
Waktu berlalu begitu cepat, terlihat Ayan berada di rumah Jasmine dengan duduk di sofa yang berada di ruang tamu. Beberapa saat kemudian, Jasmine turun dari kamarnya dengan menggunakan gaun berwarna putih dan sangat cantik di pakainya.
Saat itu Ayan tengah terlihat kedinginan, melihat hal itu Jasmine yang saat itu baru turun dari kamarnya kembali ke kamarnya dan mengambil selimut dan pakaian yang di pakai oleh Firman ketika dia masih menjadi suami Jasmine.
Ketika ia sudah mengambilkan pakaian untuk Ayan, ia kembali keluar dari kamar dan menghampiri Ayan, saat ia sudah berada di dekat Ayan dan Ayan melihat kedatangan Jasmine dengan menggunakan gaun putih yang cantik di kenakannya, Ayan benar benar tidak bisa mengatakan sepatah katapun untuk memuji kecantikan Jasmine. Ia benar benar terbengong melihat keelokan wajah Jasmine. Melihat Ayan terbengong, Jasmine pun memberikan selimut dan pakaian itu kepada Ayan tanpa mengatakan sepatah katapun. Ayan yang menyadari hal itu, tanpa mengedipkan mata sekali pun ia menerima pakaian yang dia dapat dari Jasmine. Setelah memberikan pakaian dan selimut itu, Jasmine berjalan menjauhi Ayan untuk menuju ke dapur.
"Terimakasih," ucap Ayan untuk memecah lamunannya. Mendengar ucapan itu, Jasmine pun langsung menghentikan langkahnya dan selama beberapa saat ia hanya terdiam mematung setalah mendengar ucapan itu. Ia pun kembali berjalan setalah beberapa saat diam.
Ayan pun pergi ke kamar mandi untuk menganti pakaiannya.
****
Di dapur terlihat Jasmine tengah membuatkan minum untuk Ayan, agar mengurangi rasa dingin yang di rasakan oleh dirinya. Beberapa saat kemudian, terlihat Ayan keluar dari kamar mandi dengan menggunakan pakaian yang di pakai oleh Firman. Ia terlihat sangat gagah dan terlihat sangat tampan.
Di saat bersamaan, teh yang di buat oleh Jasmine untuk Ayan sudah siap. Ia pun mengambil nampan yang berada tidak jauh dari dekatnya. Saat itu Ayan masih berdiri di depan pintu, untuk menunggu Jasmine melihat tampilan nya setelah ia memakai pakaian yang ia dapat dari Jasmine.
Saat itu Jasmine masih sibuk dengan minuman yang akan di berikan kepada Ayan, hingga dirinya masih tidak mempedulikan Ayan. Saat minuman sudah benar benar siap, dan akan di berikan kepada Ayan. Ia berbalik dengan membawa nampan makanan yang berisi dua gelas teh hangat untuk mereka berdua. Ketika ia sudah berbalik, ia terlihat terkejut melihat Ayan. Ia benar benar tidak bisa berkata kata, matanya terbuka lebar.
Tiba tiba sekilas bayangan tentang laki laki yang pernah ia cintai di masa lalu kembali muncul, ketika ia melihat Ayan. Menyadari hal itu, Jasmine pun langsung menundukkan kepalanya dan ia berjalan menuju ke sofa yang ada di ruang tamu.
Melihat hal itu, Ayan pun berjalan perlahan mendekati Jasmine yang saat itu duduk di sofa dengan seolah olah tidak peduli dengan Ayan.
"Bagaimana menurut kamu?" tanya Ayan kepada Jasmine yang saat itu sudah berada di hadapan Jasmine. Jasmine yang mendengar pertanyaan itu ia langsung menaruh gelas yang ia pegang dan ia meletakan nya di atas meja.
"Bagaimana apanya? Semuanya sama tidak ada yang berbeda," jawab Jasmine lalu ia bangun dari duduknya dan berusaha menghindar dari Ayan. Namun, ketika Jasmine baru melangkah kan kaki beberapa langkah. Ayan menghentikan Jasmine dengan memegangi salah satu tangan Jasmine.
"Bukan itu yang aku maksud, bagaimana dengan tampilan ku?" tanya Ayan setalah ia memegangi salah satu tangan Jasmine.
Mendengar pertanyaan itu, Jasmine pun berbalik dan melihat ke arah Ayan. Dan dengan perlahan, ia melepaskan tangan Ayan yang memegangi tangannya. Ia kemudian berdiri di hadapan Ayan dengan tatapan mata melihat ke mata Ayan.
"Kamu ingin tahu, penampilan kamu menurut ku.... Kamu seperti orang yang aku cintai, kamu bahagia sekarang sudah tahu pendapat ku?" jawab Jasmine lalu ia kembali berbalik, namun lagi lagi Ayan menghentikan Jasmine namun saat itu ia menghentikan Jasmine dengan sebuah ucapan yang membuat Jasmine selalu terngiang sepanjang waktu.
"Kalau menurut kamu aku adalah bayangan dari orang di masalalu mu, maka lebih baik... " ucap Ayan dengan baik lalu ia berhenti berbicara selama beberapa detik, ia kemudian berjalan mendekati Jasmine yang saat itu sudah berdiri di hadapan nya. Setelah itu ia melanjutkan "lebih baik aku tengelam dalam sungai air mata, kamu mengerti."
Mendengar ucapan itu, Jasmine kembali mengingat tentang Ijaz yang melakukan bunuh diri di hari pernikahan nya dengan Firman dengan cara menceburkan diri ke sungai.
Setalah mengingat hal itu lagi, Jasmine seketika kembali bersedia matanya berkaca kaca dengan tangan buah yang mulai bergetar tidak tentu. Dengan penuh kemarahan dan kesedihan, ia menarik kerah pakaian Ayan dan ia menarik Ayan hingga dia dekat dengan Jasmine.
"Dengarkan aku, sudah cukup. Sudah cukup kamu mengingatkan aku tentang penantian di masa lalu. Aku berusaha untuk menutupnya rapat rapat, tapi kenapa? Kenapa kamu selalu mengingat aku tentang hal itu?" jawab Jasmine dengan sedih dan berbicara kepada Ayan dengan nada tinggi.
__ADS_1
Ia kemudian melepaskan kerah Ayan dengan sedikit memberi dorong kepada Ayan hingga Ayan terdorong beberapa langkah dari hadapan Jasmine.
Ia kemudian menjauhi Ayan dengan raut muka marah dan kesal, namun ia kembali lagi ke hadapan Ayan. Ketika ia sudah berdiri di hadapan Ayan, ia menghapus air matanya yang mengalir membasahi pipinya.
"Siapa sebenarnya kamu? Dan kenapa kamu hadir di hidup ku dengan wajah yang sama seperti Ijaz?" tanya Jasmine dengan nada serius dan sedih yang bercampur menjadi satu. "Kamu hadir di hidup ku dan datang menghancurkan semuanya lagi, sesungguhnya kamu itu Ayan atau Ijaz? Kamu itu penyembuh atau penghianat?"
Mendengar setiap ucapan yang di ucapkan oleh Jasmine, Ayan terlihat sedih dan matanya terlihat berkaca kaca.
"Aku ingin menjadi penyembuh, tapi aku bukan obat dari luka kamu!" jawab Ayan dengan sedih dan ia berusaha untuk menenangkan Jasmine, namun saat itu Jasmine sudah terlihat tidak terkendali. Ia terlihat tidak bisa mengontrol emosi nya dan dirinya mengusir Ayan dari rumah nya dalam keadaan saat itu di luar rumah masih hujan deras. Ayan yang melihat sikap Jasmine seperti itu lagi, Ayan berusaha untuk minta maaf namun apa lah daya Jasmine sudah cukup kecewa dengan Ayan, ia benar benar tidak ingin membukakan pintu untuk Ayan walaupun Ayan sudah menggedor gedor meminta Jasmine untuk membuka kan pintu.
"Jasmine, maafkan aku. Aku sungguh sungguh minta maaf dengan kamu. Tolong, buka pintu nya," ucap Ayan dengan sedih dan berurai air mata di depan pintu. Ia kemudian menyenderkan tubuhnya dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.
"Maaf kan aku Jasmine," ucap Ayan dengan lirih dan sedih sambil terduduk di depan pintu dengan menyandarkan tubuhnya ke pintu. Di sisi lain pintu yang di sandari oleh Ayan, Jasmine juga terlihat menangis dengan bersandar di pintu itu.
"Air mata kini menetes lagi, kesedihan kembali terjadi. Harapan ku sudah berakhir, kini hanya kesedihan atas penantian di masa yang akan datang. Entah, akan kah aku bisa menjalani kehidupan ini dengan arti sebuah mimpi atau aku harus berhenti di titik yang sama dengan bayangan luka yang tak pernah sirna."
Ucap Jasmine di dalam hatinya dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.
****
Beberapa saat kemudian terlihat Ayan berada di rumahnya dengan keadaan tubuh yang basah kuyup dan pandangan mata yang kosong. Ia kemudian mengetuk pintu rumah besar itu, tak berselang lama sepasang kekasih yang sudah paruh baya keluar dari rumah setelah mendengar seseorang mengetuk pintu rumah nya.
Saat itu di setiap langkah yang di ambil oleh Ayan, ia selalu ingat dengan kesedihan yang di rasakan oleh Jasmine ketika ia mengingatkan tentang masa lalunya.
"Ada apa Ayan?" tanya seorang wanita paruh baya setelah ia membuka pintu rumah untuk Ayan. Namun, saat itu Ayan masih tidak menjawab pertanyaan dari wanita itu, ia hanya berjalan ke kamarnya dengan harapan yang kosong.
Menyadari ada yang aneh dengan Ayan, wanita paruh baya itu mengejar Ayan dan berusaha untuk menghentikan Ayan, namun karena saat itu laki laki paruh baya yang tidak lain adalah saudagar itu menyadari kalau ada kesedihan di dalam hati Ayan. Ia pun menghentikan istrinya, agar tidak terus mengejar Ayan.
Menyadari larangan itu, Ibu Ayan pun menghentikan langkahnya dengan sedih melihat keadaan Ayan yang datang ke kamarnya dengan melamun.
****
Di dalam kamarnya, dengan tatapan mata yang masih kosong Ayan masuk, Ayan berjalan perlahan untuk menghampiri cermin yang berdiri kokoh di hadapannya.
Saat itu air mata Ayan terus berderai membasahi matanya, teriakan demi teriakan di lontarkan nya atas semua yang ia lakukan. Ia sangat sedih dengan sikap Jasmine yang mengusir dirinya.
Mendengar setiap teriakan yang di lontarkan Ayan di dalam kamarnya, Ibu Ayan yang saat itu juga sedih langsung melepaskan tangan suaminya dan menghampiri kamar Ayan dan menanyai hal yang terjadi kepada Ayan.
"Ayan, ada apa?" tanya Ibu Ayan dengan mengetuk ketuk pintu kamar Ayan, namun saat itu Ayan masih tidak memberi respon kepada ibunya.
__ADS_1
Melihat hal itu, Ibu Ayan terus berusaha untuk membuka pintu kamarnya dengan menggerakkan gerakan gagang pintu, namun saat itu pintu terkunci dari dalam.
"Ayan, buka Ayan. Ibu mohon, kamu buka pintu," ucap Ibu Ayan dengan kembali menggedor-gedor pintu agar Ayan membuka pintu. Namun, masih saja Ayan masih belum membuka pintu kamarnya.
Melihat hal itu, Ayah Ayan yang saat itu diam saja menghampiri pintu kamar Ayan dan dia melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan oleh istrinya, namun saat itu Ayan masih saja tidak merespon. Perasaan sedih, panik dan cemas pun langsung di rasakan oleh Ibu Ayan.
Bruuuak.....
Suara pintu terdorong terdengar di dalam ruangan itu, saat itu Ayah Ayan memang mendobrak pintu agar pintu terbuka, ia melakukan hal itu karena ia khawatir dengan apa yang terjadi di dalam kamar Ayan.
Ketika pintu sudah terbuka, Ayan duduk di sudut kamar dengan sedih dan kepala yang terus menunduk dengan air mata yang berderai.
"Ada apa?" tanya Ibu Ayan setelah dirinya menghampiri Ayan dan membelai lembut kepala Ayan.
Melihat hal itu, Ayan pun melihat ke arah ibunya dengan air mata yang masih mengalir.
"Aku sudah menyakiti dia ibu, aku sudah melukai hatinya!" jawab Ayan dengan berderai air mata.
Mendengar ucapan itu, Ibu Ayan pun memeluk Ayan dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya. Saat itu, ia memeluk Ayan selama beberapa saat, tak berselang lama ia melepaskan pelukannya dan memegangi kedua pipi Ayan untuk menenangkan Ayan.
"Kamu tidak menyakiti siapa pun Ayan, Ibu yakin kalau Jasmine akan kembali ke dalam hidup kamu, ibu yakin hal itu," jawab Ibu Ayan untuk menenangkan Ayan, agar ia tidak semakin sedih.
Mendengar ucapan itu, Ayan pun mengangguk kan kepalanya. Namun, saat itu ia masih terlihat sedih di hadapan kedua orang tua nya.
Setelah mendengar ucapan itu, Ayan pun di ajak ibunya menunjuk ke tempat tidur agar ia pergi tidur, namun saat sebelum ia menyuruh Ayan untuk tidur. Ia meminta Ayan untuk menganti pakaiannya yang sudah basah kuyup.
Beberapa saat kemudian, Ayan keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang lebih kering. Ia kemudian pergi ke tempat tidur dan berbaring di atas tempat tidur dengan raut muka yang masih sedih. Melihat hal itu, Ibu Ayan berusaha untuk mengundurkan Ayan dengan membelai belai rambutnya dengan perlahan dan penuh dengan kasih sayang seorang ibu dan anak.
Ketika Ayan sudah tertidur, Ayah Ayan mengajak istrinya keluar dari kamar yang di tempati Ayan dan mengajak istrinya pergi ke kamar untuk berbicara tentang Ayan.
Tak menunggu lama, Ibu Ayan dan Ayah Ayan pun berada di dalam kamarnya. Saat itu mereka terlihat saling berdebat antara satu dengan yang lainnya.
"Kenapa kamu mengatakan kalau Jasmine akan kembali ke hidup Ayan? Kamu tahu, hal itu adalah hal yang mustahil bagi Jasmine, karena aku tahu ia hanya mencintai Firman. Ayan itu hanya perebut istri orang, dan dia hanya akan selalu menunggu kedatangan Jasmine, dia hanya akan menanti kehadiran nya!" ucap Ayah Ayan kepada istrinya dengan nada tegas dan bernada sedikit tinggi.
"Tidak, Ayan bukan lah perebut istri orang. Pa, aku merasa Ayan dan Jasmine sudah memiliki ikatan yang cukup lama, terutama...." jawab Ibu Ayan lalu ia diam saja dengan melihat ke arah suaminya.
Mendengar ucapan itu, Ayah Ayan pun langsung bergegas pergi dari kamar mereka, tanpa mengatakan sepatah katapun kepada istrinya yang mengatakan hal itu kepada dirinya.
Melihat kepergian suaminya, hati Ibu Ayan sangat sedih matanya meneteskan air mata, namun apalah daya. Ini adalah takdir anaknya untuk menjalani hal ini, maka ia harus menerimanya dengan lapang dada dan menerima keputusan akhir dari Tuhan atas hubungan anak anak mereka.
__ADS_1