Sebarkas Harapan Diatas Penantian

Sebarkas Harapan Diatas Penantian
Mengetahui semuanya


__ADS_3

Di saat itu pula, Ria dan Jasmine terlihat berjalan bersama di taman yang juga di kunjungi oleh Ijaz. Saat itu Ria tengah berbicara tentang permintaan maafnya kepada karena ia sudah marah dengan Jasmine.


"Aku minta maaf ya, karena... Aku sudah marah dengan kamu," ujar Ria dengan baik kepada Jasmine dengan langkah kaki yang terus melangkah kakinya.


"Aku juga minta maaf sama kamu, karena aku juga marah dengan kamu!" jawab Jasmine dengan baik lalu ia terus melangkahkan kakinya.


Beberapa saat kemudian, Anjani terlihat sampai di lokasi yang di maksudkan oleh Ijaz. Sesampainya di sana ia terus menerus memanggil manggil nama Ijaz, dan orang tua Ijaz. Beberapa saat kemudian, Anjani melihat seseorang terbaring di tengah jalan. Melihat hal itu Anjani pun langsung bergegas pergi menghampiri orang itu. Ia terlihat sangat terkejut karena ia melihat laki laki yang tidak terlihat wajahnya tersebut berlumuran darah. Ia mengira kalau Ijaz benar benar sudah meninggal. Ia hanya menangis dengan duduk di samping laki laki itu. Selain itu, terdengar dari mulut Anjani ia meminta maaf kepada Ijaz kerena sudah marah dengan dirinya.


Saat Anjani menangis histeris, Anjani tiba tiba melihat lampu mulai menyala satu persatu membentuk tulisan "Aku Minta Maaf" melihat hal itu Anjani terlihat kebingungan. Tiba tiba ia berhenti menangis dan melihat ke arah lampu itu tanpa berkedip sedikit pun.


Ia kemudian bangun dari duduknya dan terlihat sangat kebingungan dengan segalanya. Ia kemudian mendekati lampu lampu itu dan dengan lantang ia berkata sambil melihat ke sekitar.


"Apa maksudnya semua ini?" ucap Anjani dengan lantang dan terlihat seperti orang kebingungan.


Beberapa saat kemudian, seluruh lampu menyala. Tak berselang lama, keluarga Ijaz keluar dengan membawa balon yang berbentuk huruf "I, M, S, O, O, R, Y" melihat hal itu Anjani hanya diam dan tidak mengatakan apapun.


Beberapa detik kemudian Ijaz laki laki yang terbaring di tengah jalan tadi terbangun dan menghampiri Anjani. Melihat hal itu, Anjani yang awalnya sedih terlihat marah dengan Ijaz.


"Im sorry," ucap Ijaz di depan Anjani dengan keadaan yang baik Baim saja.


"Jadi kamu berbohong dengan aku," jawab Anjani dengan nada tegas dan serius.


"Bukan maksud ku, membohongi kamu!. Aku hanya ingin meminta maaf dengan kamu," jawab Ijaz mulai berbicara dengan nada sedih.


"Apa menurut kamu ini lucu? Apa menurut kamu, ini akan menjadi hal yang paling romantis? Gila ya kamu!" ucap Anjani dengan nada marah lalu ia mendorong Ijaz dan melanjutkan "apa kamu pikir dengan melakukan ini, aku bisa memaafkan kamu? Tidak!. Dengan kamu melakukan ini, aku semakin sakit hati dengan kamu," jawab Anjani dengan marah, bercampur sedih, bercampur perasaan kecewa.


Mendengar hal itu, Ibu Ijaz menghampiri Anjani dan menjelaskan kepada Anjani untuk membela Ijaz.


"Anjani, niat Ijaz itu baik. Dia ingin meminta maaf ke kamu," ucap Ibu Ijaz dengan nada baik.


"Tante!" panggil Anjani dengan sedih lalu ia berhenti beberapa saat, setelah itu ia melanjutkan "Tante, seorang wanita. Bagaimana perasaan Tante menerima kabar kecelakaan dari kekasihnya? Tapi... Saat sudah sampai di sini, Tante menerima kebohongan seperti ini. Bagaimana Tante? Bagaimana perasaan Tante?" ucap Anjani dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya. Di saat itu, Ibu Ijaz hanya terlihat diam begitu pula Ayahnya.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, Ijaz memegangi tangan Anjani dengan penuh kasih sayang.


"Maafkan aku, aku hanya ingin meminta maaf dengan kamu. Aku tidak ingin menyakiti kamu semakin dalam, " jawab Ijaz dengan raut muka sedih.


Mendengar hal itu, Anjani hanya terlihat membuang mukanya dari hadapan Ijaz dengan air mata yang sudah mengalir membasahi pipinya.


Di saat itu pula, Ria dan Jasmine mendekat ke tempat Ijaz, saat itu Ria dan Jasmine terlihat terus memandang ke lampu lampu itu.


"Ya ampun, romantis sekali ya. Coba aja, kalau Ijaz yang melakukan ini, aku pasti sangat bahagia!" ujar Jasmine sambil melihat ke arah orang orang yang di beri kejutan permintaan maaf tersebut. Saat itu ia masih belum menyadari kalau orang itu adalah Anjani dan Ijaz.


"Iya, " jawab Ria dengan terus melangkah kaki mendekat ke arah Ijaz.


Tiba tiba saat ia benar benar berada di dekat Ijaz. Ia mengehentikan langkahnya, karena ia menyadari kalau orang yang merencanakan semua itu adalah Ijaz.


"Ada apa Jasmine?" tanya Ria setelah sadar kalau Jasmine menghentikan langkahnya.


Mendengar ucapan itu, Jasmine kemudian menunjuk ke arah Ijaz. Ria pun akhirnya melihat ke arah jari Jasmine. Di saat itu, Ria terlihat sangat terkejut karena ia juga melihat Ijaz dan di waktu yang bersamaan, Ijaz memeluk Anjani yang menangis.


Melihat hal itu, Jasmine terlihat sangat sedih. Matanya berkaca kaca, dan beberapa saat kemudian air mata terlihat menetes mengalir membasahi pipinya Jasmine. Ia kemudian menghampiri Ijaz dengan perlahan, Ria yang melihat sahabatnya yang sangat sedih. Ia terlihat memegangi kedua bahu Jasmine dan menguatkan Jasmine.


"Ijaz!" panggil Jasmine dengan lirih namun di dengar oleh Ijaz, Anjani dan orang tuanya. Mendengar panggilan itu, orang tua Ijaz langsung melihat ke arah Jasmine. Anjani yang saat itu sedih di bahu Ijaz tiba tiba melihat ke arah Jasmine.


Anjani kemudian melepaskan pelukannya dari Ijaz. Ijaz kemudian melepaskan pelukannya dan melihat ke arah Jasmine yang saat itu terlihat masih memegangi buku yang dia dapat dari Ijaz.


Saat itu, Ijaz terlihat sangat terkejut karena melihat kehadiran Jasmine dan Ria di waktu yang sama.


Jasmine pun mendekati Ijaz dengan sedih, saat itu Ria Ingin menemani Jasmine mendekati Ijaz namun Jasmine menolak dan meminta Ria tetap di tempatnya.


"Apa maksudnya semua ini?" tanya Jasmine dengan sedih saat ia sudah berada di hadapan Ijaz.


"Bagaimana mana kamu tahu aku ada di sini?" jawab Ijaz berbalik tanya kepada Jasmine.

__ADS_1


"Aku tanya sama kamu, dan kamu tidak menjawab pertanyaan ku. Kamu memang menjawabnya tapi ini bukan jawaban dari pertanyaan ku!" jawab Jasmine dengan sedih.


Saat itu, semua orang terlihat hanya diam tanpa mengatakan sepatah kata pun.


"Apa maksudnya semua ini?" tanya Jasmine lagi dengan air mata terus mengalir membasahi pipinya.


"Apa yang bisa aku jelaskan ke kamu Jasmine? Aku tidak pernah mencintai kamu, aku hanya mencintai Anjani!."


Mendengar ucapan itu, Jasmine terlihat sangat terkejut. Hatinya benar benar hancur, ia tidak bisa melakukan apapun, ia hanya dapat meneteskan air mata melihat cintanya hanya sebuah kebohongan.


"Jadi, penantian ini. Hanyalah sebuah penantian yang tiada arti, jika aku tahu kalau akhirnya akan seperti ini. Maka... Kenapa menunggu kamu? Kenapa aku sangat bodoh? Kenapa aku percaya dengan kamu? Dengan orang yang sedikit pun tidak pernah mencintai aku!."


Setelah itu, Jasmine membuang mukanya dari hadapan Ijaz. Saat itu, semua orang yang berada di tempat itu terlihat sangat sedih melihat Jasmine yang terus menerus menangis hingga sesegukan. Mata Jasmine terlihat terus memandang Ijaz dengan penuh air mata. Melihat hal itu, dengan perlahan lahan Anjani melangkah mundur menjauhi Ijaz. Melihat hal itu, Ijaz pun meminta agar tidak ada satu orang pun yang pergi kecuali Jasmine.


"Kamu mau kemana Anjani?" tanya Ijaz.


Mendengar ucapan itu, Anjani pun langsung menghentikan langkahnya dan melihat ke arah Ijaz dengan air mata yang juga terus mengalir membasahi pipi Anjani.


"Kamu tidak boleh pergi, yang boleh pergi dari tempat ini. Hanya... Jasmine!" ujar Ijaz dengan menatap mata Jasmine hingga membuat semua orang yang ada di tempat itu terkejut, tak terkecuali Jasmine.


"Kamu itu benar benar tidak punya hati ya Ijaz, kemana hati nurani kamu? Jasmine itu adalah orang yang..." sahut Ria namun tiba tiba ia berhenti karena ia melihat kalau tangan Jasmine memberi sebuah kode agar Ria berhenti.


Setelah melihat Ria berhenti, Jasmine berkata dengan sangat lembut kepada Ria.


"Sudah Ria, cukup!. Untuk apa? Untuk apa bicara seperti itu? Sudahlah, kalau memang Ijaz ingin aku pergi. Aku akan pergi, tidak masalah!" ucap Jasmine dengan lembut kepada Ria lalu ia menghapus air matanya. Jasmine kemudian berbalik dan melihat ke arah orang tua Ijaz, dengan keadaan menggantungkan buku yang selama ini di pelukan erat olehnya, seakan tidak ada gairah untuk menyentuhnya. Jasmine kemudian tersenyum melihat orang tua Ijaz, melihat hal itu Ibu Ijaz dan Ayah Ijaz terlihat sangat sedih.


Beberapa saat kemudian, ia melangkahkan kakinya meninggalkan Ijaz. Saat baru beberapa langkah dari Ijaz, air matanya kembali menetes dan membasahi pipinya. Ia kesal, marah dan kecewa menjadi satu.


Ia terlihat tetap berusaha untuk tegar, walaupun ia tahu kalau hatinya tidak akan bisa tegar menghadapi semua ini. Ia tetap pergi dengan hati yang hancur berkeping keping.


Saat itu, terlihat semua orang hanya melihat kepergian Jasmine tanpa bisa mengatakan sepatah katapun.

__ADS_1


__ADS_2