
Begitu Ayana hilang dari pandangannya, Handi langsung menuju ruangan Farraz untuk memberikan hardisk titipan Ayana tadi. Setibanya di depan ruangan Farraz, Handi celingukan melirik kedalam ruangan yang bisa terlihat dari dinding kaca tembus pandang itu.
"Mungkin Farraz sedang rapat." Gumanya saat tidak melihat keberadaan Farraz didalam ruangan itu.
Handi menatap hardisk ditangannya, lalu dia kembali melirik kedalam ruangan kosong itu.
"Apa aku taruh di meja Farraz aja, ya? Tapi, takutnya Farraz tidak menemukan hardisk ini. Bisa bisa Ayana dapat masalah." Ucapnya.
"Nanti aja balik lagi ke sini." Hendak pergi.
Tepat saat Handi berbalik arah, dia melihat Nurul baru keluar dari ruang rapat. Bukan hanya Nurul saja, tapi ada beberapa stap lainnya. Hanya saja, yang dikenal Farraz cuma Nurul.
"Nurul." Panggilnya.
Dia melangkah menghampiri Nurul yang hampir masuk ke ruangannya.
"Pak Handi? Ada yang bisa saya bantu?" Sambut Nurul ramah.
"Pak Farraz kemana, ya?" Tanya Handi.
Sebentar Nurul melirik kearah ruangan Farraz yang terlihat kosong. Nurul juga melirik ke meja kerja Ayana yang juga kosong.
"Wah, saya juga tidak tahu, Pak Handi. Soalnya, saya sejak tadi di ruang rapat. Sebelum ke ruang rapat, mbak Ayana pergi bersama mbak Arumi untuk makan. Mungkin belum kembali. Lah kalau pak Farraz sendiri, saya juga tidak tahu keberadaannya." Jelas Nurul.
Handi mengangguk paham. "Saya tahu dimana Ayana. Dia sudah pulang." Jelas Handi.
"Pulang? Mbak Ayana sudah pulang? Apa dia sakit?" Tanya Nurul khawatir.
Karena memang tidak sekalipun Ayana pulang lebih awal jika tidak sedang bertugas diluar kantor.
"Ayana tidak sakit, kok. Tapi, ada hal penting yang mengharuskan dia pulang lebih awal." Ucap Handi.
"Syukurlah." Ucap Nurul merasa lega.
"Kalau begitu, boleh saya nitip sesuatu?" Handi mengulurkan hardisk kearah Nurul.
"Boleh." Jawabnya Ragu.
"Tolong berikan hardisk ini pada pak Farraz. Bilang ini hardisk dari Ayana. Semua bahan untuk meeting nanti siang ada didalam sini." Tutur Handi pada Nurul.
Nurul mengangguk paham sambil mengambil alih hardisk dari tangan Handi.
"Jangan lupa berikan pada pak Farraz. Ok!" Mengacungkan jempol.
"Siap. Pak Handi tidak usah khawatir, hardisk ini akan tiba ditangan pak Farraz segera." Ucapnya semangat.
Handi tersenyum melihat rasa semangat Nurul. Kemudian, dia pergi meninggalkan Nurul yang menatap ragu pada hardisk yang ada di tangannya.
"Pak Farraz kemana, ya? Tidak biasanya dia meninggalkan ruangan itu tanpa pemberitahuan." Menatap terus kearah ruangan kosong itu.
__ADS_1
Hingga akhirnya mata Nurul menangkap sosok Farraz yang baru saja keluar dari kamar mandi pribadinya.
"Panjang umur, pak Farraz. Ternyata dia mandi. Hihihhii..." Ucap Nurul cekikikan menatap wajah Farraz dari kejauhan.
"Rambut setengah kering pak Farraz sungguh membuat jantungku berdegup kencang…"
Nurul membayangkan dirinya berada disamping Farraz saat Farraz menyibak poni setengah keringnya itu kebelakang.
"Hah, sungguh hariku sudah cukup menyenangkan dengan hanya menatap wajah tampan pak Farraz." Ucapnya bahagia.
...🍀🍀🍀...
Hadijah dan Mamat yang sedang berdebat tentang memindahkan kursi ke pinggir kolam renang atau ke taman, terkejut saat melihat mobil Ayana masuk ke perkarangan rumah.
"Nyonya pulang!" Teriak Hadijah kaget.
Dia segera berlari menuju halaman depan untuk menyambut kedatangan Ayana.
"Nyonya, sudah pulang?" Sambutnya saat Ayana keluar dari mobil.
"Sudah mbak." Jawabnya sambil tersenyum.
"Kok baju nyonya basah? Apa tadi hujan?" Tanya Hadijah bingung melihat baju Ayana basah.
Ayana tidak menjawab, dia hanya tersenyum. Lalu, melangkah memasuki rumah. Dia melangkah tanpa alas kaki, karena sepatunya sudah dibuangnya tadi di jalan.
"Sepatu Nyonya, mana?" Tanya Hadijah.
Mendengar itu membuat Hadijah merasa takut untuk bertanya lagi. Dia hanya mengikuti langkah Ayana yang mulai menuju lantai atas.
"Nyonya mau disiapkan makan siang, apa?" Tanya Hadijah lagi.
"Tidak perlu, mbak. Aku tidak lapar, aku hanya ingin istirahat." Ucapnya menegaskan.
"Baik nyonya." Ucapnya patuh.
Hadijahpun berhenti mengikuti langkah Ayana yang sudah masuk ke kamarnya.
Ayana melepaskan jas yang tadi dipinjamkan Handi, lalu dia meletakkannya sembarangan.
"Aku harus kuat. Air mata jangan keluar." Ucapnya.
Ayana melangkah menuju kamar mandi. Dia berdiam diri didepan cermin. Menatap wajahnya dan mencoba tersenyum. Tapi, pada akhirnya dia kalah. Air matanya akhirnya menetes dan dia menangis.
"Ibuk… adek rindu. Adek butuh pelukan ibuk…" Ucapnya terisak.
Disapunya bibirnya dengan air berkali kali. Dia benci mengingat perlakuan kasar Farraz padanya benerapa menit yang lalu.
"Ya Allah, apa yang harus aku lakukan?"
__ADS_1
Tangisnya semakin menjadi. Dia menangis meraung raung. Rasa sakit dihatinya terasa mencekik dan membuatnya susah hanya untuk sekedar menarik napas.
"Kenapa aku menangis. Kenapa air mata ini menetes…" Rutuknya kesal ada dirinya sendiri.
Ayana terus menangis sepuasnya. Dia meluapkan segala rasa sakitnya dalam tangisan. Hingga tidak terasa setelah hampir satu jam menangis dikamar mandi, tangisan itu pun reda. Hatinya terasa lebih plong dari sebelumnya.
"Hhhhuuuuhhhhssss…" Mengatur napasnya.
Lalu, setelah merasa lebih baik. Ayana pun langsung mandi, dan setelah itu berganti pakaian, kemudian dia melaksanakan sholat zuhur. Tidak lupa Ayana berdoa untuk kedua orangtuanya dan juga untuk dirinya sendiri, agar lebih sabar dan kuat dalam menjalani garis hidup yang telah ditetapkan untuknya.
Tok, tok…
"Nyonya, boleh saya masuk?" Ujar Hadijah dari luar kamar.
"Boleh, mbak!" Serunya dari dalam.
Hadijah segera masuk. Dia membawa nampan berisi sepiring nasi lengkap dengan lauk pauknya dan segelas air putih.
"Makan siang dulu, Nyonya." Meletakkan makanan itu diatas nakas samping tempat tidurnya.
"Terimakasih, mbak." Ucapnya.
Ayana masih memakai mukenanya dan masih duduk diatas sajadah.
"Mbak, peluk aku dong!" Mendongak menatap Hadijah yang berdiri di sampingnya.
Mata Ayana berkaca kaca saat menatap Hadijah. Dan itu membuat Hadijah merasa iba. Dia pun langsung duduk disamping Ayana dan memeluknya.
"Apa Nyonya bertengkar dengan tuan Farraz?" Tanya Hadijah ragu.
"Apa Mama memberitahu mbak Dijah?" Ayana balik bertanya.
"Iya. Barusan Nyonya Irma menelpon menanyakan keadaan Nyonya. Katanya, dia diberitahu oleh salah satu karyawan tentang keadaan Nyonya dan kepulangan Nyonya." Tuturnya menjelaskan.
"Bukankah pertengkaran itu bumbu dalam rumah tangga?" Tanya Ayana, masih betah dalam pelukan Hadijah.
"Begitulah. Tapi, tergantung jenis pertengkarannya juga. Kalau bertengkar sampai melukai pisik pasangan, maka itu bukan bumbu dalam rumah tangga, melainkan racun yang harus segera diatasi sesegera mungkin, sebelum merenggut nyawa salah satunya."
Mendengar penuturan itu, membuat Ayana tersenyum. Dan perlahan melepaskan pelukan Hadijah.
"Aku mau tidur siang. Rasanya mataku sangat mengantuk, mbak." Ucapnya.
"Iya. Nyonya istriharatlah. Tapi, jangan lupa makan siangnya."
Ayana mengangguk. "Bangunkan aku saat Ashar, ya mbak."
"Baik Nyonya. Kalau begitu, saya permisi."
Hadijah meninggalkan Ayana sendirian di kamarnya dengan perasaan khawatir. Dia khawatir Ayana akan melakukan hal hal yang diluar dugaan.
__ADS_1
"Semoga tidak terjadi apa apa pada Nyonya." Ujarnya.
Hadijah melangkah turun dengan ragu. Karena dia sangat mengkhawatirkan majikannya yang baik hati itu. Bahkan Hadijah merasa Ayana seperti adiknya sendiri yang butuh perhatian dan kasih sayang.