
Handi dan Via berkunjung kerumah Ayana. Mereka sengaja datang untuk memberi ucapan selamat atas kehamilannya.
"Kak Via!" Ayana langsung memeluknya.
"Yana sehat? Kok pucat banget sih."
"Sehat kok, cuma ya agak mual mual gitu."
"Farraz mana, Yana?" Tanya Handi yang sejak tadi belum di sapa sama sekali oleh Ayana.
"Eh, hai Han. Maaf ya aku nggak perasan. Eem mas Farraz ada di belakang, lagi nangkap ikan."
"Nangkap ikan?" Tanya Via dan Handi bersamaan.
"Iya."
Handi dan Via saling bertatapan lalu mereka menggelang bersamaan.
"Jadi, pagi tadi Dijah beli ikan mas yang masih hidup. Kasihan kan dia pasti kepanasan dan kehausan. Nah aku lepasin deh di kolam renang belakang." Jelasnya bangga.
"Kasihan sekali!" Gumam Via.
"Iya kan, kasihan ikannya. Lagian Dijah sih, pake segala beli ikan mas yang masih hidup." Menarik tangan Via untuk ikut melihat perjuangan Farraz menangkap ikan didalam kolam renang.
"Bukan ikannya yang kasihan, Yana. Tapi suami kamu yang kasihan." Gumam Handi dalam hati.
Mereka melangkah menuju kolam renang. Disana terlihat Farraz memegang jaring penangkap ikan dan berenang mengejar ikan yang sangat aktif itu.
"Masih belum dapat juga ikannya ya mas. Padahal aku udah lapar banget." Teriaknya merengek.
__ADS_1
"Kalau kamu lapar, ayuk lah aku temani makan."
"Kak Via lapar juga?"
"Nggak sih. Kan aku cuma mau menemanin kamu makan."
"Aku senang kalau kak Via mau menemanin makan. Tapi, masalahnya aku maunya makan ikan mas itu." Tunjuknya.
"Mas Farraz belum berhasil hasil juga menangkapnya. Padahal sudah dari pagi tadi loh itu mencoba menangkap ikannya." Rutuknya kesal.
Via dan Handi benar benar dibuat takut dengan ucapan Ayana. Dia mau makan ikan itu, lalu kenapa malah dilepaskan. Sungguh bumil satu ini luar biasa ngeselinnya.
"Yana, bagaimana kalau suruh Dijah beli ikan mas lagi. Biarkan saja ikan mas yang di kolam. Mungkin dia nggak mau dimasak sekarang, makanya nggak ketangkap juga." Membujuk Ayana. Via sudah kasihan melihat saudaranya itu yang begitu kedinginan.
"Kasihan loh, Farraz pasti kedingan. Ikannya juga nggak mau ditangkap tuh." Lanjut Handi.
Ayana mengangguk paham. Lalu dia menggamit agar Farraz mendekatinya.
"Mas nggak usah tangkap ikannya. Mas pasti kedinginan, kan?" Memberikan handuk.
"Tapi, kan sayang mau makan ikannya."
"Nggak apa apa, mas keluar saja dulu dari air. Dingin loh mas."
"Ok." Farraz pun keluar dari kolam. Baru saja mau mengeringkan tubuhnya, Ayana malah terjun kedalam kolam.
"Ayana!" Teriaknya tidak percaya.
Via dan Handi pun tidak kalah terkejutnya melihat Ayana tiba tiba terjun kedalam kolam.
__ADS_1
"Mas... aku dapat ikannya." Teriaknya sambil mengangkat jaring yang berisi ikan mas yang sejak tadi tidak kunjung ditangkap oleh Farraz.
Mata mereka membola melihat kelakuan bumil bar bar itu. Dia benar benar terlihat bukan seperti Ayana.
"Mas, jangan lompat. Kalau lompat nanti ikannya lepas." Teriaknya melarang Farraz yang hendak melompat lagi ke dalam kolam untuk menjemput Ayana.
"Dijah..."
"Iya nyonya."
"Ikannya di potong dulu, baru digoreng ya."
"Baik nyonya."
"Motong ikannya menghadap kiblat ya, mengahdap arah sholat. Jangan lupa baca bismillah juga."
"Baik nyonya."
Serentak Via, Handi dan Farraz menepuk kening mereka sendiri mendengar perintah Ayana pada Dijah.
"Sayang, itu hanya ikan bukan ayam. Kenapa segala pake menghadap kiblat sih." Teriak Farraz kesal bercampur geli.
"Kenapa sih mas. Ikannya masih hidup itu. Dia pasti mau menghadap kiblat sebelum dia di potong."
"Iya in aja, Raz. Kamu hanya akan tambah stres kalau memprotesnya."
"Via benar Raz. Iya in aja udah, pasti selesai urusan."
Handi menahan tawa. Dia tidak menyangka Ayana ternyata menjadi sangat polos dan kekanakan saat sedang hamil.
__ADS_1
"Nanti kalau hami jangan terlalu bar bar seperti Yana ya sayang." Bisik Handi pada Via yang akhirnya membuatnya mendapat cubitan di perutnya.