
Beberapa hari berikutnya, terlihat Jasmine dan Ria tengah berada di dalam kelasnya. Saat itu mereka berdua tengah membicarakan tugas sekolah dan pertemuan Jasmine dengan Ijaz. Tak berselang lama, terlihat seorang laki laki yang sangat tampan, gagah dan berpenampilan alim mendekati Jasmine dan Ria. Dia adalah Firman, maha siswa yang baru pindah dari luar kota.
Saat itu Jasmine terlihat masih fokus dengan tugasnya sedangkan Ria terlihat memandangi laki laki itu tanpa berkedip sedikitpun.
"Permisi," ucap Firman dengan santun kepada Ria dan Jasmine.
"Ya ampun, kamu ganteng sekali!" jawab Ria dengan manja kepada laki laki yang ia belum kenal itu.
"Terimakasih," jawab Firman dengan baik dan sopan.
"Kamu apa apaan sih Ria, tidak sepatutnya wanita seperti itu kepada laki laki!" sahut Jasmine dengan tegas dan kesal melihat Ria bersikap manja kepada Firman.
"Tidak papa kok, aku tidak masalah," jawab Firman.
"Bagi kamu ini tidak masalah!. Tapi... Bagi ku ini adalah masalah, lagian, kamu itu kan alim. Lalu kenapa? Kenapa ketika ada wanita bersikap seperti itu kamu seakan tidak peduli dan semakin bahagia melihat sikap seperti itu?" ucap Jasmine dengan nada marah dan tegas kepada laki laki itu.
"Maaf, bukan seperti itu. Saya tidak ingin membuat kamu marah tapi saya hanya ingin berteman dengan Anda, karena saya tidak punya teman sama sekali di sini," jawab Firman dengan sedikit sedih karena membuat Jasmine marah dan murka. Ia hanya terlihat menundukkan kepalanya saat mengatakan hal itu.
"Tidak ada kata pertemanan antara wanita dan laki laki, saya minta kamu mengerti apa yang saya katakan!" jawab Jasmine dengan semakin tegas dengan mata yang melotot melihat ke arah Firman.
Melihat Jasmine sangat marah dengan laki laki itu Ria pun akhirnya meminta untuk Jasmine tenang dan tidak marah lagi. Ia juga meminta untuk laki laki itu pergi dari hadapannya. Hal itu ia lakukan karena ia tidak ingin perdebatan mereka semakin memanas. Firman pun akhirnya memilih untuk mengalah dan pergi namun saat Firman pergi menjauhi Jasmine dan Ria. Firman terlihat tersenyum senyum sendiri tanpa sebab dan akibat yang tidak diketahui.
Saat Firman sudah pergi Jasmine terlihat sangat amat marah dengan Ria karena melihat sikap Ria yang aneh saat Firman datang ke kelasnya.
Waktu berlalu begitu cepat, Jasmine dan Ria terlihat tengah berada di jalan sambil menceritakan tentang perasaan Jasmine kepada Ijaz. Keadaan berubah ketika tiba tiba beberapa preman menghampiri mereka dan menodong mereka. Saat itu mereka berusaha ingin melawan namun karena para preman itu bertubuh kekar dan tinggi Jasmine pun akhirnya memilih untuk memberikan uangnya dari pada nyawanya yang melayang.
Saat Jasmine mengulurkan tangannya, tiba tiba Firman datang dan memukul salah satu preman hingga terjatuh ke tanah. Melihat hal itu teman teman dari para preman itu berusaha menyerang Firman dengan cara menyerang secara bersamaan. Di saat itu Firman dan beberapa preman itu terlibat adu fisik hingga membuat Firman hampir kewalahan. Melihat Firman akan kalah dan sudah beberapa kali di pukuli oleh preman itu Jasmine dan Ria pun mulai mencari pertolongan dengan berteriak ke sana kemari namun saat itu keadaan di sana sedang sepi. Saat Jasmine dan Ria sibuk berteriak mencari pertolongan, Jasmine melihat sebuah balok kayu yang panjang terletak tak jauh dari dirinya. Melihat hal itu Jasmine menghampiri balok itu dan menyerang para preman itu dengan balok kayu yang ia temui. Setelah ia menyerang para preman itu dengan balok kayu para preman itu mengalah dan pergi meninggalkan mereka bertiga dengan mengembalikan uang yang di ambilnya dari Jasmine.
"Syukurlah, mereka sudah pergi," ucap Jasmine lalu ia membuang balok kayu itu. Setelah itu ia menghampiri Firman dan mengulurkan tangannya ke Firman. Firman pun akhirnya menerima pertolongan Jasmine walaupun ia tahu kalau Jasmine bukan muhrimnya.
Beberapa saat kemudian, Firman terlihat sudah berdiri di hadapan Jasmine dengan memegangi luka di beberapa area wajahnya akibat pukulan dari para preman itu.
"Bagian mana yang sakit?" tanya Jasmine dengan baik kepada Firman.
__ADS_1
"Seperti semuanya Jasmine!" sahut Ria dengan melihat luka memar di beberapa area wajah Firman.
"Tidak papa, aku baik baik saja. Kalian gimana?" ucap Firman dengan baik sambil sesekali mengerang kesakitan.
"Rumah saya dekat dari sini, mari ikut saya ke rumah, saya akan obati!" pinta Jasmine.
"Tidak perlu, saya tidak papa!" jawab Firman dengan sopan.
Mendengar jawaban itu Jasmine pun menarik nafas perlahan lalu ia mengeluarkan nafasnya perlahan. Ia kemudian memegangi salah satu tangan Firman dengan erat dan menarik dirinya. Saat itu Firman hanya memandangi Jasmine yang memegangi dirinya.
Beberapa saat kemudian terlihat Jasmine, Ria dan Firman sudah berada di rumah dan ia meminta Firman untuk duduk di kursi yang berada rumah Jasmine.
"Sudah tidak papa, besok juga akan sembuh. Tidak perlu di obati," ucap Firman saat melihat Jasmine masuk ke dalam rumah untuk mengambil kotak obat.
"Tenang saja, tidak papa!" jawab Ria dengan baik dan berdiri di dekat Firman.
Beberapa saat kemudian Jasmine keluar dengan membawa kotak obat, ia kemudian membuka kotak obat itu dan mulai mengobati Firman. Saat Firman di obati oleh Jasmine ia hanya memandangi Jasmine, walaupun sesekali ia merasa kesakitan namun rasa itu tidak di rasakan oleh Firman karena melihat Jasmine.
"Sudah, semuanya sudah selesai," ucap Jasmine dengan baik kepada Firman. Saat itu Firman terlihat tidak fokus ia benar benar terpaku melihat kecantikan Jasmine dan sikap baik dari Jasmine.
"Iya, makasih!."
"Em, makasih ya!" ucap Jasmine dengan menundukkan kepalanya di hadapan Firman.
Mendengar hal itu Firman terlihat kebingungan.
"Makasih untuk apa?" jawab Firman lalu ia berdiri dari duduknya.
"Untuk menyelamatkan saya dengan Ria," jawab Jasmine dengan baik.
"Iya, aku juga makasih," sahut Ria.
"Iya sama sama, aku juga terima kasih!."
__ADS_1
Mendengar hal itu Jasmine hanya tersenyum kecil di bibinya, setelah itu Firman berpamitan untuk pergi dari rumah Jasmine. Saat ia baru melangkah kakinya satu langkah Jasmine memberi tahu Firman namanya dengan lembut. Mendengar hal itu, Firman pun secara spontan menghentikan langkahnya. Ia terlihat mematung selama beberapa saat, setelah mendengar nama Jasmine. Saat Jasmine sudah memberi tau namanya kepada Firman, Firman hanya membalas ucapan itu dengan senyuman lalu ia menyebutkan namanya setelah itu ia pergi meninggalkan Jasmine dan Ria dengan senyum senyum sendiri dan sangat bahagia terlihat dari raut wajahnya.
"Jasmine, gimana? Dia baik ya!" ujar Ria kepada Jasmine sambil melihat ke arah Firman yang pergi menjauh dari mereka.
"Iya dia baik, " jawab Jasmine lalu ia tersenyum.
"Tapi sayang dia bukan tipe ku," ucap Ria dengan sedikit bercanda.
Mendengar hal itu Jasmine pun hanya menjawab Ria dengan senyuman di bibirnya. Ia kemudian masuk kedalam rumahnya dengan membawa kotak obat itu.
Di tempat lain, terlihat Ibu Jasmine tengah sibuk menelepon seseorang. Ia terlihat tengah membicarakan Jasmine kepada orang yang berada di telepon itu. Wajahnya terlihat sangat bahagia saat menerima telepon dari orang itu.
Di tempat Jasmine, terlihat Ria duduk di kursi makeup yang berada di kamar Jasmine, sedangkan Jasmine terlihat sedang merapikan barang barangnya. Beberapa saat kemudian terlintas di benak Ria, ia mengatakan hal yang sama lagi kepada Jasmine.
"Jasmine, kalau seandainya kamu di jodohkan oleh laki laki itu. Apa kamu mau menikah dengan dia?" tanya Ria dengan nada rendah.
Mendengar pertanyaan itu Jasmine pun langsung menghentikan tindakannya dan ia terlihat mematung selama beberapa saat.
"Kenapa kamu bilang seperti itu?" jawab Jasmine dengan nada mulai sedih.
Mendengar jawaban Jasmine Ria pun bangun dari duduknya lalu ia menghampiri Jasmine.
"Jasmine, kita tidak tahu rencana orang tua kamu!. Bisa saja mereka melakukan hal itu, tapi.. Jika seandainya memang benar kamu di jodohkan orang tua kamu dengan dirinya aku minta kamu jujur dengan dia. Aku minta kamu mengatakan semuanya tentang hidup kamu, karena apa? Karena aku tidak mau hidup kamu hancur karena orang yang belum tentu datang untuk kamu!" ujar Ria dengan baik kepada Jasmine.
"Aku tahu itu, tapi... Apa maksud dari perkataan kamu adalah.... Ijaz berbohong!" jawab Jasmine dengan melihat ke arah Ria.
"Bukan seperti itu, aku hanya takut kalau nanti kamu terluka akhirnya," jawab Ria dengan baik kepada Jasmine.
Mendengar ucapan itu Jasmine pun berusaha untuk tidak marah dan berusaha untuk mengerti apa yang di katakan oleh Ria.
"Terima kasih ya kamu sudah mengingatkan aku tentang semua ini!. Dan... Aku juga terima kasih karena sudah berusaha menjadi saudari dan sahabat yang terbaik ku," jawab Jasmine dengan baik lalu ia tersenyum kepada Ria.
Beberapa saat kemudian Jasmine dan Ria saling berpelukan dengan erat dan di saat bersamaan air mata Jasmine pun menetes karena suatu hari nanti ia akan kehilangan teman dan saudari yang selalu mendampingi Jasmine saat sedih maupun senang. Setelah itu, mereka melepaskan pelukan itu dan Jasmine terlihat kembali melanjutkan pekerjaannya. Beberapa saat kemudian, Ria berpamitan pergi untuk pulang ke rumahnya kepada Jasmine.
__ADS_1