
Farraz dan Ayana sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit. Ayana akan segera melahirkan.
"Ma, aku lagi nyetir sekarang." Farraz biacara melalui panggilan telepon dengan Mamanya.
"Iya, Ma. Ayana masih baik baik saja, meski kadang rasa mulesnya membuat dia kesakitan."
"Ya udah ya ma, aku mau fokus nyetir."
Farraz kembali fokus melihat jalanan di depannya. Sedangkan Ayana terus membaca doa doa untuk melancarkan persalinan.
"Mas, rasanya mau keluar sekarang." Ayana menggenggam erat pergelangan tangan Farraz.
"Sebentar lagi kita sampai sayang."
Keringat dingin sudah membanjiri kening Farraz, sesekali dia menatap Ayana yang tampak kesakitan. Rasanya tidak tega melihat wanita tercintanya menderita seperti itu.
"Mas, benaran mau keluar..." Teriak Ayana sambil mendorong kuat bayinya.
"Darah!" Farraz panik melihat darah menetes dari balik daster Ayana. Segera saja dia menepikan mobilnya. Dia tidak bisa melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit, karena Ayana terlihat sangat kesakitan.
"Kepala bayinya keluar." Farraz mengintip kedalam daster Ayana.
"Aaakkhhhh..." Teriak Ayana sekali lagi dan kepala bayinya keluar sempurna.
"Sayang, aku harus bagiaman!"
"Tarik bayinya mas, sakitttt." Ayana mendorong lagi dan bayinya kekuar sempurna.
Bayi itu jatuh tepat dikedua tangan Farraz. Tatapannya kosong untuk sesaat saat bayi itu tidak menangis.
"Mas... kenapa bayiku tidak menangis." Tanya Ayana terbata bata. Rasa sakit yang teramat sangat itu kembali terasa saat bayinya tidak kunjung menangis.
"Sayang, dia sudah lahir. Apa yang akan kita lakukan."
Farraz gemetar. Dia masih memegang bayinya dengan perasaan bercampur aduk. Dia benar benar blur, tidak tahu harus bagaimana.
"Panggilan video dengan dokter, mas." Ucap Rania yang masih sangat lemas dan merintih sakit.
"Eeaakkk... aaa eeaaakkkk."
Suara itu membuat Farraz dan Ayana bernapas lega. Mereka menangis bersama dengan bayi kecil itu.
"Alhamdulillah, terimakasih sayang." Diciumnya wajah yang masih berlumur darah itu.
"Mas, bersihkan tubuh dedeknya." Meraih handuk basah yang memang telah dipersiapkan Ayana sebelum berangkat ke rumah sakit.
__ADS_1
Dengan perlahan, Farraz membersihkan tubuh mungil itu yang masih terus menangis. Lalu, Farraz mengazankan ditelinganya, barulah bayi itu diam.
"Sayang bagaimana cara membedongnya?"
Ayana tersenyum haru, melihat Farraz berusaha mengurus bayi mereka yang bahkan belum sepenuhnya terpisah dari tubuhnya.
"Tuan Farraz, maafkan saya terlambat."
Dokter tiba di waktu yang tepat. Dia mengambil alih bayi dari tangan Farraz, dan digunakannya kesempatan itu untuk memeluk dan mencium istrinya.
"Kamu baik baik saja, sayang?" Membelai wajah pucat Ayana. Hanya anggukan lemas dari Ayana.
"I love you sayang. Maafkan karena kamu harus merasakan sakit itu sendirian." Menggenggam erat jemari Ayana yang terasa sangat sejuk.
"Kamu suami terbaik yang siaga menjagaku dan bayi kita, Mas. Terimakasih."
Farraz terharu. Jika tidak ingat ada dokter di dekatnya, mungkin dia akan langsung mencium Ayana, memeluknya dan memangkunya. Tapi, itu belum bisa dilakukannya karena dokter masih harus melakukan tugasnya untuk menjahit bagian bawah Ayana.
Diluar sana dua mobil, baru tiba di dekat mobil mereka. Satu mobil Mama dan Papa, satunya lagi mobil Via dan Handi.
"Yana, nak sayang kamu baik baik saja?" Irma membelai wajah Ayana dari jendela kaca mobil.
"Yana baik, Ma."
"Dokter jahitnya yang pelan saja. Menantu saya akan kesakitan." Perintah Irma pada dokter itu.
"Ma, Yana nggak sakit kok. Mama lihat cucunya saja sana." Pinta Ayana pada Irma yang sejak tadi tetap menggenggam tangannya dengan erat.
"Mama bisa melihatnya nanti, sayang. Yang terpenting saat ini adalah kamu. Mama khawatir kamu akan kesakitan. Kamu melahirkan sendirian dimobil. Mama tidak ada untuk menemani kamu, nak." Irma mengatakan itu sambil terisak hingga membuat Ayana ikut meneteskan air mata haru.
"Terimakasih, Ma."
"Jangan nangis, sayang." Irma menghapus air mata Ayana.
Farraz sejak tadi hanya terus memangku Ayana sambil berdoa agar istrinya itu tidak merasakan sakit lagi.
"Ayana, ok?" Tanya Haris setelah dokter selesai menjahit.
"Iya pa, Yana ok."
Irma langsung memeluk menantu kesayangannya itu. Dia sangat menyayangi Ayana seperti putrinya sendiri. Dan setelah merasa Ayana baik baik saja, dokter pun mengizinkan mereka membawa Ayana segera pulang, agar bisa berbaring nyaman.
Mereka pun pulang dengan perasaan riang gembira.
Sesampainya di rumah, Irma membersihkan tubuh Ayana dengan handuk basah, lalu memakaikan pempes agar darahnya tidak berceceran. Setelah mengurus Ayana, barulah dia melihat cucunya.
__ADS_1
"Selamat datang cucu nenek." Menggendong tubuh mungil itu.
"Namanya siapa Raz?" Tanya Papa.
"Belum punya nama, Pa."
"Boleh papa memberi nama?"
Sebelum menjawab, Farraz menoleh pada Ayana yang tersenyum mengangguk setuju.
"Boleh, pa."
Haris mendekati cucunya itu. Di pegangnya kepala cucunya dan dibacakan surah al-qadr, lalu kemudian disentuhnya dada si kecil dan dibacakan surah Al insyirah. Itu adalah jurus ampuh kesuksesan mendidik anak yang diajarkan orangtuanya dulu.
Dengan membaca kedua surah tersebut, InsyaAllah si anak akan mudah dinasehati, lapang dada menerima nasehat kebaikan, serta akan terhindar dari yang namannya zinah. Tentunya semua itu dengan izin Allah semata.
"Namanya adalah Zhafran Khairy Ehsan." Lanjutnya.
"Halo Zhafran, cucu nenek yang tersayang." Irma langsung memanggil namanya.
Farraz membiarkan Zhafran bersama nenek, kakek, uncle dan anty nya. Dia menghampiri Ayana, memberi pelukan hangat penuh cinta untuk istrinya itu.
"I love you sayang."
"Love you too, mas."
"Selamat sudah menjadi ibu." Mencium kening Ayana.
"Selamat juga karena telah menjadi seorang ayah, mas."
Mereka kembali berpelukan dan berjanji akan merawat Zhafran dengan baik hingga dia tumbuh dewasa dan mandiri namun tetap patuh dan sayang pada kedua orangtuanya.
The End. (Tamat)
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
Hai teman teman.
Terimakasih sudah membaca novel ini sampai selesai.
Kalian luar biasa. karena terus setia mendukung karya ini hingga tamat.
O iya, kisah ini akan dilanjutkan kembali.
Mohon dukungan kalian lagi untuk kisah ini.
__ADS_1
Thanks guys. 😘? ?👋