Sebarkas Harapan Diatas Penantian

Sebarkas Harapan Diatas Penantian
Mencari


__ADS_3

Saat semua barang sudah keluar dari tas itu, Ijaz terlihat kembali mengambil foto yang tadi ia taruh dengan barang barang yang lain. Ia kemudian membersihkan foto itu dari debu.


"Gimana ya kabar Jasmine sekarang?" ucap Ijaz kepada dirinya sendiri. Ia kemudian memeluk erat foto itu dan terlihat ia tersenyum senyum sendiri dengan memeluk foto itu.


Beberapa saat kemudian ia bangun dari duduknya dan menghampiri pembantunya, saat ia sudah berada di dekat si pembantu ia meminta pembantu itu untuk membersihkan barang barang yang sudah ia acak acak di dalam kamarnya.


Saat itu, wajahnya terlihat sangat bahagia. Ia mulai mencari tau di mana keberadaan Jasmine dan keadaan Jasmine.


Tak berselang lama, Ijaz terlihat sampai di rumah Jasmine. Saat itu rumah terlihat sepi hanya terlihat seorang wanita yang sudah paruh baya tengah membersihkan halaman rumah. Melihat hal itu Ijaz hanya terlihat diam dan tidak berani memanggil orang itu. Beberapa saat kemudian terlihat seorang laki laki keluar dari rumah, dia adalah Ayah Jasmine. Melihat Ayah Jasmine keluar dari rumah, Ijaz berusaha menghampiri dirinya. Saat ia ingin masuk ke dalam rumah, langkahnya terhenti karena salah satu tangannya di pegang oleh Ria.


"Kenapa kamu kemari, hah?" tanya Ria dengan nada serius kepada Ijaz.


"Ria? Aku... Aku kemari ingin bertemu Jasmine," jawab Ijaz dengan baik lalu dengan perlahan ia melepaskan tangan Ria yang memegangi tangannya. Ia kemudian melangkahkan kakinya mendekati rumah. Namun, langkahnya kembali terhenti ketika tiba tiba dengan nada serius dan marah Ria mengatakan kepada Ijaz tentang penghianat yang ia lakukan kepada Jasmine.


"Untuk apa? Untuk apa kamu menemui Jasmine?" ucap Ria lalu ia mendekati Ijaz. Saat Ria sudah berada di dekat Ijaz ia melanjutkan "untuk menyakiti Jasmine, untuk berbohong lagi dengan Jasmine, atau untuk apa?"


"Apa masalah kamu sebenarnya Ria? Kenapa kamu bisa bertindak seperti ini dengan aku?" jawab Ijaz dengan seperti orang yang tidak berdosa dan bersalah.


"Kamu masih tanya ke aku, selama ini kamu yang menyalakan api. Kini tinggal penentunya, siapa yang hangus terbakar dan siapa yang terbakar namun tidak seluruhnya. Maksudnya, kini tinggal menunggu. Hidup kamu yang hancur atau hidup Jasmine," jawab Ria dengan serius lalu ia menarik Ijaz ke tempat lain karena Ayah Jasmine terlihat akan melintas di antara mereka.


Saat mereka berhasil sembunyi dari Ayah Jasmine, tiba tiba Ijaz berkata kepada Ria dengan raut muka sedih.


"Kenapa kamu seperti sangat membenci aku?" tanya Ijaz.

__ADS_1


"Kamu masih tanya kenapa, apakah kamu tidak bisa memikirkannya?" tanya Ria dengan nada bicara masih serius dan menatap Ijaz dengan penuh amarah.


"Apa ini tentang Jasmine, hingga membuat kamu sangat membenci aku seperti ini!."


"Iya, betul. Aku seperti ini karena Jasmine, sebenarnya dari semua ini kamu hanya sedikit bersalah, yang salah banyak itu Jasmine. Karena dia terlalu percaya dengan laki laki penghianat seperti kamu!. Dia percaya, dengan harapan harapan yang ia tulis untuk kamu di buku harapan itu."


Mendengar ucapan dari Ria, Ijaz pun menyakinkan Ria kalau cinta masa kecilnya adalah cinta palsu. Ia mengatakan kalau hanya menganggap Jasmine sebagai teman.


"Aku tidak pernah mencintai Jasmine, cinta masa kecil bagi ku hanya... Hanya sebuah permainan!" jawab Ijaz untuk meyakinkan Ria.


"Aku tahu, walaupun semuanya sudah terlambat. Tapi apalah daya, cinta Jasmine ke kamu, itu lebih besar dari pada kepercayaan dia ke aku. Aku jangan takut, aku masih belum memberi tahu Jasmine tentang kamu. Aku lakukan hal ini bukan karena aku melindungi kebohongan kami tapi aku melakukan ini karena aku ingin Jasmine mengetahui sendiri seperti apa busuknya laki laki yang selama ini ia tunggu!."


Mendengar jawaban itu, Ijaz kemudian melihat ke arah Ria dengan tatapan mata yang serius. Melihat hal itu, Ria terlihat berbalik marah kepada Ijaz.


Mendengar hal itu, Ijaz terlihat melunak. Ia melihat ke arah Ria dengan mata yang sedikit sedih.


"Aku hanya ingin kembali seperti dulu, kita bertiga selalu bersama. Tidak ada perkelahian, penghianat atau pun rasa sakit," ucap Ijaz kalau ia berhenti beberapa saat. Setelah itu, ia melanjutkan "kita bahagia!."


"Bagaimana? Bagaimana cara agar semuanya kembali? Ketika kamu sudah menghancurkan semuanya," jawab Ria dengan nada tegas.


Mendengar hal itu Ijaz terlihat masih saja merasa tidak bersalah, ia merasa dirinya benar karena ia tidak meminta Jasmine untuk mencintai dirinya.


"Aku tidak pernah menghancurkan siapapun, aku juga tidak pernah meminta untuk Jasmine mencintai aku, aku hanya meminta dia untuk menulis harapan tentang aku di buku yang aku beri. Aku tidak meminta dia untuk menunggu aku," ucap Ijaz dengan nada tegas di hadapan Ria.

__ADS_1


"Lalu, bagaimana dengan ucapan kamu yang mengatakan aku cinta kamu di awal buku itu? Apakah itu adalah kalimat yang palsu?" tanya Ria dengan mata yang mulai berkaca kaca.


"Aku sudah katakan ke kamu, cinta di masa kecil adalah cinta palsu!. Aku sama sekali tidak pernah mencintai Jasmine, aku hanya mencintai Anjani!."


Mendengar hal itu, Ria benar benar terluka matanya tiba-tiba meneteskan air mata. Ia kemudian melangkahkan kakinya perlahan menjauhi Ijaz.


"Kamu benar benar sudah sangat menyakiti, aku orang yang tidak menunggu kamu saja sangat terluka. Lalu, bagaimana? bagaimana dengan Jasmine? Orang yang selama ini menunggu cinta kamu, menunggu kasih dari kamu!. Aku benar benar kecewa dengan kamu," ucap Ria lalu ia pergi meninggalkan Ijaz setelah ia sedikit jauh dari Ijaz. Ia pergi dengan air mata yang terus berderai membasahi pipinya.


Melihat hal itu, Ijaz yang awalnya ingin bertemu dengan Jasmine akhirnya mengurungkan niatnya dan pergi ke rumahnya. Tapi, saat ia melewati gerbang sekolah Ibu Jasmine terlihat keluar dari rumah bersama dengan Jasmine.


Saat itu Ijaz terlihat sangat terkejut, hal itu di sebabkan karena wanita yang ia temui di toko bunga dan di taman waktu itu adalah Jasmine. Melihat Jasmine dan Ibunya keluar dari rumah Ijaz langsung bergegas bersembunyi dari balik semak semak yang tidak jauh dari dirinya.


"Ma, Mama mau pergi sekarang?" tanya Jasmine dengan nada baik.


"Iya Jasmine, Mama mungkin akan pulang agak sore nanti!" jawab Ibu Jasmine dengan keadaan sudah rapi. Saat itu, Ibu Jasmine sudah bersiap untuk pergi ke salah satu tempat bisnis yang di pegang oleh dirinya.


Mendengar hal itu, Jasmine hanya menganggukkan kepalanya dan memberi senyum kecil di bibirnya. Setelah itu Ibunya terlihat pergi, dan di saat itu terlihat Ijaz yang berada di semak semak hanya terlihat terus mengawasi Jasmine. Ia tidak berani memanggil Jasmine, selain ia tidak berani memanggil Jasmine. Ijaz terlihat juga terpanah dengan kecantikan yang di miliki oleh Jasmine.


"Astaga, apa itu benar benar Jasmine? Dia cantik sekali," ucap Ijaz di balik semak semak. Saat itu terlihat Jasmine sedang melambaikan tangannya ke arah Ibunya yang terus melangkah jauh. Beberapa saat kemudian, Jasmine masuk ke dalam rumah. Saat Jasmine berbalik, Jasmine merasa di balik semak semak ada sesuatu, Ijaz merasa dirinya akan ketahuan ia langsung panik dan kebingungan.


"Kenapa aku merasa ada seseorang di balik semak semak ini?" tanya Jasmine sambil melangkah mendekat semak semak yang di tempati Ijaz untuk bersembunyi. Perasaan Ijaz benar benar khawatir kalau semuanya akan terbongkar. Saat itu, terlihat Jasmine sudah berada di dekat semak semak yang di tempati oleh Ijaz. Melihat hal itu, Ijaz benar benar sangat panik, namun kepanikan itu tiba tiba menghilang saat tiba tiba dari balik semak semak yang di tempati oleh Ijaz keluar seekor kucing.


Melihat hal itu, Jasmine yang pertama kali menganggap kalau di balik semak semak itu manusia langsung pergi setelah mengetahui kalau di balik semak semak itu adalah kucing.

__ADS_1


Setelah melihat Jasmine pergi, Ijaz keluar dari semak semak dan melihat ke arah Jasmine yang terlihat menjauhi dirinya, setelah itu ia pergi meninggalkan rumah Jasmine dan pulang ke rumahnya. Di saat bersamaan Jasmine mulai merasakan perasaan yang sama lagi namun saat itu, ia mengabaikan perasaan itu karena ia memikirkan Ria dan perjodohan antara dirinya dan Firman.


__ADS_2