
"Mas, kok pulangnya malam banget?" Tanya Ayana yang terbangun saat mendengar suara langkah kaki suaminya.
"Sayang, maaf ya mas membuat kamu bangun." Mendekati Ayana yang gelisah karena perutnya yang sudah sangat besar.
"Mas dari mana, apa memang baru pulang dari kantor?"
"Mas pergi melayat bersama beberapa karyawan."
"Melayat ke mana, mas? Siapa yang meninggal." Ayana ingin bangkit dari posisi berbaring. Farraz membantunya.
"Istrinya pak Aria yang meninggal sayang."
Mata Ayana membola mendengar jawaban Farraz barusan. Dia tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Maksud mas, istri pak Aria meninggal?"
"Iya sayang."
"Innalillahi. Padahal dua bulan lalu aku bertemu dan mengobrol dengan Suci loh mas. Dia juga sedang hamil dan bulannya sama denganku."
__ADS_1
"Menurut cerita yang beredar, dia mengalami kontraksi dan hampir tertabrak mobil. Lalu, terjadi pendarahan hebat dan dia meninggal begitu juga dengan bayinya." Farraz menjelaskan pada Ayana yang masih belum percaya, Suci sudah tiada.
"Mas selalu berdoa, semoga kita semua baik baik saja dan selalu dalam lindungan Allah."
"Iya, mas. Aku juga selalu berdoa seperti itu."
Ayana melepaskan pelukan suaminya untuk menyuruhnya mandi, agar bisa segera langsung tidur.
Sementara itu, Via dan Handi sedikit berdebat tentang masalah memiliki anak. Via menginginkan anak laki laki supaya bisa menjadi pewaris perusahaan. Sedangkan Handi memilih anak perempuan dengan alasan, seorang anak perempuan akan merawat kedua orangtuanya di masa tua kelak.
"Aku maunya laki laki, mas. Udah pokoknya harus laki laki."
"Ok, semoga nyonya Via segera hamil dan mengandung anak laki laki." Handi mengalah. Dia tidak mau pertengkaran itu diteruskan.
"Kenapa?"
"Ya, aku maunya dua tahun lagi." Via kembali memulai pertengkaran.
"Terserah kamu lah. Yang terpenting kamu harus tau, mau ada anak atau enggak, mau anak cowok atau cewek, mau punya anak dua tahun lagi atau sepuluh tahun lagi juga tidak masalah, karena aku akan tetap bersamamu sampai ajal menjemputku."
__ADS_1
Wajah emosi Via langsung berubah merona setelah mendengar ucapan suaminya barusan.
"Peluk dong, mas." Rengeknya manja. Handi segera memeluk erat tubuh istri tercintanya itu.
"Mas, aku minta maaf soal tadi."
"Tidak perlu sayang. Aku tidak akan bisa marah ataupun kesal padamu."
"Aku akan menerima anak kita mau cowok ataupun cewek. Yang penting dia akan terlahir sebagai anak yang sehat." Ujar Via mengganti tekadnya beberapa menit yang lalu.
"Lalu, apa benaran sayang maunya hamil dua tahun lagi?"
"Iya. Boleh ya mas." Mendongak menatap wajah Handi yang tampak sedikit kecewa karena harus menunggu dua tahun lagi baru bisa membuat istrinya hamil.
"Mas, jangan marah dong. Lagian kan bentar lagi ponakan kita akan lahir. Nah kita bisa latihan merawat ponakan dulu, baru membuat bayi kita sendiri." Lanjut Via.
"Iya sayangku. Mas akan bersabar menunggu sampai bayi kita hadir didalam rahimmu."
"Terimakasih suami terbaikku. Aku tidak pernah menyangka akan sebahagia ini hidup bersama denganmu, mas Handi.
__ADS_1
"Terimakasih juga istriku. Aku pun tidak pernah membayangkan akan menjadi suami dari seorang Via Ehsan."
Mereka tersenyum bahagia. Sungguh menggembirakan sekali hidup berumah tangga dengan pasangan yang saling mencintai. Handi bersyukur menjadikan Via istrinya, jika tidak mungkin dia akan melajang seumur hidupnya dan akan terus terusan mengejar Ayana. Begitu pun Via, dia juga sangat bersyukur memilih Handi menjadi suaminya. Jika bukan Handi, mungkin dia masih akan terpuruk dalam trauma masa lalunya.