
Saat Ayana sudah tidak terlihat, Fikri pun memanggil seorang wanita bule yang ada di pingir pantai. Dia mulai berbisik pada wanita itu dan wanita pun mengangguk dan tersenyum. Lalu, Fikri memberikan beberapa lembar dolar pada wanita itu sebelum wanita itu pergi menuju toilet.
Begitu wanita itu masuk ke toilet tempat dimana Ayana berada, mata Fikri menatap sosok Handi yang baru keluar dari toilet. Dengan cepat dia bersembunyi sambil memperhatikan Handi sampai Handi kembali duduk di kursinya.
"Ayana kemana, ya?"
Handi melihat sekeliling, tapi tidak juga menemukan Ayana.
"Bro. Cari apaan?" Sapa Fikri yang tiba tiba muncul di dekat Handi.
"Eh, Fikri." Sapa Handi.
"Lo celingukan gitu, memangnya cari apaan?" Ulang Fikri.
"Ayana." Jawabnya khawatir sambil mengecek handphone.
"Memangnya dia ada di sini juga, tadi?" Tanya Fikri pura pura tidak tahu.
"Iya bro. Gue tadi ke toilet, terus dia nunggu disini. Eh sekarang malah nggak ada." Jelasnya.
"Oo gitu." Ikut celingukan mencoba mencari keberadaan Ayana.
"Angkat Yana!" Serunya khawatir saat mencoba menghubungi handphone Ayana tapi tidak ada jawaban.
"Mungkin dia sudah di kamarnya kali, bro." Ucap Fikri.
"Mungkin juga, ya. Ya udah gue cari ke kamarnya."
Handi hendak melangkah menuju hotel untuk memeriksa apakah Ayana sudah di kamarnya apa belum. Tapi, sebelum itu terjadi, Fikri malah berteriak seakan melihat Ayana.
"Bro itu Ayana!" Fikri berlari menuju pinggir pantai sebelah kiri dari mereka.
Dengan repleks, Handi pun mengikuti langkah Fikri mengejar wanita berhijab lain yang sedang berfoto foto bersama teman temannya.
Sedangkan Ayana sudah di bawa pergi oleh wanita yang tadi di beri dolar oleh Fikri. Nah, Fikri sengaja berlari menuju pinggir pantai untuk mengalihkan perhatian Handi, agar tidak melihat tubuh lemah Ayana di bawa menuju kamar hotel.
"Mana Ayana?" Tanya Handi bingung.
Dia tidak melihat Ayana sama sekali. Sedangkan Fikri masih terus berlari sambil menunjuk nunjuk ke arah depan sana dan memanggil Ayana.
"Bro, itu bukan Ayana. Gue salah lihat." Teriaknya saat tiba di dekat dua wanita berhijab yang dianggapnya Ayana.
Handi melenguh kesal. Lalu, dia pun berlari menuju hotel secepat mungkin. Dia tidak memperdulikan Fikri yang memanggilnya untuk meminta tunggu.
Tingβ¦
__ADS_1
Saat Handi tiba di depan kamar Ayana, notif pesan dari Ayana masuk ke hanphonenya.
((Ayana : Handi, aku sudah di kamar.
Aku ingin istirahat.
Maaf tidak bisa menemani lebih lama.
Sampai bertemu besok.))
Pesan itu dikirim oleh Fikri menggunakan handphone Ayana yang sejak tadi ada padanya. Dia sudah memode diamkan handphone itu, sehingga saat Handi menghubungi handphone Ayana tadi tidak bersuara dan tidak ada jawaban.
((Handi : Ya sudah. Selamat istirahat, Yana.
Sampai bertemu besok.
Tidur yang nyenyak.))
Handi membalas pesan itu dengan perasaan kecewa dan juga khawatir sekaligus.
"Good night, Yana." Ucapnya pelan.
Sesaat matanya menatap lekat pintu kamar Yana. "Semoga mimpi indah."
Handi pun melangkah meninggalkan kamar Ayana yang sebenarnya kosong. Karena Ayana saat ini tengah tidak sadarkan diri di kamar Fikri.
Setelah menyelesaikan tugasnya, wanita itu pun pergi meninggalkan kamar Fikri. Dan tidak berapa lama kemudian, Fikri tiba di kamarnya. Dia tersenyum senang melihat Ayana sudah terbaring dan terikat di atas tempat tidurnya.
...πππ...
Pukul sepuluh malam, Faraz tiba di hotel tempat Ayana dan Handi. Dia pun langsung menanyakan kamar Handi dan Ayana pada resepsionis hotel. Mereka langsung memberitahukan saat mengetahui siapa Farraz Ehsan.
"Awas kalian, aku akan membuat kejutan untuk kalian." Ucapnya sambil melangkah menuju kamar Ayana terlebih dahulu.
Farraz tidak membawa barang apapun. Dia hanya berangkat dengan memakai stelan jas yang dipakainya tadi siang.
'Ayana, aku datang!' Teriaknya dalam hati.
Ditangannya sudah ada kunci kamar Ayana. Dan begitu tiba di depan pintu kamar Ayana, Farraz langsung membuka pintu kamar itu. Namun, kehadirannya bukan mengejutkan yang punya kamar, malah dia yang terkejut.
Kamar Ayana kosong. Dia mencoba mencari Ayana di kamar mandi, ternyata juga kosong.
"Kemana Ayana? Apa dia tidur di kamar Handi?" Tebaknya.
Farraz mengepal tangannya lalu memukul tempat tidur empuk milik Ayana. Dia merasa dikhianati saat memikirkan Ayana tidur di kamar Handi.
__ADS_1
"Dasar wanita tua penggoda." Rutuknya kesal.
Farraz meninggalkan kamar itu. Dia langsung menuju kamar Handi. Dibukanya pintu kamar Handi tanpa permisi.
"Handi!" Teriaknya murka.
"Farraz??" Ucap Handi heran dan terkejut.
Dia tidak menyangka, kini Farraz ada di kamarnya, tepat dihadapannya.
"Mana Ayana?" Meraih kerah baju Handi.
Tatapan Farraz penuh amarah, hingga membuatnya murka dan mendorong tubuh Handi hingga tersudut di tembok. Kepala Handi bahkan terhantuk ke tembok dinding.
"Raz, ada apa ini?" Ucap Handi bingung.
Dia sama sekali tidak mengerti kenapa Farraz semarah itu padanya.
"Dimana Ayana!" Teriak Farraz.
"Ayana di kamarnya." Jawab Handi cepat.
"Tidak ada disana. Kamarnya kosong." Bentak Farraz.
Mendengar itu membuat Handi tersadar, dia merasa ada yang aneh dengan pesan yang diterimanya dari Ayana beberapa saat yang lalu.
"Lepas, Raz. Aku harus memeriksa sesuatu agar kita bisa tahu keberadaan Ayana." Ucapnya sambil berusaha agar lepas dari kungkungan Farraz.
Dengan emosi dan amarah yang masih menggebu, Farraz pun perlahan mulai melepaskan Handi. Dia memperhatikan saat Handi memeriksa handphonenya.
"Lihat pesan ini, Raz." Mengulurkan handphonenya pada Farraz.
Segera Farraz membaca pesan itu dan tidak ada yang aneh. Sehingga matanya menatap tajam pada Handi.
"Pesan itu dikirimnya beberapa menit yang lalu. Dan aku baru sadar sekarang, bahwa pesan itu bukan Ayana yang menulisnya. Ayana tidak pernah memanggilku Handi saat kami hanya berdua atau saat berkirim pesan." Jelasnya.
Handi mulai khawatir dan mencoba menghubungi handphone Ayana lagi.
'Apa mungkin Fikri?' Pikir Farraz.
Tanpa permisi dan berkata apa apa, Farraz langsung keluar dari kamar Handi. Dia berlari menuju kamar Fikri.
'Apa yang terjadi, kenapa Farraz sekhawatir itu pada Ayana. Apa mereka punya hubungan yang dirahasiakan?' Tanya Handi dalam hatinya, saat melihat betapa khawatirnya Farraz pada Ayana.
Sementara itu, Farraz sudah berada di lift. Dia menuju kamar Fikri yang juga di ketahuinya dari resepsionis. Tapi, Farraz gagal mendapatkan kunci kamar Fikri dari mereka.
__ADS_1
'Jika sampai terjadi apa apa sama Ayana, aku akan membunuhmu Fikri.' Batinnya.