
Pagi ini Farraz berangkat agak siang dari biasanya. Dia menemani Ayana membeli ubi bakar yang hanya ada setiap jam enam sampai delapan pagi. Ayana sangat ingin memakan ubi manis bakar itu, sehingga Farraz harus menemaninya untuk membeli. Farraz tidak mau Ayana pergi sendirian, karena tempatnya cukup jauh dan jalanan menuju kesana juga sangat jarang dilalui kendaraan.
Begitu mendapatkan ubi manis bakar itu, Farraz langsung membawa Ayana pulang. Ubi pun langsung dimakan saat masih di mobil.
"Mmh enak banget, mas. Ubinya manis, lembut, empuk gitu loh." Menikmati ubi bakarnya.
"Mas mau nyicip nggak?"
"Nggak lah sayang. Mas nggak suka ubi."
"Ya sudah. Buat aku saja." Melanjutkan acara makan ubi bakar yang manis dan empuk itu.
"Sayang. Mas boleh minta tolong nggak?"
"Boleh, memangnya minta tolong apa?"
Farraz tampak ragu mau mengatakannya. Karena, sebenarnya dia tidak suka istrinya itu ikut campur dalam urusan rumah tangga Handi. Tapi, sebagai adik ipar, Farraz merasa tidak tega membiarkan Handi terus terusan menderita akibat trauma Via yang belum juga pulih.
"Kok malah bengong. Memangnya minta tolong apa, suamiku?"
"Mmh, sayang mau nggak ngomong sama Via. Ya maksudnya ngobrol empat mata gitu sama dia."
Ayana menatap serius pada suaminya yang fokus melihat jalanan didepan sana.
"Ngobrol empat mata sama kak Via? Tentang apa dan kenapa?" Merasa curiga dengan permohonan suaminya.
"Kamu tahu kan tentang pernikahan Via sebelumnya?"
"Tau."
"Kamu juga tau kan apa penyebab mereka bercerai?"
"Tau, kak Via pernah cerita tentang itu padaku."
"Nah, Via masih trauma sampai sekarang. Jadi, dia belum berani melakukan itu bersama Handi."
"Mereka belum melakukan itu selama ini?" Ayana kaget.
"Iya sayang. Makanya mas mau kamu bantuin mereka. Kasihan Handi harus menahan diri selama dua bulan lebih loh sekarang."
__ADS_1
"Luar biasa. Handi bisa menahan dirinya selama ini." Gumam Ayana kagum bercampur prihatin.
"Gimana mau kan bantu ngomong sama Via?"
"Tentu mau dong, mas. Kita harus membantu mereka. Kasihan kan mereka saling mencintai tapi tidak bisa merasakan betapa indahnya cinta pasangan suami istri yang sesungguhnya." Ujarnya tersenyum manja.
"Istriku selalu pintar dan menggemaskan." Farraz mencubit manja pipi Ayana.
Farraz mengantar Ayana langsung ke resto milik Via, barulah kemudian dia pergi ke kantor.
"Biasanya kak Via ke resto pukul berapa mbak?" Via bertanya pada salah satu pelayan resto yang sejak tadi sibuk bersih bersih.
"Nggak menentu, mbak. Kadang jam delapan sudah di sini, kadang siang, kadang dia nggak datang sama sekali."
Ayana mengangguk paham. Dia memutuskan untuk menghubungi kakak iparnya itu. Tapi, sebelum panggilan tersambung mobil Via sudah tiba diparkir depan resto.
"Nah itu mbak Via nya datang." Ucap pelayan itu.
"Iya mbak. Makasih loh udah ditemani ngobrol sambil menunggu kedatangan kak Via." Pelayan itu hanya mengangguk sebagai respon ucapan terimakasih dari Ayana.
Via keluar dari mobilnya dengan langkah yang kurang semangat. Dia belum melihat bahwa ada Ayana yang sejak tadi menatapnya sambil tersenyum.
"Kak Via!" Sapa Ayana saat Via hampir saja melewatinya.
"Ada apa kok datang sepagi ini tanpa menelpon aku dulu. Untung aku datang, padahal tadi ragu mau ke resto apa nggak." Celotehnya sambil mengajak Ayana kembali duduk.
"Kakak sehat?"
"Tentu dong." Meletakkan tas diatas meja.
"Kamu sendiri sehat, kan? Aku khawatir banget saat Mama cerita kalau kamu punya PCOS itu."
Ayana menceritakan penyakitnya pada Irma sebulan yang lalu dan respon Irma sama seperti Via saat ini. Mereka selalu mengkhawatirkan kesehatannya, tidak pernah menuntut harus menjadi wanita yang bisa memberikan anak, dan tidak pernah memojokkannya sekalipun.
"Aku sehat kok kak. Tapi ya itu, belum juga dikarunia momongan." Ucapnya sedih.
"Kakak sendiri bagaimana? Sudah telat datang bulan kah, atau jangan jangan kakak malah suntik KB?" Sengaja Ayana bertanya seperti itu untuk memancing agar Via bercerita tentang kehidupannya sebagai suami istri. Karena rasanya akan tidak sopan kalau Ayana langsung membahas masalah yang Farraz ceritakan padanya tadi pagi.
"Entahla Yana. Aku sendiri suka bingung dengan tubuh yang selalu sulit diajak kerja sama." Wajahnya tampak sedih saat mengatakan itu.
__ADS_1
"Sulit diajak kerja sama... maksud kakak gimana?" Selidiknya.
Via menarik napas lalu menghempaskannya dengan kuat. Dia mengatur cara bicaranya dan mengambil ancang ancang untuk mulai curhat pada adik iparnya itu.
"Aku sama Handi sudah sah menjadi suami istri, tapi belum sekalipun kami melakukan hal itu."
"Loh, kenapa kak?" Ayana selalu bisa terlihat natural saat beracting.
"Apa jangan jangan Handi masih belum bisa menerima kakak seutuhnya?"
"Bukan Yana. Handi bahkan sangat mencintaiku."
"Berarti kakak yang belum bisa menerima Handi?"
"Tidak Yana, bukan seperti itu. Aku sangat mencintai Handi. Tapi, kamu masih ingat kan tentang pernikahan ku yang lalu?"
"Ingat."
"Setiap kali kami akan melakukannya, bayangan kejadian masa lalu itu terlintas dalam ingatanku. Tubuhku seketika menggigil gemetar sehingga tanpa sadar aku akan mendorong tubuh Handi untuk menjauh dari ku." Tuturnya.
"Aku masih dibayangi masa lalu, Yana."
Ayana menggengam erat tangan Via untuk menghiburnya. Dia dapat merasakan betapa menderitanya kakak iparnya itu.
"Aku takut Handi menyerah dan akhirnya dia memilih meninggalkan aku."
"Maaf kak, tapi apa Handi tidak pernah mencoba melakukannya dengan paksa pada kakak?"
"Tidak. Dia akan berhenti saat melihat aku sudah gemetar ketakutan."
"Kalau seandainya, Handi mencoba melakukannya dengan paksa meski kakak sudah gemetar, apa kakak bisa untuk bertahan dan membiarkan Handi melakukannya?" Ayana bertanya seperti itu karena Farraz menyarankan Handi untuk menerobos langsung meski Via ketakutan.
"Entahlah Yana. Tapi sejauh ini Handi tidak pernah memaksa."
"Apa kak Via menginginkan Handi untuk menjadi suami kakak seutuhnya?"
"Sangat. Aku sangat menginginkan Handi. Tapi, aku belum bisa mengatasi masalah tarauma ini, Yana." Merasa frustasi.
"Percayalah kak, Handi adalah suami terbaik yang akan memperlakukan kakak dengan baik. Lihatlah, selama dua bulan lebih Handi mampu bertahan tanpa menyentuh kakak."
__ADS_1
"Jadi, cobalah untuk melawan rasa takut itu. Tatap mata Handi saat kalian akan melakukannya, percayalah kalau dia lelaki yang berbeda. Dia lelaki yang sangat mencintai kakak setulus hati." Ucap Ayana.
Via tersenyum getir, dia masih belum yakin untuk bisa melakukan itu dengan Handi. Tapi, apa yang dikatakan Ayana benar, dia harus percaya pada suaminya. Dia harus bisa melawan rasa takut itu demi suami yang sangat dia cintai dan sangat mencintainya.