
Lift berhenti tepat di lantai dimana kamar Handi berada. Dia keluar dari lift sendirian. Sehingga meniggalkan Farraz dan Fikri berdua di dalam lift.
"Apa yang mas lakukan pada Ayana? Tanya Farraz.
"Apa maksudmu?" Fikri berpura pura tidak mengerti apa yang ditanyakan Farraz padanya.
Tanpa pikir panjang lagi, Farraz langsung memukul wajah Fikri dengan keras hingga Fikri jatuh ke lantai dan terhantuk ke dinding lift.
"Kurang hajar kamu, Raz. Aku kakakmu…"
"Loe yang kurang hajar, Mas. Ngapain loe buat istri gue tersiksa seperti itu. Apa yang mau loe lakuin sama Ayana dengan mengikatnya sperti itu, hah?" Bentak Farraz dengan meraih kerah kemeja Fikri.
Dia benar benar tersulut emosi dan ingin memukul wajah Fikri sekali lagi.
"Cuih…!" Fikri meludahi Farraz sambil mendorong tubuh Farraz hingga terhantuk ke sisi lain diding lift.
"Sejak kapan loe merasa Ayana istri loe, hah? Bukankah sejak loe menikahi dia, loe bilang nggak suka sama dia. Munafik loe Raz." Teriaknya.
Lalu, Fikri menghampiri Farraz dan langsung memukul wajah Farraz. Mereka saling pukul dengan beringasnya tanpa ada satupun yang mau mengalah.
"Ayana istri gue, selamanya dia istri gue." Tegas Farraz.
Wajahnya tampak babak belur, tapi posisinya saat ini sedang memukul Fikri yang berada dibawahnya. Namun, beberapa detik kemudian, posisi mereka bertukar, kini Fikri yang memukul Farraz.
"Aku menginginkan Ayana sama seperti kamu, Raz. Bedanya, aku benar benar menginginkannya. Sedangkan kamu hanya ingin memanfaatkannya, kan!" Teriak Fikri.
Wajahnya juga sudah babak belur, lebih parah dari wajah Farraz.
Ting…
Pintu lift terbuka.
Begitu banyak pasang mata melihat pergumulan mereka di dalam lift. Dan saat menyadari itu, Farraz langsung menarik tubuh Fikri keluar dari lift.
Dia menyeret tubuh lemah Fikri menuju kamar Fikri yang sudah tidak berpintu lagi, karena pintunya sudah dihancurkan oleh Farraz beberapa jam yang lalu dan belum di perbaiki oleh pihak hotel.
"Lepass…" Berontak Fikri.
Tapi, tenaga Farraz sangat kuat menyeretnya. Farraz bahkan tidak peduli, saat kepala Fikri terhantuk ke bagian kayu sisa pintu yang hancur itu.
"Loe harus merasakan apa yang loe perbuat pada Ayana." Ucap Farraz.
Dia menarik tubuh Fikri dan mendorongnya kuat keatas tempat tidur. Lalu, dengan cepat Farraz mengikat kedua tangan Fikri dan juga kakinya, sama seperti yang dia lakukan pada Ayana.
"Yaaaa, lepassss!" Teriaknya berontak.
Farraz tersenyum lega, lalu dia merekam dan memfoto Fikri sebanyak mungkin dari segala arah.
"Loe mau ngapain?" Teriaknya.
"Merekam dan juga foto." Memperlihatkan layar handphonenya pada Fikri.
"Loe gila, Raz. Loe bakalan kualat karena menyiksa kakak loe sendiri." Fikri mengutuk dan memaki.
"I dont care!" Seru Farraz sambil tersenyum.
__ADS_1
Lalu, dia melangkah mendekati Fikri.
"Sekali lagi mas Fikri mencoba merebut Ayana dariku, maka video dan foto ini akan tersebar luas di semua sosial media. Gue juga akan mengirimkan video dan foto ini pada semua fans loe." Bisik Farraz ditelinga Fikri.
"Farraaaazzzzz…" Teriaknya penuh amarah.
Sementara itu, Farraz sudah melangkah keluar dari kamar itu. Tapi, sebelum benar benar pergi, dia sudah meminta petugas kebersihan untuk datang ke kamar Fikri.
...🍀🍀🍀...
Pagi pagi sekali, Handi sudah mengetuk pintu kamar Ayana. Dia masih mengkhawatirkan Ayana, sebelum benar benar bisa melihat keadaan Ayana secara langsung.
Tok, tok…
"Iya!" Seru Ayana dari dalam kamar.
"Yana, ini Handi." Teriak Handi dari luar kamar.
"Sebentar, Han."
Ayana segera melepas mukenanya dan menggantinya dengan jilbab instan biasa. Kemudian, dia segera membuka pintu kamarnya.
"Ada apa, Han?" Tanya Ayana lembut.
"Kamu baik baik saja, kan?" Raut wajah khawatir Handi nampak jelas.
"Aku baik baik saja. Memangnya kenapa?"
Ayana benaran kembali seperti biasa. Terlihat sangat tenang saat menjawab pertanyaan yang dijawabnya dengan kebohongan.
"Kamu tadi malam tiba tiba menghilang. Aku pikir kamu kenapa kenapa." Ucapnya sedih.
"Kamu ngabarin aku kok, Yana. Kamu lupa ya?" Ujar Handi.
Sebentar Ayana berpikir. 'Handphone ku. Pasti mas Fikri yang mengambilnya.'
"Aku ngasih kabar, sama kamu?" Tanya Ayana agak bingung.
"Iya, Yana. Atau mungkin memang bukan kamu yang ngirim pesan itu? Lalu siapa? Apa kamu diculik?" Handi mulai memberikan pertanyaan pertanyaan yang mengintrogasi.
'Benar, handphone ku ada pada mas Fikri. Dia bahkan mengelabui Handi demi melancarkan rencana busuknya itu.' Pikir Ayana.
"Yana? Kamu kenapa?"
Suara Handi menyadarkan Ayana dari lamunannya.
"Aku baru ingat, aku memang mengirim pesan pada kamu, Han. Tapi, setelah itu aku tidak ingat apa apa. Bahkan aku juga lupa naruh handphoneku dimana." Ucapnya lesu.
"Tadi malam handphone kamu masih bisa dihubungi, Yana. Tapi, pagi ini sudah tidak bisa dihubungi sama sekali." Handi menjelaskan.
"Benarkah?" Tanya Ayana.
"Iya, Yana. Coba saja kamu hubungi sendiri pakai handphone ini." Memberikan handphonennya pada Ayana
Segera Ayana menghubungi handphonenya dan ternyata benar, handphone itu sudah tidak bisa dihubungi lagi.
__ADS_1
'Apa mas Fikri menyembunyikan handphoneku?' Tanya Ayana dalam hati.
"Aku ingat, Han. Handpone itu jatuh saat aku mencoba berjalan menuju kamarku, saat aku ketiduran di toilet." Jelasnya berbohong.
Betapa bagus dan terdengar jujur kebohongan Ayana itu di telinga Handi yang sudah cinta mati pada Ayana.
"Apa ada banyak hal penting di handphone itu?" Tanya Handi khawatir.
"Tidak kok, Han. Hanya saja itu handphone pertama yang aku beli dengan gajiku sendiri." Ujarnya sedih.
"Aku akan mencarinya." Handak melangkah pergi.
"Tidak usah, Han. Sekarang, lebih baik kita sarapan dulu, kemudian, temani aku beli handphone baru." Ajaknya.
"Baiklah." Ucap Handi.
Dia tersenyum lega melihat Ayana baik baik saja. Dan Ayana pun langsung menutup rapat pintu kamarnya. Kemudian, mereka melangkah bersama untuk menuju tempat sarapan.
"O iya, Yana. Pak Farraz ada di hotel ini juga, loh." Ucap Handi.
"Farraz? Di hotel ini?"
Ayana pura pura tidak tahu.
"Iya Yana."
"Hahahahaa…" Tawa Ayana.
"Kok malah tertawa, sih?" Handi heran.
"Iyalah, kamu ada ada sja. Mana mungkin ada pak Farraz di hotel ini. Jelas jelas dia di Jakarta." Ucapnya santai seakan benar benar tidak tahu bahwa Farraz ada di hotel ini.
"Benaran, Yana. Pak Farraz nyampe disini jam sepuluh tadi malam. Nah dia yang membuat aku sangat khawatir sama kamu." Jelas Handi.
"Kenapa dia membuat kamu khawatir sama aku?" Tanya Ayana penasaran.
"Pak Farraz, datang ke sini langsung minta kunci kamar kita. Dia menerobos masuk ke kamarku dan teriak teriak menanyakan keberadaan kamu, Yana. Karena katanya dia sudah membuka pintu kamarmu, tapi kamu tidak ada disana. Makanya, aku tadi malam khawatir banget sama kamu." Tutur Handi menjelaskan kejadian tadi malam.
'Dasar bocah tengik. Bilangnya malu punya istri tua sepertiku. Eh, sekalinya aku hilang… dia malah khawatir. Lihat saja, Raz. Aku akan membuat kamu jatuh cinta padaku dan kamu tidak akan pernah bisa meninggalkan aku.' Pikirnya.
"Yana? Ayana?" Handi memanggil Ayana.
"Yana!" Panggilnya dengan suara sedikit lebih keras dari sebelumnya.
"Iya, ada apa?" Tanya Ayana agak bingung dan ragu.
"Kamu mikirin apa?"
"Mmh, nggak ada kok." Jawabnya sambil tersenyum.
"Benaran?" Tanya Handi lagi.
Ayana mengangguk dan tersenyum pada Handi. Dia berharap dengan anggukan dan senyuman itu, Handi bisa percaya padanya.
"Ok aku percaya. Tapi, jika kamu ada masalah apapun itu, jangan pernah memendamnya sendiri. Aku siap mendengarkan ceritamu, Yana. Ingat, aku selalu ada untukmu, kapanpun dan dimanapun." Ucap Handi menegaskan.
__ADS_1
"Iya, Han. Terimakasih karena selalu ada bersamaku." Jawabnya.
Langkah meraka pun semakin dekat dengan tempat sarapan pagi yang akan mereka nikmati untuk mengganjal perut sebelum nantinya menyantap makan siang mereka.