
Pagi ini Ayana sudah siap untuk berangkat kerja. Dia sudah lebih baik dan ceria lagi seperti biasanya.
"Nyonya sudah mau berangkat kerja?"
Hadijah menghampiri Ayana yang baru turun dari tangga.
"Iya nih mbak."Jawabnya sambil tersenyum.
"Yang semangat kerjanya hari ini, nyonya." Ucapnya memberi semangat.
"InsyaAllah."
Ayana pun melanjutkan langkahnya tanpa menyadari Farraz melangkah cepat dibelakanganya.
"Pagi Tuan." Sapa Hadijah.
"Pagi mbak Dijah." Sapanya ramah sambil tersenyum.
Kening Hadijah mengkerut, dia heran karena majikannya yang dingin itu pagi ini malah tersenyum bahagia.
"Ayana, kamu ikut aku pagi ini." Melewati Ayana sambil memberikan kunci mobilnya.
Kini giliran kening Ayana yang mengerut bingung. Kenapa Farraz memberikan kunci mobil padanya.
Farraz yang sudah tiba di depan pintu kembali menoleh kebelakang saat menyadari Ayana tidak mengikutinya.
"Kenapa mematung? Cepat ikut saya, Ayana Yunita." Teriaknya.
Ayana menggerutu sambil melangkah mengikuti Fararz yang kini sudah berdiri disamping mobilnya.
"Tunggu apa lagi? Cepat buka mobilnya." Perintahnya pada Ayana.
Cuit cuitβ¦
Mobil itu bersuara saat Ayana memencet tombol kunci mobil yang Farraz berikan padanya.
"Kamu yang nyetir. Kita hari ini ada pertemuan dengan pak Anton. Kemarin dia menunda pertemuan karena kamu tidak bisa hadir. Dia bilang pertemuan bisa diwujudkan saat kamu bisa hadir." Jelasnya sambil memasuki mobil.
"Begitukah?" Tanya Ayana tidak percaya.
Dia pun melangkah cepat masuk kemobil dan duduk di kursi sopir.
"Bukankah pak Anton menyetujui proyek ini karena beliau suka pada pak Farraz?" Celoteh Ayana yang otomatis kembali kemode sekretaris saat membahas soal pekerjaan.
"Itu hanya alasannya saja. Dia malu mengakui kalau sebenarnya dia menyetujui proyek ini karena kamu." Ujar Fararz menjelaskan.
"Wuaahh, sungguh luar biasa."
Ayana kagum pada dirinya sendiri. Dia berhasil meluluhkan hati Anton Prawira yang terkenal menyeramkan dan juga tidak mudah percaya pada orang asing.
"Eeh tunggu!" Teriaknya tiba tiba dan menekan rem mendadak. Padahal mobil baru saja hendak melaju.
__ADS_1
Farraz yang baru mau memakai sitbeltnya pun hampir terhantuk pada bagian depan mobil.
"Ayana Yunita! Apa yang kamu lakukan?" Teriaknya kesal.
Bukannya meminta maaf, Ayana malah menatap penuh tanya pada Farraz.
"Jadi, pak Farraz meminta maaf pada saya hanya karena menginginkan proyek dengan pak Anton?" Tanya Ayana curiga.
Farraz terdiam mendengar pertanyaan yang diajukan Ayana padanya.
'Wanita tua ini benar benar terlewat cerdas. Kok bisa dia berpikir begitu. Hello, Ayana Yunita. Kamu pikir kamu sepenting itu untuk mendapat permintaan maaf dariku hanya demi proyek ini?' Teriaknya dalam hati.
Tatapannya sama tajamnya dengan Ayana. Mereka saling menatap untuk beberapa saat.
"Terserah kamu mikir apa. Yang penting sekarang, cepat jalankan mobilnya. Kita ada janji temu dengan pak Anton di cafe mutiara." Ucapnya malas meladeni Ayana.
'Mmh, sudah aku duga. Tidak mungkin seorang Farraz Ehsan meminta maaf semudah itu jika tidak ada tujuan lain dibalik permintaan maafnya.' Rutuknya dalam hati.
Meski dengan berat hati, Ayana tetap harus profesional. Dia pun kembali melajukan mobil, meninggalkan perkarangan rumah mereka.
...πππ...
Ayana dan Farraz tiba di kantor pukul sepuluh. Pertemuan dengan pak Anton sungguh sangat melelahkan. Karena hanya empat puluh persen dari pembahasan itu yang berhubungan dengan proyek. Sementara, enam puluh persen sisanya hanya digunakan sebagai obrolan kosong belaka.
"Good." Puji Farraz tersenyum pada Ayana.
"Tidak usah pak Farraz puji pun saya tahu kinerja saya yang terbaik dari semua karyawan di Faress Crupt." Ucap Ayana menyombongkan diri.
"Yana!" Teriak Handi sambil melambaikan tangan pada Ayana yang melangkah beriringan dengan Farraz.
Ayana yang melihat itu pun langsung melambaikan tangannya juga. Hal itu membuat Farraz mendengus kesal. Tapi, dia ingat janjinya untuk tidak ikut campur urusan pribadi Ayana lagi. Jadi, dia harus pura pura baik baik saja.
"Pak Farraz." Sapa Handi dengan sedikit menunduk.
Hanya senyum malas dan sedikit anggukan dari Farraz sebagai respon dari sapaan Handi.
"Yana, kamu sibuk?" Tanya Handi.
"Tidak. Hanya saja saya masih agak pusing." Ucap Ayana sedikit manja.
Farraz mendengus sinis mendengar jawaban Ayana. Lalu, dia berlalu meninggalkan mereka.
"Ya sudah, kamu istirahat saja dulu. Nanti, kita makan siang bareng, sekalian ada hal penting tentang proyek Singapur yang ingin aku tanyakan." Jelasnya.
"Ok. See you." Ucap Ayana.
"See you." Handi melambaikan tangan mengiringi langkah Ayana menuju ruangannya.
...πππ...
Di kediaman keluarga Timo.
__ADS_1
Putri mengurung diri dikamarnya sejak kemarin. Dia mogok makan dan hanya terus menangis sambil mengamuk membanting alat alat yang ada di sekitarnya. Kamarnya tampak sangat berantakan. Sama dengan wajahnya yang juga sangat berantakan.
"Sayang, buka pintunya!" Teriak Preti khawatir.
"Mama sama Papa jahat. Kalian tidak pernah mengerti perasaan Putriβ¦" Makinya sambil menangis.
"Maafkan Mama, sayang. Mama tahu apa yang kamu rasakan. Mama melakukan semua ini, karena Mama tidak mau melihat anak Mama direndahkan oleh pria seperti Farraz. Dia tidak pantas mendapatkan kamu, sayang." Ujarnya mencoba membujuk putri semata wayangnya itu.
"Aku mencintai Farraz, Ma. Aku hanya menginginkan Farraz. Aku akan bunuh diri kalau Mama sama Papa tidak membujuk Farraz untuk menikah dengan Putri."
Dia mengancam kedua orangtuanya dengan niatnya untuk bunuh diri.
"Gimana ini, Paβ¦" Ujar Preti sangat khawatir.
Timo sendiri tidak bisa melakukan apa apa. Yang terpikir olehnya hanya menghubungi Ehsan dan menceritakan keadaan putrinya.
"Mama tunggu sebentar. Papa akan mencoba bicara sama Ehsan." Ucapnya.
"Cepatan Pa. Mama takut Putri benar benar nekat bunuh diri."
"Mama coba untuk terus mengajak Putri bicara." Sarannya.
Lalu, Timo melangkah agak menjauh dari kamar putrinya. Dia pun mulai menghubungi Ehsan.
"Bantu aku." Ucapnya langsung saat panggilannya terhubung.
"Ada apa Timo?"
"Putri mengurung diri di kamarnya sejak kemarin. Dia mengancam akan bunuh diri, kalau Farraz tetap tidak mau menikahinya." Tuturnya dengan suara yang agak serak karena sangat mengkhawatirkan putrinya.
"Cobalah menenangkan Putri. Aku dan Irma akan segera kesana."
"Cepat, San. Kalau bisa tolong bawa Farraz juga sekalian." Pintanya memohon.
Setelah panggilan berakhir. Dia kembali menghampiri Preti yang terus mengajak Putri berbicara.
"Pa, Putri tidak menyahut lagi. Kita dobrak saja pintunya." Ucap Preti yang sudah mulai menangis.
Dengan segera Timo menendang pintu itu sekuat tenaga dan berkali kali. Tapi, pintu itu terlalu kuat dan masih belum bisa didobrak.
"Pa, kenapa kita tidak mencari kunci cadangan saja!" Seru Preti yang baru teringat tentang kunci cadangan.
"Cepat cari, Ma."
Preti berlari menuju kamarnya untuk mencari kunci cadangan. Beruntungnya dia langsung menemukan kunci cadangan itu dan segera memberikan pada suaminya.
Mereka pun membuka pintu kamar Putri menggunakan kunci cadangan itu.
"Putri!" Teriak Preti histeris.
Dia berlari mengejar tubuh Putri yang sudah terbaring lemas dilantai. Pergelangan tangan Putri mengeluarkan banyak darah dan mengalir dilantai.
__ADS_1
Timo masih berdiri didepan pintu. Dia tidak percaya putri tercintanya senekat itu hanya karena seorang lelaki.