma?" tanya suaminya saat melihat istrinya sedih setelah menerima telepon dari Ijaz.


"Pa, sepertinya kita tidak jadi beli bunga ke tempat Jasmine!" jawab Ibu Ijaz dengan sedih dan berlinang air mata.


"Kenapa?" jawab Ayah Ijaz dengan terkejut.


"Ijaz tidak akan pulang ke Indonesia, dia akan bertugas di luar kota lagi tapi bukan di Indonesia!" ucap Ibu Ijaz dengan tiba tiba matanya mengeluarkan air mata.


Melihat hal itu Ayah Ijaz berusaha menenangkan istrinya dengan memeluk istrinya dengan penuh kasih sayang lalu ia mengusap perlahan bahunya agar istrinya lebih tenang.


"Tidak papa, mungkin besok atau lusa dia akan pulang kemari. Jangan menangis!" ucap Ayah Ijaz lalu ia mencium kening istrinya dengan lembut.


Mendengar hal itu, Ibu Ijaz terlihat sedikit lebih tenang. Ia kemudian melepaskan pelukannya dan menghapus air matanya.


Beberapa saat kemudian, terlihat Ijaz dan Anjani sampai di bandara di Pakistan. Saat itu terlihat Anjani juga membawa koper yang sama dengan Ijaz. Waktu itu terlihat sahabat Ijaz menemani dan menemui Ijaz di bandara dan untuk memberi salam perpisahan kepada Ijaz yang akan kembali ke Indonesia.


"Yar, be carefuly and stay healthy for you!" (teman, hati hati dan jaga kesehatan kamu!) ucap salah satu teman Ijaz yang terlihat sedih di tinggalkan oleh Ijaz ke Indonesia. Ia kemudian memeluk Ijaz dengan sangat erat.


"Thanks Yar," jawab Ijaz lalu ia membalas pelukan itu dengan sangat erat. Ia kemudian mengusap usap perlahan bahu sahabatnya.


Setelah beberapa menit mendapatkan salam perpisahan dari teman temannya, Ijaz dan Anjani akhirnya masuk ke dalam bandara dan masuk ke dalam pesawat.


Beberapa jam kemudian, Ijaz dan Anjani sampai Indonesia. Saat itu mereka terlihat tengah kebingungan mencari taksi atau angkot di depan bandara. Tak berselang lama salah satu taksi, menghampiri mereka menawari mereka, Ijaz pun akhirnya menerima tawaran itu begitu pula Anjani. Mereka kemudian pergi ke hotel untuk menginap.


Di rumah Ijaz terlihat Ibunya masih terlihat sedih, hal itu karena ia mengira Ijaz benar benar tidak pulang ke Indonesia.

__ADS_1


Keesokan harinya, Ijaz dan Anjani terlihat sudah berada di dalam mobil. Ijaz meminta supir mobil itu menghentikan mobilnya karena mobilnya berhenti di depan sebuah toko bunga yang tak lain toko milik Jasmine.


"Bentar aku beli bunga dulu buat Ibu," ucap Ijaz dengan baik kepada Anjani lalu Anjani menjawab anggukan kepada Ijaz. Setelah itu Ijaz turun dari mobil itu dan masuk ke dalam toko. Waktu itu orang yang menjaga toko bunga tersebut adalah Jasmine. Saat Ijaz masuk ke dalam toko Jasmine merasakan sesuatu yang aneh terjadi dengan dirinya, tiba tiba angin semilir datang seakan menemani setiap langkah yang Ijaz ambil. Seakan angin itu membelai tubuh Jasmine dan seakan memberi tanda atas kedatangan Ijaz.


"Sejuk sekali angin ini, " ujar Jasmine lalu ia tersenyum kecil di bibirnya.


Beberapa saat kemudian terlihat Ijaz masuk ke dalam toko dan memilih bunga, saat itu ia terlihat jatuh cinta dengan bunga yang di pilih oleh Ibu Ijaz beberapa hari lalu. Ia kemudian mengambil satu bunga itu dan pergi untuk menemui Jasmine. Di situ Jasmine merasa kesejukan yang semakin kuat.


"Mbak!" panggil Ijaz kepada Jasmine.


"Iya, maaf. Ada apa?" jawab Jasmine tanpa menyadari kalau orang yang berada di depannya adalah Ijaz, cinta masa kecilnya.


"Saya mau bayar bunga ini!" ucap Ijaz lalu ia menunjukkan bunga yang di ambil oleh Ijaz.


Saat itu Jasmine terlihat tak memperhatikan wajah orang yang membeli bunga itu. Ia hanya menundukkan kepalanya sambil menikmati kesejukan angin itu.


"Berapa?" tanya Ijaz lagi kepada Jasmine.


"50ribu aja!."


Mendengar jawaban itu Ijaz kemudian memberikan uang sejumlah yang di minta oleh Jasmine. Ijaz kemudian pergi, meninggalkan Jasmine. Di saat Ijaz sudah meninggalkan toko Jasmine terlihat berani meninggikan kepalanya dan melihat ke arah Ijaz dengan heran.


Di depan toko, terlihat Ijaz masuk ke dalam mobil yang ia bawa.


"Gimana, sudah dapat bunganya?" tanya Anjani kepada Ijaz.


"Udah nih. Bagus kan?" jawab Ijaz lalu ia menunjukkan bunga itu kepada Anjani. Melihat bunga yang di beli oleh Ijaz, Anjani pun juga jatuh cinta dengan bunga itu.


"Ya ampun, bagus sekali bunganya!" jawab Anjani lalu ia mendekatkan hidungnya ke arah bunga itu. "Wanginya juga enak!."


"Kamu mau,"tawar Ijaz kepada Anjani.


"Nanti aja," jawab Anjani. Setelah itu Ijaz menghidupkan kembali mobilnya.


Melihat laki laki yang tidak ia kenali itu akan pergi Jasmine pun langsung bergegas keluar dari tokonya untuk melihat kepergian laki laki itu. Saat orang yang tidak ia kenali itu pergi, tak berselang lama Ria datang dan ia terlihat heran melihat Jasmine keluar dari toko hanya untuk melihat pelanggannya.


"Ada apa Jasmine?" tanya Ria sambil memegangi salah satu bahu Jasmine hingga membuat Jasmine terkejut.


"Kamu itu jangan seperti itu, aku terkejut," jawab Jasmine dengan kesal.

__ADS_1


"Aku tidak mengangetkan kamu, lalu kenapa kamu bisa terkejut?" jawab Ria lalu ia melepaskan tangannya yang memegang bahu Jasmine.


"Maafkan aku, aku mau cerita sama kamu!" ujar Jasmine lalu ia mengajak Ria masuk ke dalam toko dengan memegangi salah satu tangan Ria. Setelah berada di dalam toko Jasmine mengajak Ria duduk di kursi yang ada di toko itu. Ia kemudian mulai menceritakan apa yang di rasakan oleh dirinya saat kehadiran orang itu.


"Ada apa?" tanya Ria dengan kebingungan melihat sikap Jasmine yang terlihat bingung sekaligus bahagia.


"Tadi ada laki laki yang beli bunga di sini, entah kenapa dengan aku? Aku merasakan, ada hal berbeda dari orang itu!" jawab Jasmine dengan baik namun jawaban itu terlihat membuat Ria bingung.


"Maksudnya?" jawab Ria dengan bingung.


"Tadi saat laki laki itu datang ke toko ini, aku merasa ada hembusan angin yang sangat sejuk sekali. Hati ku tenaga, lalu saat ia berada di dekat ku. Aku benar benar merasakan kedamaian yang sangat luar biasa. Aku seperti mengenal orang ini, tapi aku tidak tau siapa orang ini!" jawab Jasmine dengan mata yang tiba tiba berkaca kaca.


"Kenapa kamu menangis?" tanah Ria kepada Jasmine yang tiba tiba meneteskan air mata.


"Entahlah, aku sendiri tidak tau kenapa mata ini tiba tiba meneteskan air mata?" jawab Jasmine lalu ia menghapus air matanya. Ia kemudian berdiri dari duduknya dan pergi meninggalkan Ria namun tiba tiba ia menghentikan langkah Jasmine ucapan Ria.


"Apa kamu menganggap laki laki itu adalah Ijaz?" ujar Ria lalu ia berdiri dari duduknya dan pergi menghampiri Jasmine. "Jasmine, kalau memeng laki laki itu adalah Ijaz. Maka, semua penantian kamu akan segera berkahir!."


"Iya, terimakasih," jawab Jasmine lalu ia memeluk Ria dengan erat.


"Terimakasih? Untuk apa?" jawab Ria lalu ia melepaskan pelukan Jasmine.


"Karena sudah menemani aku untuk menanti kedatangan Ijaz!."


Mendengar ucapan Itu Ria pun kembali memeluk Jasmine dengan sangat erat, Jasmine yang merasakan hal itu membalas pelukan Ria dengan sangat erat.


"Aku bahagia, karena teman ku akan segara duduk di pelaminan bersama orang yang dia cintai," ujar Ria dengan air mata yang tiba tiba mengalir membasahi pipinya.


Ria kemudian melepaskan pelukan itu, di saat itu tiba tiba suasana berubah haru. Ria menangis bahagia atas penantian Jasmine selama ini akan segera berakhir sedangkan Jasmine menangis karena ia akan berpisah dengan sahabat terbaiknya.


"Aku doakan kamu, semoga kamu segera menikah dengan Ijaz," ucap Ria dengan air mata yang masih membasahi pipinya.


"Makasih," jawab Jasmine dengan hal yang sama.


Suasana haru itu tiba tiba berubah seketika saat Ibu Jasmine datang dan mengejutkan mereka berdua.


"Aduh, ada apa ini? Kenapa harus mellow drama seperti ini?" ucap Ibu Jasmine dengan nada sedikit menggoda mereka berdua.


Mendengar hal itu Jasmine dan Ria terlihat tersenyum dan kembali tertawa lagi. Mereka kemudian menghapus air mata mereka dan kembali melakukan kegiatan mereka sepeti biasa.

__ADS_1


__ADS_2