
Keesokan harinya, seperti biasa dengan kesepian harinya di hari Minggu. Jasmine tengah membuat teh untuk dirinya sendiri, lalu ia duduk di sofa yang berada di ruang tamu dengan menikmati secangkir teh itu.
Ketika ia tengah menikmati teh itu, bel rumahnya berbunyi selama beberapa kali, lalu terdengar suara seorang wanita dari luar rumah memanggil manggil dirinya beberapa kali. Wanita itu adalah Ibu Ayan, saat itu derai air mata dari Ibu Ayan terus mengalir membasahi matanya.
Saat Jasmine sudah membuka pintu rumah, Jasmine terlihat terkejut karena ia melihat Ibu Ayan bersedih di hadapan rumahnya. Menyadari kalau Jasmine sudah membuka pintu rumah, Ibu Ayan langsung melipat kedua tangannya di depan dadanya dengan kepala yang menunduk dan memohon kepada Jasmine.
"Nak Jasmine, saya mohon dengan kamu. Tolong, beri kesempatan Ayan untuk mendapatkan cinta kamu. Saya tidak masalah jika Ayan harus menunggu dan menanti atas cinta kamu," ucap Ibu Ayan dengan sedih dan kedua tangan terlipat di depan dadanya. Setalah itu, untuk memohon kepada Jasmine ia bahkan rela duduk di depan Jasmine dengan kedua kaki bertekuk lutut. Melihat hal itu, Jasmine yang merasa masih lebih muda dari Ibu Ayan, langsung membantu Ibu Ayan bangun dari duduknya dan mengajak Ibu Ayan masuk ke dalam rumah.
Saat mereka berdua sudah berada di dalam rumah, Jasmine mengajak Ibu Ayan duduk di sofanya yang berada di ruang tamu.
"Ada apa Tante? Ada apa dengan Ayan? Kenapa Tante melakukan hal itu hanya untuk membujuk Jasmine?" tanya Jasmine dengan kebingungan dengan sikap Ibu Ayan yang tiba-tiba datang ke rumahnya dengan berurai air mata.
Mendengar ucapan itu, Ibu Ayan melihat ke arah Jasmine. Ia kemudian memegangi salah satu tangan Jasmine dengan lembut.
"Saya tahu, kamu sulit untuk menerima Ayan, Jasmine. Tapi... Tapi saya mohon dengan kamu, tolong kamu berusaha untuk memberi kesempatan kedua untuk dirinya. Saya tidak masalah jika Ayan harus menanti kamu mendapatkan cinta kamu, tapi saya benar benar memohon kepada kamu untuk memberi kesempatan kedua untuk Ayan!" pinta Ibu Ayan dengan baik kepada Jasmine yang saat itu duduk di hadapannya.
Mendengar ucapan itu, Jasmine pun membalas pegang tangan Ibu Ayan dengan lembut. Lalu ia menarik nafas dan ia menghembuskan nya dengan perlahan.
"Tante, maaf... Jasmine tidak bisa melakukannya. Aku tidak bisa meminta orang lain untuk menunggu atau menanti. Karena... Dua hal itu.. adalah hal yang menyakiti hati, dan selain itu juga akan membuat semuanya tidak baik baik saja!" jawab Jasmine dengan baik lalu ia berhenti beberapa saat. Ia kemudian melepaskan tangannya dan bangun dari duduknya untuk membuatkan minum untuk Ibu Ayan. Namun, saat ia baru akan berdiri, Ibu Ayan kembali menarik Jasmine hingga Jasmine kembali duduk di sofa yang berada di hadapan Ibu Ayan.
"Aku tahu, kalau kamu tidak akan mungkin membiarkan orang lain merasakan apa yang kamu rasakan, tapi apa yang harus aku lakukan? Kamu seorang ibu, ibu bisa melakukan apapun untuk anaknya. Ayan adalah anak ku satu satunya, aku mohon beri dia kesempatan kedua untuk ia mendapatkan cinta kamu. Tidak masalah jika dia harus menanti, biar aku yang menanggung konsekuensinya nanti," jawab Ibu Ayan dengan sedih kepada Jasmine. Jasmine yang melihat hal itu pun tersenyum kepada Ibu Ayan dengan mata yang berkaca kaca.
"Saya akan mencoba nya, namun... Maafkan saya Tante, saya tidak berjanji akan benar benar bisa mencintai Ayan!."
Mendengar jawaban itu, Ibu Ayan pun tersenyum kepada Jasmine dan kemudian ia berpamitan kepada Jasmine akan pulang ke rumahnya.
Di saat ia akan pulang ke rumah nya, mobil hitam dan mewah terlihat baru sampai di rumah Jasmine. Lalu, beberapa saat kemudian seorang laki laki tampan yang tak lain adalah Firman keluar dari mobil. Ketika ia melihat kehadiran Ibu Ayan di rumah Jasmine, ia hanya diam selama beberapa saat namun setelah itu ia melanjutkan kegiatannya dimana ia menghampiri pintu lain dari mobilnya untuk membukakan pintu bagi gadis kecil itu.
Beberapa saat kemudian, Jasmine keluar dari rumah dan ia terlihat bahagia melihat kedatangan gadis kecil itu yang begitu cepat. Melihat ibunya keluar dari rumah, Samira gadis kecil itu turun dari mobil dan bergegas berlari menghampiri ibunya. Dan beberapa saat kemudian, dengan langkah perlahan Firman juga ikut menyusul mendekati Ibu Ayan dan Jasmine.
Saat itu Jasmine terlihat tidak mempedulikan kedua orang itu, ia hanya peduli dengan memeluk erat Samira dan mencium Samira selama beberapa saat.
Ketika Firman sudah berada di dekat Ibu Ayan, Firman hanya diam saja dengan tatapan mata yang terlihat sedih dengan sesekali melihat ke arah Jasmine yang terlihat bahagia dengan kedatangan Samira.
Melihat kesedihan di mata Firman, tanpa mengatakan sepatah kata lagi kepada Jasmine Ibu Ayan langsung pergi meninggalkan Firman dan Jasmine.
Melihat hal itu, Jasmine pun hanya diam dengan pandangan mata sesekali melihat Ibu Ayan dan sesekali melihat ke arah Firman yang terlihat sedih.
Berbeda dengan Jasmine, Firman justru terus memandangi Ibu Ayan yang pergi menjauhi dirinya tanpa mengatakan sepatah katapun.
__ADS_1
Tak berselang lama, Samira melepaskan pelukannya dan pergi menuju ke kamarnya dengan bahagia. Melihat kepergian Samira, Jasmine mendekati Firman yang saat itu masih memandang ke arah Ibu Ayan yang sudah tidak terlihat di hadapan matanya.
"Ada apa?" tanya Jasmine dengan memegangi salah satu bahu Firman. Firman yang melihat hal itu pun langsung melihat ke arah Jasmine dengan menjawab gelengan kepala dengan senyum kecil di bibirnya.
"Tidak sepeti biasanya, kamu kenapa sedih melihat Ibu Ayan?" ucap lanjutan dari Jasmine setelah melihat jawaban Firman yang hanya menggeleng kan kepalanya.
"Bukan apa apa," jawab Firman dengan baik sambil berdiri di samping Jasmine dengan tatapan mata yang sedikit pun tidak melihat ke arah Jasmine.
Melihat hal itu, Jasmine pun melepaskan tangannya yang memegangi bahu Firman. Ia kemudian mengajak Firman masuk ke dalam rumahnya.
Saat berada di dalam rumah, Jasmine pun terlihat tengah membuat kan kopi untuk Firman, di sisi lain Firman tengah duduk dengan raut muka yang terlihat redup setalah melihat Ibu Ayan dari rumah Jasmine.
Beberapa saat kemudian, Samira datang dengan membawa sebuah boneka ia mengatakan kepada Firman kalau boneka yang ia bawa ia dapatkan dari Ayan. Ia sangat menyayangi boneka itu, melihat hal itu Firman yang saat itu pernah membelikan boneka untuk Samira juga menanyakan soal boneka kepada Samira.
"Samira, kalau kamu saya dengan boneka yang di belikan oleh Om Ayan, kamu sayang juga atau tidak dengan boneka yang ayah belikan untuk kamu?" tanya Firman kepada Samira.
"Aku juga sayang dengan boneka yang Ayah belikan, hanya saja aku tidak sesayang boneka yang di belikan Om Ayan ini," jawab Samira dengan jujur dan masih polos.
Mendengar jawaban dari Samira, Firman sedikit sedih begitu pula Jasmine. Namun, saat itu Firman berusaha untuk tetap tenang dan ia berusaha untuk tertawa di hadapan anaknya setalah mendengar ucapan dari Samira.
Beberapa saat kemudian, Samira kembali ke dalam kamar nya melihat hal itu, dengan membawa sebuah nampan yang berisi secangkir teh untuk Firman, Jasmine menghampiri Firman. Setelah itu ia duduk di dekat Firman dengan mata yang melihat ke arah Firman.
"Tidak papa, kamu jangan khawatir!" jawab Firman dengan baik lalu ia memberi senyuman kecil di bibir nya dengan kembali melanjutkan meminum kopi yang sudah di buat oleh Jasmine.
Mendengar jawaban itu keluar dari mulut Firman, Jasmine pun juga hanya tersenyum dan ia juga tidak mengatakan sepatah kata lagi.
Waktu berlalu begitu cepat, terlihat Firman, Samira dan Jasmine berdiri di depan rumah. Saat itu terlihat Firman akan pulang ke rumahnya.
"Papa, maafkan Samira ya karena Samira hanya satu hari tinggal dengan Papa," ucap gadis kecil itu kepada Firman dengan wajah sedih.
Mendengar hal itu, Firman pun menunduk tubuhnya dan duduk sejajar dengan Samira yang masih kecil. Ia kemudian memegang pipi Samira dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Tidak papa, Sayang. Papa tahu kalau kamu memang lebih suka tinggal dengan Ibu kamu, Papa tidak masalah ," jawab Firman dengan baik kepada Samira.
"Bukannya aku tidak suka tinggal dengan Papa, aku hanya selalu rindu dengan boneka yang aku dapatkan dari Om Ayan, kemarin Samira lupa membawanya..." Mendengar perkataan dari Samira yang terus mengatakan tentang Ayan, Firman terlihat kembali sedih. Menyadari hal itu, Jasmine pun menghentikan Samira dengan sedikit memberi bentakan kepada Samira.
"Samira cukup, jaga perasaan Ayah kamu," bentak Jasmine kepada Samira hingga membuat Samira sedih. Ia kemudian menundukkan tubuhnya dan duduk sejajar dengan Samira. Ia kemudian memegang kedua lengan Samira dengan penuh kasih sayang.
"Maaf kan Ibu, Samira. Ibu membentak kamu, ibu benar benar minta maaf. Tapi dengarkan ibu, dia itu Ayah Firman, dia ayah kamu tapi kenapa? Kenapa kamu kamu selalu mengatakan tentang Om Ayan? Kamu harus menjaga perasaan Papa Firman."
__ADS_1
Mendengar ucapan itu, Samira terlihat masih sedih. Saat itu Jasmine juga sedih dengan apa yang di lakukan oleh Samira. Air matanya juga ikut menetes melihat apa yang di lihatnya.
Melihat hal itu, Firman terlihat bangun dari duduknya dengan berusaha untuk menutupi kesedihannya di hadapan Samira dan Jasmine.
"Sudah tidak papa, Jasmine!."
"Papa, Samira minta maaf dengan Papa. Samira sudah menyakiti hati Papa," ucap Samira dengan sedih setelah ia berjalan melewati ibunya dan menghampiri Firman.
Jasmine yang melihat hal itu, ia masih sedih. Ia kemudian bangun dari duduknya dan melihat Samira yang memeluk erat Firman. Melihat hal itu, Firman pun kembali menundukkan tubuhnya dan dirinya memeluk erat Samira. Samira yang melihat hal itu ia menangis dan ia tidak bisa menahan air matanya yang terus berderai mengalir membasahi pipinya.
"Tidak papa, Ayah tidak masalah Samira," ucap Firman dengan baik kepada Samira dengan ia memberi pelukan erat.
Setalah beberapa saat berpelukan Firman pun melepaskan pelukannya dan ia berdiri dengan mata yang memerah menahan kesedihannya.
"Makasih ya, sudah mengizinkan aku untuk mengajak Samira pulang ke rumah."
Jasmine yang melihat hal itu ia hanya memberikan senyuman kecil kepada Firman. Setelah itu Firman berjalan menuju ke dalam mobilnya dan masuk ke dalam mobil.
Ketika Firman sudah berada di dalam mobil, ia melihat Samira melambaikan tangannya kepada dirinya. Melihat hal itu, Firman pun membalas lambaian tangan selama beberapa saat. Ia kemudian tersenyum kepada Samira dan melajukan mobilnya.
Menyadari kalau mobil Firman sudah pergi, Jasmine pun mengajak Samira masuk ke dalam rumah dengan baik Samira pun menuruti ibunya.
****
Di jalan Firman, yang mengendarai mobil tiba tiba berhenti. Ia terlihat sedih, setetes demi setetes air mata jatuh membasahi pipi Firman. Ia terus menerus mengingat ucapan Samira yang terlihat seperti lebih sayang dengan Ayan dari pada dengan dirinya.
Dengan kesedihan yang mendalam, Firman memukul mukul alat kemudi untuk meluapkan kesedihan dan kekesalan nya. Namun, apa boleh buat ini adalah kesalahan yang di lakukan oleh dirinya, maka dia harus menerima apa yang akan di takdir kan oleh Tuhan nantinya.
****
Di rumah Jasmine, terlihat Samira bergegas masuk ke dalam kamar nya dan menutup pintu dengan sedih. Melihat hal itu Jasmine pun menghampiri Samira yang berada di dalam kamarnya. Saat itu Samira sedih dengan memeluk boneka yang dia dapat dari Ayan dengan sangat erat.
Melihat hal itu, Jasmine pun duduk di atas tempat tidur dan ia melihat Samira yang memeluk erat boneka itu.
"Maafkan Ibu membentak kamu, Ibu tahu kamu memang sangat sayang dengan Om Ayan. Tapi, kamu harus tahu kalau kamu tidak seharusnya kamu memuji muji Om Ayan di hadapan Papa Firman. Karena apa? Karena Papa Firman itu akan terluka jika kamu selalu mengatakan hal itu, Mama mohon kepada kamu, tolong jangan melakukan hal itu lagi. Mama mohon, tolong kamu jaga perasaan Papa Firman," ucap Jasmine dengan baik kepada Samira. Samira yang mendengar ucapan itu pun hanya diam dengan mengangguk kan kepalanya.
Melihat hal itu, Jasmine pun mengajak Samira berpelukan selama beberapa saat.
"Bukan sebuah penantian, atau pun kesedihan yang ku rasakan saat ini. Bukan sebuah penghianat atau pun kekecewaan yang ada di dalam jiwa ini. Namun, sebuah kebingungan hati, dimana aku harus mencari sebuah jawaban atas pertanyaan' dimana labuhan kebahagiaan untuk Samira? Akankah kembali bersama dengan sebuah penantian dan penghianat, atau justru bersama tanpa ada sebuah senyuman di wajah manisnya."
__ADS_1
Ucap Jasmine dalam hatinya dengan memeluk erat Samira sang buah hati yang sangat ia cintai.