
Di rumah Jasmine, terlihat Firman dan Samira sudah menunggu kedatangan Jasmine di luar rumah. Hal itu terjadi karena saat itu, pintu rumah sedang di kunci dan Jasmine tidak ada di rumah.
Waktu itu, Samira dan Firman terlihat sangat kedinginan, tubuhnya terlihat menggigil. Melihat kalau Samira juga kedinginan, Firman pun berinisiatif untuk memeluk Samira agar mengurangi suhu dingin yang di rasakan oleh Samira.
Beberapa saat kemudian, Jasmine datang dengan basah kuyup dan pandangan mata yang kosong. Melihat hal itu, Firman pun melepas kan pelukannya kepada Samira dan ia berlari menuju ke Jasmine yang terlihat berjalan dengan melamun.
Ketika Firman sudah berada di hadapan Firman, Firman memegangi salah satu tangan Jasmine dan menarik Jasmine untuk berteduh. Menyadari kalau tangan nya di tarik oleh seseorang, Jasmine pun langsung tersadar dari lamunannya dan ia terlihat langsung memeluk Samira ketika ia menyadari kalau Samira tengah kedinginan di luar rumah. Saat ia memeluk erat Samira, Firman berusaha untuk membuka pintu dengan kunci yang di dapatkan dari Jasmin.
Ketika mereka sudah berada di dalam rumah. Samira duduk di sofa bersama dengan ayahnya, sedangkan Jasmine saat itu tengah membuatkan teh untuk mereka bertiga. Hari itu, hari sudah cukup larut malam, namun hujan masih saja tidak kunjung mereda. Samira yang menyadari hal itu meminta Firman untuk tetap tinggal di rumahnya.
"Papa, apa nanti Papa akan pulang ke rumah?" tanya Samira kepada ayahnya dengan sesekali melihat ke arah ayahnya.
"Tentu Samira, nanti kalau hujan nya reda pasti ayah akan pulang," jawab Firman kepada Samira dengan memeluk erat Samira dan di sertai sehelai selimut yang menutupi tubuh mereka.
Tak berselang lama, Jasmine pun sudah selesai membuatkan teh untuk mereka. Saat itu Jasmine memberikan teh itu dengan sebuah nampan berwarna coklat. Ia pun menaruh tiga gelas teh itu di atas meja yang ada di depan mereka.
Setelah menaruh teh berserta dengan nampannya di atas meja, Jasmine duduk di depan sofa yang berada di depan mereka berdua. Lalu dengan menyuguhkan teh yang di buatnya untuk Jasmine berbicara kepada Firman tentang hujan di malam itu.
"Mas, lebih baik malam ini Mas tidur di sini. Karena aku merasa hujannya tidak akan mereda, kalau pun mereda pasti itu sudah tengah malam," ucap Jasmine dengan memberikan teh kepada Firman lalu ia kembali duduk di kursi yang berada di depan kedua orang itu.
"Beneran Mama, Papa boleh tinggal di sini?" sahut Samira setelah ia menyadari kalau Jasmine mengizinkan Firman untuk menginap di rumah Jasmine di malam yang penuh air hujan.
"Iya, Mama serius dan tidak berbohong," jawab Jasmine dengan senyum di bibirnya. Melihat hal itu, Firman dan Samira terlihat sangat bahagia.
Tak berselang lama, Firman melihat ke arah Jasmine, Jasmine yang melihat hal itu juga membalas tatapan mata Firman. Ketika mereka berdua saling bertatap tatapan, tiba tiba mata Jasmine berkaca kaca. Hal itu terjadi kerana Jasmine mengingat kembali secara sekilas kejadian di masa lalunya ketika ia tangah mengandung Samira. Ia pun langsung menundukkan kepalanya ketika ia menyadari kalau setetes air mata nya mengalir membasahi pipinya.
Menyadari hal itu, Firman pun memalingkan wajahnya dan ia berusaha tetap tersenyum di hadapan anaknya.
Waktu berlalu begitu cepat, hari itu Samira sudah terlelap dalam tidurnya di pelukan sang ayah. Menyadari kalau Samira sudah tertidur, Jasmine pun meminta kalau Firman mengangkat Samira dan membawanya ke dalam kamar yang di tempati oleh Samira. Mendengar permintaan itu, Firman pun menuruti apa yang diinginkan oleh Jasmine dan membawa Samira ke dalam kamar.
Ketika Samira sudah berasa di dalam kamar, Jasmine dan Firman berjalan bersama keluar dari kamar dan duduk di sofa yang ia tempati beberapa saat lalu.
Saat mereka berdua sudah duduk di sofa yang saling berhadapan, selama beberapa saat mereka terdiam dan tidak membuka topik pembicaraan apapun.
"Terimakasih kamu sudah mengizinkan aku menginap di rumah kamu," ucap Firman untuk membuka topik pembicaraan setelah mereka berdua duduk saling berhadapan.
__ADS_1
Mendengar ucapan itu, Jasmine menghela nafas sejenak dan ia kemudian menjawab Firman dengan nada bicara yang baik.
"Tidak perlu berterima kasih, tidak papa. Lagian, kalau pun kita berpisah kamu kan pernah menjadi keluarga ku dan kalaupun kita berpisah, kita masih punya hubungan yaitu Samira!."
Mendengar ucapan dari Jasmine yang baik, Firman hanya tersenyum dan ia terlihat sangat bahagia dengan apa yang di ucapkan oleh Jasmine, namun saat itu senyumannya tidak terlihat tersenyum lepas, ia seperti menahan sesuatu yang membuat hatinya sedih.
Beberapa saat kemudian, Jasmine bangun dari duduknya dan ia ingin pergi ke kamarnya untuk mengambilkan selimut lagi untuk Firman. Namun, ketika Jasmine baru melangkahkan kakinya, Firman mengehentikan dirinya dan ia pun bangun dari duduknya dengan menghampiri Jasmine yang saat itu tengah berdiri tidak jauh dari dirinya.
"Apa kamu masih belum bisa memaafkan aku?" tanya Firman kepada Jasmine ketika ia sudah berdiri di hadapan Jasmine. Mendengar ucapan itu Jasmine pun hanya diam dengan seribu bahasa. Ia tidak bisa berkata kata dengan apa yang di ucapakan oleh Firman.
"Apakah aku harus menjawabnya? Ketika kamu saja sudah melihat, air mata ini menetes saat berhadapan dengan kamu," jawab Jasmine dengan mata yang berkaca kaca di hadapan Firman. Setelah itu, ia berhenti berbicara dengan mata yang melihat ke arah Firman, namun ia tidak mengatakan sepatah katapun kepada nya selama beberapa saat.
Mendengar jawaban dari Jasmine, Firman pun juga hanya diam saja dan ia tidak mengatakan sepatah katapun. Namun saat itu, pandangan matanya terus melihat ke arah Jasmine yang pergi untuk mengambil selimut tambah untuk Firman, sang mantan suami.
****
Keesokan harinya, rumah terlihat masih sepi, namun Firman sudah terbangun dari tidurnya. Ia kemudian melihat ke kamar Samira, saat itu terlihat Samira tengah terlelap dalam tertidur nya. Melihat hal itu, dengan perlahan Firman masuk ke dalam kamar Samira dan menghampiri Samira yang tengah tertidur.
Saat ia sudah berada dekat Samira, ia duduk di tempat tidur yang tersisa sedikit. Setalah ia sudah duduk di atas tempat tidur, Firman membelai Samira dengan penuh kasih sayang dengan air mata yang membasahi mata Firman.
Ketika mengatakan hal itu di dalam hatinya, tanpa di sadari oleh Firman air matanya menetes dan jatuh membasahi pipinya Samira. Samira yang menyadari hal itu, langsung terbangun dari tidurnya dan ia meraba pipinya yang terkena tetesan air mata dari mata Firman.
Menyadari kalau ayahnya meneteskan air mata, Samira melihat ke arah ayahnya dan bertanya kepada ayahnya mengapa ia menangis.
"Ayah menangis?" mendengar suara itu sontak Firman pun langsung menghapus air matanya dan ia melihat ke arah Samira dengan wajah yang terlihat tersenyum.
"Tidak, Ayah hanya terharu melihat anak ayah, terlelap dalam tidur malamnya," jawab Firman untuk menutupi kesedihan yang di rasakan oleh dirinya sendiri.
Setelah mendengar jawaban itu, Samira pun bangun dari tidurnya dan ia menyandarkan tubuhnya kepada dada ayahnya. Dengan raut muka yang terlihat sedikit sedih.
"Papa, apa Papa sedih karena Samira dekat dengan Om Ayan?" tanya Samira kepada Firman. Mendengar pertanyaan itu, Firman pun langsung terdiam dan tidak bisa berkata kata. Setalah itu ia tersenyum, dan kemudian ia mencium kening Samira sebagai tanda sayangnya kepada Samira.
"Untuk perasaan sedih? Seorang ayah pasti akan sedih Samira, jika anaknya dekat dengan orang lain. Tapi... Tidak seharusnya kamu menjauhi Om Ayan, kamu juga harus tetap menyayangi Om Ayan!."
Mendengar ucapan itu, Samira pun menjauhkan tubuhnya dari tubuh Firman. Setelah itu ia melihat ayahnya dengan tatapan mata yang terlihat sedih.
__ADS_1
"Papa... Samira ingin tanya dengan Papa. Sebenarnya Papa masih cinta dengan Mama atau tidak sih?" tanya Samira dengan tatapan mata yang memang terlihat sedih atas apa yang ia tanyakan kepada Firman.
Mendengar ucapan itu, Firman pun langsung terdiam selama beberapa saat dengan raut muka yang terlihat sedih dan berkaca kaca.
Menyadari kalau Firman sedih setalah mendengar pertanyaan nya Samira pun akhirnya memilih untuk meminta maaf kepada ayahnya karena sudah membuat sedih dirinya.
"Maafkan Samira Pa, karena Samira Papa jadi sedih!" ucap Samira dengan melihat ayahnya. Melihat anaknya yang sudah terlihat seperti orang dewasa, Firman pun memeluk Samira dengan sangat erat dengan memberi senyuman kecil di bibirnya. Menerima pelukan itu, Samira pun juga membalas pelukan ayahnya dan di pelukan ayahnya, entah apa yang membuat Samira sedih. Saat di peluk oleh Firman, mata Samira berkaca kaca seolah ingin menangis, namun saat itu derai air matanya masih dapat ia tahan.
Setelah selama beberapa saat berpelukan, Samira pun melepaskan pelukannya dari tubuh ayahnya. Melihat pelukan Samira sudah terlepas dari tubuhnya, Firman pun meminta Samira untuk segera bangun dari tidurnya dan segera menggosok gigi nya dan mencuci wajahnya ke dalam kamar mandi.
Samira yang penurut, akhirnya ia pun bangun dari tempat tidurnya dan pergi ke kamar mandi. Ketika Samira pergi ke kamar mandi, Firman pun keluar dari kamar Samira. Di saat ia sudah berada di luar kamar Samira, dengan masih menggunakan baju tidur, Jasmine keluar dari kamar nya dsn menghampiri Samira untuk membangunkan Samira untuk sekolah. Namun, saat itu Jasmine terlambat karena Firman sudah lebih
dulu pergi ke kamar Samira.
"Samira sudah bangun?" tanya Jasmin setalah ia mengetahui kalau Firman batu saja keluar dari kamar Samira.
Mendengar suara Jasmin, Firman pun terlihat diam selama beberapa saat dan saat itu ia tengah berdiri tepat di depan kamar Samira, setalah ia berhenti berbicara selama beberapa saat, Firman pun menjawab kalau Samira sudah bangun dari tidur nya dan sekarang tengah membasuh mukanya dan tengah menggosok giginya.
Jasmin yang mendengar ucapan itu, ia pun hanya diam dan pergi ke dapur untuk membuat teh dan sarapan untuk Samira dan orang orang yang lainnya.
Beberapa saat kemudian, Samira keluar dengan memakai seragam sekolah yang memang di pakai di hari itu. Ia kemudian menghampiri Firman yang saat itu itu ingin pergi dari rumah Jasmine.
"Papa, ingin mau pergi sekarang?" tanya Samira kepada Firman yang saat itu sudah merapikan selimut yang ia pakaian.
"Iya, Samira. Ayah harus pergi sekarang, Ayah harus pergi untuk kerja!" jawab Firman dengan mengusap usap kepala Samira yang saat itu berdiri di dekatnya.
Mendengar ucapan itu, Jasmine pun datang dengan membawa kan secangkir teh untuk Jasmine yang ia berikan kepada Firman. Saat itu Jasmine sudah mengganti pakaian saat sebelum memasak di dapur.
"Mas, apa Mas tidak mau menemani Samira sarapan dulu dan mengantarkan Samira ke sekolah ?" tanya Jasmine kepada Firman yang saat itu berdiri di hadapannya.
"Sebenernya aku mau mengantarkan Samira, tapi apa kamu mengizinkan aku mengantarkan Samira?" jawab Firman dengan nada baik dan terlihat tidak enak melihat Jasmine jika ia membawa Samira pergi tanpa mendapatkan izin.
"Mas, aku tidak papa kok. Asalkan, Mas tidak memisahkan aku, maka aku tidak akan melarang Samira untuk bertemu dengan Mas," jawab Jasmine dengan baik lalu terlihat senyuman kecil di bibir nya.
Mendengar jawaban itu, Samira dan Firman terlihat bahagia. Melihat hal itu, Jasmine pun hanya tersenyum dan ia tidak bisa berkata kata untuk mengungkapkan perasaan bahagianya melihat kebahagian kedua orang itu.
__ADS_1