Sebarkas Harapan Diatas Penantian

Sebarkas Harapan Diatas Penantian
Ijaz mulai menyadari pentingnya Jasmine di hidupnya


__ADS_3

Waktu itu, hari terlihat sudah malam Ijaz terlihat duduk di atas tempat tidur dengan memegangi ponselnya. Ia berusaha menghubungi Anjani namun saat itu nomor Anjani mati dan ia tidak bisa di hubungi. Menyadari hal itu, Ijaz pun mulai bangun dari tempat tidurnya dan ingin mencari tahu keberadaan Anjani. Saat ia melewati meja di dekat pintu, ia melihat buku yang dia berikan kepada Jasmine. Saat itu, Ijaz yang ingin pergi tiba tiba berhenti dan mengambil buku itu. Ia kemudian kembali duduk di atas tempat tidur dengan membaca buku itu.


Saat ia melihat buku itu, matanya tiba tiba berkaca kaca. Ia sedih namun ia tidak tahu apa yang membuat dirinya merasakan hal itu.


"Kenapa aku sedih melihat buku yang terbakar ini? Kenapa?" tanya Ijaz dengan sedih kepada dirinya sendiri. Ia kemudian menghapus air matanya dan membuat satu persatu dan membaca setiap halaman dengan baik.


Setelah membaca satu demi satu halaman di buku itu, Ijaz mulai berkaca kaca kembali. Hal itu karena ia mulai menyadari perasaan cinta Jasmine kepada dirinya sangat tulus. Ijaz mengetahui semua itu dari setiap harapan yang Jasmine tulis di buku itu.


Beberapa saat kemudian, saat Ijaz tengah sibuk membaca buku itu Ibu Ijaz masuk ke dalam kamar Ijaz dengan membawa sebuah nampan makanan.


"Ijaz, kamu makan ya," tawar Ibu Ijaz kepada Ijaz setelah berada di dalam kamar Ijaz. Saat itu Ijaz menolak makan dengan beralasan kalau ia masih kenyang. Melihat Ijaz berbohong kepada dirinya, Ibunya menaruh nampan itu di dekat meja yang terletak tidak jauh dari dirinya. Setelah itu, ia duduk di samping Ijaz karena ia menyadari kalau Ijaz tengah membaca buku yang ia berikan kepada Jasmine.


"Ini buku apa Ijaz?" tanya Ibunya setelah duduk di samping Ijaz.


"Bukan apa apa Ma," jawab Ijaz dengan tetap fokus membaca buku itu dan menyembunyikan air matanya dari Ibunya.


Saat itu, Ibu Ijaz melihat ke arah cover buku yang terbakar itu. Ia menyadari judul buku itu adalah buku dari Jasmine.


"Apa itu buku dari Jasmine?" ucap Ibunya.

__ADS_1


Mendengar hal itu, Ijaz langsung melihat ke arah Ibunya dan ia tiba tiba menyandarkan kepalanya ke bahu Jasmine dengan sedih. Ia kemudian menutup buku itu dan menangis di bahu Ibunya.


"Ma, apa aku salah sudah menyakiti Jasmine? Maksud ku, cinta ku kepada Jasmine hanyalah cinta masa kecil bukan cinta ku yang tulus. Tapi kenapa? Kenapa saat aku kehilangan dia hati ku seperti merasa bingung? Terutama, saat dia membakar buku ini!" ucap Ijaz dengan menyenderkan kepalanya di bahu Ibunya.


"Kamu salah menyakiti Jasmine, walaupun Ibu tidak tahu apapun tentang kehidupan kamu di masa lalu. Tapi Ibu tahu, cinta Jasmine itu sangat tulus buat kamu. Ibu bisa melihat dari matanya, kalau kamu tanya ke Mama. Ma, apakah aku salah menyakiti Jasmine? Jawaban Mama kamu salah besar!" ujar Ibu Ijaz dengan sedih melihat keadaan anaknya seperti kehilangan arah.


"Kini Mama, minta sama kamu. Sadari cinta Jasmine, karena Ibu melihat ketulusan yang sangat luar biasa di hati Jasmine!."


Mendengar hal itu, Ijaz menjauhkan kepalanya dari bahu Ibunya. Ia kemudian melihat ke arah buku itu dengan mata yang penuh dengan air mata.


"Apakah jika aku kembali ke Jasmine dia akan memaafkan aku?" tanya Ijaz dengan melihat ke arah buku yang sudah terbakar di beberapa bagian.


"Cobalah dulu, jangan pernah berhenti mencobanya!" jawab Ibu Ijaz lalu ia bangun dari tempat tidur Ijaz dan meninggalkan Ijaz.


Beberapa saat kemudian, Ijaz terlihat keluar dari kamar berniat untuk meminta maaf kepada Jasmine dengan tulus. Tapi, saat ia tengah berada di halaman rumah Anjani terlihat sudah berdiri dengan Ibu Ijaz. Melihat hal itu, Ijaz pun perlahan keluar dari rumah dengan raut muka yang heran saat melihat kedatangan Anjani.


"Anjani, kenapa kamu kemari?" tanya Ijaz dengan tidak peduli kepada Anjani setelah menyadari kalau wanita yang paling penting di hidupnya adalah Jasmine.


Saat itu, Anjani hanya terlihat diam. Tak berselang lama, ia pandangannya berubah saat ia melihat ke arah buku yang sama persis seperti buku yang di bakar oleh Jasmine.

__ADS_1


"Tante, saya minta izin sama Tante!. Saya ingin ambil salah satu barang saya yang tertinggal di kamar tamu," ucap Anjani dengan baik. Setelah itu, Ibu Ijaz mengizinkan Anjani masuk ke dalam rumah. Saat itu Ibu Ijaz meminta Ijaz menemani Anjani mencari barang yang di maksud di dalam kamar tamu.


Mendengar permintaan Ibunya Ijaz terlihat menurutinya, ia kemudian berjalan ke dalam kamar tamu secara bersamaan dengan Anjani. Saat mereka berada di dalam kamar, Anjani tiba tiba menghentikan langkahnya dan mulai bertindak aneh.


"Untuk apa kamu mengambil buku itu? Bukannya kamu sudah membuang buku itu dan menganggapnya sampah?" ucap Anjani lalu ia melihat ke arah Ijaz dengan tatapan mata yang serius.


"Aku hanya ingin meminta maaf kepada Jasmine!" jawab Ijaz.


"Apa kamu pikir, tindakan kamu, ucapan kamu dan semua yang kamu lakukan kepada Jasmine bisa begitu saja di maafkan. Tidak Ijaz, tidak!" jawab Anjani dengan tegas.


"Aku tahu, aku juga sadar. Apa yang aku lakukan kepada Jasmine sangat salah, maka dari itu aku ingin minta maaf kepada dirinya. Aku ingin meminta kesempatan kedua kepada dirinya," jawab Ijaz dengan tegas dan mulai bernada tinggi di hadapan Anjani.


"Apa kamu pikir? Setelah kamu sadar atas cinta Jasmine kepada kamu, dia akan menerima kamu ,menerima permintaan maaf kamu, dan dia memberi kesempatan kepada kamu. Jangan harap semua itu terjadi Ijaz, kalaupun terjadi aku percaya kamu sudah terlambat," jawab Anjani dengan nada serius dan menatap Ijaz dengan tatapan kekecewaan. Ia terlihat sangat marah dengan Ijaz dan tindakannya. Setelah itu, ia mengambil sebuah barang yang terletak di atas sebuah meja kecil di dekat tempat tidur. Saat ia sudah mengambil barang itu dan berjalan mendekat ke Ijaz, Anjani menghentikan langkahnya saat berada di dekat Ijaz lalu ia kembali menatap mata Ijaz dengan tajam dan serius.


"Ketika seorang wanita sudah terluka, maka belum tentu ada obatnya. Jadi jangan berharap banyak kepada Jasmine. Karena aku yakin, kesadaran kamu atas cinta Jasmine tidak akan bisa meluluhkan hati Jasmine!" ucap Anjani lalu ia mendorong Ijaz karena saat itu Ijaz terlihat sedikit menghalangi jalan Anjani. Anjani kemudian pergi meninggalkan Ijaz dan terlihat seperti tidak memperdulikan Ijaz lagi.


Mendengar perkataan dari Anjani, Ijaz terlihat sedih. Matanya tiba tiba berkaca-kaca, ia terlihat kembali bersedih.


"Aku hanya ingin meminta kesempatan kedua, apakah itu salah? Kenapa Tuhan? Kenapa ketika aku sudah menyadari rasa cinta Jasmine kepada ku, orang orang seakan ingin menjauhkan aku dari Jasmine? Kenapa?" ucap Ijaz dengan sedih. "Aku sadar aku salah, maka dari itu aku ingin meminta maaf dan meminta kesempatan kedua!."

__ADS_1


Setelah mengatakan itu, Ijaz menundukkan kepalanya. Dan, di saat bersamaan terlihat tangan Ijaz memegangi buku yang di bakar oleh Jasmine dengan sangat erat. Beberapa saat kemudian, ia pergi keluar dari kamar namun saat beberapa di luar kamar Ijaz kembali bertemu dengan Anjani. Namun, saat itu Anjani terlihat sedang bersiap untuk pulang. Melihat Ijaz keluar dari rumah, Anjani hanya terlihat memandangi Ijaz dengan tatapan mata yang serius. Melihat hal itu, Ijaz hanya terlihat diam dan sesekali membuang mukanya agar ia tidak melihat Anjani terus memandangi dirinya dengan penuh emosi.


Tak berselang lama, Anjani pergi meninggalkan Ijaz dan Ibunya dengan perasaan yang marah kepada Ijaz. Saat itu, Ijaz hanya terdiam dengan terus memandangi Anjani yang melangkah pergi.


__ADS_2