
"Sayang, nanti aku pulangnya telat lagi. Soalnya ada beberapa hal yang harus dikerjakan di kantor." Handi mengatakan pada Via.
"Iya. Aku juga mungkin akan lama di resto."
"Kalau ada apa apa, langsung telpon saja." Lanjut Via.
"Siap nyonya Via Ehsan." Handi memberikan ciuman dikening Via sebelum melangkah pergi menuju mobilnya.
Sudah lebih satu bulan mereka menjadi suami istri. Via masih belum memberi izin pada Handi untuk menyentuhnya. Handi menunggu dengan sabar dan tetap memperlakukannya dengan baik. Meski begitu, Via merasa tidak enak hati dan ingin sekali menjadi istri seutuhnya buat Handi.
Dua malam lalu, Via mencoba mengajak handi untuk beribadah malam pengantin. Handi memperlakukannya dengan sangat mesra dan lembut, bahkan hampir saja Handi berhasil tapi Via tiba tiba memekik ketakutan. Tubuhnya dibanjiri keringat dingin dan mengalami gemetar hebat.
"Sayang, aku minta maaf. Aku membuatmu takut?" Handi mencoba memeluk tubuh gemetar Via.
"Maafkan aku, Han. Aku..."
"Tidak apa sayang. Kita baik baik saja, ok." Dengan sabar Handi menenangkan Via.
Malam itu Handi sungguh bersemangat dan bahkan dia terpaksa menahan rasa itu hingga membuatnya tersiksa. Tapi Handi menyembunyikan itu dari Via, dia tidak mau Via merasa tidak enak hati padanya. Nah untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, Handi memilih menghabiskan waktunya dikantor. Dia akan pulang saat Via sudah terlelap. Semua itu dilakukannya untuk menghindari pikiran jahatnya yang ingin menuntaskan hasrat tertunda itu pada Via secara paksa.
"Sungguh melelahkan." Ujar Handi. Dia berbaring disofa ruangan kerjanya di kantor.
"Apa yang harus aku lakukan. Ini benar benar menyiksaku." Gumamnya.
Handi selalu bergairah setiap melihat Via. Semakin hari semakin menjadi dan bahkan terasa amat sulit menahannya. Dan satu satunya cara ialah dengan menghindar. Tapi, mau sampai kapan terus terusan menghindar seperti ini.
__ADS_1
"Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan." Menghela napas dalam, lalu memejamkan matanya.
Malam itu Farraz pulang terlambat dari biasanya, dan dia melihat Handi masih berasa di ruang kerjanya. Tidak mau pusing dengan pikiran pikiran anehnya, Farraz pun akhirnya mengetuk pintu ruangan Handi.
"Raz!" Serunya melihat Farraz berdiri di dekatnya saat matanya terbuka.
"Kenapa masih belum pulang?" Duduk disofa yang sama dengan Handi.
Handi tidak bisa menjawab, dia memilih diam dan tersenyum.
"Apa Via tidak mengizinkan kamu pulang?"
"Tidak kok, hubunganku dengan Via sangat baik." Jawabnya sedikit gagu.
"Jawaban mencurigakan. Kenapa, Han? Ada masalah apa sama Via."
"Bukan Raz. Aku sangat mencintai Via, makanya aku memilih tidur di sini." Jawabnya tegas.
"Karena sayang memilih tidur terpisah?" Farraz menatap curiga.
Handi mengusap wajahnya, lalu mengatur napasnya. Dia memutuskan untuk bercerita masalahnya pada Farraz.
"Via masih trauma?" Tebak Farraz yang berhasil membuat Handi merasa lega karena tidak perlu menjelaskan apa apa.
"Yup, itulah masalahnya." Jawab Handi tersenyum miris.
__ADS_1
"Jadi kalian belum tidur bersama?"
"Belum. Via sangat ketakutan dan gemetar saat kami hampir saja melakukannya."
"Kenapa nggak langsung diterobos aja. Gila kamu Han, bisa kuat banget nahannya." Celoteh Farraz.
"Aku nggak mau Via tambah takut sama aku, Raz."
Farraz tersenyum, kemudian dia melirik ************ Handi yang lumayan tampak besar. Menyadari itu, Handi menyembunyikan itunya dengan meletakkan bantal diatasnya.
"Aku sebagai adik ipar dan sebagai adik dari Via, mengizinkan kamu menerobos secara paksa." Ucap Farraz.
"Maksud kamu apa, Raz. Jika aku melakukan itu bisa bisa Via makin trauma dan takut sama aku terus meminta diceraikan. Nggak mau lah, aku benaran mencintai Via sepenuh hati."
"Ya terus, gimana cara kamu mengatasi itu?" Menatap bagian bawah Handi.
"Entahlah. Aku juga tidak tau, Raz." Wajah Handi tampak frustasi saat itu. Sebagai lelaki sejati Farraz sangat mengerti apa yang dirasakan Handi saat ini.
"Gini deh. Kamu coba diskusi sama Via tentang masalahmu. Yakinkan dia kalau kamu berbeda dari mantan suaminya dulu. Aku yakin, Via akan merasa iba dan luluh jika kamu mau memohon dengan bicara baik baik."
"Aku takut melukai perasaannya, Raz. Aku juga takut kalau dia berpikir aku hanya mementingkan nafsuku saja tanpa peduli keadaanya."
"Mau aku bantu bicara sama Via?"
"Nggak usah deh Raz. Aku akan mencoba bicara dengannya sendiri."
__ADS_1
"Baiklah. Kalau begitu aku pulang duluan."
"Semangat ya Han." Bisiknya prihatin. Farraz melangkah meninggalkan Handi. Senyum geli terlihat dibibirnya saat teringat bagaimana raut wajah Handi menahan gairahnya yang menggelora.