Sebenarnya, Aku Istri Dia

Sebenarnya, Aku Istri Dia
Bab 34 Maafkan aku, Handi.


__ADS_3

Farraz sedang sangat sibuk mengecek ulang beberapa proposal dari berbagai macam perusahaan yang mengajukan pinjaman modal dan juga pengajuan proposal kerja sama.


"Danil!" Ucapnya.


Dia menemukan proposal baru yang diajukan oleh pimpinan anak perusahaan yang baru saja beroperasi dua tahun terakhir.


"Bukankah Danil ini mantan suaminya Ayana?" Mencoba mengingat siapa Danil sebenarnya.


"Benar. Dia mantan suaminya Ayana." Ucapnya yakin.


Farraz pun kembali membolak balikkan proposal dari Danil yang menjabat sebagai pimpinan dari perusahaan kecil itu.


"Mmh, baru lima bulan terakhir dia menjabat sebagai pimpinan sudah begitu banyak prestasinya. Bagus…" Puji Farraz.


Dia pun langsung menandatangani proposal tersebut tanpa ragu. Karena, memang Danil sangat berpengalaman dan juga memiliki pencapaian yang luar biasa hanya dalam waktu kurang dari setengah tahun. Itulah alasan terkuat Farraz menerima pengajuan modal dari anak perusahaan yang dipimpin oleh Danil.


Ting…


Suara notif email masuk di komputernya.


"Mr. Zaky." Ucap Farraz menyebut nama pengirim email tersebut.


Segera Farraz membuka email itu. Rupanya itu ucapan terimakasih dari Mr. Zaky atas proyek yang sudah berhasil diselesaikan kemarin. Dia memuji Farraz, Handi dan Ayana dalam video yang dikirimnya itu. Dia juga mengatakan sangat puas dengan kerjasama kali ini dan dia akan mengirimkan hadiah vocer liburan untuk Farraz, Handi dan Ayana secara gratis selama tiga hari di Singapur.


Dia juga mengirimkan rekaman video saat saat Handi dan Ayana bekerja keras untuk menyelesaikan proyek itu. Di Video itu juga terlihat betapa akrabnya Ayana dan Handi.


"Mereka bahkan tidak memberi laporan tentang proyek padaku sama sekali." Rutuknya kesal.


Di video berikutnya, Terlihat Ayana dan Handi sedang berjalan santai di pinggir pantai. Mereka terlihat sangat menikmati liburan itu tanpa Farraz. Padahal Farraz juga dapat vocer liburan gratis itu, tapi mereka tidak memberitahunya.


"Tidak akan aku biarkan kalian menikmati hadiah itu berduan saja. Aku akan menyusul." Ucapnya sambil menatap tajam vidoe tersebut.


Lanjut video berikutnya, memperlihatkan saat Ayana dan Handi sedang menikmati makan siang mereka di pinggir pantai.


"Aku bahkan belum makan siang." Memegang perut yang terasa lapar.


Dan di video berikutnya, mata Farraz menangkap sosok Fikri yang selalu berada disekitar Ayana dan Handi. Bahkan dalam video itu, Farraz bisa melihat dengan jelas bagaimana cara Fikri menatap pada Ayana.


"Mas Fikri juga di Singapur. Apa dia sengaja mengikuti Ayana?" Farraz mulai curiga pada Fikri.


"Aku harus segera menyusul. Aku tidak akan membiarkan mas Fikri menyentuh Ayana sedikitpun." Ujarnya menegaskan.


Tangannya terkepal erat, matanya melotot penuh amarah pada Fikri, dan setelah beberapa saat seperti itu, dia pun langsung meminta Arumi memesankan tiket penerbangan ke Singapur. Lalu dia menghubungi Mamat dan memintanya untuk menjemput ke Perusahaan.

__ADS_1


"Sekalian bawakan makan siangku. Aku akan makan dijalan." Ucap Farraz pada Mamat melalui sambungan telepon.


"Memangnya tuan mau kemana, kok makan di jalan?" Tanya Mamat heran.


"Kamu jemput aku ke sini sekarang. Jangan lupa bawa makan siangku, lalu kamu antarkan aku ke Bandara. Diperjalanan menuju Bandara, aku akan menyantap makan siangku." Ucapnya menjelaskan dengan nada suara tegas dan terdengar seperti sedang menahan perasaan kesal.


"Oo begitu. Baik tuan, saya segera meluncur." Jawab Mamat semangat.


...🍀🍀🍀...


Hari berganti hari, hingga tidak terasa sudah sebelas hari Ayana dan Handi berada di Singapur. Dan proyek berhasil diselesaikan kemarin, jauh lebih cepat dari yang diperkirakan. Semua itu berkat ke disiplinan dan ketekunan mereka.


Namun, Handi masih meminta Ayana untuk tetap di Singapur, setidaknya memanfaatkan beberapa hari yang tersisa untuk liburan menikmati keindahan Singapur, sekalian memanfaatkan vocer liburan gratis.


Malam ini mereka duduk di pinggir pantai. Meski dingin, tapi tetap terasa hangat karena didekat mereka duduk langsung disediakan api unggun. Sehingga mereka tetap merasa hangat dan nyaman untuk menikmati pemandangan malam hari di pinggir pantai.


"Yana." Handi memanggil Hana dengan suara lembut.


"Mmh." Hana menoleh.


"Tidak adakah sedikitpun kesempatan untukku?" Tanya Handi.


Sungguh itu adalah pertanyaan yang tidak ingin Ayana dengar dari Handi. Karena dia tidak tahu harus memberi jawaban apa dari pertanyaan itu.


"Aku tidak perduli dengan semua itu, Yana. Bagiku kamu adalah duniaku." Handi memotong ucapan Ayana.


Sebentar Ayana memalingkan wajahnya dari Handi. Dia membawa matanya menatap jauh mengikuti ombak yang kembali ke lautan bersama angin malam.


"Aku… sebenarnya, aku…"


Ayana benar benar tidak tahu harus menjawab apa.


"Tidak usah terburu buru, Yana. Aku tahu dan memahami apa yang kamu takutkan. Dan aku sepertinya juga sudah memutuskan untuk menunggu sampai kamu siap untuk memberiku jawaban." Ucapnya.


"Maafkan aku, Han." Ucapnya merasa tidak enak.


"Aku tidak mau mendengar kata itu darimu, Yana. Hanya cukup izinkan aku untuk tetap terus berada disisimu."


Handi mengatakan itu dengan suara lembut dan memohon penuh harap.


"Maafkan aku, Han."


Mata Ayana mulai berkaca kaca, dia benar benar merasa tidak enak hati pada Handi.

__ADS_1


"Sudah aku katakan, aku tidak mau mendengar kata itu darimu, Yana." Ulangnya menegaskan tapi tetap dengan suara yang tetap lembut.


'Handi, kenapa kamu sangat baik padaku. Ya Allah, apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mau bercerai untuk kedua kalinya. Aku hanya ingin menjadi istri dari suamiku, meski dia tidak mencintaiku.' Batinnya.


"Yana!"


Suara lembut Handi menyadarkan Ayana dari pikirannya. Dia menoleh pada Handi dan tersenyum manis untuk menyembunyikan perasaan tidak menentu dihatinya.


"Kamu baik baik saja?" Tanya Handi khawatir.


"Mmh, aku baik baik saja kok." Jawabnya tersenyum.


Handi pun ikut tersenyum, meski hatinya terasa sedih dan sangat takut kehilangan Ayana.


Seorang pelayan cafe pinggir pantai datang mengantarkan dua gelas hot coklat.


"Thank you!" Seru Handi.


Setelah pelayan itu pergi, Ayana dan Handi langsung menyeduh hot coklat itu untuk menghangatkan tubuh yang mulai terasa dingin.


"Yana, aku ke toilet bentar, ya. Kamu masih mau disini atau kembali ke kamar?" Tanya Handi.


"Aku masih mau disini." Ujarnya.


"Ya sudah, kalau begitu kamu tunggu aku disini."


Ayana mengangguk. Dan setelah Handi pergi, Ayana malah merasa sangat mengantuk hingga dia merebahkan kepalanya di meja.


"Hola Ayana."


Suara itu membuat Ayana menegakkan kepalanya dan menoleh ke arah suara yang menanggil namanya.


"Mas Fikri?" Ujar Ayana terkejut.


"Handi mana?" Tanya Fikri sambil duduk di kursi samping Ayana.


"Ke toilet." Jawab Ayana.


Mata Ayana tampak sangat berat untuk terbuka. Dia merasakan kantuk yang luar biasa tidak tertahankan.


"Kamu kenapa?" Tanya Fikri khawatir.


"Aku sepertinya harus ke toilet juga." Ucap Ayana sambil melangkah dengan langkah sempoyongan menuju toilet wanita yang tidak begitu jauh dari sana.

__ADS_1


Fikri menatap kepergian Ayana dengan perasaan puas. Bibirnya terangkat memperlihatkan senyum kemenangan untuknya.


__ADS_2