
Wajah ceria Ayana berubah menjadi datar setelah Haris meninggalkan perusahaan. Dia mulai fokus untuk membimbing dan mengajarkan Robi pekerjaan yang biasa dilakukannya.
"Mbak Ayana sakit?" Tanya Robi saat melihat raut wajah Ayana tampak berbeda dari sebelumnya.
"Tidak. Saya baik baik saja."
"Jangan fokus pada saya, tapi fokuslah pada pekerjaanmu." Ayana menegaskan.
"Baik, mbak."
Dari ruangannya, Farraz selalu memperhatikan gerak gerik Ayana. Betapa dia ingin memeluk Ayana saat ini untuk memberikan rasa tenang pada istrinya itu. Dia tahu, Ayana saat ini sangat terluka dengan keputusan Papa secara tiba tiba.
"Pak Farraz, ada masalahkah?" Tanya Nurul yang sejak tadi melihat raut wajah Farraz tampak tidak fokus.
"Tidak apa. Jangan pedulikan saya."
"Rapatnya bisa dilanjut." Ucapnya. Nurul dan teman timnya pun mulai meneruskan diskusi mereka bersama Farraz.
Tidak terasa, diskusi berakhir dan kini saatnya makan siang. Nurul bersama teman temannya ditraktir makan siang oleh Farraz sebagai hadiah dari hasil proyek kerjasama tim itu.
"Ayana, kamu mau ikut makan siang bersama?" Tanya Farraz saat melihat Ayana masih fokus didepan laptop.
"Tidak, pak Farraz. Saya akan makan siang bersama Arumi."
"Mungkin Robi mau ikut makan siang bersama bapak." Ayana menyarankan agar Robi ikut makan siang bersama Farraz.
"Jika pak Farraz tidak keberatan saya mau ikut."
__ADS_1
"Baiklah. Kamu langsung nyusul mereka." Farraz membiarkan Robi pergi agar dia bisa berduaan sebentar dengan Ayana.
"Sayangnya mas, baik baik saja?"
"Tentu, dong." Ayana berbohong.
"Kalau begitu, mas pergi makan dulu ya. Kamu juga jangan lupa makan." Mengelus puncak kepala Ayana. Hanya anggukan sebagai respon dari ucapan Farraz.
Meski dengan langkah malas, Farraz tetap harus pergi makan siang. Dia harus bisa bersikap profesional seperti yang diinginkan Papanya.
Sepeninggalan Farraz, Ayana langsung mengajak Arumi makan siang. Mereka banyak mengobrol sambil menikmati makan siang mereka seperti biasa.
"Rumi, sepertinya kita tidak akan bisa makan siang bersama lagi."
"Kenapa, mbak?"
"Mbak Yana benaran akan mengundurkan diri?"
Ayana mengangguk yakin. Tatapannya pun tampak serius kali ini.
"Lebih tepatnya aku dipecat bukan mengundurkan diri." Batinnya.
"Mbak Yana ada masalah dengan pak Handi, kan?"
"Begitulah." Jawabnya asal.
"Sudah aku duga. Cutinya pak Handi berhubungan dengan pengunduran diri mbak Yana."
__ADS_1
"Ditambah dengan kedatangan Robi yang tiba tiba menggantikan posisi mbak Yana." Tuturnya.
"Sebenarnya aku sangat menyukai pekerjaan ini." Ungkapnya.
"Lalu kenapa mbak Yana mengundurkan diri? Apa mbak Yana tidak bisa bicara baik baik sama pak Handi. Kesalah pahaman harus diselesaikan dengan baik, mbak."
"Pak Handi diam, mbak Yana menghilang. Kapan mau selesai masalahnya. Harusnya kalian butuh waktu dan tempat untuk bicara berdua." Arumi terus menyarankan hal hal yang sebenarnya memang harus Ayana lakukan, meskipun sebenarnya Handi bukan penyebab dia mengundurkan diri.
"Kamu benar Rumi, aku harus bicara empat mata dengan Handi. Aku sudah melukai perasaan tulusnya." Ayana mengatakan itu dengan serius.
"Semoga mbak Yana sama pak Handi bisa akur lagi. Kalian terlihat serasi bersama loh."
"Begitukah?"
"Iya. Semua karyawan juga tahu bahwa ada sesuatu diantara kalian. Mereka bahkan kadang bergosip tentang mbak Yana dan pak Handi."
Mendengar penuturan Arumi barusan, Ayana semakin mengerti, alasan dia dipecat oleh Papa mertuanya memang benar benar karena Handi.
"Apa mungkin pak Haris pernah mendengar karyawan bergosip tenyang aku dan Handi?"
"Pernah, mbak. Bahkan pak Haris pun pernah bilang sangat menyayangkan jika mbak Yana menolak cinta pak Handi."
"Bahkan pak Haris bilang, dia pernah tidak sengaja melihat mbak Yana saat makan siang bersama dan jalan berdua dengan pak Handi loh." Tutur Arumi panjang lebar.
"Aku harus segera berhenti bekerja, supaya Handi bisa tetap bekerja di perusahaan ini." Batinnya.
"Aku harap, Papa masih akan membiarkan Handi tetap bekerja di perusahaan ini dengan berhentinya aku. Hanya ini yang bisa aku lakukan untuk menembus rasa bersalahku pada Handi." Gumamnya dalam hati.
__ADS_1