Sebarkas Harapan Diatas Penantian

Sebarkas Harapan Diatas Penantian
18. Perubahan


__ADS_3

Ketika pecahan piring itu sudah di berikan kepada Jasmin, Firman terlihat lebih tenang lalu dengan perlahan ia memegangi kedua pipi Jasmin dengan pandangan mata yang sedih dan penuh kelembutan.


"Maafkan aku, aku bersikap kasar, aku hanya tidak ingin kehilangan kamu. Aku tidak ingin kamu dengan orang lain, kamu hanya milik ku bukan yang lain!" ucap Firman dengan sedih dan mata yang di penuhi oleh air mata.


Melihat hal itu, Jasmin terlihat hanya diam seribu bahasa atas apa yang sudah di dengarnya dari mulut Firman. Ia hanya menganggukkan kepalanya dengan mata yang terlihat sedih.


Beberapa saat kemudian, Jasmin memegangi tangan Firman yang memegangi pipinya dengan perlahan,  untuk menjauhkan tangan Firman dari pipinya.


"Sekarang, lebih baik kamu istirahat. Aku tidak akan pergi dengan siapa pun," ucap Jasmin dengan lirih di saat itu Firman berjalan mendekati tempat tidur dengan langkah yang pincang. Hal itu terjadi kerana ia tertusuk oleh pecahan kaca itu. Menyadari hal itu, Jasmin meminta Firman untuk duduk di atas tempat tidur sebelum ia membaringkan tubuhnya. Waktu itu, terlihat darah terus mengucur hingga membekas di lantai rumah sakit. Jasmin yang menyadari hal itu, Jasmin pun memanggil salah satu suster untuk keruangan yang di tempati oleh Firman.


Beberapa saat kemudian, suster pun datang, ia terlihat terkejut dengan apa yang terjadi. Matanya hanya terlihat terbuka lebar melihat pecahan kaca berserakan di mana mana dsn bercak noda darah di lantai. Melihat hal itu, Jasmin pun menghampiri suster itu dan mengambil kotak obat yang ia bawa. Setalah ia mengambil kotak obat itu, ia meminta sister itu memanggilkan cleaning service untuk membersikan ruangan yang berantakan itu.


Suster yang mendengar perintah dari Jasmin pun bergegas pergi dan memanggil orang yang di maksud oleh Jasmin. Saat suster sudah pergi, Jasmin kembali menghampiri Firman dengan membawa kotak obat.


Ketika ia sudah berada di dekat Firman, Jasmin minta untuk Firman menaikkan kakinya ke sandaran kursi yang di gunakan untuk ia duduk. Saat hal itu sudah terjadi, dengan tanpa ragi dan tanpa terlihat jijik ia mencabut pecahan kaca piring yang masih tertancap di kaki Firman.


"Mas Firman, Mas harus tahan ya. Ini pasti rasanya sangat sakit," pinta Jasmin kepada Firman dengan baik, saat itu Firman tidak mengatakan sepatah katapun. Ia hanya diam dengan mengangguk kepalanya.


Waktu itu pandangan mata Firman terlihat terus melihat ke arah Jasmin yang mengobati kakinya, bahkan ketika Jasmin mencabut pecahan kaca piring yang menancap pun ia terlihat tidak merasakan nya dan tetap terus melihat ke arah Jasmin.


Ketika pecahan kaca sudah terlepas, dengan perlahan ia membersihkan lukanya. Setalah merasa kalau luka yang di dera oleh Firman sudah bersih, ia membungkus nya dengan perban dengan rapi. Setelah semua itu sudah selesai, Jasmin meminta Firman untuk membaringkan tubuhnya dan tidur. Saat itu pandangan mata Firman terus melihat ke arah Jasmin, Jasmin yang melihat hal itu terlihat tidak suka dan merasa tidak enak dengan apa yang sudah di lakukan oleh Firman.


Tak berselang lama, seorang Office boy datang ke kamar yang di tempati oleh Firman. Ketika ia sudah berada di ruangan itu ia terlihat langsung membersihkan noda darah yang ada di lantai dan pecahan piring yang berserakan di man mana.


"Maafkan saya ya, karena saya sudah merepotkan kamu!" ucap Jasmin setelah ia selesai membersihkan alat alat yang di pakai untuk mengobati Firman.


"Tidak papa Bu, ini sudah menjadi tugas saya!."


Melihat hal itu, Jasmin pun akhirnya membantu si office boy itu, walaupun pada awalnya ia menolak namun akhirnya ia menerima bantuan Jasmani, dan mereka pun bekerja bersama sama. Bahkan saat itu, Samira pun juga ikut membantu ibunya.


Menyadari hal itu, Firman terlihat sedikit kesal, namun tanpa sepengetahuan Jasmin. Ayan yang menyadari kalau Firman kesal dengan  perlahan menghampiri Firman, dan ia berdiri di dekat Firman setelah itu ia menunduk kan tubuhnya dan membisikkan kalimat yang membuat Firman langsung terdiam.


"Dengarkan aku Firman, kamu memisahkan kedua orang itu, tanpa tahu siapa mereka berdua di hidup kamu.... " ucap Ayan dengan serius lalu ia diam selama beberapa saat dengan semakin mendekatkan tubuhnya ke arah tubuh Firman dengan sesekali melihat ke arah Jasmin. "Ketika kamu mengetahuinya, maka aku yakin. Kamu akan tenggelam dalam lautan kehancuran, karena apa? Karena cahaya yang seharusnya kamu jaga, justru padam dengan kegelapan kamu. Kamu mengerti!."

__ADS_1


Setalah mengatakan hal itu, Ayan pun menjauhkan dirinya dari Firman dengan pandangan mata yang terus melihat ke arah Firman dengan mata menatap tajam.


Beberapa saat kemudian, Jasmin yang membantu si office boy itu pun akhirnya selesai. Jasmin terlihat bahagia begitu pula si office boy itu.


Setalah melihat kalau pekerjaaan Jasmin sudah berakhir, Ayan menghampiri Jasmin dan ia meminta izin untuk mengajak Samira pulang ke rumah nya. Mendengar ucapan itu seketika raut muka Samira terlihat sedih, dan ia langsung memeluk Jasmin seolah tidak ingin pulang ke rumah Ayan. Bukan karena Ayan dsn keluarga nya tidak baik, namun karena ia ingin menemani ibunya. Pada waktu itu, Firman terlihat tidak acuh dan tidak memberikan izin walaupun ia mendengar secara langsung apa yang di ucapkan oleh Samira. Namun, ucapan Ayan terus melayang di pikirannya, dan ucapan itu seolah terus berjalan di benaknya dan sangat mengganggu pikirannya.


Akhirnya, mau tak mau Firman pun mengizinkan gadis yang ia pikir anak haram itu untuk tinggal menemani dirinya dan Jasmin. Menyadari hal itu, Ayan terlihat hanya diam saja dengan pandangan mata yang terus melihat ke arah Firman. Namun, tak berselang lama setelah mendengar ucapan itu Ayan meminta Jasmin dan Samira menjaga dirinya baik baik dan ia pun akhirnya pergi meninggalkan Samira dan Jasmin.


****


Malam hari pun tiba, terlihat Samira sedang mengerjakan tugas sekolahan sebelum ia tertidur. Di sisi lain, Jasmin tengah mempersiapkan makanan dan obat untuk Firman. Ketika Firman tengah makan malam, pandangan matanya terus melihat ke arah Samira yang tengah mengerjakan tugas. Saat itu, Jasmin menyadari apa yang di lakukan oleh Firman, namun ia hanya diam saja dan tidak mengatakan sepatah katapun. Ia hanya terus melanjutkan kegiatannya untuk mempersiapkan obat yang harus di minum oleh Firman.


Tiba tiba, Firman memegangi tangan Jasmin, Jasmin yang menyadari hal itu ia langsung terdiam dan tidak tidak mengatakan sepatah kata pun dengan pandangan mata melihat ke arah Firman.


"Jasmin, siapa sebenarnya dia? Kenapa aku merasa kalau dia sangat peduli dengan kamu dan aku?" tanya Firman kepada Jasmin. Mendengar ucapan itu, Jasmin langsung terdiam dan ia melihat ke arah Firman tanpa berkata kata.


Beberapa saat kemudian, ia menatap tajam Firman dengan terlihat marah dan kesal.


"Dia adalah anak haram Mas, " jawab Jasmin dengan mata yang di penuhi oleh air mata dan bernada tegas. Setelah itu ia pergi dengan air mata yang masih mengalir membasahi matanya untuk menghampiri Samira yang saat itu tengah belajar.


Ketika berada di dekat Samira, Jasmin terlihat masih sedih, menyadari hal itu Samira langsung menghentikan tindakan nya dan melihat ke arah ibunya yang saat itu sedih.


"Mama, kenapa sedih? Apa Papa menyakiti Mama lagi?" tanya Samira dengan terlihat sedih dan bernada lirih. Saat itu sesekali pandangan matanya melihat ke arah laki laki yang terlihat sedih di atas tempat tidur itu.


"Tidak Sayang, ini bukan karena Papa. Tadi, hanya ada debu yang masuk ke mata Mama," jawab Jasmin dengan mata yang terlihat sedih dan berurai air mata.


Saat itu pandangan mata Firman terlihat terus menatap ke arah Jasmin dan Samira dengan sedih dan mata yang berkaca kaca, melihat hal itu Jasmin terlihat tidak mempedulikan Firman. Bukannya, ia tidak peduli ia hanya sedikit merasa kecewa dengan Firman atas ucapannya yang menyebut Samira anak haram hasil dari Ayan dan Jasmin.


***


Waktu berlalu begitu cepat, keesokan harinya Samira terlihat sudah bersiap untuk berangkat ke sekolah. Saat itu ia tengah duduk di sofa kamar Firman dengan memakan sebuah bubur yang berada di atas meja. Saat itu ia terlihat sangat lahap memakan bubur itu, disisi lain Firman terlihat juga sudah bangun. Namun, berbeda dari hari hari biasanya melihat Jasmin sibuk dengan Samira ia hanya diam dan tidak terlihat marah. Ia hanya melihat Jasmin yang terlihat sangat sibuk dengan Samira.


Kemarahan nya muncul ketika Ayan berada di depan kamar Firman untuk menjemput Samira berangkat ke sekolah.

__ADS_1


Saat itu Ayan membawa sebuah rantang makanan, rantang itu berisi makanan yang di buat Ibu Ayan untuk Samira dan Jasmin yang menginap di rumah sakit.


"Samira" panggil Ayan dengan baik sambil masuk ke dalam kamar yang di tempati oleh Firman.


"Om Ayan," jawab Samira dengan sangat bahagia.


Melihat Samira yang terlihat bahagia dengan kehadiran Ayan, Firman yang saat itu kesal dengan kedatangan Ayan pun tiba tiba sedih melihat Samira seperti sangat sayang dengan Ayan. Namun, saat itu ia bingung apa yang membuat dirinya sedih sedangkan dia merasa kalau Samira dengan dirinya tidak memiliki hubungan apa pun.


Setelah Samira menyelesaikan makan paginya, Samira bergegas menghampiri ibunya dan meminta izin untuk segera pergi ke sekolahan. Karena sangat bahagianya, Samira dekat dengan Ayan, ia bahkan sampai lupa untuk berpamitan dengan Firman. Namun, sebenarnya bukannya Samira lupa hanya saja Samira takut dan kecewa dengan apa yang sudah di ucapkan oleh Firman di beberapa waktu yang lalu.


Menyadari kalau Samira tidak berpamitan dengan Firman, Ayan meminta Samira untuk pergi berpamitan kepada Firman. Tidak hanya Ayan, Jasmin pun melakukan hal yang sama, ia meminta Samira untuk berpamitan dengan Firman.


Dengan perasaan takut, Samira pun menghampiri ibunya dan meminta ibunya untuk menemani dirinya.


Melihat Samira takut dengan Firman, Jasmin berusaha untuk menenangkan Samira.


Ketika ia sudah berada di dekat Firman, Firman terlihat mendudukkan tubuhnya di atas tempat tidur. Lalu, dengan takut ia mengulurkan tangan nya ke arah Firman.


"Papa, Samira pamit... Mau.. ke sekolah," ucap Samira dengan terbata bata dan terlihat ketakutan, ia takut kalau Firman akan membentak dirinya karena memanggil dirinya papa. Namun, saat itu Firman tidak membentak Samira, ia justru membalas uluran tangan Samira dan mencium tangan Samira yang ia ulurkan ke arah Firman.


"Maaf kan saya sudah membentak kamu!" ucap Firman dengan lirih setalah ia mencium tangan Samira. Samira yang mendengar ucapan itu langsung menarik tangan nya dengan kasar dan ia langsung bergegas pergi dari kamar yang di tempati oleh Firman.


Melihat hal itu, Jasmin hanya melihat ke arah Firman lalu ia menggeleng kan kepalnya dan mengejar Samira yang terlihat seperti orang yang masih ketakutan dan bingung.


Ketika Jasmin dan Samira pergi dari kamar yang di tempati oleh Firman, Firman terlihat sedih. Menyadari hal itu, Ayan pun menghampiri Firman dan ia berdiri di dekat Firman, namun sebelum ia berdiri di dekat Firman ia menaruh makanan yang ia bawa di atas meja.


Setelah itu ia berdiri di dekat Firman dengan menatap tajam Firman.


"Ada apa Firman? Apa kamu sudah berubah? Aku tidak yakin kalau kamu sudah berubah?" ucap Ayan dengan orang yang terlihat menantang Firman. "Aku tahu sekarang kamu mulai menyadari bahwa gadis kecil yang kamu panggil anak haram, hasil dari Jasmin dan aku adalah orang yang penting di dalam hidup kamu. Tapi aku ingatkan kamu, ketika kamu mengingat semuanya. Kamu akan kehilangan segalanya, segalanya yang terjadi kali ini akan manjadi racun di hidup kamu!."


Mendengar ucapan itu, Firman hanya diam dan tidak mengatakan sepatah katapun. Ia hanya melihat ke arah Ayan dengan tajam dan mata yang di penuhi oleh air mata. Saat itu, ketika Atan mengatakan hal itu, Jasmin mendengar nya dan ia hanya diam saja tanpa mengatakan sepatah katapun. Hal itu ia lakukan karena ia tahu, ala yang di ucapkan oleh Ayan memang akan terjadi.


Ketika Ayan menyadari kalau Jasmin berada di dalam kamar, seketika Ayan langsung terdiam dan ia tidak bisa berkata kata. Ia terlihat hanya menunduk kan kepalanya dan tidak mengatakan apa-apa. Ia terlihat seperti orang yang ketakutan kalau Jasmin akan marah mendengar apa yang di ucapkan nya kepada Firman.

__ADS_1


Saat Ayan berada di dekat Jasmin, Ayan yang saat itu ingin melewati Jasmin seketika langkahnya langsung terhenti, bagaimana tidak? Tiba tiba tangan Jasmin yang saat itu tenang di sisi kanan dan kiri bahu Jasmin. Tiba tiba ia memegangi tangan Ayan yang saat itu ingin melewati dirinya. Ayan yang menyadari hal itu, ia hanya diam dengan mata yang melihat ke arah Jasmin.


"Aku tidak akan membenci atau pun marah dengan kamu, karena... Apa yang kamu katakan adalah sebuah kebenaran!" ucap Jasmin dengan baik lalu ia melepaskan tangan nya dari tangan Ayan. Ayan yang mendengar ucapan itu ia hanya dan dan dengan perlahan ia melemparkan senyuman kecil di bibirnya untuk Jasmin. Setelah itu ia pergi menghampiri Samira, untuk mengantar Samira ke sekolahan .


__ADS_2