
Beberapa saat kemudian, Jasmin yang mendengar kan detak jantung Ayan seketika menutup matanya, merasakan kedalaman di dalam hatinya mendengar detak jantung Ayan. Tak berselang lama, Ayan yang menyadari hal itu ia hanya diam dan dengan perlahan dengan mata yang memerah seperti menahan sebuah kesedihan. Ia memegangi kedua lengan Jasmin dengan perlahan dan penuh kasih sayang.
"Apakah kamu mendengar nya? Dia terus menerus memanggil kamu, dia terus menerus menginginkan bersama kamu. Tapi... Dia harus terluka, di harus menanti dan rela untuk menunggu!."
Mendengar ucapan itu Jasmin hanya menangis dan menangis, ia seakan tidak bisa menerima kalau orang yang dia cintai saat ini adalah laki laki yang pernah meninggalkan diri demi orang lain.
Beberapa saat kemudian, dengan lirih ia memanggil Jasmin. Ayan dan Jasmin yang mendengar ucapan itu seketika langsung terdiam dan ia terlihat berhenti menangis. Melihat hal itu Ayan meminta Jasmin pergi mendekati Firman, namun saat itu perasaanya terasa bingung, ia berat untuk bersama dengan Firman kerena ia merasa kalau terlalu banyak ucapan yang di lontarkan oleh Firman kepadanya. Di sisi lain, ia juga
berat bersatu dengan Ayan, hal itu karena kejujuran yang di lakukan oleh Ayan kepada Jasmin.
"Kamu pergi lah, aku juga akan pergi dari sini. Aku akan menunggu kamu, aku ingin menunggu kehadiran kamu untuk kembali kepada ku!" ucap Ayan dengan raut muka yang terlihat sedih dan berurai air mata.
Setelah mengatakan hal itu, Ayan pun pergi dan di saat itu Jasmin yang melihat hal itu sedikit pun ia tidak ingin menghentikan Ayan. Ia hanya menundukkan kepalanya dengan berurai air mata yang semakin deras membasahi pipinya. Saat itu, Ayan pergi dengan mata yang di penuhi oleh air mata, ia terlihat sangat bergegas untuk pergi namun sesekali ia melambatkan langkahnya dengan berusaha untuk berbalik melihat ke arah Jasmin, namun ia tidak melakukan hal itu. Ia hanya diam dan kemudian ia melanjutkan langkah nya dengan langkah yang cepat. Di saat bersamaan Firman sadar dan ia berusaha untuk bangun dari terbaring nya. Saat itu, ia berusaha untuk bangun dari tempat tidur dan ia berdiri di belakang Jasmin dengan pandangan mata yang ikut sedih melihat Jasmin sedih dengan Ayan yang pergi dari hadapan nya.
****
Di luar rumah, terlihat Ayan pun meluapkan kesedihan nya dengan berteriak sekuat tenaga. Dengan langkah yang hampa, ia berjalan menjauhi rumah Firman.
Tiba-tiba hujan turun membasahi Ayan, Ayan yang bersedih ia terlihat tidak mempedulikan hujan itu san terus berjalan di bawah deras nya air hujan yang jatuh menguyur tubuhnya.
Ketika ia tengah berjalan tiba tiba tubuhnya terjatuh dengan posisi tubuh duduk bertekuk lutut dan terlihat seperti orang yang tidak memiliki harapan.
"Aaaaaaa" teriak Ayan di tengah jalan dengan sedih dan menangis di bawah derasnya air hujan. Setelah berteriak ia menunduk kan kepalanya dengan mengatakan kalau dirinya ingin bersama dengan Jasmin.
"Aku ingin bersama dengan kamu Jasmin, aku Ayan bukan lah Ijaz!."
Setelah mengatakan hal itu, terlihat sebuah kaki seorang wanita menghampiri Ayan dan memayungi tubuh Ayan dari derasnya air hujan. Menyadari hal itu, Ayan pun langsung melihat ke arah wanita yang memayungi dirinya.
Ketika ia sudah melihat ke arah orang yang memayungi dirinya, ia terlihat sangat terkejut dan ia langsung bergegas bangun dari duduk bertekuk lututnya.
Setelah ia berdiri di melihat ke arah orang itu dan berdiri di hadapan orang itu. Dan ketika sudah berdiri, wanita yang memayungi Ayan adalah Jasmin dengan mata yang terlihat memerah dan menahan sebuah rasa sakit yang sangat dalam.
"Apakah Ijaz akan meninggalkan Jasmin nya untuk yang kedua kalinya sekarang?" tanya Jasmin kepada Ayan yang sudah berdiri di hadapan nya dengan basah kuyup.
"Kenapa kamu kemari?" jawab Ayan berbalik bertanya kepada Jasmin.
"Ini bukan jawaban atas pertanyaan ku, bukan!."
Setalah mengatakan hal itu, Jasmin melepaskan payung yang ia pegangin agar tubuhnya basah kuyup sama seperti Ayan. Ketika payung sudah terlepas dari tangan, Jasmin langsung menarik kerah pakaian yang di pakai Ayan. Dengan air mata yang bercampur dengan hujan ia berbicara dengan Ayan dengan sangat tegas.
__ADS_1
"Apakah Ijaz akan meninggalkan Jasmin lagi? Jawab aku Ayan!" ucap Jasmin dengan air mata yang terus berderai lalu ia berhenti berhenti beberapa saat dan melepaskan tangannya dari kerah Ayan dengan memberi dorongan kepada Ayan.
"Kalau kamu adalah Ijaz, dan bener benar Ijaz. Kenapa? Kenapa kamu kembali ke hidup ku jika kamu ingin pergi lagi? Kenapa?!" ucap Jasmin dengan nada marah dan lantang.
"Maafkan aku, aku tidak bisa melakukan apa apa. Ini adalah takdir dari Tuhan, lalu aku harus apa atas semua ini?" jawab Ayan dengan sedih di bawah derasnya air hujan.
Mendengar ucapan itu, Jasmin hanya menggelengkan kepalanya dengan semakin sedih. Lalu, ia bergegas berlari dan memeluk erat Ayan, Ayan yang menyadari hal itu ia pun membalas pelukan Jasmin dengan erat.
"Aku minta maaf, maafkan aku. Aku bukan lah orang yang baik untuk kamu," ucap Ayan dengan nada sedih.
Di seberang jalan terlihat sebuah mobil truk berjalan dengan perlahan, namun saat itu supir yang mengendarai truk itu terlihat tidak fokus. Ia memutar musik dengan sangat kencang dan tidak memperhatikan jalan. Saat itu Jasmin dan Ayan juga tidak menyadari kalau ada sebuah truk yang akan menghampiri mereka. Ayan dan Jasmin, baru menyadari ketika truk sudah sangat dekat dengan dan mereka tidak bisa menghindari truk itu hingga akhirnya kedua orang itu tertabrak mobil truk itu hingga mereka terlempar jauh dari tempat mereka berdiri. Di sekolah Samir, ketika Samira tengah fokus mengerjakan tugas, tiba-tiba ia seperti melihat kejadian yang mengerikan tantang ibunya. Ia langsung berteriak memanggil ibunya dengan air mata yang terlihat memenuhi matanya.
Saat itu kesedihan sangat di rasakan oleh Samira, ia merasakan kesedihan sangat luar biasa di dalam hidup nya. Saat itu, ia menjadi pusat perhatian semua orang tidak terkecuali Nova yang langsung bergegas menghampiri Samira.
"Ada apa Samira?" tanya Nova kepada Samira yang matanya di penuhi oleh air mata. Saat itu ia tidak mengatakan sepatah kata pun, lalu dengan perlahan ia bangun dari duduknya dengan nafas sesak. Nova yang melihat hal itu ia semakin panik dan gelisah, ia berusaha untuk menenangkan Samira. Namun saat itu Samira tidak menerima hal itu dan langsung bergegas pergi keluar dari kelas dengan memanggil manggil ibunya.
Saat itu hujan turun dengan sangat deras, Samira yang melihat hal itu ia tidak mempedulikan apa yang di ucapkan oleh Nova dan ia terus berlari keluar sekolah.
Melihat sikap aneh dari Samira, Nova berusaha untuk mengehentikan Samira namun Samira tidak ingin berhenti, menyadari hal itu ia pun ingin mengejar Samira menerjang hujan tapi hal itu di hentikan oleh security yang saat itu tengah bertugas. Ia menawarkan diri agar dirinya saja yang mengejar Samira, Nova yang mendengar hal itu ia bahagia ia justru meminta Samira agar ia di ajak bergegas kemari.
Beberapa saat kemudian, security itu pergi untuk mengejar Samira keluar dari sekolahan. Ketika security itu pergi, raut muka Nova terlihat sangat khawatir dan gelisah. Ia terlihat tidak tenang dengan apa yang di lakukan oleh Samira.
****
Saat itu Jasmin yang sadar dengan berlumuran darah meminta salah satu suster yang berada di dekatnya. Ia mengatakan kalau jika Ayan meninggalkan ia meminta untuk memberikan Jantungnya kepada Ayan . Mendengar ucapan itu, si suster pun hanya menganggukkan kepalanya dan mengiyakan apa yang di inginkan oleh Jasmin.
*****
Di rumah Ayan, saat itu Ibu Ayan terlibat khawatir. Ia merasakan hal yang aneh, ia merasa kalau Ayan dan Jasmin dalam bahaya. Perasaanya semakin berkecamuk ketika foto besar Ayan yang terpampang jelas di dinding rumah, tanpa ada angin jatuh dengan sendirinya. Dan bahkan hancur berkeping keping.
Menyadari hal itu, Ibu Ayan yang khawatir pun langsung menghampiri foto itu dan membersihkan pecahan kaca dari foto foto itu. Ia terlihat bersedih dan terus berpikir tentang yang terjadi dengan anaknya.
Ketika ia tengah membersihkan kaca yang berserakan. Tiba tiba tangan Ibu Ayan tertusuk oleh serpihan kaca, menyadari hal itu ia semakin khawatir akan terjadinya sesuatu dengan anaknya.
Beberapa saat kemudian, telepon rumah yang berada di atas meja yang berada tidak jauh dari tempat Ibu Ayan tiba tiba berbunyi. Menyadari hal itu, ia pun menghampiri ponsel itu dan mengangkat penggilan itu.
"Halo" jawab Ibu Ayan setelah ia berhasil mengangkat panggilan itu. Ketika ia sudah mengangkatnya, ekspresi muka nya tiba tiba berubah menjadi terlihat seperti orang yang sedih dan berurai air mata. Ia sangat terkejut, ia tidak bisa berkata kata dan tidak bisa atas apa yang sudah ia lakukan. Air matanya hanya terus berderai membasahi pipinya.
Tiba tiba tubuhnya terjatuh lemas tidak berdaya di lantai dengan pandangan mata yang terus melamun. Ia seperti tidak percaya dengan apa yang sudah ia dengar dan ia lihat.
__ADS_1
"Ayaaaan," teriak Ibu Ayan dengan berderai air mata setelah ia mendengar kabar dari rumah sakit kalau anaknya yang bernama Ayan dan istri Jasmin mengalami kecelakaan maut.
Mendengar teriakan itu, suaminya yang berada di dalam kamar langsung keluar dari kamarnya begitupula para pembantu yang bekerja di rumah Ayan.
Mereka terlihat sangat khawatir dengan apa yang di lihat nya.
"Mah, ada apa ?" tanya laki laki yang tak lain adalah suaminya sendiri.
Mendengar ucapan itu Ibu Ayan pun menjelaskan kepada suaminya kalau ia baru saja mendapatkan kabar dari rumah sakit kalau Ayan dan Jasmin mengalami kecelakaan dan sekarang sedang berada di rumah sakit.
Mendengar penjelasan itu, semua orang sangat terkejut tak terkecuali suaminya. Ia langsung mengajak istrinya bergegas ke rumah sakit untuk melihat keadaan Jasmin dan Ayan.
Melihat kedua bos besarnya sudah pergi, para pembantu itu bangun dari duduknya dan ia melihat ke arah kedua bosnya yang pergi dengan melontarkan doa untuk kedua orang itu agar mereka di beri kesempatan.
Di rumah sakit, apa yang di doakan oleh para pembantu itu tidak terjadi. Dimana di saat itu, Jasmin dan Ayan mengalami koma dan tidak sadarkan diri. Namun, Tuhan berkata lain setelah berjuang keras untuk menyelamatkan Ayan. Para dokter gagal untuk menyelamatkan Ayan.
Di luar IGD rumah sakit, Firman yang masih menggunakan perban sudah berada di depan kamar. Ia terlihat khawatir berjalan kesana kemari dengan raut muka yang sangat gelisah dengan apa yang sudah terjadi dengan Jasmin.
Beberapa saat kemudian orang tua Ayan juga datang di rumah sakit. Ia terlihat sangat khawatir atas apa yang sudah terjadi dengan kedua orang itu.
Ketika orang tua Ayan sudah sampai di rumah sakit, salah satu dokter keluar memanggil keluarga Ayan untuk memberi tahu kalau mereka tidak bisa menyelamatkan Ayan. Mendengarkan hal itu, Ibu Ayan sangat histeris ia tidak percaya kalau anak nya tidak bisa di selamatkan. Ketika ia sudah memberi tahu tentang keadaan Ayan, dokter itu juga memberi tahu Firman kalau sebelum kita mengalami operasi Jasmin mengatakan ia ingin mendonorkan jantungnya untuk Ayan. Mendengar ucapan itu Firman tampak sangat terkejut dan ia tidak bisa berkata kata atas apa yang sudah di katakan oleh dokter itu.
Tidak hanya Firman, orang tua Ayan yang mendengar ucapan itu pun juga terkejut dan ia tidak bisa berkata kata. Namun saat itu ia menangis, tangisan nya tiba tiba berhenti ketika ia mendengar apa yang di katakan oleh dokter itu.
Mendengar kalau hal itu, adalah keinginan dari Jasmin. Ayan pun tanpa berpikir panjang mengiyakan apa yang di inginkan oleh dokter itu.
Malam hari pun tiba, Samira hanya melamun dengan pandangan mata kosong setelah mengetahui kalau Ayan dan Jasmin berada di rumah sakit.
Menyadari hal itu, Firman berusaha menenangkan Samira namun Samira menghindari Firman. Hal itu terjadi kerana Firman sudah menyakiti Samira.
"Maafkan saya, karena saya sudah menyakiti kamu dan ibu kamu!" ucap Firman dengan nada rendah dan terlihat menenangkan Samira yang sedih karena ia menyadari kalau ibunya tidak sadarkan diri.
Saat itu Samira hanya diam dan tidak mengatakan sepatah katapun ia hanya diam dengan seribu bahasa.
Waktu berlalu begitu cepat, akhirnya operasi transplantasi jantung pun sudah di lakukan. Saat itu Samira tidak mengetahui kalau jantung yang di pakai oleh Ayan adalah jantung ibunya. Yang ia ketahui ibunya tidak selamat dalam kecelakaan itu hingga membuat Samira menangis histeris setelah mendengar apa yang di katakan oleh dokter itu. Ia merasa tidak percaya dengan hal itu, namun apa boleh buat ibu adalah sebuah takdir. Takdir yang di inginkan oleh Jasmin di saat ia masih hidup.
Hari pemakaman pun tiba, terlihat Samira masih berderai air mata melihat kepergian ibunya ke tempat terakhir. Saat itu di pemakaman itu di hadiri oleh orang tua Ayan dan tak ketinggalan adalah Nova guru yang mengajar Nova.
Pemakaman pun berjalan dengan hikmat, tanda ada gangguan apapun. Setelah pemakaman selesai, Samira terlihat tidak ingin pulang dan ia hanya duduk di samping ibunya.
__ADS_1