
Farraz menemani Ayana untuk cek kandungan pertama kali ke dokter kandungan.
"Mas aku kok deg degan ya?"
"Mas juga, sayang." Farraz menggengam erat tangan Ayana yang terasa sangat dingin.
"Kok tangan sayang dingin banget?"
"Mungkin karena sangking deg degan kali, mas."
Farraz mencoba menghangatkan tangan itu dengan terus menggenggamnya erat.
"Nyonya Ayana bersama suami!" Panggil Suster.
"Bismillah ya mas." Ucap Ayana sebelum akhirnya mereka masuk ke ruang praktek dokter kandungan.
"Nyonya Ayana Yunita..."
"Iya, Dok."
"Pak Farraz Ehsan!"
"Iya, Dokter." Jawab Farraz yang duduk disebelah Ayana. Mereka duduk menghadap pada Dokter Arman yang akan menjadi dokter kandungan Ayana hingga sembilan bulan kedepan.
"Silahkan berbaring, Nyonya Ayana."
Farraz mengangguk pertanda memberi izin untuk Ayana berbaring di tempat tidur yang dekat dengan monitor dan kontrol untuk proses USG.
"Saya mulai..."
__ADS_1
Dokter Arman meminta izin untuk memeriksa perut Ayana dengan alat USG itu.
"Ini kantong janinnya. Masih sangat kecil bukan?"
"Usia janin ini sudah memasuki minggu ke lima, dia tampak sehat." Jelasnya.
"Sudah lima minggu ya Dok? Tapi saya telat haidnya baru sepuluh hari terakhir." Ujar Ayana penasaran.
"Hitungan kandungan menurut dunia medis, dimulai sejak tanggal hari terakhir menstruasi terakhir, Nyonya." Jelasnya.
Ayana dan Farraz menggangguk paham.
"Dok, boleh mintak rekaman janinnya?" Tanya Farraz ragu.
"Tentu boleh."
Setelah diperlihatkan hasil usg dan mendapat rekamannya, dokter Arman berpesan agar Farraz menjaga Ayana dengan baik. Ayana juga diminta untuk tidak terlalu aktif bergerak yang berlebihan.
"Ini jadwal untuk kontrol bulan depan." Memberikan secarik kertas pada Farraz.
"Baik, Dok. Kalau begitu kami permisi dulu."
"Ya silahkan."
Ayana dan Farraz pun meninggalkan ruangan dokter Arman dengan perasaan senang dan lega.
"Alhamdulillah ya, mas janinnya sehat."
"Iya sayang." Merangkul Ayana dan membimbingnya berjalan dengan sangat hati hati menuju mobil.
__ADS_1
Di mobil dalam perjalanan menuju rumah, Ayana merasa sangat mengantuk, hingga dia tidur nyaman di mobil.
"Meski sedang tidur pun, istriku sangat cantik." Puji Farraz sambil menatap penuh cinta wajah istrinya yang kini sedang mengandung buah cinta mereka yang sudah dinantikan cukup lama.
"O iya, aku harus memberitahukan Mama tentang berita baik ini."
Farraz menepikan mobilnya sebentar, lalu menelpon mamanya.
"Halo, Ma."
"Aku lagi nggak ngantor hari ini, ma. Aku menemani Yana ke dokter kandungan."
"Iya ma, Alhamdulillah Yana sudah mengandung dan usianya memasuki minggu ke lima."
"Yana tidur sekarang, Ma."
"Ini mau jalan pulang. Aku baru ingat mengabari mama."
"Ya sudah, kalau gitu aku lanjut nyetir lagi ya Ma. Kasihan Yana harus tidur di mobil lama lama."
"Iya... mama tenang aja. Aku akan jagain Ayana dengan baik, ma."
"Iya iya. Mama nggak usah khawatir."
"Mmh, bye."
Panggilan berakhir. Farraz memperbaiki posisi kepala Ayana sebelum melanjutkan perjalanan menuju rumah mereka.
Laju mobil itu sangat pelan, seperti baru belajar mengendarai mobil saja. Sehingga beberapa mobil lain dibelakangnya meresa jengkel dan menyalib mobil Farraz.
__ADS_1
"Aku tidak peduli mendapat amukan dan sumpah serapah dari kalian. Karena yang terpenting saat ini adalah keselamatan istri dan calon buah hati kami." Gumamnya begitu mobil mobil itu menekan klakson saat melewati mobilnya.