
Waktu berlalu begitu cepat, terlihat Ayan dan Samira berada di rumah Ayan. Sesampainya di rumah Ayan mengetuk pintu rumah, tanpa berkata kata Ibu Ayan pun membuka pintu rumah dan melihat Ayan dengan Samira berdiri di depan rumah. Melihat hal itu, ia seperti mencari seseorang dengan bertanya kepada Ayan tentang keberadaan Jasmin. Namun, saat itu Ayan mengatakan kalau Jasmin tidak ikut dan ia menunggu seseorang di rumah sakit.
Setelah mendengar ucapan itu, Ibu Ayan pun mengajak Samira dan Ayan masuk ke dalam rumah. Saat di dalam rumah, Ibu Ayan memperlakukan Samira dengan sangat baik baik seorang cucu yang sudah ia nanti nanti.
Keesokan harinya, ketika Samira masih tidur sedangkan waktu sudah menunjukkan setengah 4 pagi. Ibu Ayan menghampiri Samira dengan menggunakan mukena berwarna putih berenda dengan motif bunga bunga ia membangun kan Samira.
"Nak Samira, bangun. Mari sholat," ajak Ibu Ayan kepada Samira yang saat itu sudah terbangun dari tidurnya.
Setelah Samira terbangun, dengan di dampingi oleh Ibu Ayan, Samira pun berwudhu. Tak berselang lama, Samira dan Ibu Ayan masuk ke dalam ruangan yang di gunakan untuk sholat. Saat itu Ayan dengan menggunakan sarung, baju Koko dan topi muslim tengah duduk di barisan awal sebagai imam. Lalu, di ikuti oleh Ayah Ayan dan barisan ketika Ibu Ayan dan Samira.
Melihat kedatangan Samira, selama beberapa saat Ayan melihat ke arah Samira lalu ia tersenyum kecil kepada Samira. Samira yang melihat hal itu, ia pun membalas senyuman kecil di bibirnya.
***
Di rumah sakit, Jasmin dengan menggunakan mukena berwarna putih polos, tengah menadahkan tangannya dengan derai air mata yang terus mengalir dan mata yang sedikit memandang ke atas.
"Ya Allah, Ya Tuhan ku. Yang Maha Pengasih, dan Maha Penyayang. Maafkan mu ini Ya Tuhan, maafkan hamba mu yang sudah menelantarkan buah hati yang engkau titipkan. Ya Allah, kenapa enggak menakdirkan aku harus seperti ini, kenapa?" ucap Jasmin dengan air mata terus mengalir membasahi pipinya. Setelah melakukan doa ia kembali bersujud dengan keadaan masih berderai air mata.
"Ya Allah, hamba mohon segera sembuh Mas Firman, agar tidak semua jarak ini akan segera hilang dari hidup saya!" ucap Jasmin dengan bersujud kepada Tuhan.
Ketika doa yang sudah di panjatkan selesai ia merapikan dirinya dan merapikan tempat nya untuk sholat.
****
Di rumah Ayan, terlihat salam pun sudah di ucapkan oleh Ayan, lalu di ikuti oleh keluarganya yang lainnya. Ketika waktunya berdoa, mata Samira di penuhi oleh air mata, ia menadahkan tangannya dengan melihat ke arah langit langit rumah.
"Ya Allah, Ya Tuhan ku. Tolong ampuni dosa Papa Firman dan Ibu Jasmin Ya Allah," mendengar ucapan itu Ayan dan keluarga seketika langsung terdiam dan fokus mendengar kan Samira. Beberapa saat kemudian, Samira melanjutkan "Jaga dia selalu dan lindungilah mereka semua di mana pun mereka berada,jauhkan bahaya yang mendekati mereka Ya Allah, amin Ya rabbal Al-Amin!."
"Amin!" sahut Ibu Ayan lalu ia memeluk Samira dengan sangat erat dengan menenangkan Samira yang terus bersedih. Tidak hanya Ibu Ayan, Ayan pun juga menyahut doa Samira, namun saat itu ia tidak mengeluarkan suara ketika membalas doa dari Samira.
Waktu pun menunjukkan pukul 6 pagi, terlihat Samira sudah siap untuk pergi ke sekolah dengan Ayan. Beberapa saat kemudian, Samira dan Ayan pun pergi ke sekolah dengan mobil hitam yang di milik oleh Ayan.
Di rumah sakit, Firman terlihat sudah lebih baik. Saat itu ia duduk di atas tempat tidur dengan wajah yang lebih segar, saat itu dengan wajah yang lelah dan mata yang bengkak karena sepanjang malam menangis. Ia tetap kuat dan menyuapi laki laki yang sudah bukan suaminya itu dengan baik, melihat hal itu Firman merasa sangat beruntung karena memiliki istri seperti Jasmin, yang mau menemani dia di saat susah atau pun senang.
__ADS_1
"Makasih ya, karena kamu mau menemani aku! Menemani aku di saat susah atau pun senang," ucap Firman dengan baik sambil memegangi salah satu tangan Jasmin. Jasmin yang menyadari hal itu, sebenarnya merasa tidak enak karena ia takut kalau Ayan melihat hal itu. Lalu, dengan perlahan ia melepaskan tangan Firman dari tangannya.
Setalah tangan Jasmin lepas dari tangan Firman, ia memberikan senyuman yang terlihat tidak bahagia kepada Firman, saat itu Firman memang menyadari kalau Jasmin bersikap aneh namun ia tidak mengatakan apapun, ia hanya memendam perasaan itu.
Hari pun semakin siang, saat itu terlihat Firman menginginkan jalan jalan ke sekitar rumah sakit, dengan di temani oleh Jasmin. Ketika Firman berada di salah satu taman rumah sakit dan terlihat kursi di taman itu kosong, Firman pun mengajak Jasmin untuk duduk di kursi itu.
Di saat bersamaan, dengan raut muka bahagia, Ayan baru saja sampai di rumah sakit. Pada awalnya ia tidak menyadari kalau Jasmin dan Firman berada di luar ruangan. Ia yang saat itu keluar dengan membawa sebuket bunga dan makanan seketika terdiam ketika matanya melihat ke arah kursi taman yang di tempati oleh Firman dan Jasmin.
Melihat kedekatan mereka berdua, mata Ayan langsung berkaca kaca dan di penuhi oleh air mata. Bunga yang saat itu ia pegang erat, ia jatuhkan ke tanah dan melewati bunga itu dengan sedih. Ia pergi menghampiri Jasmin dan Firman yang tengah duduk bersama.
"Jasmin" panggil Ayan kepada Jasmin dengan mata memerah seperti menahan kesedihan yang sangat luar biasa. Melihat kehadiran Ayan, ekspresi muka Firman terlihat kesal dan seperti orang yang terganggu dengan kehadiran Ayan. Berbeda dengan Firman, Jasmin justru terlihat sangat sedih atas apa yang sudah terjadi. Ia juga sedih setelah melihat mata Ayan yang menahan kesedihan. Melihat kehadapan Ayan, Jasmin langsung bangun dari duduknya dan ia berdiri di hadapan Ayan dengan sedih sambil menggeleng kan kepalanya seolah memohon agar Ayan tidak marah dan kecewa.
Menyadari kalau Ayan dan Jasmin saling bertatapan mata, Firman terlihat semakin marah ia langsung menarik Jasmin untuk menjauhi Ayan. Namun, saat itu Firman di hentikan oleh Ayan dengan memegangi salah satu tangan Jasmin. Firman yang melihat hal itu, ia langsung melihat ke arah tangan Ayan yang memegangi tangan Jasmin.
"Lepaskan tangan Jasmin, aku itu suaminya! Berani sekali kamu memegang tangan istri ku di hadapan ku," ucap Firman dengan tegas dan serius dengan tatapan mata yang tajam ke arah Ayan.
"Aku tidak akan melepaskan dia Firman, sampai kapan pun aku tidak akan melakukannya. Mungkin, saat ini kamu bisa memiliki dia. Tapi, ketika semua nya sudah kembali, maka kamu akan malu dengan diri kamu sendiri dan apa yang kamu miliki saat ini dia akan pergi!" jawab Ayan dengan nada tegas sambil melihat ke arah Firman. Lalu, ia melepaskan tangan Jasmin yang ia pegang dengan tatapan mata yang terus melihat ke arah Jasmin dan Firman.
Melihat hal itu, Firman pun terlihat tidak mempedulikan Ayan dan ia pun pergi dari tempat itu dengan menarik tangan Jasmin.
Ketika Jasmin sudah tidak bisa melihat Ayan, air matanya pun benar benar tidak bisa di bendung. Ia hanya menangis dengan menundukkan kepalanya menerima tarikan tangan dari laki laki yang sudah tidak punya hubungan suami istri itu.
Saat sudah berada di dalam kamar yang di tempati oleh Firman. Firman melepaskan tangan Jasmin, dan ia melihat kalau Jasmin yang menangis hingga sesenggukan.
Melihat hal itu ia memegangi kedua pipi Jasmin dan meminta maaf kepada Jasmin atas apa yang sudah ia lakukan.
"Aku minta maaf, karena kamu sudah kasar dengan kamu. Aku hanya tidak ingin dia bertemu dengan kamu lagi, aku mohon tolong maafkan aku!" ucap Firman dengan baik dan terlihat menyesal karena ia sudah bersikap kasar.
Mendengar ucapan itu, Jasmin hanya diam dan dia hanya sedih. Sebenarnya, Jasmin sedih bukan karena ia menerima perilaku kasar dari Firman namun ia sedih karena ia harus berpisah dengan Ayan lagi karena hadirnya Firman.
*****
Di luar rumah sakit, Ayan yang sedih setalah kejadian itu ia duduk di kursi yang di tempati oleh Firman dan Jasmin. Saat itu ia hanya diam dengan setetes air mata mengalir membasahi pipinya.
__ADS_1
"Jasmin, aku tahu kamu adalah miliki bukan milik Firman lagi. Aku janji, kamu akan menjadi milik ku seutuhnya!" jawab Ayan dengan tegas lalu ia bangun dari duduknya dan menunju ke dalam mobilnya. kemudian ia pergi dari rumah sakit dengan keadaan masih sama.
Hari pun sudah siang, Ayan terlihat sudah berada di sekolahan Samira. Beberapa saat kemudian, bel berbunyi menandakan kalau jam sekolah sudah berakhir, lalu terlihat Samira keluar dari kelasnya dengan di ikuti oleh Nova.
Menyadari kalau orang yang menjemput Samira bukanlah Firman atau Jasmin, Nova terlihat heran. Ia berusaha bertanya kepada Samira tentang orang yang menjemput dirinya, namun ketika ia baru saja ingin memanggil Samira, Samira langsung berlari dan terlihat tidak mempedulikan Nova. Dengan terlihat sangat bahagia, ia berlari menghampiri Ayan lalu ketika ia berada di dekat Ayan ia langsung memeluk Ayan dengan sangat bahagia.
Ayan yang menerima pelukan Samira ia juga terlihat bahagia atas hal itu.
Setalah beberapa saat berpelukan, Samira pun mengajak Ayan pergi dari sekolahan dan pergi ke rumah sakit.
Di sepanjang perjalanan, mereka terlihat sangat bahagia. Ketika mereka sudah berada di rumah sakit, Samira bergegas turun dari mobilnya sedang Ayan ia terlihat mengambi1llll sebuah kotak di dalam laci mobil. Lalu, ia memasukkan kotak itu ke dalam saku celananya.
"Ayo Om, kita pergi bertemu Mama, aku mau cerita sesuatu ke Mama!" ucap Samira dengan terlihat terburu buru. Ayan yang mendengar hal itu dengan tersenyum ia pun mengiyakan dan langsung menghampiri Samira.
Ketika di kamar yang di tempati oleh Firman, Jasmin melihat kalau ia tengah memberi makan untuk Firman. Saat itu raut muka Firman tampak sangat bahagia, namun raut mukanya seketika berubah ketika melihat kedatangan Samira dan Ayan. Ia terlihat marah dan kesal dengan yang dilihatnya.
"Mama," panggil Samira lalu ia memeluk Jasmin dengan sangat erat. Mendengar ucapan itu, Firman semakin kesal dan semakin marah.
"Hey," jawab Jasmin dengan baik, lalu ia memeluk Samira dengan erat. Melihat Jasmin masih peduli dengan Samira, Firman pun terlihat langsung tidak bernafsu untuk makan. Ia terlihat sangat kesal dan marah dengan hal itu, saat itu Ayan menyadari hal itu ia hanya diam dengan berjalan mendekati Jasmin dan Samira.
Tiba tiba, terdengar suara orang menghantam kan barang ke lantai. Menyadari hal itu, bak seorang pahlawan Ayan langsung memeluk Jasmin dan Samira untuk melindungi mereka berdua dari kegilaan yang di lakukan oleh Firman. Saat itu Firman benar benar tidak bisa mengontrol emosi, dan ia terlihat marah dengan menatap tajam Jasmin.
Melihat tatapan mata Firman, Ayan pun juga membalas tatapan mata Firman dengan tajam. Saat itu Samira dan Jasmin terlihat sangat ketakutan dengan sikap Firman yang benar benar berubah setalah dia lupa ingatan.
"Lepaskan Jasmin!" ucap Firman kepada Ayan yang terus memeluk kedua wanita yang sangat ia cintai itu. "Tidak seharusnya kamu memeluk istri orang, dari pada kamu menemui istri ku lebih baik kamu bawa anak kamu pergi dari sini. Aku muak melihat wajah kalian berdua!."
Setalah mengatakan hal itu, Firman pun turun dari atas tempat tidur nya dan menghampiri Jasmin. Bahkan ia tidak mempedulikan kalau di lantai ada pecahan kaca dari piring yang di banting oleh dirinya. Ia mengajak pecahan kaca hingga salah satu kakinya tertusuk oleh pecahan itu. Namun saat itu terlihat ia tidak mempedulikan luka di kaki nya, demi mendapatkan Jasmin ia rela terluka bahkan ia rela berjuang walaupun akhirnya ia yang akan menerima luka atas apa yang sudah ia lakukan dengan Samira dsn Jasmine.
Entah apa yang membuat hal ini terjadi, Firman yang 10 tahun lalu tidak seperti ini. Ia lemah lembut dan tidak pernah kasar dengan seorang wanita, namun di waktu itu ia menarik Jasmin sekuat tenaga untuk memisahkan Samira yang di sebut oleh Firman anak haram yang di hasilkan karena hubungan gelap antara Jasmin dan Ayan.
Saat itu derai air mata terus mengalir membasahi pipi Jasmin dan Samira yang harus di pisahkan oleh Firman.
Merasa Jasmin dan Samira tidak ingin lepas, Firman pun akhirnya mengalah namun hal tidak terduga terjadi di mana dia justru mengambil pecahan piring yang ada di lantai dan mengarahkan pecahan kaca itu ke arah pergelangan tangan Firman. Ayan yang melihat hal itu, tanpa banyak bicara ia melepaskan pelukannya kepada Jasmin, lalu dengan perlahan ia melepaskan tangan Samira yang memegangi Jasmin dengan air mata yang terus mengalir.
__ADS_1
Setalah Jasmin terlepas dari kedua orang itu, ia pergi mendekati Firman dan mengambil pecahan piring itu dengan perlahan sambil menggelengkan kepalanya perlahan dan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.
Melihat hal itu, Firman terlihat menurut dan ia memberikan pecahan kaca itu kepada Jasmin dengan baik.