Sebarkas Harapan Diatas Penantian

Sebarkas Harapan Diatas Penantian
29. Mengetahui dan kesedihan Firman


__ADS_3

Malam hari pun tiba, terlihat Samira tengah belajar di dalam kamarnya, melihat hal itu Ibu Ayan datang untuk membawakan susu dan makan malam untuk Samira.


Melihat kalau Ibu Ayan datang, Samira bangun dari duduknya dan menerima makanan yang di bawa oleh Ibu Ayan. Setalah menerima makanan itu, Samira meminta Ibu Ayan untuk duduk di atas tempat tidurnya. Menyadari hal itu ia terlihat kebingungan, namun saat itu ia menuruti apa yang di inginkan oleh Samira.


"Ada apa Samira?" tanya Ibu Ayan kepada Samira setalah ia mendudukkan Ibu Ayan di atas tempat tidurnya.


Saat itu Samira masih diam saya, ia hanya naik ke atas tempat tidur dan menidurkan kepalanya di atas kedua paha Ibu Ayan. Melihat hal itu, Ibu Ayan tersenyum dan matanya berkaca kaca dengan membelai halus rambut Samira ia berurai air mata.


"Samira, walaupun kamu bukan cucu kandung saya. Saya akan menyayangi kamu, bahkan ketika ibu kamu masih hidup. Hal itu saya lakukan karena saya sangat sayang dengan kamu dan ibu kamu. Apalagi, karena ibu kamu Ayan masih bisa berjalan, walaupun tidak adanya Jasmin!" ucap Ibu Ayan dengan sedih dan membelai halus kepala Samira seperti seorang nenek dan cucunya.


Saat mendengar perkataan itu Samira terlihat bersedih dan air matanya juga mengalir membasahi pipi. Namun, saat itu ia berusaha untuk menutupi kesedihan yang di rasakan nya di hadapan Ibu Ayan.


Setalah mengatakan hal itu, Ibu Ayan mulai menceritakan tentang pertemuan Ayan yang tak lain adalah Ijaz, ia menceritakan dengan sangat detail pertemuan mereka. Mendengar cerita kalau Ayan bukan lah anak kandung dari wanita yang tengah membelai rambutnya, wajah terkejut terlihat jelas di raut muka anak itu. Ia langsung bangun dari duduknya dan ia duduk di samping Ibu Ayan dengan terlihat heran.


"Oma, jadi maksudnya Om Ayan itu bukan anak Oma, dan berarti Om Ayan adalah Om Ijaz, laki laki yang pernah mengkhianati Mama demi wanita lain?!?!" ucap Samira dengan kebingungan. Melihat hal itu, Ibu Ayan pun juga terlihat terkejut, ia terlihat keheranan melihat ekspresi Samira yang tampak seperti seseorang yang tidak tahu sama sekali tentang Ayan.


"Apa Jasmin tidak pernah menceritakan kebenaran ini tenang kamu? Atau apakah Ayan juga tidak pernah mengatakan hal ini kepada kamu?" tanya Ibu Ayan dengan kebingungan.


Mendengar pertanyaan itu Samira menggelengkan kepalanya, lalu ia bangun dari duduknya untuk keluar dari kamar dan menghampiri Ayan yang saat itu tengah duduk di sofa bersama dengan ayahnya.


Ketika Samira sudah berada di dekat Ayan, Samira terlihat diam dengan memandang laki laki itu. Menyadari kalau Samira berada di sampingnya dengan bersikap aneh, Ayan pun melihat ke arah Samira dan ia bertanya kepada Samira tentang apa yang terjadi kepada dirinya.


Mendengar pertanyaan itu, Samira hanya diam dan terus memandang ke arah Ayan.


"Om Ijaz," ucap Samira dengan lirih untuk memanggil laki laki yang ada di hadapan nya.


Mendengar panggilan itu, Ayan terlihat sangat terkejut dan ia terlihat langsung terbangun dari duduknya dan menghampiri Samira, namun ketika Samira di dekati oleh Ayan, ia melangkah mundur menjauhi Ayan.


"Samira, maafkan Om. Om benar benar minta maaf dengan kamu, tolong jangan seperti ini!" pinta Ayan dengan sedih sambil mendekat ke arah Samira.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian Ibu Ayan datang, ia meminta agar Samira mendengar apa yang ingin di jelaskan oleh Ayan, namun saat itu ia tidak mendengar siapa pun. Ia hanya sedih kerana selama ini dia menyayangi orang yang pernah menyakiti ibunya.


"Kenapa Om tidak pernah menceritakan hal ini kepada Samira Om?" tanya Samira dengan berurai air mata kepada Samira.


"Samira, sebenarnya Om ingin menceritakan hal ini. Tapi, Ibu kamu melarang aku untuk memberi tahu kamu. Dia tidak ingin kalau kamu menjauhi aku, karena kebencian ini. Jika kamu tidak percaya kamu lihat video ini," ucap Ayan lalu ia mengeluarkan ponselnya yang ada di kantung celana nya dan kemudian ia memutar sebuah video yang berisi kan tentang ucapan Jasmin.


"Samira, Sayang ku. Maafkan Mama, karena Mama tidak bisa memberi tahu kamu secara langsung. Tapi, mungkin jika dengan kamu melihat video ini kamu melihat video ini kamu akan mengerti apa yang Mama inginkan.


Samira, Om Ayan adalah Om Ijaz, laki laki yang pernah Mama cintai dulu..." mendengar ucapan itu, Samira terlihat sangat terkejut dan tidak percaya dengan apa yang di buat oleh ibunya. Setalah itu Jasmin melanjutkan "Mama, tidak ingin kamu membenci dirinya. Mama ingin kamu tetap menyayangi dirinya walaupun kamu pasti tidak akan mudah menerima kalau Om Ayan adalah Om Ijaz. Mama, meminta Om Ayan menyembunyikan hal ini dari kamu karena Mama tidak mau, kalau kamu membenci Om Ayan. Apalagi kita tidak tahu berapa lama lagi umur Mama. Mama mohon dengan kamu, tolong kamu jangan pernah membenci Om Ayan, hal ini Mama lakukan karena menurut Mama laki laki yang terbaik di dalam hidup Mama adalah Om Ayan!."


Melihat Video itu, air mata Samira terlihat berderai membasahi pipi nya. Ia terlihat sedih atas apa yang sudah terjadi, lalu dengan langkah perlahan ia mendekati Ayan. Ketika ia sudah berada di dekat Ayan, ia memeluk erat Ayan, sambil menangis membanjiri pipinya.


Ia terus meminta maaf kepada Ayan karena ia sudah marah dengan Samira atas hal ini. Ayan yang menyadari hal itu, ia hanya membelai halus Samira seperti seorang ayah dan anak. Ia terlihat menenangkan Samira dengan membelai halus Samira yang menangis di pelukannya.


Melihat hal itu Ibu Ayan terlihat terharu dan sedih, setalah itu ia pergi meninggalkan kedua orang itu bersama begitu pula suaminya.


"Maafkan Om, karena sudah menyakiti kamu dengan tidak memberi tahu hal ini kepada kamu. Tapi, Om melakukan ini karena keinginan Mama kamu, ini bukan keinginan Om!" ucap Ayan dengan baik sambil melepaskan tangannya dari pelukan erat Samira.


Samira yang mendengar kan hal itu, ia hanya menganggukkan kepalanya dengan air mata yang masih mengalir.


Setalah melihat hal itu, Ayan meminta untuk Samira segera tidur namun tiba tiba suara ketukan pintu terdengar dari luar rumah. Lalu, terdengar secara samar samar suara seorang laki laki. Mendengar hal itu Ayan melepaskan Samira dan ia bangun dari duduknya untuk membuka pintu, ia terlihat heran karena melihat ada tamu di tengah malam seperti ini. Apalagi, di saat itu suasana di luar hujan turun dengan sangat beras.


Setalah Ayan berada di dekat pintu, ia membuka pintu, namun raut mukanya terlihat terkejut setalah apa yang di lihatnya di mana di saat itu ia melihat dengan keadaan basah kuyup. Pakaian yang lusuh dan tubuh yang menggigil Firman berdiri di depan rumah Ayan.


"Firman, ngapain kamu kemari malam malam seperti ini?" tanya Ayan kepada Firman.


"Ayan aku mohon izin kan aku bertemu dengan Samira," pinta Firman kepada Ayan dengan baik dan terdengar sangat  kedinginan di luar rumah.


Menyadari hal itu, Ayan sempat berpikir sejenak. Hal itu ia lakukan karena ia memikirkan Samira mau atau tidak bertemu dengan Firman. Melihat kalau Ayan terlalu lama membuka pintu, Samira pun akhirnya menghampiri Ayan dan melihat siapa tamu yang datang. Ketika ia sudah berada di dekat pintu raut mukanya terlihat terkejut karena ia melihat ayahnya berdiri di hadapan nya dengan keadaan basah kuyup dan tubuh yang menggigil kedinginan.

__ADS_1


"Papa," panggil Samira dengan perlahan dan terlihat terkejut. Ia kemudian terdiam selama beberapa saat sebelum ia mengajak Firman masuk ke dalam rumah Ayan. Ayan yang melihat Samira masih ingin bertemu dengan ayahnya, ia terlihat bahagia dan ia mengizinkan Samira untuk mengajak Firman masuk ke dalam rumah.


Saat itu terlihat Samira sangat khawatir dengan apa yang sudah terjadi, ia langsung mencari kan handuk untuk Firman dan ia terlihat sangat peduli dengan Firman. Di saat bersamaan dengan yang di lakukan oleh Samira, Ayan mengambilkan Firman pakaian nya agar dia pakai untuk ganti baju supaya tidak membuat tubuhnya semakin kedinginan. Akhirnya, Firman pun mengambil pakaian yang di bawa oleh Ayan, ia kemudian mengganti pakaian yang basah dengan memakai pakaian yang di dapat dari Ayan di kamar mandi. Ketika Ayan sudah mengambilkan pakaian untuk Firman di saat itu ia terlihat hanya diam saja.


Namun, lama kelamaan Samira menyadari kalau Ayan hanya diam saja setelah melihat kepedulian nya kepada Firman. Samira terlihat tidak enak dan dengan perlahan ia berubah sikap kepada Firman, ia mendekati Ayan dengan langkah perlahan.


Saat ia sudah berada di dekat Ayan, ia pun memanggil Ayan dengan sebutan Papa. Menyadari hal itu, Firman terlihat terkejut dan ia terlihat tidak bisa berkata kata mendengar anaknya memanggil orang lain dengan sebutan papa.


"Apa Papa marah dengan Samira, karena Samira bersikap peduli dengan Firman?" tanya Samira kepada Ayan dengan nada rendah dan tidak bisa berkata kata.


Ayan yang mendengar hal itu ia langsung terdiam, lalu ia mengerakkan tangannya ke arah pipi Samira dengan perlahan dan penuh dengan kasih sayang.


"Untuk apa Papa marah dengan kamu, kamu kan tidak membuat kesalahan apapun," jawab Ayan dengan baik. Ia kemudian berhenti beberapa saat dan melanjutkan berkata "papa justru semakin bahagia dengan sikap kamu, walaupun Firman memperlakukan kamu seperti itu tapi kamu tetap menyayangi dia. Papa bahagia dengan hal itu."


Samira yang mendengar hal itu ia hanya diam saja dengan ekspresi wajah yang terlihat bahagia. Di sisi lain, terlihat melihat kedekatan antara Ayan dengan anaknya membuat Firman cemburu, namun apa boleh buat ia merasa memang ia bukan lah ayah yang baik untuk Samira, dan selain itu ia juga merasa kalau Ayan lah ayah terbaik untuk Samira walaupun Ayan hanya lah ayah pengganti di dalam hidup Samira


Menyadari hal itu, Ayan meminta agar Samira untuk membuatkan teh kepada Firman, Samira yang mendengar ucapan itu ia terlihat sangat menuruti apa yang di inginkan oleh Ayan. Saat Samira sudah pergi ke dapur, dengan langkah perlahan, ia mendekati Firman. Ketika ia sudah berada di dekat Firman, Ayan melihat Firman dengan tatapan mata yang tajam.


"Kamu lihat tadi, walaupun dia sudah kamu sakiti dengan mengatakan kalau dia anak haram. Dia masih peduli dengan kamu, dia masih sayang dengan kamu. Apa kah setalah kamu mengatakan hal itu kamu menyesal? Apa kamu menyesal sekarang, kehilangan Jasmin dan sekarang Samira pun juga menjauh dari kamu," ucap Ayah dengan tegas kepada Firman yang berdiri di hadapan nya.


Saat itu Firman hanya diam mendengar apa yang di ucapkan oleh Ayan. Ia tidak dapat mengatakan sepatah katapun, ia hanya menunduk kan kepalanya dengan terlihat malu bercampur sedih.


"Aku harap, setelah kesempatan ini kamu tidak mengulangi apa yang kamu lakukan dulu!" lanjut Ayan dengan nada tegas dan tatapan mat yang tajam. Lalu, ia melihat Samira datang dengan membawa teh untuk Firman dan Ayan. Melihat hak itu, dengan langkah perlahan Ayan menjauhi Firman dan terlihat di saat itu Firman terlihat hanya diam saja dengan kepala yang terus menunduk.


Setalah semua hal itu terjadi, dengan sedih dan berurai air mata. Ia meminta maaf kepada Samira sang anak karena ia sudah mengatakan hal hal buruk kepada diri nya, Samira yang memiliki jiwa baik yang di ajarkan oleh ibunya, dengan air mata yang terus mengalir ia membasahi pipinya dan ia melihat ke arah ayahnya dengan air mata yang terus mengalir. Ia mengatakan kepada Firman kalau dirinya sudah memaafkan Firman, namun ia mengatakan kalau dirinya tidak bisa tinggal dengan Firman bukan karena sebab, hal itu ia lakukan karena setiap kali ia tinggal dengan Firman ia selalu merindukan ibunya yang mendampingi dirinya.


Mendengar ucapan itu, Firman tidak masalah dan dirinya tidak akan memaksa kepada anaknya. Ia akan mengizinkan anaknya untuk tinggal dengan Ayan selama ia mau, menyadari hal itu Samira mengira kalau Firman sudah berubah namun hal itu tidak benar, di mana sesungguhnya kebaikan nya dan sikap berubahnya memiliki tujuan untuk memisahkan Ayan dengan Samira dengan paksa.


Melihat ayahnya sudah berubah pelukan hangat pun di berikan Samira kepada Firman, saat itu terlihat Ayan atau Samira tidak curiga sedikit pun. Ayan mengira kalau Firman memang sudah mendapatkan pencerahan di mana dirinya sudah berubah setalah kejadian yang terjadi hari ini. Di saat itu, Ayan yang melihat hal itu ia hanya tersenyum, ia bahagia karena Samira dan Firman sudah berbaik dan mereka tidak saling menyakiti satu dengan yang lainnya.

__ADS_1


__ADS_2