
Dua pekan kemudian.
Hari ini Handi sudah mulai kembali bekerja. Dia sudah kembali ceria lagi seperti sebelumnya.
"Pak Handi, ini semua file laporan yang saya kerjakan selama pak Handi cuti."
Arumi meletakkan beberapa file di atas meja kerja Handi.
"Terimakasih, Arumi." Ucapnya tersenyum ramah.
Handi pun langsung memeriksa file file tersebut dengan amat sangat teliti. Satu menit, dua menit… lima menit… dia terus memeriksa dengan teliti. Sementara, Arumi masih berdiri di depan meja kerja Handi.
"Ok. Kerja kamu bagus." Handi memuji Arumi.
"Terimakasih, pak Handi."
"Sama sama." Ucapnya.
"Ada yang perlu saya bantu lagi, Pak?" Tanya Arumi hati hati.
'"Sejauh ini… saya rasa tidak. Nanti kalau ada yang membingungkan atau ada hal lainnya, saya akan langsung menemui kamu. So, sekarang kamu silahkan kembali bekerja." Jawabnya sambil tersenyum manis.
"Baik, Pak. Kalau begitu, saya permisi dulu."
Handi mengangguk dan tersenyum sebagai respon dari ucapan Arumi. Dan Arumi pun sudah keluar dari ruang kerja Handi.
__ADS_1
"Ayana mana ya? Aku kira akan langsung melihatnya saat tiba di kantor. Tapi, sampai sekarang aku belum bisa melihatnya." Gumamnya bicara sendiri.
Dia sangat merindukan Ayana. Karena selama dua minggu terakhir, dia belum pernah melihat atau hanya sekedar mendengar suara Ayana sama sekali. Ayana seakan menghilang dari permukaan bumi.
Sementara, Ayana hari ini tidak masuk kerja. Karena harus menemani Mama ke rumah sakit untuk periksa gula darahnya yang mendadak melunjak naik.
"Gula darahnya sudah mendekati normal kembali. Jadi saya sarankan, agar nyonya Irma tidak mengonsumsi makanan atau minuman yang manis dalam porsi yang berlebih."
Dokter itu menjelaskan pada Irma yang baru saja selesai di periksa oleh dokter itu.
"Ini saya resepkan obat, dan silahkan di makan sesuai resep yang saya anjurkan." Memberikan secarik kertas daftar obat yang harus ditembus di apotek terdekat.
"Terimakasih, dokter." Ucap Irma sebelum keluar dari ruangan dokter itu.
"Yana tembus obat dulu, ya Ma. Mama tunggu di mobil saja." Ujar Ayana.
"Iya, sayang." Sahut Irma.
Merekapun melangkah berlawanan. Ayana menuju apotek, sedangkan Irma menuju mobil yang terparkir di depan sana.
Setelah menembus obat, Ayana menyusul Irma yang sudah berada di mobil.
"Ma, kita langsung pulang atau ada tempat yang mau Mama kunjungi?" Tanya Ayana.
"Mama mau langsung pulang." Jawabnya.
__ADS_1
"Baiklah."
Ayana melajukan mobilnya menuju rumah Irma. Sepanjang perjalanan mereka tidak banyak bicara. Irma bahkan memilih memejamkan matanya. Dan Ayana hanya bisa diam melihat raut wajah Irma yang tampak sangat kecewa.
Sebenarnya, dua hari yang lalu Farraz mengatakan bahwa dia akan menikahi Elsa pada Mama. Hal itulah yang membuat Irma merasa tertekan dan penyakitnya kambuh.
"Yana, Mama rasa kalian harus segera bercerai." Ucap Orma tiba tiba.
Ayana hanya menoleh sebentar, lalu kembali Fokus mengemudikan mobil.
"Maafkan Mama. Karena Mama egois. Mama menginginkan kamu menjadi menantu Mama, sementara Farraz sendiri menginginkan wanita lain. Maafkan Mama, Yana." Ujarnya tanpa mau menatap pada Ayana.
"Ma, tidak perlu meresa bersalah seperti itu. Yah, Yana juga sebenarnya ingin mengakhiri pernikahan ini. Tapi, Farraz masih meminta waktu. Dan, Yana yakin Farraz akan menerima Yana sebagai istrinya perlahan lahan." Jelas Ayana.
"Benarkah?" Tanya Irma yang akhirnya menoleh pada Ayana.
"Iya, Ma. Farraz sendiri yang mengatakan itu pada Yana. Dia bilang, tidak akan menceraikan Yana." Ucapnya yakin.
"Mama bahagia mendengarnya. Tapi, kenapa Farras mengaku akan menikahi Elsa, jika memang dia ingin mempertahankan pernikhan kalian?"
"Entahlah, Ma. Kita ikuti saja alur yang diciptakan oleh Farraz. Dan Yana akan pergi dengan senang hati, jika memang Farraz pada akhirnya menceraikan Yana."
"Mama sangat menyayangi, Yana. Meski kalian harus bercerai, Maa harap Yana masih tetap sudi menjadi anak Mama."
Irma mengelus wajah Ayana dan melingkarkan tangannya di lengan Ayana yang sedang tidak memegang setir mobil.
__ADS_1