
Waktu berlalu begitu cepat, Firman pun akhirnya memang benar benar pulih, namun ia masih tidak mengingat siapa Samira dan apa hubungan antara dirinya dan Samira.
Saat itu, sikap nya dengan Samira masih sama ia terlihat membenci Samira karena ia berpikir kalau Samira adalah anak hasil dari perselingkuhan Jasmin dengan Ayan.
Saat itu, Firman sudah berada di rumahnya dengan di temani oleh Jasmin dan Samira. Firman kembali ke rumah nya dengan sangat bahagia. Namun, hal itu justru berbanding terbalik dengan apa yang di rasakan oleh Jasmin, ia justru merasa kalau luka yang sudah lama tertutupi kini kembali lagi, ketika ia harus menginjak kan kakinya ke dalam rumah Firman.
Ketika Jasmin berada di depan rumah Firman, tanpa di sadari oleh Firman mata Jasmin di penuhi oleh air mata. Mata nya terlihat menahan kesedihan yang sangat luar biasa, menyadari ibunya menangis Samira pun langsung memegang erat tangan ibunya untuk menguatkan ibunya. Entah, mengapa Samira bisa melakukan hal itu? Ia seperti bisa merasakan dan bisa melihat kesedihan ibunya di masa lalu. Jasmin yang menerima hal itu, ia pun tersenyum kecil di bibirnya tanpa mengatakan sepatah katapun.
Kata penyambutan pun di ucapakan oleh Firman, sapaan rindu kepada rumahnya pun di ucapkan oleh Firman dengan lantang ketika ia sudah menginjakkan kaki nya di dalam rumah.
Dengan berat hati, Jasmin pun masuk ke dalam rumah dengan di temani oleh Samira.
"Mas, di mana Samira akan tidur di sini?" tanya Jasmin dengan baik kepada Firman. Mendengar hal itu, Firman yang saat itu bahagia seketika berubah menjadi menjadi terlihat kesal dan marah. Ia menatap tajam ke arah Samira, Samira yang menyadari hal itu ia hanya menunjukkan kepalanya dengan ketakutan. Menyadari kalau Samira ketakutan dengan Firman, Jasmin pun langsung memegangi bahu Samira dengan erat.
Tak berselang lama, Firman berjalan perlahan mendekati Samira yang ketakutan. Ketika ia sudah berada di dekat Samira dengan nada tegas dan serius firman berkata kepada Jasmin tanpa mempedulikan perasaan Jasmin.
"Anak ini... Anak haram ini...." ucap Firman dengan terlihat sangat tidak suka, mendengar Firman menyebut Samira dengan sebutan anak haram, ia terlihat sedih. Matanya di penuhi oleh kemarahan dan kekecewaan, berbeda dengan Jasmin, Samira justru terlihat sedih dengan apa yang di katakan oleh Firman. Bagaimana dia tidak sedih, ia merasa terluka dengan ucapan Firman yang mengatakan kalau dirinya adalah anak haram.
Jasmin yang saat itu melihat Samira sedih mendengar ucapan Firman yang mengatakan kalau dirinya adalah anak haram. Tanpa berpikir panjang, ia langsung menampar Firman dengan sangat keras, hingga membuat Firman memalingkan wajahnya dari hadapan Jasmin dan ia hanya diam dan tidak mengatakan sepatah katapun. Ia hanya memegangi pipinya yang di tampar Jasmin dengan sangat keras.
"Aku sudah mengatakan kepada Mas, jangan pernah katakan hal itu lagi. Tapi kenapa? Kenapa Mas mengatakan hal itu di hadapan ku?" ucap Jasmin dengan sangat marah dan emosi. Lalu, ia melepaskan tangan Samira dan ia memegangi kedua lengan Firman dengan sangat erat dan menegakkan tubuh Firman agar tubuhnya berdiri sejajar dengan tubuh Jasmin. "Apa salah ku ke kamu Mas? Apa salah anak ini ke kamu? Kalau memang menurut Mas, Samira adalah anak hasil dari perselingkuhan ku dengan Mas Ayan, baiklah. Aku akan terima, dan hal itu juga yang menjadi alasan aku pergi dari sini!."
Mendengar ucapan itu, Firman terlihat terkejut dan ia melihat mata Jasmin dengan terlihat sedih dan berkaca kaca. Melihat hal itu, Jasmin pun melepaskan tangannya yang memegangi lengan Firman, ia kemudian kembali meraih tangan Samira dan menarik Samira untuk pergi dari rumah yang di tempati oleh Firman.
Ketika ia baru beberapa langkah pergi, tiba tiba Firman menyusul Jasmin dan Menghentikan Jasmin pergi dengan cara memegangi salah satu tangan Jasmin yang memegangi sebuah tas besar berwarna hitam.
"Aku mohon jangan pergi," ucap Firman dengan sedih dan memohon.
Melihat hal itu, Jasmin pun menghentikan langkahnya dan dengan perlahan ia melepaskan tangan Firman yang memegangi tangan Jasmin. Setalah merasa tangan Firman terlepas dari tangannya, Jasmin pun berbalik dan melihat ke arah Firman dengan tatapan mata yang tajam dan bercampur dengan sedih. Ia berdiri di hadapan Firman.
__ADS_1
Melihat Jasmin berbalik dan berdiri di hadapan nya, Firman merasa kalau Jasmin memberi kesempatan dirinya untuk yang kedua kalinya. Firman yang menyadari hal itu, ia meraih tangan Jasmin dengan perlahan dan menatap mata Jasmin dengan penuh kasih sayang.
"Aku mohon maafkan aku, aku juga mohon tolong jangan pergi dari sini, kamu adalah istri ku lalu kenapa kamu ingin meninggalkan aku? Aku mohon jangan pergi, aku minta maaf sekali lagi," jawab Firman dengan sedih dan terlihat menyesal atas apa yang sudah ia lakukan.
"Maaf?! Memohon?! Apa kah dengan kamu mengatakan hal itu lagi, luka yang kamu berikan kepada aku dan anak ku bisa sembuh. Tidak, ucapan kamu akan membuat kamu kehilangan aku!" Jawab Jasmin dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.
"Aku tahu, aku salah sudah mengatakan hal hal buruk ke anak kamu, aku minta maaf. Aku mohon maafkan aku," pinta Firman dengan raut muka yang terlihat sedih dan berkaca kaca.
"Maafkan aku, aku tidak bisa, cukup sudah sampai di kamu menyakiti Samira."
Ucap Jasmin dengan tegas lalu ia a melepas tangan firman dengan kasar dan ia kemudian berbalik, di saat bersamaan Ayan datang ke rumah Firman. Melihat Jasmin dan Samira menangis Ayan terlihat kebingungan dan ia bertanya kepada Samira yang terjadi, namun saat itu Samira tidak menjawab sepatah katapun. Ia hanya diam dengan derai air mata yang terus mengalir membasahi pipi nya.
Menyadari hal itu, Ayan pun berpikir kalau penyebab dari Samira dan Jasmin menangis adalah Firman. Dengan marah dan kesal, ia menghampiri Firman dan langsung memeluk Firman dengan sangat keras hingga membuat Firman jatuh tersungkur.
Melihat hal itu, Jasmin terlihat terkejut. Ia langsung melepaskan tangan Samira dan ia berusaha untuk memisahkan Ayan dengan Firman. Ketika Ayan sudah berhasil di pisahkan oleh Jasmin dengan raut muka yang marah dan kesal ia menarik kerah Ayan.
"Apa apa sih Mas, aku tidak suka dengan sikap kamu!" ucap Jasmin dengan tegas kepada Ayan setelah ia berhasil memisahkan Ayan dari Firman. Ia kemudian melepaskan kerah pakaian Ayan dengan memberi dorongan kepada Firman.
"Aku terima kasih, karena kamu sudah membela aku dari Firman. Tapi seharusnya kamu tidak melakukan hal itu," jawab Jasmine dengan nada marah dan sedih di hadapan Ayan, lalu ia mendekati Ayan dengan mata yang di penuhi oleh air mata. "Seharusnya kamu pikirkan keadaan Firman, dia baru saja keluar dari rumah sakit dan kamu.. Kamu memukuli dia."
Setelah mengatakan hal itu, Jasmine pun memalingkan wajahnya dan ia membantu Firman yang saat itu sudah babak belur di hajar oleh Ayan. Melihat hal itu, Samira juga terlihat kesal dengan Ayan, ia hanya memandang ke arah Ayan dengan penuh emosi.
Ketika Jasmin sudah membantu Ayan, Jasmin pun membawa Firman ke dalam kamarnya. Saat itu, Ayan hanya diam dengan menyesal atas apa yang sudah ia perbuat kepada Firman.
Saat Jasmin dan Firman sudah berada di dalam kamar, ia memeriksa keadaan Firman dan mengobati luka Firman akibat pukulan dari Ayan. Ia mengambil kotak obat yang berada di salah laci lemari yang ada di dalam kamar Firman.
Ketika Jasmin sudah selesai mengobati Firman, Ayan yang melihat Jasmin keluar dari kamar langsung menghampiri Jasmin dan meminta maaf kepada Jasmin, namun saat itu Jasmin masih tidak merespon permintaan maaf dari Ayan. Ia hanya diam dengan melanjutkan kegiatannya, menyadari hal itu Ayan pun langsung menghentikan langkah Jasmin dengan memegangi salah satu tangannya.
"Aku minta maaf, aku hanya tidak suka kalau orang yang tidak memiliki hubungan dengan kamu mengatakan hal hal buruk ke kamu dan Samira. Aku sayang dengan kamu, maka dari itu aku membela kamu saat ada orang yang menyakiti kamu! Aku benar benar minta maaf atas tindakan ku tadi," ucap Ayan dengan sedih ketika ia sudah memegangi tangan Jasmin.
__ADS_1
Jasmin yang menyadari hal itu, ia yang saat itu tidak ingin berbicara dengan Ayan, akhirnya ia berbalik dan melihat ke arah Ayan dengan raut muka sedih. Setalah itu ia melepaskan tangan Ayan yang memegangi tangan nya, ia berbalik memegangi tangan Ayan.
"Aku tahu kamu cinta dan sayang dengan aku dan Samira, tapi tidak seharusnya kamu memukuli orang yang baru saja keluar dari rumah sakit. Kamu harus pikirkan keadaan nya, bukan semakin membuat dia semakin parah!."
"Aku tahu, aku hanya tersulut emosi. Aku minta maaf sama kamu, aku sungguh sungguh minta maaf dengan kamu!" jawab Ayan dengan benar benar sedih dan berderai air mata.
Mendengar ucapan itu, Jasmin pun menganggukkan kepalanya. Di sisi lain, tanpa di sadari oleh Jasmin dan Ayan, Samira mendengar mereka di balik dinding. Menyadari kalau Ayan melakukannya demi membela dirinya ia yang saat itu ingin marah kepada Ayan, seketika langsung luluh dan air mata nya terlihat menetes membasahi pipinya.
"Tuhan, Engkau memang sangat baik. Engkau mengirimkan seorang laki laki yang sangat menyayangi aku dan ibu, berbeda dengan ayah kandung, yang justru menyebut aku anak haram. Terimakasih Tuhan, karena sudah mengirimkan Om Ayan ke dalam hidup ku dan hidup ibu ku!" ucap Samira dalam hatinya dengan sesekali melihat ke arah atas dan dengan air mata yang terus berderai.
Waktu berlalu begitu cepat, saat itu Ayan masih menemani Samira bermain. Melihat hal itu, dengan langkah yang tertatih Firman keluar dari kamar nya dan melihat ke arah Ayan dan Samira. Saat itu ia hanya diam melihat ke arah Ayan dan Samira, ia merasa marah dan cemburu dengan kedekatan mereka berdua, namun ia tidak mempedulikan perasaannya dan bergegas menghampiri Jasmin yang berada di dapur yang tengah memandangi kedua orang itu.
Saat ia sudah berada di dekat Jasmin, Firman pun berdiri di depan Jasmin yang terus memandangi mereka. Menyadari hal itu, Jasmin pun terlihat langsung menundukkan kepalanya.
"Mas membutuhkan apa?" tanya Jasmin kepada Firman yang berdiri menutupi pandangan nya.
Mendengar pertanyaan itu, Firman pun memegangi tangan Jasmin. Ayan yang menyadari hal itu ia terlihat marah namun ia berusaha untuk menahan amarahnya agar tidak terjadi seperti ketika sepulangnya Firman dari rumah sakit.
"Aku ingin dekat kamu!."
Mendengar hal itu, mata Ayan langsung terbelalak dan ia terlihat benar benar emosi dengan hal itu. Menyadari Ayan emosi melihat ayah nya memegangi tangan Jasmin, Samira pun berusaha untuk menenangkan Ayan dengan memegangi salah satu tangan Ayan. Ketika menyadari kalau tangannya di pegang oleh seseorang, Ayan pun langsung melihat ke arah orang yang memegangi tangannya, di saat itu Samira yang menyadari kalau Ayan cemburu menggelengkan kepalanya agar Ayan tidak terbawa emosi dan ia tetap tenang.
Ayan yang melihat hal itu, akhirnya ia pun berusaha untuk menangkan dirinya dan tidak emosi. Ia terlihat tetap melanjutkan permainan dengan Samira, walaupun ia sudah tidak fokus dengan Samira dan lebih fokus dengan Jasmin dan Firman yang terlihat mesra di hadapan nya.
*****
Beberapa saat kemudian, Ayan pun pamitan kepada Samira dan Jasmin untuk pulang, karena hari itu hari sudah cukup malam. Ia merasa tidak enak jika terus berada di rumah Firman. Melihat kalau Ayan akan pulang, Jasmin terlihat acuh tak acuh dengan hal itu, ia justru terlihat menginginkan Ayan segera bergegas pergi dari rumahnya.
Ketika Ayan sudah pergi, Jasmin, Samira dan Firman pun masuk ke dalam rumah dan saat itu Samira masuk ke dalam kamar yang sudah di siapkan oleh Jasmin di rumah Firman. Ketika Firman akan tidur di kamar dan mengajak Jasmin, Jasmin menolak hal itu karena ia merasa kalau dirinya dan Firman sudah tidak memiliki hubungan apapun. Mendengar penolakan itu, Firman tampak biasa saja, dan tidak marah dengan Jasmin ia hanya diam saja dan masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
Tak berselang lama, Jasmin pun juga pun juga menunjuk ke kamar, namun saat itu kamar yang di hampiri Jasmin adalah kamar yang di tempati oleh Samira.