
Dua bulan kemudian.
Handi dan Via akhirnya menikah hari ini. Pesta pernikahan mereka diadakan di Aula hotel tempat Ayana dan Farraz dulu. Dan hari ini begitu banyak tamu yanng datang untuk memberi mereka ucapan selamat.
Ayana dn Farraz juga disana, mereka bertugas menyambut para tamu undangan yang berdatangan.
"Mbak Yana!" Arumi datang bersama pacarnya.
"Setelah ini giliran kamu lagi yang nikah." Goda Ayana.
"Ya aku sih mau mbak, tapi nggak tau deh dia nya..." Menunjuk pacarnya yang hanya tersenyum malu malu.
"Pak Farraz look so handsome to day."
"Thank you. You look so cute to day."
Farraz memberikan Arumi pujian kembali. Dan itu membuat Arumi merasa senang.
"Ya sudah, kalian ke sana sekarang." Usir Ayana.
"Cie yang ngusir, cemburu ni yeee..."
__ADS_1
Ayana hanya tersenyum melihat Arumi yang selalu menggodanya. Sementara Farraz malah melingkarkan tangannya di pinggang Ayana hingga membuat Arumi yang balik cemburu. Dia bahkan merengek agar pacarnya mau merangkulnya juga.
"Nggak nyangka loh mas ternyata si Arumi sekocak itu di luar jam kantor. Padahal kalau di kantor tampak serius dan patuh."
"Begitu lah dia, mas. Makanya aku nyaman berteman dengannya meski terpaut usia yang jauh berbeda." Ujar Ayana.
Kembali ke acara yang semakin meriah. Begitu banyak rangkaian acara untuk memeriahkan acara pesta itu.
"Mas, istirahat dulu yuk. Pinggang dan kakiku rasanya sudah tidak kuat berlama lama di sini."
"Ya sudah, ayok kita ke kamar istirahat, sekalian sholat ashar juga." Ajak Farraz.
"Aku lagi nggak boleh sholat, mas."
Ayana sudah berhasil loh menjaga imun tubuh dan juga tidak stres dengan hal apapun. Menstruasinya selalu rutin setiap bulan, meski kadang telat dua atau tiga hari. Dia sudah tidak begitu memikirkan bagaimana agar bisa hamil cepat, karena memang Farraz juga tidak pernah membahas hal itu untuk terus menjaga agar hati dan pikiran istrinya selalu happy.
Btw, acara pernikahan sudah usai loh. Ayana dan Farraz bahkan kini sudah terlelap di kamar hotel yang di booking kan oleh mempelai.
Mempelai sendiri pun kini sudah berada di kamar pengantin. Keduanya baru saja selesai sholat dua rakaat berjamaah.
"Han, boleh aku tetap memanggilmu dengan nama?"
__ADS_1
"Tentu. Tapi, jangan panggil aku dengan nama saat sedang di dekat Mama dan Papa. Bisa bisa kamu kena semprot omelan mereka lagi seperti tadi."
Tadi sebelum acara benar benar usai, Via memanggil Handi dengan sebutan nama tepat di hadapan kedua orangtuanya. Alhasil dia mendapat wejangan dari Mamanya.
"Iya. Aku akan memanggilmu mas jika di dekat mereka."
"Kalau begitu, haruskan kita tidur sekarang?" Ajak Handi yang sudah duduk dipinggiran tempat tidur.
Via melangkah perlahan mendekati Handi. Lalu dia duduk disebelah Handi sambil menyandarkan kepalanya di bahu Handi.
"Han, sebenarnya aku masih trauma meski kejadian itu telah bertahun tahun lamanya."
"Aku takut dan masih merasa kejadian itu amat menjijikkan saat terpaksa harus terlintas dibenakku lagi." Ucapnya lirih.
Handi mengelus lembut pundak wanita yang sudah menjadi istrinya itu. Dikecupnya pelan puncak kepala yang bersender di bahunya.
"Aku tidak akan terburu buru, sayang. Aku bisa menunggu sampai kamu siap." Ucap Handi.
Mendengar itu membuat air mata menetes begitu saja di pelupuk mata Via. Betapa dia merasa beruntung memiliki suami seperti Handi.
"Maafkan aku Han."
__ADS_1
"Tidak perlu meminta maaf, sayang. Aku mencintaimu setulus hatiku. Aku ingin hidup bersamamu untuk waktu yang sangat lama. Jangan khawatir, aku akan menunggu sampai kamu siap." Menarik tubuh itu masuk dalam pelukannya.
Sebagai lelaki normal Handi tentu menginginkan malam pertamanya. Tapi, dia akan menahannya demi istri tercinta. Dia akan mencoba perlahan dan terus memperlakukan Via dengan penuh kasih sayang. Dia yakin Via akan berhasil menghilangkan pikiran kotor yang membuatnya trauma.