
Melihat Anjani terus menolak saat tangannya di pegang oleh Ijaz. Jasmine pun berusaha menguatkan hatinya, ia kemudian menghapus air matanya dan mendekati Ijaz dan Anjani. Saat ia sudah berada di dekat Anjani dan Ijaz, Jasmine memegangi tangan Anjani yang di pegangi oleh Ijaz.
Melihat Jasmine memegangi tangan Anjani dan Ijaz, Anjani tampak tenang sedangkan Ijaz terlihat kesal dengan Jasmine karena ia sudah memegangi tangan Anjani dan dirinya.
"Kalau kamu ingin bersama dengan Anjani, silakan. Aku sudah sadar Ijaz, kini aku sudah sadar kalau kamu tidak pernah mencintai aku. Aku hanya ingin mengembalikan seberkas harapan ini ke kamu!."
Setelah mengatakan hal itu, Jasmine pun melepaskan tangannya yang memegangi tangan Anjani dan Ijaz ia kemudian memberikan buku itu kepada Ijaz. Melihat hal itu Ijaz pun menerima buku itu dengan baik tapi tiba tiba ia terlihat murka dan marah dengan buku itu.
"Seberkas harapan kamu bilang, seberkas harapan apa? Bagi ku ini hanya buku biasa, buku yang kamu isi dengan tulisan tulisan kamu, dan dengan harapan harapan kamu. Bagi ku hanya sampah!" ucap Ijaz dengan sangat marah dan bernada tinggi. Setelah itu, ia membuang buku itu ke tanah, hingga membuat Anjani, Ria dan Jasmine sangat terkejut.
Saat itu, Jasmine masih diam melihat hal itu. Ia hanya menatap mata Ijaz dengan penuh air mata, sedangkan Anjani ia terlihat kesal saat ia ingin menampar Ijaz salah satu tangannya di pegang oleh Jasmine. Merasakan hal itu, Anjani pun terlihat hanya diam dan terlihat ia tidak jadi menampar Ijaz.
"Kamu salah Jasmine, kamu salah mencintai aku. Maafkan aku, aku tidak pernah mencintai kamu, yang aku cintai adalah Anjani," ucap Ijaz dengan rendah lalu ia berhenti beberapa saat setelah itu ia melanjutkan berkata dengan nada semakin meninggi di hadapan Jasmine.
"Dan Ini adalah kebodohan kamu, kamu salah!. Kamu salah besar mencintai aku!."
Mendengar ucapan itu Jasmine semakin mendekati Ijaz.
"Jika mencintai kamu adalah kesalahan ku, cintai menyayangi kamu adalah kebodohan ku lalu kenapa? kenapa kamu meminta aku untuk menunggu saat itu? Apa menurut kamu, menunggu kamu itu hal yang mudah? Tidak Ijaz!. Hati ku bingung, bingung harus mempertahankan atau melepaskan semua ini!."
Jasmine pun terlihat menatap mata Ijaz dengan berlinang air mata kalau ia berkata dengan nada rendah dan sesekali menunjukkan tubuh Ijaz.
__ADS_1
"Dan kamu... Kamu mengucapkan kata kata yang sangat menyakiti hati ku!. Beberapa banyak lagi kamu ingin menyakiti aku, hah?" ucap Jasmine lalu ia berbalik dan mengambil buku yang di buang oleh Ijaz.
"Kamu bilang, ini hanya buku biasa. Buku yang aku isi dengan harapan harapan aku ke kamu, kamu menganggapnya hanya sebuah sampah!. Baiklah, baiklah aku terima!."
Jasmine kemudian memegangi salah satu tangan Ijaz dengan sangat erat. Ia kemudian mengajak Ijaz mendekati api yang saat itu sudah berada di dekat merak. Melihat hal itu Ria dan Anjani hanya terlihat diam mematung dan melihat Jasmine.
"Apa yang ingin kamu lakukan Jasmine?" tanya Ria saat melihat Jasmine mengajak Ijaz mendekati api. Namun, saat itu Jasmine terlihat tidak merespon Ria. Jasmine hanya memandang ke api yang terlihat membara di matanya.
"Bagi kamu ingi hanya sebuah sampah kan? Ini tidak layak kamu punya, baiklah. Kamu tahu ini apa?" ucap Jasmine lalu ia menunjuk api yang ada di dalam sebuah tong.
"Itu api. Kenapa? Apa yang kamu lakukan? Apa kamu ingin membakar buku itu? Lalu aku luluh, tidak!. Kalau kamu ingin membakar buku itu, bakar aku tidak peduli!" jawab Ijaz dengan lantang dan tegas di hadapan Jasmine.
"Iya, aku memang ingin membakar buku ini. Karena buku ini tidak ada artinya sedikitpun di hidup kamu," jawab Jasmine dengan nada serius dan tegas dengan menatap tajam mata Ijaz.
"Jasmine, apa kamu yakin?" sahut Anjani dengan teriak. Dan disaat bersamaan Jasmine memasukkan buku itu kedalam api yang tengah membara tersebut. Melihat hal itu Ijaz, Ria dan Anjani sangat terkejut.
"Kamu pikir kamu tidak berani melakukannya, kamu salah besar. Sangat salah besar!" ucap Jasmine dengan serius lalu ia berbalik dan pergi meninggalkan Ijaz. Di saat itu semua orang hanya terlihat mematung dengan sikap Jasmine yang sangat berbeda. Beberapa saat kemudian, Jasmine disusul oleh Ria.
Di saat Jasmine pergi, buku itu terlihat sudah terbakar namun tiba tiba suasana berubah hujan tiba tiba turun memadamkan api yang membakar buku itu dan membasahi tubuh Ijaz yang saat itu masih terdiam melihat Jasmine yang sangat kecewa dengan dirinya.
Beberapa saat kemudian, Anjani yang juga kehujanan melihat ke arah Ijaz dengan tatapan mata yang juga terlihat kecewa. Ia kemudian pergi meninggalkan tanpa mengatakan sepatah katapun kepada Ijaz. Waktu itu, Ijaz terlihat berusaha menghentikan Anjani namun tubuhnya seakan benar benar lemas dengan semua yang terjadi hingga membuat dirinya tidak dapat menghentikan Anjani.
__ADS_1
Setelah semua orang pergi meninggalkan dirinya, Ijaz langsung jatuh dan terduduk di tanah dengan sedih.
"Kenapa? Kenapa engkau memberi aku ujian seperti ini Tuhan? Apa salah ku?" tanya Ijaz dengan teriak dan melihat ke arah langit. Setelah itu, ia menundukkan kepalanya dan menangis karena merasa orang orang yang ia sayangi sudah pergi dari hidupnya dan meninggalkan dirinya. Ia kemudian menguatkan dirinya dan bangun dari duduknya. Setelah itu, ia mulai melangkah kakinya meninggalkan tempat itu. Namun, saat baru beberapa langkah meninggalkan tempat itu, Ijaz teringat dengan buku harapan yang di bakar oleh Jasmine. Ia kemudian menghampiri buku itu, melihat buku itu tidak terbakar semuanya Ijaz pun mengambil buku itu.
Saat ia mengambil buku itu, air mata terlihat menetes bersamaan dengan hujan. Setelah mengambil buku itu Ijaz pergi meninggalkan tempat itu dengan membawa buku yang sudah di bakar oleh Jasmine. Beberapa saat kemudian, ia sampai di rumahnya. Melihat anaknya basah Kuyup dan tidak bergairah, Ibu Ijaz terlihat sangat khawatir.
"Ada apa Ijaz? Kamu tidak papakan? Dimana Anjani?" tanya Ibu Ijaz dengan memeriksa keadaan Ijaz.
"Semuanya sudah hancur Bu, semuanya sudah hancur!" jawab Ijaz dengan sedih lalu ia melewati Ibunya dan tidak memperdulikan Ibunya lagi. Ia kemudian masuk ke dalam kamarnya dan saat ia sudah berada di dalam kamarnya, ia meletakkan buku itu di atas meja dan membiarkan buku itu sedangkan Ijaz dengan pakaian yang masih basah kuyup ia duduk di sisi paling pojok dengan sedih atas kehilangan Anjani dan yang lainnya.
Tak berselang lama, Ibu Ijaz menghampiri kamar Ijaz. Ia kemudian mengetuk pintu kamar Ijaz sambil beberapa kali memanggil nama Ijaz. Saat itu, Ijaz tidak memberi respon sama sekali mendengar ucapan dari Ibunya.
"Ini sebenarnya juga salah kamu sendiri Ijaz. jika, seandainya dulu kamu menaruh harapan maka kenapa? Kenapa kamu beri penghianatan? Kini kamu yang merasakan akibatnya. Ibu hany menunggu takdir dari Tuhan, apakah kamu mendapatkan Jasmine? Atau kamu mendapatkan Anjani? Atau kamu benar benar kehilangan semuanya? Tapi, Ibu yakin semuanya akan baik baik saja Nak," ujar Ibunya di luar kamar Ijaz dengan sedih dan berurai air mata.
Mendengar hal itu, Ijaz yang saat itu tengah berada di dalam kamarnya langsung berhenti menangis dan mendekati pintu. Ia kemudian duduk dengan bersandar pintu dalam keadaan masih basah kuyup.
"Semuanya tidak akan baik baik saja Ma, aku sudah kehilangan segalanya. Aku sudah kehilangan cinta ku," ujar Ijaz dengan sedih.
Mendengar anaknya menjawab ucapannya Ibu Ijaz terlihat diam selama beberapa saat.
"Kamu harus sadar, kalau semua yang terjadi di hidup kamu saat ini adalah kesalahan kamu sendiri!. Kamu harus menerimanya," ucap Ibu Ijaz lalu ia pergi meninggalkan Ijaz dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.
__ADS_1
"Iya Ma, aku tahu ini adalah salah ku!" jawab Ijaz lalu ia bangun dari duduknya dan menganti pakaiannya.