Sebarkas Harapan Diatas Penantian

Sebarkas Harapan Diatas Penantian
20. Ayan adalah Ijaz


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, terlihat Jasmin duduk di sebuah kursi yang berada di kamar yang di tempati oleh Samira. Terlihat sebuah buku coklat berada di hadapannya menanti Jasmin menulis curahan hati.


Beberapa saat kemudian, tangan yang putih dan halus itu menggerakkan tangan yang terdapat sebuah pena yang berada di genggaman tangannya.


Dengan derai air mata, ia menulis....


Bukan hati dalam jeruji, yang terbui oleh satu orang. Bukan batin yang gamang dengan sebuah keputusan namun hanya ilusi harapan hati yang berbuah kegundahan.


Kebingungan hati untuk menentukan tujuan, tujuan indah yang menghasilkan sebuah cahaya. Cahaya atas sebuah luka yang di akibatkan sebuah kata.


Di saat detik telah tiba, maka waktu untuk pergi harus terjadi. Dimana akan ada sebuah perpisahan yang membelenggu, di antara hati yang sama sama terluka.


Setalah menuliskan kalimat itu, setetes air mata menetes jatuh di salah satu buku yang berada di hadapannya. Menyadari hal itu, Jasmin yang tengah menulis kalimat itu seketika dengan perlahan ia menghapus air matanya yang membasahi matanya, lalu ia menutup buku itu dan pergi kamar yang ia tempati dengan Samira di rumah Firman.


"Jasmin," panggil Firman setalah ia melihat perempuan yang ia cintai keluar dari kamar tidur.


"Mas," jawab Jasmin dengan senyum kecil lalu ia berjalan perlahan mendekati Firman. Namun, ketika ia sudah berada di dekat Firman ia justru melewati Firman dengan menundukkan kepalanya.


Menyadari hal itu, Firman hanya diam dengan pandangan mata melihat ke arah Jasmin.


****


Waktu berlalu begitu cepat, terlihat laki laki yang di cintai oleh Jasmin telah datang dengan membawa sebuket bunga untuk Jasmin. Saat itu, Jasmin tengah berada di taman rumah Firman, melihat kedatangan Ayan ke rumah Firman, Jasmin terlihat sangat bahagia. Ia kemudian memeluk Jasmin dengan erat, di sisi lain terlihat Firman keluar dari dalam rumah dengan terlihat bahagia dan ia juga membawa setangkai bunga untuk Jasmin.


Melihat Jasmin dan Ayan berpelukan, Firman terlihat sangat sedih. Ia marah dan kesal namun entah mengapa ia merasa kalau dirinya tidak seharusnya merasakan hal itu.


Tiba tiba......


Firman melihat kilas balik di masa lalu di mana dirinya melihat kedekatan antara Ayan dan Jasmin, namun saat itu apa yang terlihat di benak nya tidak terlihat dan masih menjadi rahasia di hidup Firman.


Saat itu teriakan demi teriakan di lontarkan oleh Firman dan ia menggeliat liat kesakitan dengan memegangi kepalanya dan memukul mukul kepalanya. Melihat hal itu, Jasmin dan Ayan langsung menghampiri Firman dan membantu Firman, namun entah mengapa di saat itu Firman menolak di bantu oleh Jasmin dan bersikukuh untuk berjalan sendiri dengan rasa sakita yang sangat luar biasa serakah mengingat sekilas bayangan masa lalu nya. 


Namun, saat itu Ayan dan jasmin tetap membantu Firman, namun saat ia di pegang oleh Jasmin dan Ayan, karena sakit yang sangat luar biasa hingga membuat Firman membenturkan kepalanya ke dinding. Melihat hal itu, Jasmin menangis histeris. Ia berusaha untuk memisahkan Firman dari tembok.


Saat itu, Ayan juga bingung ia menghubungi dokter sekaligus berusaha memisahkan Firman dari tembok untuk membantu Jasmin.


Setalah beberapa kali membenturkan kepalanya ke tembok, tiba tiba Firman langsung tidak sadarkan diri dan jatuh ke pelukan Jasmin. Jasmin yang melihat hal itu, ia langsung memeluk erat Firman dengan derai air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.

__ADS_1


Tak berselang lama dokter yang di panggil oleh Ayan pun datang, saat itu Firman tengah berbaring di atas tempat tidur dengan keadaan tidak sadarkan diri. Terlihat Ayan berada di samping Jasmin yang berdiri di dekat Firman. Saat itu tangan Ayan  terlihat tengah memeluk Jasmin yang terlihat sedih dengan apa yang sudah di lihat oleh matanya.


"Bu Jasmin, saya mohon tolong kejadian ini jangan sampai terulang lagi. Karena hal ini sangat membahayakan nyawa Pak Firman!" ucap dokter yang memeriksa Firman setalah ia selesai memeriksa Firman.


Mendengar ucapan itu, Jasmin dan Ayan pun mengangguk kan kepalanya menandakan bahwa mereka mengerti apa yang di ucapakan oleh dokter itu. Setelah hal itu, Ayan pun mengantarkan dokter yang memeriksa Firman keluar dari rumah untuk pulang.


Ketika Ayan dan si dokter itu berada di luar rumah, dokter itu kembali mengingatkan Ayan agar hal yang terjadi hari ini tidak terjadi lagi di hari hari kemudian nya. Ayan yang mendengar apa yang dibicarakan oleh si dokter, ia hanya menganggukkan kepalanya sebagai tanda bahwa ia mengerti apa yang di ucapkan oleh si dokter. Setalah itu, dokter itu pun pergi dari rumah yang di tempati eh Firman.


Di dalam kamar terlihat Jasmin duduk di samping Firman dengan memegangi salah satu tangan Firman yang berada di hadapan nya. Dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya, Jasmin memegangi dengan lembut.


"Kenapa kamu bisa melakukan hal itu Mas? Kenapa?" tanya Jasmin yang sedih dan berderai air mata dengan memegangi tangan Firman.


Beberapa saat kemudian, Ayan datang di kamar yang di tempati oleh Firman. Melihat hal itu, Ayan hanya diam dengan mata yang terlihat mulai memerah seperti menahan kesedihan di matanya. Hal itu terjadi kerana ia merasa kalau wanita yang ia cintai masih mencintai Firman.


Melihat kesedihan Jasmin, Ayan benar benar menetes kan air mata. Ia terlihat sangat sedih dengan apa yang sudah di lihatnya, namun saat itu ia masih menutupi kesedihannya di hadapan Jasmin.  


Saat itu, dengan langkah perlahan Ayan mendekati Jasmin. Ketika ia sudah berada di dekat Jasmin, ia memegangi salah satu bahu Jasmin dengan penuh kelembutan dan raut muka yang terlihat seperti orang  menahan kesedihannya.


Menyadari bahu nya di pegang oleh Ayan, Jasmin hanya terlihat sedih dan pandangan matanya terlihat di penuhi oleh air mata.


"Semuanya akan baik baik saja, Firman akan baik baik saja. Kamu harus yakin itu," ucap Ayan dengan lembut lalu ia melepaskan tangannya dari bahu Jasmin dengan perlahan dan setelah itu ia berbalik meninggalkan Jasmin yang menunggu Firman. Menyadari hal itu, Jasmin semakin sedih, ia pun langsung berdiri dari duduknya dan mengejar Ayan. Ketika ia sudah berada di dekat Ayan, ia memegangi tangan Ayan dengan lembut dan dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.


"Aku tidak akan meninggalkan kamu, aku juga tidak ingin pergi dari kamu. Aku hanya ingin beristirahat sejenak, merasakan sebuah penantian yang pernah kamu rasakan! Aku lihat, ada tiga hati yang saling terikat di sini, namun... Ikatan hati yang satu sudah rapuh dan akan segera terputus."


Mendengar ucapan itu, Jasmin benar benar tidak bisa berkata kata. Ia hanya diam saja dengan pandangan mata melihat ke arah Ayan yang saat itu juga sedih atas apa yang sudah di katakan oleh Ayan.


"Apa maksud kamu mengatakan hal itu?" jawab Jasmin dengan kebingungan dan sedih. Ia kemudian mendekatkan lagi tubuhnya ke Ayan dan ia memegangi pipi Ayan dengan lembut sambil menempelkan dahinya ke dahi Ayan. "Dengar kan aku, ikatan kita tidak akan terpisah antara satu dengan yang lainnya. Ikatan hati kita akan selamanya terjaga, aku tidak mungkin membuat kamu dalam perasaan yang sama.. Sama seperti yang aku rasakan dulu, aku tidak akan mungkin bisa melakukan nya!."


Derai air mata terus mengalir membasahi pipi Jasmine dan Ayan. Kesedihan atas cintanya yang harus di pisahkan oleh Firman, terjadi. Perasaan takut kehilangan di rasakan oleh Jasmin.


Beberapa saat kemudian, ia mengerakkan tangan nya yang memegangi pipinya mendekati tangan Ayan. Ketika merasa tangannya sudah berada di dekat Ayan, Jasmin memegangi tangan Ayan dengan sangat erat dengan dahinya yang masih menempel ke dahi Ayan.


"Aku mohon jangan pergi," pinta Jasmin dengan sangat sedih.


"Aku tidak akan pergi, mungkin ini adalah takdir dari Jasmin. Aku merasa, kesalahan ku di masalalu yang aku lakukan kepada kamu.... " ucap Ayan lalu ia menghentikan ucapannya selama beberapa saat dan menghela nafas berat. "Sekarang ini adalah hukumannya!."


Mendengar ucapan itu, Jasmin terlihat terkejut, matanya terbelalak dan ia terlihat tidak bisa berkata kata. Ia hanya diam dengan melangkah mundur menjauhi Ayan, hal itu terjadi karena ia sadar dari ucapan yang di ucapkan oleh Ayan. Ia menyadari kalau orang yang bernama Ayan adalah Ijaz laki laki yang dulu pernah ia cintai.

__ADS_1


"Ijaz...." panggilan Jasmin kepada Ayan dengan suara lirih dan bergetar. Ia merasa tidak percaya dengan hal itu. Namun, saat itu Ayan justru meyakinkan Jasmin kalau laki laki di hadapannya adalah Ijaz.


Mendengar kalau Ayan terus mengatakan bahwa dirinya adalah Ijaz, Jasmin yang muak mendengar ucapan itu dengan lantang ia membentak Ayan untuk diam dan tidak mengatakan satu katapun.


Mendengar bentakan itu, Ayan hanya diam.


Melihat Ayan terdiam setalah mendengar bentakan nya, dengan bergegas ia menghampiri Ayan dan menarik kerah pakaian yang di pakai oleh Ayan.


"Sudah cukup! Sudah cukup kamu menyebut Ijaz di sini, kalau kamu memang Ijaz. Seorang laki laki yang pernah aku cintai, mengapa kamu kembali ke dalam hidup ku? Kenapa?" tanya Jasmin dengan baik dan masih bernada rendah. Melihat hal itu Ayan masih diam saja dan tidak mengatakan sepatah katapun.


"KENAPA?!!!" bentak Jasmin lalu ia mendorong Ayan dan melepaskan kerah pakaian yang di pakai oleh Ayan. Ayan yang menerima dorongan itu ia hanya diam dan menerima dorongan itu dengan pasrah, tanpa berusaha untuk menenangkan Jasmin.


"Kenapa?" ucap lirih Jasmin setelah ia mendorong Ayan dari hadapan nya.


Melihat Jasmin yang marah dengan dirinya sudah terlihat lebih tenang, ia menghampiri Jasmin dan memegangi tangan Jasmin, namun saat itu ia menolaknya. Ayan yang menyadari hak itu terus menerus berusaha memegangi tangan Jasmin, tapi tetap sama Jasmin terus menolak.


Menyadari hal itu, tanpa berkata kata Ayan pun langsung memeluk erat Jasmin dengan setetes air mata yang membasahi pipinya. Berbeda dengan Ayan, menerima pelukan dari Ayan, Jasmin justru terlihat semakin bersedih dan ia semakin histeris.


Ia meronta ronta untuk melepaskan dirinya dari pelukan Firman dengan mengatakan kalau ia tidak percaya bahwa orang yang ada di hadapannya adalah laki laki yang pernah ia cintai di masa lalunya. Namun, kenyataan tidak lah bisa di ubah, kini Jasmin harus menerima kenyataan bahwa laki laki yang bernama Ayan adalah Ijaz pria yang memberi luka di dalam hati Jasmin.


Ketika Ayan memeluk Jasmin, dengan lirih dan memeluk Jasmin semakin erat.


"Maafkan aku. Maafkan aku karena sudah menyakiti kamu lagi. Tapi kali ini aku janji, apa yang terjadi di masalalu adalah perbuatan Ijaz, bukan Ayan. Ayan hanya akan mengobati apa yang sudah tergores, walaupun Ayan tahu kalau goresan itu tidak akan mungkin bisa dengan mudah untuk hilang!."


Mendengar ucapan itu, Jasmin pun hanya diam dan ia hanya menangis. Saat itu tangannya seakan ingin membalas pelukan dari laki laki itu, namun hal itu tidak ia lakukan, entah apa yang membuat Jasmin menghentikan apa yang ia inginkan.


Merasa Jasmin sudah tenang, Ayan melepaskan pelukannya dan ia memegangi kedua lengan Jasmin.


"Aku mohon kamu percaya dengan aku, aku memang orang yang sama. Tapi aku bukan Ijaz, Ijaz sudah meninggal. Dia meninggal di hari di mana kamu menikah dengan Firman!."


Mendengar ucapan itu, Jasmin masih diam dan tidak berkata sepatah kata pun. Ia hanya memandang ke arah mata Ayan yang saat itu di penuhi oleh air mata.


Melihat hal itu, Ayan pun mengerakkan tangan nya dan meraih tangan Jasmin. Ketika tangannya sudah berada di tangan Jasmin, ia mengerakkan tangan Jasmin ke arah dadanya.


"Untuk Ijaz, tidak ada nama Jasmin di tempat ini, tapi... Untuk Ayan, demi cinta nya dia pasti rela untuk menanti, untuk menunggu dan menulis kata untuk merangkai harapan hati untuk orang yang kita cinta!" ucap Ayan dengan sedih dan mata yang terus memandang ke arah Jasmin.


Jasmin yang menyadari hal itu ia hanya diam dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya. Lalu, dengan perlahan ia mendekatkan tubuhnya ke Ayan, setalah ia dekat dengan Ayan ia menempelkan telinga Jasmin ke dada Ayan.

__ADS_1


Saat itu selama beberapa saat ia terdiam dengan mata yang melamun untuk mendengar kan detak jantung dari Ayan. Ayan yang menyadari hal itu ia hanya bisa diam dan tidak bisa mengatakan sepatah katapun. Ia hanya berusaha untuk menahan kesedihannya di hadapan Jasmin.


__ADS_2