
Waktu berlalu begitu cepat, saat itu terlihat dengan bahagia dan senyum di bibirnya. Samira tengah berdiri di luar rumah dan bersiap untuk pergi ke sekolah. Saat itu tidak hanya Samira, Firman dan Jasmin pun juga berdiri di luar rumah. Saat itu Jasmine melihat kepergian mereka berdua.
Ketika Samira dengan berpamitan dengan ibunya, Ayan datang ke rumah Jasmine dengan membawa sebuah mobil berwarna hitam untuk mengantarkan Samira pergi ke sekolahan, namun saat itu ia menyadari kalau Samira di antarkan oleh Firman.
"Ayan," panggil Jasmin setelah ia melihat kedatangan Ayan yang secara tiba tiba ke rumahnya. "Ada apa kamu datang ke sini pagi sekali?"
"Sebenarnya aku ingin mengantar kam Samira ke sekolahan Jasmin, tapi... Seperti dia akan di antarkan oleh Firman!" jawab Ayan dengan baik, namun saat itu terlihat pandangan matanya terlihat meredup setalah mengatakan hal itu. Ia terlihat menundukkan kepalanya selama beberapa saat.
"Iya Ayan, Samira memang ingin di antar oleh Mas Firman," jawab Jasmine dengan nada baik.
Mendengar ucapan itu Ayan pun hanya menganggukkan kepalanya sebagai tanda ia mengerti dan paham apa yang di ucapakan oleh Jasmin. Menyadari hal itu, Ayan pun menyingkir dari jalan Firman yang ia halangi.
Firman dan Samira pun masuk kedalam mobilnya dengan bahagia, setalah itu ia melambaikan tangan nya kepada Jasmine dan Ayan dengan terlihat sangat bahagia. Melihat hal itu, Jasmine pun juga membalas lambaian tangan Samira dan ia tersenyum kepada Samira yang sudah berada didalam mobil. Berbeda dengan Jasmin yang terlihat bahagia, Ayan justru terlihat sedih dengan apa yang di lihatnya.
Menyadari kesedihan Ayan, Firman meminta untuk Samira tidak berlama lama melambaikan tangannya kepada ibunya, dengan memberi alasan kalau dia akan terlambat jika terlalu lama melambaikan tangan nya kepada ibunya. Samira yang mendengar ucapan itu, ia pun langsung masuk ke dalam mobil dan tak berselang lama Firman pun melajukan mobilnya meninggalkan rumah Jasmin.
Ketika Samira dan Firman sudah pergi, ia menghampiri Ayan yang berdiri di dekatnya. Saat itu, Jasmine mengajak Ayan masuk ke dalam rumah namun ia menolaknya dan lebih memilih untuk bergegas pergi dari rumah Jasmine.
Menyadari kalau Ayan pergi dari rumahnya dengan bergegas bahkan tidak berpamitan kepada dirinya. Jasmin menyadari kalau Ayan sebenernya sedih dengan sikap Samira yang terlihat tidak peduli dengan dirinya dan lebih memilih untuk lebih sayang dengan ayahnya.
Beberapa saat kemudian, di jalan Ayan terlihat melajukan mobilnya dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya. Tak berselang lama, Ayan menghentikan di tepi jalan dengan air mata yang benar benar menetes membasahi pipinya.
"Aaaaa" teriak Ayan dengan memukul mukul alat kemudi dengan kasar, sedih dan kecewa menjadi satu dalam hatinya. Setelah beberapa kali memukul mukul alat kemudian, Ayan menyandarkan kepalanya di alat kemudian dengan air mata terus berderai.
"Aku mohon, aku mohon kamu jangan pergi dari hidup ku, cukup ibu kamu yang tidak bisa menerima kehadiran ku. Kamu jangan pergi juga," ucap Ayan dengan sedih lalu ia kembali memukul alat kemudi dengan sangat keras dan tanpa mempedulikan rasa sakit yang di akibatkan oleh pukulan tangan nya.
****
Di rumah Jasmin, terlihat Jasmin tengah duduk di depan sebuah cermin yang berada di dalam kamarnya dengan raut muka sedih dan saat itu ia memegangi pena yang berada di atas meja riasnya dengan buku berwarna coklat berada di bawa pena itu.
Harapan adalah sebuah arti mimpi indah dalam hati yang akan berubah manis atau pun pahit, namun harapan juga memberi arti segala sesuatu tidak akan indah untuk waktu yang lama. Mungkin, kamu berharap bisa memiliki dirinya namun harapan itu tidak akan mungkin terjadi atau bisa juga terjadi. Sesungguhnya harapan ku itu hanya satu, menemuka cinta untuk selamanya. Namun kenapa? Kenapa takdir selalu membuatku bingung dengan harapan ku sendiri dan perasaan itu juga membuat ku bingung.
Aku merasa berharap dia menjadi milik ku, namun ada kebencian hati yang membuat aku tidak bisa menahan air mata ini. Apa maksudnya semua ini? Apakah aku harus mencintai dia dalam air mata, atau... Atau apa yang sebenarnya di inginkan oleh takdir di dalam hidup ku....
__ADS_1
Kenapa ada kebingungan hari atas harapan ini....
Tulisan Jasmin lembaran buku yang berada di dalam hatinya, ketika ia menulis setiap kata yang ada di buku itu. Jasmin mengingat Firman dan yang di waktu yang secara bersamaan. Ia mengingat kenangan saat berasa dengan Ayan di waktu kehujanan dan di waktu mesra yang lainnya. Selain itu, Jasmin juga mengingat ketika ia bersama dengan Firman dan terlihat sangat bahagia.
Waktu itu, ada kegamangan hati yang sangat ia rasakan dalam hatinya. Ia bingung untuk menentukan siapa orang yang ia cintai dan siapa orang yang ia butuhkan. Karena ia merasa ketika bersama mereka berdua ada ketidaknyamanan yang ia rasakan dalam hatinya.
Beberapa saat kemudian, Firman dan Samira sampai di sekolahan. Waktu itu, terlihat seorang guru tengah menyambut kedatangan siswa dan siswi yang saat itu baru datang ke sekolahan.
Pada awalnya kedatangan Firman terlihat bahagia, namun keadaan berubah ketika ia sudah sampai di depan sekolahan dan ia bertemu dengan guru yang menyambut dirinya.
Saat itu Firman ingin membuka pintu untuk Samira, namun langkahnya terhenti ketika ia melihat kalau guru yang menyambut para murid adalah Nova, wanita yang pernah hadir di dalam hidup nya. Saat itu Firman terlihat sangat terkejut melihat penampilan Nova, ia tidak bisa berkata kata dengan apa yang di lihatnya. Bahkan, Samira yang turun dari mobil dengan sendiri dan menghampiri Firman, Firman terlihat tidak menyadari nya. Hal itu terjadi karena tatapan matanya yang terus melihat ke arah Nova, yang pada saat itu dirinya masih belum mengetahui kehadiran Firman.
"Papa," panggil Samira kepada Firman yang saat itu tengah melamun. Mendengar panggilan itu, Firman pun langsung memecah lamunannya dan melihat ke arah Samira, begitu pula Nova. Nova yang melihat kehadiran Firman, ia pun juga hanya diam dengan pandangan mata yang terus melihat ke arah Firman.
Menyadari kalau Nova sudah mengetahui kehadiran nya, Samira pun menarik Firman dan memperkenalkan guru baru yang baru beberapa hari ini bekerja di sekolahnya.
Setalah memperkenalkan Firman dengan Nova, Samira langsung bergegas masuk ke dalam sekolah untuk mengikuti pelajaran. Setelah Samira pergi, pandangan mata Firman masih terlihat tidak percaya karena ia kembali bertemu dengan Nova lagi. Begitu pula Nova yang juga terlihat tidak percaya dengan apa yang takdir lakukan dengan dirinya dan Firman.
Waktu berlalu begitu cepat, bel sekolah sudah berbunyi. Tanda pelajaran sudah berakhir sudah terdengar, raut muka bahagia tergambar jelas di raut muka murid murid nya. Namun saat itu, Nova tidak berfokus kepada semua murid nya. Ia hanya berfokus kepada Samira, gadis kecil yang tak lain adalah anak dari Jasmin.
Saat itu, Samira terlihat sudah berada di luar kelasnya. Ia terlihat menunggu kedatangan ibunya yang menjemput dirinya, ketika ia tengah menunggu ibunya, Nova menghampiri dirinya dan berusaha untuk bertanya kepada Samira tentang Firman. Sebenarnya, waktu itu Jasmin tidak mengetahui kalau Nova adalah guru dari Samira, hal itu terjadi kerena selama beberapa hari ini orang yang menjemput dan mengantar Samira adalah Ayan.
Ketika Nova ingin bertanya kepada Sakura tentang Firman, kedatangan Jasmin sangat tepat di waktu ketika Nova akan mengatakan pertanyaannya. Melihat ibunya sudah hadir, Samira pun memanggil ibunya dengan penuh kasih sayang dari bibir kecilnya. Setelah memanggil ibunya, Samira bergegas berlari dan meninggalkan Nova. Nova yang melihat hal itu ia pun kembali berdiri dengan tegak dan melihat ke arah Samira dan Jasmin.
Melihat kalau guru yang mengajar Samira adalah orang yang pernah berada di masalalu Jasmine, tatapan mata Jasmine terlihat tidak berkedip sekali pun. Berbeda dengan Jasmin, Nova justru terlihat sedih dengan pertemuan mereka secar langsung.
Waktu itu Jasmin melihat ke arah guru itu selama beberapa saat, berdiri di hadapan nya. Saat itu matanya tiba tiba berkaca kaca setelah melihat guru yang ada di depan nya. Tidak hanya Jasmin yang tampak sedih, guru yang berada di hadapannya pun juga terlihat sedih.
Melihat hal itu, Jasmin pun bergegas pergi dengan Samira, saat itu Nova berusaha untuk menghentikan Jasmin, namun ia tahu kalau Jasmin tidak akan mungkin menuruti apa yang di inginkan oleh Nova.
****
Di rumah Jasmin, terlihat Jasmin tengah duduk di sofa. Sedangkan Samira berada di dalam kamarnya.
__ADS_1
Tak berselang lama, terdengar suara bel rumah berbunyi. Mendengar hal itu, Jasmin pun menghampiri pintu dan membuka pintu. Saat ia sudah membuka pintu rumahnya, ia melihat Ayan berdiri di depan pintu dengan membawa sebuah boneka dan coklat.
Saat itu tujuan Ayan datang ke rumah Jasmin untuk bertemu dengan Samira, melihat hal itu Jasmin pun mengizinkan Ayan untuk masuk ke dalam rumah dan bertemu dengan Samira.
"Samira di mana?" tanya Ayan setalah ia masuk ke dalam rumah.
"Dia ada di kamarnya," jawab Jasmin dengan baik dan setalah itu ia memanggil Samira di dalam kamarnya. Jasmin meminta agar ia menemui Ayan, Samira yang mendengar kedatangan Ayan. Ia tampak sangat bahagia dan ia bergegas keluar dari kamarnya.
Beberapa saat kemudian, Samira langsung memeluk Ayan setalah ia menghampiri Ayan dengan berlari. Ia dan Ayan terlihat sangat bahagia karena mereka bertemu lagi. Melihat hal itu, Jasmin pun hanya diam saja dengan raut muka yang terlihat bahagia melihat kebahagian mereka berdua.
Setalah itu, Jasmin pergi ke dapur untuk membuat teh untuk Ayan, ketika ia tengah membuatkan kopi untuk Ayan, bel rumah kembali berbunyi. Mendengar hal itu, Jasmin pun bergegas menghampiri pintu setalah ia memberikan teh yang ia buat untuk Ayan di atas meja.
Ketika ia sudah berada di dekat pintu ia terlihat meminta orang yang mengetuk pintu itu menunggu sebentar agar ia membuka kunci rumah, namun saat pintu sudah terbuka raut muka terkejut terlihat di raut muka Jasmin. Saat itu Ayan dan Samira tidak menyadari dengan apa yang terjadi kepada Jasmin.
Setelah beberapa saat terdiam dengan raut muka terkejut, Jasmin pun keluar dari rumah dan menutup rapat rapat pintu rumahnya.
"Ada apa kamu kemari? Dan dari mana kamu mendapatkan alamat rumah ku?" tanya Jasmin kepada wanita yang berdiri di hadapannya dengan nada serius dan tegas.
Melihat hal itu, wanita itu terlihat hanya diam. Dia adalah Nova guru yang ia temui di sekolah Samira.
"Maafkan aku Jasmin, aku datang kemari ingin meminta maaf kepada kamu atas kejadian di masalalu," ucap Nova dengan raut muka yang terlihat sedih dan mata yang di penuhi oleh air mata.
Mendengar ucapan itu, Jasmin pun meninggikan kepalanya dengan mata yang juga berkaca kaca. Ia kemudian menghela nafas perlahan, setalah itu ia mengajak Nova menjauhi rumah agar Samira tidak mengetahui kedatangan dari Nova. Melihat hal itu, Nova hanya sedih dan ia berusaha untuk menghentikan Jasmin.
Ketika Jasmin merasa kalau ia dan Nova sudah jauh dari rumah, Jasmin melepaskan tangan Nova yang ia pegangi.
"Dengar kan aku, aku sudah memaafkan kamu. Tapi aku minta sama kamu, tolong kamu jangan datang kemari. Karena aku tidak mau jika Samira tahu tentang apa hubungan kamu dengan ayahnya atau masalah di masalalu kita. Aku hanya minta, kamu menjadi guru yang baik untuk anak ku. Itu saja," ucap Jasmin dengan tegas kepada Nova yang saat itu terlihat sedih dan terlihat menyesal atas apa yang sudah ia lakukan di masalalu nya.
"Aku hanya ingin meminta maaf dengan kamu, " jawab Nova dengan sedih.
"Aku memaafkan kamu, tapi aku minta, jangan datang lagi ke rumah ku!. Sekarang aku kamu pergi, pergi dari rumah ku!.
Saat itu Jasmin terlihat dengan tegas mengusir Nova, Nova yang menyadari hal itu. Ia pun hanya diam dan menuruti perintah Jasmin yang meminta ia pergi, tanpa berkata kata ia pun pergi. Melihat Nova sudah pergi, Jasmin pun langsung bergegas masuk ke dalam rumah dengan raut muka yang terlihat seperti orang yang tengah berpikir. Saat itu ia memang berpikir, ia berpikir tentang kedatangan Nova yang secara tiba tiba ke rumahnya.
__ADS_1